Trauma Bayang-bayang Sepatu Lars dalam Budaya Impunitas

Penulis

Malam itu aku bermimpi berjalan di tengah kota yang kosong. Jalanan lengang, toko-toko tertutup rapat, jendela pecah seperti mata yang tak lagi mau melihat. Hanya ada suara sepatu lars menghentak aspal, bergema panjang seperti lonceng kematian. Dari kejauhan, rumah-rumah warga terkepung dan terbakar. Sosok-sosok berbadan tegap berdiri berjajar, wajah mereka buram, tapi sorot matanya menusuk seperti besi panas. Mereka menembakkan peluru ke udara, lalu ke dinding, lalu entah ke tubuh siapa. Teriakan samar terdengar, tapi tak ada seorang pun berani keluar untuk menolong.

Aku mencoba melangkah mendekat, tapi setiap langkah membuat tanah berubah menjadi basah, licin oleh darah yang entah milik siapa. Darah berbau amis, mengalir bagai hujan yang menggenang. Pandangan mataku berpindah ke kampusku, tempat aku biasa mengejar rajutan kegiatan sehari-hari. Kini ia menjelma benteng sunyi penuh bayangan yang menjerit. Tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku. Wajahnya tanpa mulut, hanya mata yang berlinang, seolah berbisik lewat tatapannya, “jangan bersuara, atau kau hilang.” Tubuhku gemetar, terjebak di antara lari dan diam.

Kota pun ikut terbakar. Sirene meraung tanpa arah. Suara tembakan berulang seperti hujan deras yang tak kunjung reda. Rentetan peluru, puluhan bom meledak, memenuhi kepalaku dengan ketakutan yang pucat dan kelam. Aku berlari melewati lorong-lorong penuh wajah pucat: mahasiswa, pedagang, bahkan anak kecil, semuanya mencari tempat bersembunyi. Seolah bayangan misterius itu telah mencabut lidah mereka. Aku menjerit, tapi jeritanku lenyap. Aku melihat bayangan tubuhku sendiri berlumur darah, terperangkap, dihantam sepatu lars yang menginjak sisa-sisa warna yang tak lagi merah.

Apakah Kekerasan Aparat Hanya Melukai Tubuh Ataukah Ia Menanam Trauma yang Lebih Dalam Pada Masyarakat?

Sejarah berkali-kali menjawab pertanyaan itu. Peluru, pukulan, dan lars tidak berhenti pada daging yang robek; ia meninggalkan luka psikologis yang diwariskan.

Michel Foucault menulis bahwa tubuh manusia bisa didisiplinkan lewat rasa sakit, tapi yang lebih mengerikan adalah ketika rasa takut itu membentuk jiwa—menjadikan masyarakat jinak dan bungkam. Giorgio Agamben menambahkan, dalam situasi represif, manusia direduksi menjadi homo sacer—kehidupan telanjang yang bisa dihabisi kapan saja. Rasa takut bukan hanya milik individu, melainkan jadi atmosfer sosial yang menyelimuti kota dan kampus.

Trauma itu bekerja diam-diam. Ia membuat orang enggan bicara, enggan melawan, bahkan enggan mengingat. Hannah Arendt menyebut fenomena ini banalitas kekuasaan: ketika kekerasan dilakukan berulang kali, ia menjadi ‘biasa’, dan masyarakat menyesuaikan diri dengan ketakutan. Generasi demi generasi tumbuh dengan rasa was-was yang diwariskan, seolah bayangan tentara selalu ada di balik pintu.

Namun hari ini, ketakutan itu bukan hanya mimpi. Per 1 September 2025, delapan teman kami gugur dalam aksi demonstrasi dan ratusan lainnya luka-luka. Tubuh-tubuh muda yang mestinya merayakan hidup kini terbaring sebagai bukti bahwa kekerasan negara masih menjadi rutinitas.

Sejarah Indonesia sendiri penuh dengan luka serupa. Pasca 1965, ratusan ribu orang dibunuh atas nama ‘pemberantasan komunis’. Tentara tak hanya menghabisi tubuh, tapi juga memaksa keluarga korban bungkam puluhan tahun. Ingatan kolektif bangsa pun dipenuhi bisu dam trauma diwariskan lintas generasi.

Saat 1974, demonstrasi mahasiswa dalam peristiwa Malari dipadamkan dengan kekerasan. Kampus—yang seharusnya jadi ruang berpikir bebas—diserbu, mahasiswa ditangkap, sebagian dihilangkan. Lalu pada 1998, saat suara rakyat menuntut Soeharto mundur, ratusan mahasiswa ditangkap, puluhan ditembak, beberapa aktivis lagi-lagi dihilangkan dan tak pernah kembali. Reformasi yang kita rayakan lahir dari darah dan luka yang hingga kini belum sembuh.

Setelah Reformasi pun pola kekerasan tidak hilang. Di Papua, penembakan warga sipil dan kriminalisasi aktivis terjadi berulang kali. Setiap demonstrasi mahasiswa di Jakarta atau daerah-daerah lain, kerap berakhir dengan korban luka. Dari 1965 hingga kini, benang merahnya sama: kekerasan militer dan aparat jarang sekali dibawa ke meja pengadilan.

Menurut laporan Komnas HAM (2020), terdapat setidaknya 12 kasus pelanggaran HAM berat yang belum pernah diselesaikan, mulai dari Tragedi 1965, Penembakan Misterius 1982-1985, Talangsari 1989, sampai Tragedi Mei 1998. Semua kasus itu berulang-ulang ditagih oleh korban, tapi proses hukumnya selalu mandek di tingkat Jaksa Agung.

Amnesty International (2022) juga mencatat bahwa di Papua, sepanjang 2018–2022 terjadi lebih dari 170 kasus dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat keamanan, tapi hampir semuanya tidak diproses secara transparan. Budaya impunitas inilah yang memperpanjang luka, karena korban dan keluarga tidak pernah mendapatkan kebenaran maupun keadilan.

Budaya Impunitas di Tubuh Negara

Inilah yang disebut culture of impunity. Kekerasan aparat hampir selalu berhenti pada prajurit bawahan, sementara pemberi perintah tetap aman di balik seragam dan jabatan. Masyarakat pun tahu: setiap peluru bukan hanya berasal dari senjata, tapi juga dari sistem yang membiarkan kekerasan terus berlangsung.

Budaya impunitas melahirkan ‘ingatan gelap’ dalam tubuh bangsa. Kita mengingat luka, tapi tidak pernah melihat keadilan. Luka itu membusuk, diwariskan, lalu menjadi trauma sosial yang setiap saat bisa dihidupkan kembali, setiap kali sepatu lars kembali menghentak jalanan.

Impunitas bukan sekadar absennya pengadilan. Ia adalah mesin yang menjaga agar rasa takut tetap hidup, agar masyarakat bisa diredam, agar kekerasan terus diproduksi tanpa perlawanan berarti. Inilah titik paling mengerikan dari kekuasaan: ketika ketidakadilan menjadi hal yang normal, luka dianggap wajar, dan kematian berubah menjadi rutinitas yang nyaris tanpa pengadilan.

Maka jawabannya jelas: kekerasan militer dan aparat tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditopang oleh impunitas dan sistem hukum yang dilumpuhkan. Selagi impunitas dibiarkan, mimpi buruk akan selalu menyelinap ke dalam kehidupan kita—menjadikan masyarakat bukan sekadar korban, melainkan tahanan dari ketakutannya sendiri.

Dan dalam setiap tidur kita, sepatu lars itu masih menghentak, mengiringi fugue kematian di kota yang dikepung.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *