Semarang dan Yogyakarta: Dua Kota dengan Denyut yang Berbeda 

Penulis

Hampir genap dua tahun, saya tinggal dan bekerja di Semarang, sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri lalu kembali tinggal di dusun (baca: Kulon Progo). Selama tinggal di Semarang, saya menjalani rutinitas biasa layaknya pekerja: bangun, berangkat, kerja, pulang, dan tidur. Mudah dijumpai dalam keseharian pekerja di wilayah urban, bukan? Selama menjalani kegiatan harian semacam itu, saya menyadari adanya perbedaan antara tinggal di Semarang dan kota tempat saya kuliah sebelumnya: Yogyakarta. 

Untuk lebih jelasnya, saya kuliah di Yogyakarta selama 4 tahun, kemudian bekerja di Semarang selama 2 tahun. Dari pengalaman pribadi selama 6 tahun itulah, tulisan ini disusun. 

Sebagai penafian, pengalaman saya di Yogyakarta secara khusus hanya berada di sekitar Condongcatur, sedangkan di Semarang berada di sekitar Jalan Gayah Raya atau sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). 

Semarang dan Yogyakarta kira-kira berada dalam satu tarik garis lurus dari Utara ke Selatan jika dilihat lewat peta. Berjarak 2-3 jam jika ditempuh dengan berkendara, tergantung jenis kendaraan apa yang digunakan. 

Semarang dan Yogyakarta memiliki perbedaan mencolok yang diakibatkan faktor geografi, ekonomi, demografi, infrastruktur, maupun faktor-faktor lainnya. Setidaknya dari yang saya amati, ada tiga yang menarik perhatian. 

Terik Panas

Orang Semarang pasti tak asing dengan lelucon: “Di Semarang, satu orang, mataharinya satu.” Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa suhu di Semarang amatlah terik. Setelah menetap, saya baru mengerti bahwa ini bukanlah omong kosong belaka.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Mei 2024, Semarang menjadi salah satu dari 15 kota/kabupaten dengan cuaca terpanas di Indonesia. Suhu maksimum mencapai 34,8 derajat Celcius. Sementara Yogyakarta tidak ada dalam daftar tersebut. Ada beberapa faktor yang membuat suhu di kedua kota itu berbeda. Seperti kelembaban udara, lokasi geografi yang begitu dekat dengan laut, emisi dari pabrik yang ada di kawasan industri, menumpuknya penggunaan kendaraan pribadi, dan sederet hal lainnya.

Menariknya, cuaca panas di Semarang justru menjadi ladang bisnis bagi sebagian orang, khususnya warga lokal yang menawarkan jasa hunian sementara (indekos). Hampir semua indekos yang ditawarkan di Semarang menyediakan kipas angin bahkan tak sulit untuk mencari fasilitas AC. Para pemilik kosan sudah mafhum dengan keadaan cuaca yang tidak manusiawi itu bagi perantau, setidaknya bagi saya. 

Kondisi ini berbeda dengan indekos yang ada di Yogyakarta. Kita masih bisa menemukan penyewaan tempat tinggal dengan harga yang terjangkau bahkan di bawah rata-rata. Jangankan kipas angin, kadangkala indekos tersebut tidak dilengkapi dengan fasilitas apapun, termasuk alas tidur. 

Lautan Kendaraan

Meski tidak masuk dalam deretan kota termacet di Indonesia versi Tomtom, tak bisa dipungkiri bahwa arus lalu lintas di Semarang maupun Yogyakarta cukup terbilang amat padat. Salah satunya disebabkan karena kedua kota tersebut menjadi kota tujuan warga sekitar untuk mengadu nasib. 

Semarang memiliki setidaknya sembilan kawasan industri yang menyerap banyak pekerja dari luar kota. Sementara Yogyakarta, meskipun tidak memiliki kawasan industri, kini banyak perusahaan multinasional yang bertengger di wilayah ini. 

Selain itu, sektor pariwisata juga tumbuh subur dan menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Walaupun Semarang masih belum berada di level yang sama dengan Yogyakarta, tapi sejumlah destinasi wisata tetap menarik untuk dikunjungi. 

Tak hanya itu, Semarang dan Yogyakarta memiliki sejumlah kampus ternama. Beberapa di antaranya, bahkan masuk dalam Top 10 kampus terbaik Indonesia. Tak mengherankan, kedua kota ini menarik orang-orang dari luar daerah untuk mengenyam pendidikan tinggi sehingga arus lalu lintas kian padat. 

