Rumah kami berdiri seperti rumah-rumah lain di gang ini. Catnya mengelupas di beberapa sudut, gentingnya sering bergeser ketika hujan datang terlalu lama. Tetapi, yang membuatnya terasa sempit bukan dinding atau atapnya, melainkan suara ayah yang selalu hadir bahkan ketika ia tidak berbicara.
Ayah kami bernama Pak Santoso.
Di luar rumah, nama itu masih disebut dengan nada yang tertib. Orang-orang memanggilnya Pak, menyodorkan kursi, menawarkan rokok, dan berbicara tentang masa lalu seolah masa lalu itu masih berdiri tegak. Mereka tidak melihat ayah seperti yang kami lihat setiap hari. Mereka melihatnya sebagai orang yang pernah berhasil, dan bagi sebagian orang, itu sudah cukup untuk terus dihormati.
Di rumah, ayah lebih sering duduk daripada berjalan. Tubuhnya besar dan geraknya lambat. Rokok hampir selalu menyala di antara jarinya, asapnya berputar-putar seperti pikiran yang tidak menemukan jalan keluar. Televisi menyala, tetapi jarang ditonton. Ayah menatapnya tanpa benar-benar melihat, seolah layar itu hanya alasan agar dunia tidak menuntut apa-apa darinya.
Ibu kami, Andini, dulu sering berkata bahwa ayah hanyalah lelah. Ia mengucapkannya pelan, seperti orang yang mencoba meyakinkan diri sendiri. Kadang diriku melihat wajah ibu setelah mengatakannya dan, aku tahu, ia sendiri tidak sepenuhnya percaya.
Kami hidup dari sisa-sisa.
Sisa penghormatan orang-orang pada ayah.
Sisa kesabaran ibu yang terkikis pelan.
Sisa cerita tentang masa jaya yang tidak pernah kami saksikan.
Katanya, ayah dulu kontraktor yang disegani. Namanya dikenal. Pekerjaan datang sendiri. Diriku tidak pernah melihat masa itu. Aku hanya mengenalnya dari cerita tetangga dan bisik-bisik di warung. Ayah tidak pernah menceritakan apa pun tentang masa lalunya. Jika ada yang menyinggung soal pekerjaan, wajahnya mengeras, seperti tanah yang tiba-tiba kering.
Tsanya, adikku, sering duduk di dekat meja kecil, membantu membungkus putu ayu yang kami jual sepulang sekolah. Tangannya kecil, jarinya lengket oleh gula. Ia jarang bicara banyak, tetapi diamnya sering terasa lebih berat daripada kata-kata.
Suatu sore, tanpa menatapku, Tsanya berbisik.
“Mas, kalau ayah dulu hebat, kenapa kita harus jualan?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya melipat kertas pembungkus lebih rapi dari biasanya.
Ibu akhirnya pergi.
Ia tidak pergi dengan koper besar atau air mata yang berisik. Ia hanya membawa pakaian secukupnya dan wajah yang tampak lebih tua dari usianya. Katanya, ia harus bekerja. Katanya, ini demi kami. Ia tidak menjelaskan ke mana. Ia tidak menjanjikan kapan pulang.
Ia mencium dahi Tsanya lebih lama, lalu menepuk bahuku sebentar, seolah diriku sudah cukup dewasa untuk tidak dipeluk.
Sejak ibu pergi, rumah menjadi tempat yang aneh. Lebih sunyi, tetapi juga lebih tegang. Ayah pulang membawa kemarahan yang tidak jelas asalnya. Kadang kemarahan itu jatuh ke meja, ke pintu, ke tubuh kami. Kadang hanya menggantung di udara, tetapi tetap terasa.
Tetangga tahu. Aku yakin mereka tahu. Tetapi, tidak ada yang datang. Tidak ada yang mengetuk pintu. Mungkin karena ayah masih dianggap kepala keluarga. Mungkin karena urusan rumah dianggap bukan urusan siapa pun selain penghuninya.
Tsanya pernah berkata pelan, hampir seperti berbicara pada dinding,
“Kalau ibu di sini, mungkin ayah tidak begini.”
Kalimat itu tinggal lama di kepalaku.
Sejak itu, diriku mulai memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan oleh anak-anak. Tentang peran, tentang kuasa, tentang mengapa seseorang yang tidak bekerja tetap dianggap paling berhak marah.
Ayah ada, tetapi tidak memberi.
Ibu memberi, tetapi tidak ada.
Kami bekerja, tetapi tetap disebut anak-anak.
Dan di tengah rumah yang semakin sempit oleh pertanyaan itu, satu kalimat berulang tanpa jawaban.
Siapa kepala keluarga di sini?
Warung menjadi tempat ayah terlihat paling hidup.
Di sana, tubuhnya tegak. Bahunya terbuka. Suaranya penuh. Orang-orang menyapanya lebih dulu, seolah ia masih seseorang yang perlu dihormati. Mereka menyebut namanya dengan ringan, menanyakan kabar, lalu tertawa bersama. Tidak ada yang bertanya, mengapa ia selalu punya waktu untuk duduk lama di bangku kayu itu.
Aku beberapa kali mengikutinya ke warung, bukan karena ingin, tetapi karena Tsanya harus menunggu di rumah sendirian. Di sana, aku melihat ayah yang berbeda. Ayah yang tidak kami miliki di rumah.
Ia ramah. Ia bercerita. Ia menyenangkan orang-orang.
“Pak Santoso itu dulu hebat,” kata seorang lelaki sambil menepuk pundak ayah. “Sekarang saja lagi sepi. Namanya juga zaman.”
Ayah tersenyum kecil, senyum yang tidak pernah ia berikan kepada kami. Ia mengangguk, seolah menerima pembelaan itu sebagai kebenaran yang cukup.
Aku duduk di sudut, mendengarkan cerita-cerita tentang proyek besar, tentang bangunan yang berdiri karena tangan ayah, tentang kepercayaan orang-orang yang dulu datang bertubi-tubi. Semua itu terdengar seperti dongeng. Aku tidak pernah melihat satu pun bukti dari cerita-cerita itu, selain cara orang-orang memandang ayah dengan mata yang masih percaya.
Kadang, ada yang mencoba memberi nasihat.
“Pak, sekarang kan harus ikut cara baru,” kata seseorang. “Anak-anak muda sudah beda.”
Ayah diam sebentar. Lalu wajahnya mengeras.
“Saya tahu kerjaan saya,” katanya pendek. Nada suaranya berubah, seperti pintu yang ditutup terlalu keras. Orang itu tersenyum canggung, lalu mengalihkan pembicaraan.
Sepulang dari warung, ayah tidak membawa uang. Ia membawa sisa rokok dan amarah yang tidak habis. Di rumah, ia kembali menjadi orang yang lain. Suaranya meninggi untuk hal-hal kecil. Langkahnya berat. Kadang, ia memukul meja, kadang tembok, kadang lebih dekat dari itu.
Aku belajar mengenali tanda-tandanya. Cara ia membuka pintu. Cara ia meletakkan sandal. Cara ia menarik napas sebelum berbicara. Semua itu menjadi pengetahuan yang tidak pernah ingin kupelajari.
Tsanya biasanya diam. Ia menunduk, mengikat rambutnya berulang-ulang, seolah berharap waktu berjalan lebih cepat jika ia tidak bergerak. Kadang, di sela-sela ketegangan itu, ia berbisik padaku.
“Mas, ayah baik sama orang lain, ya.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa kebaikan ayah seperti barang yang hanya boleh dipakai di luar rumah.
Tetangga sering memuji ayah di depan kami. Mereka berkata kami harus bangga. Mereka berkata ayah kami hanya sedang jatuh, bukan gagal. Mereka berkata laki-laki memang begitu kalau sedang tertekan.
Tidak ada yang bertanya bagaimana kami hidup.
Tidak ada yang bertanya bagaimana kami makan.
Tidak ada yang bertanya mengapa anak-anaknya berjualan sore-sore sementara anak-anak lain bermain.
Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak seimbang. Ayah dihormati karena siapa ia dulu, bukan karena apa yang ia lakukan sekarang. Kami dinilai dari apa yang seharusnya kami terima, bukan dari apa yang kami tanggung.
Suatu malam, setelah ayah tertidur di kursi dengan rokok yang hampir habis, Tsanya duduk di sampingku.
“Mas,” katanya pelan, “kalau ayah disebut kepala keluarga, kepalanya ke mana?”
Aku menutup mata sebentar. Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada pukulan mana pun.
Di luar rumah, ayah masih berdiri tegak di mata orang-orang.
Di dalam rumah, kami belajar membungkuk agar tidak terkena marahnya.
Di antara dua dunia itu, aku mulai mengerti bahwa kehormatan bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam jika tidak pernah masuk ke rumah.
Kami mulai bekerja tanpa pernah sepakat kapan itu dimulai.
Tidak ada hari khusus. Tidak ada keputusan resmi. Hanya satu sore ketika uang di kaleng dapur semakin sedikit, dan ayah duduk lebih lama dari biasanya di kursinya. Ibu sudah tidak ada untuk bertanya. Maka kami mengingat nenek, dan ingatan itu berubah menjadi pekerjaan.
Putu ayu.
Nenek pernah mengajari ibu membuatnya ketika libur panjang, katanya untuk mengisi waktu. Kini, putu ayu itu menjadi alasan kami pulang lebih lambat dari anak-anak lain. Kami bangun lebih pagi, menyiapkan adonan sebelum berangkat. Pulang sekolah, kami langsung menyalakan kompor kecil, mencetak satu per satu, membungkusnya dengan kertas minyak yang sering habis sebelum waktunya.
Tsanya belajar cepat. Tangannya kecil, tetapi telaten. Ia jarang mengeluh. Jika adonan terlalu panas, ia hanya meniup jarinya, lalu kembali bekerja. Kadang aku ingin menyuruhnya berhenti, tetapi aku tahu tidak ada yang bisa menggantikannya.
Anak-anak lain lewat di depan rumah sambil tertawa. Mereka membawa bola, membawa sepeda, membawa sore mereka sendiri. Kami melihat dari balik meja kecil, menghitung putu ayu, menghitung sisa gula, menghitung berapa yang harus laku agar besok kami masih bisa membeli bahan.
Tsanya pernah menatap anak-anak itu lebih lama dari biasanya.
“Mas,” katanya pelan, “kalau kita main sebentar, apa putu ayunya marah?”
Aku tertawa kecil, tawa yang tidak selesai. Aku tahu, ia tidak sedang bercanda.
Kami mulai hafal wajah-wajah pembeli. Ibu penjaga warung di ujung gang sering membantu menjualkan, namanya Bu Ratna. Ia tersenyum ramah, tetapi matanya sering menatap kami terlalu lama, seperti ingin mengatakan sesuatu yang tidak jadi keluar.
“Kalian rajin,” katanya suatu sore. “Bapakmu pasti bangga.”
Aku mengangguk. Aku tidak tahu, apakah itu benar atau tidak.
Kadang Ayah lewat ketika kami berjualan. Ia melihat sekilas, lalu melanjutkan langkahnya. Tidak ada pujian. Tidak ada larangan. Seolah apa yang kami lakukan adalah hal yang wajar, bahkan seharusnya.
Malam hari, tubuh kami lengket oleh sisa gula dan lelah. Tsanya sering tertidur sambil duduk, kepalanya terkulai. Aku membangunkannya pelan, menyuruhnya masuk kamar. Ia berjalan sambil menggosok mata, lalu berhenti di pintu.
“Mas,” katanya lirih, “kalau aku capek, aku boleh nangis?”
Aku mengangguk. Ia tidak menangis. Ia masuk kamar dan menutup pintu pelan.
Aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang diambil dari kami tanpa izin. Bukan hanya waktu bermain, tetapi juga hak untuk mengeluh. Kami menjadi anak-anak yang terlalu cepat belajar diam.
Di luar, orang-orang masih memanggil ayah dengan hormat. Mereka masih bertanya kabarnya, masih menawari rokok, masih menganggapnya kepala keluarga. Tidak ada yang bertanya siapa yang bangun lebih pagi, siapa yang pulang paling malam, siapa yang menghitung uang receh di bawah lampu redup.
Suatu malam, saat aku dan Tsanya duduk menghitung sisa penjualan, ia berkata pelan, hampir tak terdengar.
“Mas, kenapa yang capek selalu kita?”
Aku menatap meja lama. Pertanyaan itu tidak meminta jawaban. Ia hanya ingin diucapkan.
Di saat itu, aku mengerti bahwa kami bukan hanya kehilangan masa kanak-kanak. Kami juga kehilangan hak untuk bertanya tanpa merasa bersalah.
Kemarahan ayah tidak datang dengan jadwal. Ia muncul seperti cuaca buruk yang tidak bisa ditebak, kadang tanpa tanda, kadang setelah hal-hal sepele yang tidak pernah kami anggap salah.
Ada hari ketika ia pulang dari warung dengan langkah berat. Sandalnya diseret. Pintu dibuka lebih keras dari biasanya. Kami saling pandang, tanpa kata. Kami sudah hafal bahasa tubuh itu.
“Kenapa lampunya nyala siang-siang,” katanya suatu kali.
“Kenapa air habis.”
“Kenapa rumah berisik.”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menunggu jawaban. Mereka hanya mencari tempat jatuh.
Kadang kemarahan itu berhenti di meja. Kadang di pintu. Kadang lebih dekat. Aku belajar berdiri di depan Tsanya tanpa sadar, bukan karena berani, tetapi karena tubuhku bergerak sendiri. Jika aku yang kena, setidaknya Tsanya tidak.
Setelahnya, ayah duduk kembali, menyalakan rokok, seolah tidak terjadi apa-apa. Asap mengepul pelan. Televisi kembali menyala. Dunia berjalan seperti biasa.
Aku keluar rumah untuk menenangkan diri. Di luar, tetangga masih tersenyum. Masih menyapa. Masih bertanya, “Ayahmu sehat?” Aku mengangguk. Aku tidak tahu harus berkata apa selain itu.
Suatu sore, seorang tetangga melihat bekas di lenganku. Ia menatap sebentar, lalu mengalihkan pandangan.
“Namanya juga bapak,” katanya ringan. “Kalau marah, ya, wajar.”
Kata wajar itu menempel lama di kepalaku. Ia terdengar seperti izin.
Di rumah, Tsanya semakin sering diam. Ia berbicara seperlunya. Jika Ayah masuk ruangan, ia mengecil, bukan secara fisik, tetapi seperti menghilang dari tempatnya berdiri. Kadang ia menggenggam bajuku pelan, seperti memastikan aku masih ada.
Suatu malam, setelah Ayah tertidur, Tsanya berbisik dari ranjangnya.
“Mas, kalau Ayah marah, kita salah, ya?”
Aku menatap langit-langit. Aku ingin mengatakan tidak. Tetapi kata itu terasa terlalu sederhana untuk keadaan yang begitu rumit.
Aku hanya berkata, “Tidur saja.”
Kami belajar hidup dengan kewaspadaan yang terus-menerus. Setiap suara menjadi tanda. Setiap gerakan menjadi isyarat. Rumah tidak lagi menjadi tempat pulang, melainkan tempat berjaga.
Di luar, Ayah tetap dihormati. Orang-orang masih menyebutnya kepala keluarga, seolah kata itu cukup untuk menutup semua yang terjadi di balik pintu. Tidak ada yang ingin tahu lebih jauh. Tidak ada yang merasa perlu ikut campur.
Aku mulai mengerti bahwa kekerasan bisa hidup lama jika dibungkus dengan adat dan kebiasaan. Ia tidak perlu disembunyikan. Ia hanya perlu dianggap normal.
Dan di tengah semua itu, Tsanya berkata suatu malam, suaranya hampir tidak terdengar.
“Mas, kalau ibu pulang, apa semua berhenti?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah ada sesuatu yang benar-benar bisa berhenti setelah berjalan sejauh ini.
Ayah mulai jarang disebut dengan nada yang sama.
Di warung, orang-orang masih menyapanya, tetapi sapaan itu menjadi lebih singkat. Pertanyaan berubah dari menunggu kabar menjadi basa-basi. Tidak ada lagi yang bertanya tentang proyek atau rencana. Jika pun ada, itu diucapkan sambil lalu, seperti sesuatu yang tidak perlu ditunggu jawabannya.
Aku melihatnya dari kejauhan ketika mengantar putu ayu ke warung. Ayah duduk di bangku yang sama, tetapi posisinya sedikit bergeser. Ia tidak lagi berada di tengah lingkaran. Ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
Orang-orang mulai membicarakan hal-hal yang tidak ia pahami sepenuhnya. Tentang cara baru, tentang orang-orang muda yang bergerak cepat, tentang pekerjaan yang datang lewat layar kecil di tangan. Ayah mengangguk, tetapi matanya kosong. Ia tidak ikut tertawa ketika mereka tertawa.
Suatu kali, seseorang berkata, “Sekarang sudah beda, Pak. Harus ikut arus.”
Ayah tersenyum kaku. Aku tahu senyum itu. Senyum yang dipakai ketika seseorang tidak punya pilihan lain selain tampak mengerti.
Di rumah, Ayah semakin sering diam. Ia duduk lebih lama, menatap lantai, menyalakan rokok tanpa benar-benar menghisapnya. Kemarahannya tidak selalu meledak, tetapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan. Ia seperti menyimpan sesuatu yang terlalu penuh.
Tsanya memperhatikan perubahan itu tanpa berkata apa-apa. Ia semakin jarang bertanya. Jika dulu ia masih mencoba mencari penjelasan, kini ia hanya mencatat dalam diam.
Suatu sore, Ayah pulang lebih cepat dari biasanya. Ia masuk ke rumah tanpa berkata apa pun. Ia duduk, lalu berdiri lagi, lalu duduk lagi. Tangannya gemetar ketika menyalakan rokok.
“Ayah kenapa, Pak?” tanyaku pelan.
Ayah menatapku lama. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan marah, bukan juga benci. Lebih seperti kelelahan yang tidak tahu harus ke mana.
“Kalian tidak akan mengerti,” katanya akhirnya.
Ia berdiri dan masuk kamar. Pintu ditutup perlahan, tetapi bunyinya terasa lebih keras dari teriakan mana pun.
Malam itu, aku mendengar ayah berbicara sendiri. Suaranya terputus-putus, seperti orang yang mencoba menyusun ulang hidupnya tanpa petunjuk. Aku tidak berani mendekat. Tsanya menggenggam tanganku dari balik selimut.
“Mas,” bisiknya, “Ayah takut, ya?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah seorang ayah boleh takut.
Di luar rumah, orang-orang mulai berhenti membela ayah. Mereka tidak mengejek, tetapi juga tidak lagi melindungi. Ayah perlahan menjadi orang yang tidak lagi ditunggu. Bagi seseorang yang hidup dari penghormatan, itu adalah kehilangan yang paling sunyi.
Aku mulai menyadari bahwa ayah tidak hanya kehilangan pekerjaan. Ia kehilangan tempat. Ia kehilangan alasan untuk berdiri tegak di hadapan dunia.
Ketika dunia berhenti menoleh, Ayah membawa seluruh bebannya pulang ke rumah.
Hari-hari di rumah mulai kehilangan urutan.
Pagi tidak lagi terasa sebagai awal. Malam tidak pernah benar-benar selesai. Ayah tidur di jam-jam yang tidak kami mengerti, terbangun ketika rumah seharusnya sunyi, lalu duduk lama di ruang tamu dengan lampu menyala. Cahaya itu tidak menghangatkan apa pun. Ia hanya membuat bayangan bergerak di dinding.
Ayah jarang ke warung. Ketika pergi, ia pulang lebih cepat. Ketika pulang, ia membawa tubuh yang semakin berat. Seolah setiap langkahnya menambah sesuatu yang tidak bisa ia letakkan di mana pun.
Aku dan Tsanya berbicara lebih pelan dari biasanya. Bukan karena diminta, melainkan karena suara kami terasa seperti gangguan. Kami mengerjakan putu ayu tanpa saling menatap. Gerak kami sudah hafal, seperti pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa yang terlalu cepat menua.
Ada hari ketika Ayah memandangi kami lama.
Bukan dengan marah, bukan pula dengan bangga. Tatapannya kosong, seolah kami adalah bagian dari rumah yang tidak bisa ia pindahkan, tetapi juga tidak bisa ia gunakan. Aku ingin berkata sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
“Kalau kalian tidak ada,” katanya tiba-tiba, “mungkin hidup ayah lebih ringan.”
Kalimat itu tidak diucapkan keras. Justru karena itu ia terasa lebih berat. Tsanya berhenti mengikat tali plastik di tangannya. Ia tidak menangis. Ia hanya menunduk, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Aku ingin marah. Aku ingin membantah. Tetapi ada sesuatu di suara Ayah yang membuat kata-kataku jatuh sebelum sempat keluar. Seperti orang yang sudah terlalu lama berdiri di ujung, tidak lagi takut jatuh.
Kekerasan tidak selalu datang dalam bentuk pukulan. Kadang ia datang sebagai kalimat yang menempel lama di kepala. Kalimat yang membuat seseorang bertanya apakah keberadaannya memang kesalahan.
Malam itu, Tsanya tidak bisa tidur. Ia duduk di ranjang, memeluk lututnya.
“Mas,” katanya lirih, “kalau kita tidak ada, Ayah bahagia, ya?”
Aku memeluknya pelan. Tangannya dingin.
“Ayah capek,” kataku, meski aku sendiri tidak yakin apa arti capek yang sebenarnya.
Di luar, rumah-rumah lain masih menyala dengan suara televisi dan tawa. Hidup orang-orang berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di rumah kami, kata-kata sudah menjadi lebih tajam daripada tangan.
Ayah semakin sering menyendiri. Ia menghindari kami, tetapi juga tidak benar-benar pergi. Seperti seseorang yang terjebak di ruang sempit dengan dirinya sendiri. Aku mendengar ia menangis suatu malam, suara yang ia sembunyikan seburuk mungkin. Aku tidak berani mendekat. Aku takut suara itu berhenti jika aku ada.
Pagi-pagi berikutnya, ayah tampak lebih rapi dari biasanya. Ia mandi lama, mengenakan baju yang jarang dipakai. Ia tidak berkata apa pun kepada kami. Hanya menatap sebentar, lalu pergi ke kamar.
Ada sesuatu dari caranya menutup pintu yang membuat dadaku mengencang.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa rumah ini sedang menunggu sesuatu yang tidak ingin kami sambut.
Pagi itu berjalan terlalu rapi.
Ayah bangun lebih awal dari biasanya. Ia membersihkan rumah tanpa diminta, menyapu lantai dengan gerakan pelan, seperti orang yang sedang menata sesuatu agar tampak pantas. Ia bahkan membuka jendela, membiarkan udara masuk, seolah rumah ini masih layak dihuni.
Aku dan Tsanya memperhatikannya tanpa berani bertanya.
Ayah membuat teh. Ia menuangkannya ke tiga gelas, meski ibu tidak ada. Gelas ibu diletakkan di tempatnya biasa. Tidak ada yang menyentuhnya.
“Ayah mau ke belakang sebentar,” katanya datar.
Tidak ada nada pamit. Tidak ada penjelasan. Ia berjalan ke arah dapur, lalu ke kamar kecil di belakang rumah. Langkahnya tenang, terlalu tenang.
Kami melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Putu ayu dicetak, dibungkus, disusun. Tanganku gemetar tanpa alasan yang jelas. Tsanya beberapa kali menoleh ke arah belakang rumah.
“Mas,” katanya, “Ayah lama, ya.”
Aku mengangguk, meski aku tidak benar-benar menghitung waktu.
Beberapa saat kemudian, seorang tetangga datang tergesa. Namanya Pak Darto. Wajahnya pucat. Ia tidak masuk rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu, memanggil namaku dengan suara yang bergetar.
Aku tidak ingat bagaimana kakiku melangkah. Aku hanya ingat bau lembap di belakang rumah, tali yang tergantung, dan tubuh ayah yang tidak lagi bergerak seperti orang hidup.
Aku tidak menjerit. Aku tidak menangis. Kepalaku kosong, seperti dinding yang tiba-tiba kehilangan paku tempat bergantung.
Orang-orang datang. Suara-suara muncul. Ada yang berdoa, ada yang berbisik, ada yang menangis untuk kami. Semua terasa jauh, seperti terjadi di rumah orang lain.
Tsanya berdiri di sampingku. Tangannya dingin, tetapi ia tidak menangis. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah sedang mencoba menghafal sesuatu.
“Ayah kenapa, Mas?” tanyanya pelan.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Sore itu, rumah kami penuh. Tetangga yang dulu hanya menyapa kini duduk lama. Mereka berbicara tentang ayah dengan nada yang kembali hormat. Tentang beban hidup, tentang tekanan, tentang lelaki yang terlalu keras pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang berbicara tentang kami.
Malamnya, setelah semua orang pulang, rumah kembali sunyi. Sunyi yang berbeda. Tidak ada lagi suara rokok dinyalakan. Tidak ada lagi langkah berat. Tidak ada lagi pintu yang dibanting.
Aku dan Tsanya duduk di lantai. Di hadapan kami, gelas teh ayah masih ada. Dingin. Tidak disentuh.
Tsanya memandangku lama, lalu bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Mas… sekarang siapa yang marah?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada apa pun hari itu.
Hari-hari setelah ayah meninggal tidak berjalan lurus.
Waktu seperti terlipat-lipat. Ada pagi yang terasa terlalu cepat, ada sore yang seolah tidak mau beranjak. Rumah kami kembali ramai, tetapi keramaian itu tidak membawa kehangatan. Orang-orang datang dengan wajah prihatin, dengan kalimat yang sudah dihafal.
“Yang tabah, ya.”
“Namanya juga cobaan.”
“Sekarang kalian harus kuat.”
Kata-kata itu mengambang di udara, tidak pernah benar-benar sampai ke tubuh kami.
Aku mengurus banyak hal tanpa tahu caranya. Surat-surat. Tanda tangan. Nama ayah yang kini disebut dalam konteks yang berbeda. Tsanya selalu di sampingku, membawa air, membawa tisu, membawa keheningan yang tidak bisa aku pegang.
Ibu tidak datang.
Nomornya tidak aktif. Pesan tidak terkirim. Ada yang bilang ia sedang bekerja jauh. Ada yang berbisik bahwa ia sudah bersama orang lain, seseorang yang lebih mapan, lebih aman. Bisik-bisik itu disampaikan dengan nada seolah sedang membicarakan cuaca.
Aku tidak menanyakan apa pun. Aku tidak ingin tahu dari mulut orang lain tentang ibu kami.
Di antara keramaian itu, aku melihat bagaimana ayah kembali dihormati. Orang-orang menyebut jasanya, kelelahan hidupnya, kerasnya dunia. Mereka menyebutnya kepala keluarga yang tidak kuat menanggung beban.
Aku mendengarkan sambil berpikir, beban yang mana.
Tidak ada yang bertanya siapa yang bangun pagi sekarang.
Tidak ada yang bertanya siapa yang memasak.
Tidak ada yang bertanya bagaimana kami hidup setelah ini.
Tsanya duduk di sudut rumah, memeluk lututnya. Wajahnya datar. Sesekali, ia menatap pintu, seperti menunggu seseorang yang tidak pernah muncul.
“Mas,” katanya pelan suatu sore, “kalau ibu pulang, ayah hidup lagi, ya?”
Aku menoleh. Aku ingin mengatakan tidak. Tetapi lidahku kelu.
Setelah beberapa hari, rumah kembali sepi. Kursi-kursi dilipat. Piring-piring dikembalikan. Doa-doa selesai diucapkan. Orang-orang kembali ke hidup mereka masing-masing.
Kami tinggal.
Rumah terasa lebih besar dari sebelumnya. Setiap sudut mengingatkan kami pada sesuatu yang tidak bisa diulang. Di belakang rumah, tempat ayah pergi, aku tidak berani masuk lagi. Tsanya juga tidak pernah mendekat.
Desas-desus tentang Ibu terus beredar, seperti cerita yang tidak pernah dikonfirmasi. Setiap orang punya versinya sendiri. Tidak satu pun bertanya pada kami apakah kami siap mendengarnya.
Aku mulai memahami bahwa kehilangan tidak datang sendirian. Ia membawa serta rasa malu, rasa bersalah, dan tatapan orang lain yang merasa berhak tahu segalanya.
Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas.
Kami benar-benar sendiri sekarang.
~ Tamat ~
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