Yang menarik bagi saya justru lokasi-lokasi kampus di kedua kota ini. Di Semarang, lokasi kampus tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Universitas Diponegoro di Tembalang, Universitas Negeri Semarang di Gunung Pati, UIN Walisongo di Ngaliyan, UPGRIS di Semarang Timur, dan Unissula di Genuk. Sebaliknya, kampus di Yogyakarta tak menyebar. Misalnya di Kecamatan Depok, setidaknya terdapat 25 kampus baik negeri maupun swasta. 

Tiga hal ini turut berkontribusi atas kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas jalan di Semarang maupun Yogyakarta, terutama pada saat jam berangkat dan pulang kerja. Bedanya, di luar jam berangkat dan pulang kerja, jalan-jalan di Semarang relatif lancar. Sementara di Yogyakarta, arus kendaraan yang mengular juga nampak saat libur panjang, akhir tahun, dan cuti bersama.

Meski demikian, untuk mengurai arus kemacetan, Semarang memfasilitasi dua transportasi umum unggulan. Yakni, Trans Semarang (BRT) dan Trans Jateng. Dengan harga yang terjangkau (pelajar dan mahasiswa mendapatkan harga khusus), bus ini cukup diminati di berbagai kalangan. Terlebih, rute yang tersedia di transportasi umum ini juga cukup luas. 

Sama halnya dengan Semarang, Yogyakarta juga memiliki transportasi umum pemerintah yang bernama Trans Jogja. Namun sejauh pengamatan saya, belum banyak warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Masalah Banjir

Satu masalah lain yang bisa menjadi perhatian pemerintah setempat adalah pengelolaan banjir. Entah bagaimana, setiap kali hujan deras turun di Semarang, tak sulit bagi saya untuk menemukan genangan-genangan kecil bahkan banjir. Seolah banjir telah menjadi tradisi di kota ini, khususnya bagi yang tinggal di wilayah Semarang bawah.

Lokasi Semarang yang masuk dalam “langganan” banjir, di antaranya: Genuk, terowongan Jalan Sukarno-Hatta dekat USM, Jalan Gajah Raya, Banjir Kanal Timur, dan Jalan Pantura yang menghubungkan Semarang-Demak. Yang mengherankan, pada akhir 2024 lalu, Tembalang yang notabene berada di dataran tinggi juga tidak luput dari bencana ini.

Kondisi yang demikian itu tidak pernah saya rasakan selama empat tahun berkuliah di Yogyakarta. Air yang menggenang cukup tinggi hingga mengakibatkan banjir, tak sesering yang terjadi di Semarang. 

Salah satu penyebab banjir yang saya tenggarai adalah saluran air atau drainase yang mampet, tidak mengalir. Di daerah tempat saya tinggal di Jalan Gajah Raya, selokan tersumbat. Nyamuk berkembang biak dengan subur. Masalah ini menjadi krusial, khususnya bagi saya. 

Selain masalah drainase, penyebab banjir di Semarang juga terjadi karena beberapa faktor. Laporan investigasi yang dirilis oleh Koalisi Maleh Dadi Segoro (MDS) menyebutkan, setidaknya terdapat lima titik banjir di Semarang dari akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023. Di antaranya, Stasiun Tawang Semarang, daerah Mangkang, Simpang Lima, Jalan Raya Kaligawe, dan Pantai Marina yang tanggulnya jebol.

Adapun penyebab banjir, antara lain: tata kelola saluran air dan subsistem drainase yang belum baik, perubahan daerah aliran sungai (DAS), alih fungsi ruang terbuka hijau untuk pembangunan, dan kawasan berbentuk cekungan yang diperparah dengan kerusakan resapan di hulu. 

Senada dengan MDS, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Tengah menegaskan, banjir berasal dari “alih fungsi lahan dan tata ruang yang serampangan”.

Demikian tiga perbedaan antara Semarang dan Yogyakarta berdasarkan pengalaman hidup pribadi. Semarang dan Yogyakarta mungkin berdetak dalam irama yang berbeda, tapi keduanya tetap berkesan dan punya tempat tersendiri di hati. Barangkali, di antara dua denyut itu, saya menemukan nadi saya sendiri.

Kalau kamu, lebih tertarik untuk tinggal di mana?


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *