Republik Halaman Belakang

Penulis

Aku sering melihat fenomena aneh dari Tuan. Dia adalah penguasa tertinggi di republik ini, seorang dewa yang arbitrer, yang kehadirannya adalah hukum itu sendiri. Dia akan keluar dari Rumah Besar, biasanya saat Matahari mulai kehilangan taringnya, dan duduk di kursi plastik yang sudah pudar warnanya. Dia akan mengeluarkan sesuatu yang kecil dari sakunya, tidak lebih besar dari tulang paha ayam kering. Tapi, Tuan membakar benda kecil itu. Api kecil menyala di ujungnya, lalu dia menghirupnya dalam-dalam.

Kemudian, dari mulutnya, keluarlah segala resah dalam bentuk asap kelabu yang menari-nari. Asap itu berbau aneh—kering, sedikit manis, dan menenangkan, tapi sering membuatku batuk. Aku tak paham. Mungkin itu hanya makanan ringan bagi manusia yang merindukan perdamaian. Atau mungkin, itu adalah cara Tuan berbicara dengan langit.

Namaku Pedro. Aku adalah anomali di republik ini. Aku anjing hitam legam, dengan percikan-percikan putih acak di dada, sedikit di kepala, dan paling jelas di ujung ekorku—sebuah bendera putih kecil yang ironisnya tak pernah berarti menyerah. Aku berbeda dari yang lain. Buluku kasar, lebih mirip ijuk daripada kapas. Di belakang kepalaku, rambutku tidak pernah bisa rapi, menjulang kecil membentuk dua pusar yang berlawanan arah. Pablo, ayahku, dan saudaraku yang lain—Vamos dan Balto—semua berwarna coklat keemasan yang seragam, seperti tentara. Aku adalah bayangan yang hidup di antara mereka.

Tuan adalah sosok yang mengatur dan mengawasi republik halaman belakang ini. Aku tidak tahu, apakah kehadirannya menguntungkan atau merugikan dalam skema besar. Namun,Tuan lebih sering melerai Pablo, sang tuan tanah, jika ia mulai macam-macam dengan anjing lainnya. Bagiku, Tuan adalah misteri yang memberiku perlindungan. Sebuah aliansi yang tak terucap.

Perlindungan itu penting. Sebab di luar lingkaran asap Tuan, republik ini adalah neraka kecil yang diatur oleh dua hal: hasrat dan amonia. Bau kencing yang pekat adalah bahasa politik kami.

***

Semuanya selalu dimulai dengan bau.

Bukan bau Tuan yang seperti asap dan kopi. Bukan bau tanah kering yang retak di musim kemarau. Bukan pula bau besi berkarat dari pagar yang membatasi dunia kami. Ini adalah bau yang berbeda. Bau yang datang dari Rumah Besar, tapi bukan dari Tuan.

Bau yang merayap licik, tidak terlihat, melintasi teras keramik, lalu tumpah ke wilayah kami seperti janji-janji kampanye: manis, memabukkan, dan penuh kebohongan. Aroma sang betina. Seekor anjing lain yang hidup di dalam Rumah Besar, yang tak pernah kami lihat, hanya kami cium keberadaannya. Dia adalah ideologi, sebuah konsep tak terjangkau yang memicu perang.

Bau itu adalah katalis. Ia mengubah halaman belakang dari sekadar tempat menunggu makan menjadi panggung perebutan kekuasaan yang brutal.

Pablo, sang tuan tanah, adalah yang pertama bereaksi. Dia adalah penguasa lama, sang patriark, ayah kami semua. Badannya besar dan berat. Hidungnya yang keriput bergetar hebat. Ia akan bangkit, berjalan dengan langkah yang dibuat-buat gagah, lalu memulai ritualnya. Ia akan mondar-mandir, mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk mengencingi ulang pilar-pilar kekuasaannya: tiang jemuran, pot bunga yang sudah pecah, ban motor bekas, dan—yang paling penting—pintu gerbang. Ini adalah caranya mendeklarasikan undang-undang. “Ini,” kata baunya, “adalah milikku. Dulu, sekarang, dan selamanya.”

Lalu ada Vamos, si ambisius yang frustrasi. Tubuhnya lebih pendek dari kami, tapi hasratnya adalah yang paling besar di antara kami semua. Matanya berkilat liar, lidahnya selalu terjulur seolah tak pernah puas merasakan udara. Dia adalah representasi kekuatan baru yang populis dan berisik. Saat mencium aroma sang betina, Vamos akan berlari-lari kecil, menggeram pada bayangannya sendiri, lalu mencoba menantang Pablo. Bukan dengan perkelahian terbuka—ia tahu, ia akan kalah—tapi dengan cara yang lebih licik. Ia akan menunggu Pablo selesai menandai wilayah, lalu ia akan menimpanya dengan kencingnya sendiri. Sebuah kudeta simbolis yang selalu berakhir dengan geraman marah Pablo dan lolongan Vamos yang melarikan diri.

Aku? Aku hanya menonton. Aku tidak tertarik pada janji palsu yang dibawa angin itu. Aku tahu itu semua ilusi. Tapi aku tidak selalu menjadi anjing yang aman dan penyendiri seperti ini. Ada masanya aku juga mencoba masuk ke dalam tatanan sosial mereka.

Aku ingat, beberapa musim lalu, saat buluku masih lebih halus. Aku hanya ingin bermain. Aku melihat Vamos dan Balto, si kembar itu, sedang berguling-guling. Aku mendekat, membawa sepotong kayu kecil, menggoyangkan ekor putihku. “Ayo bermain,” kataku dalam bahasa kami, sebuah ajakan polos.

Tapi, di republik ini, tidak ada yang polos. Vamos berhenti berguling. Ia menatapku. Matanya yang biasanya liar, kini menajam. Ia mengendusku. Aku membiarkannya. Lalu, aku merasakan kakinya di punggungku. Ia mencoba menaikiku. Aku tersentak. Ini bukan permainan. Ini adalah bahasa kekuasaan. Pablo, yang mengawasi dari jauh, mendekat. Ia juga mengendusku, lalu ia juga mencoba melakukan hal yang sama.

Aku merasa aneh. Bingung. Ini tidak terasa benar. “Ngapain sih kalian?” aku menyalak. Bukan geraman marah, tapi sebuah pertanyaan yang tulus, sebuah protes bingung terhadap tatanan yang tidak kupahami.

Reaksi mereka instan. Mereka serempak menjauh. Menatapku seolah aku baru saja menghina leluhur mereka. Sejak saat itu, mereka memusuhiku. Aku menjadi “si aneh”. Si penyendiri. Aku tidak punya pilihan lain. Mereka tidak mengerti bahasa permainan; mereka hanya mengerti bahasa nafsu dan dominasi.

Dan Tuan, dari kursinya, adalah pengamat yang agung dan adil. Dia memperhatikan semuanya, hari demi hari. Dia melihatku yang sering menyendiri, yang hanya mau bermain, tapi ditolak oleh saudara-saudara yang didorong oleh hormon. Dia melihatku yang mencoba menawarkan kayu, tapi dibalas dengan hasrat. Dia melihatku yang berbeda.

Karena itulah aku menjadi anjing kesayangannya. Bukan karena aku menjilat kakinya atau mengemis sisa makanan. Aku hanya berbuat apa yang aku mau—yaitu, tidak ikut dalam politik kotor mereka—dan Tuan, dengan alasannya sendiri, menyukai itu.

Maka, terbentuklah aliansi patronasi kami. Aku lebih sering menemani Tuan mengunyah asapnya. Sekalipun aku sudah terlelap di bawah pohon sirsak, di tanah yang dingin, aku akan tahu jika Tuan ada. Bukan dari suara langkahnya, tapi dari ketenangan yang Dia bawa. Ujung ekor putihku akan tergerak, dan aku akan memilih untuk bangkit, berjalan pelan, lalu berbaring di dekat kakinya yang telanjang. Tuan kadang akan mengelus buluku yang kasar, dari kepala hingga ke dua pusarku yang aneh. “Pedro, Pedro,” katanya, suaranya rendah. Di saat-saat seperti itulah, aku merasa aman. Aku merasa terpisah dari kekacauan republik ini.

Aku juga pernah menangkap momen di mana Tuan menunjukkan taringnya, tapi tidak menyeramkan. Ia tersenyum. Hanya seperti saat aku menjulurkan lidah jika merasa kepanasan. Tapi aku merasakan jika Tuan bisa senang atau malah sedih. Di sela-sela mengunyah asap, saat malam sudah benar-benar pekat dan hanya lampu halaman belakang yang menyala, Tuan biasanya meneteskan air dari matanya. Ia tidak bersuara. Hanya air yang jatuh.

Mungkin itu cara manusia menunjukkan perasaannya. Seperti aku jika merasa gerah, maka akan meneteskan air liur; manusia mungkin liurnya adalah air mata. Entahlah. Tuan adalah dewa yang rapuh.

Justru karena perlindungan Tuan itulah, politik di halaman ini menjadi semakin jelas. Statusku sebagai “Anjing Tuan” adalah sebuah privilese yang berbahaya. Setiap kali diriku selesai dielus Tuan, saat aku kembali ke kawananku untuk minum, aku akan ditatap tajam oleh Pablo dan Vamos. Tatapan mereka penuh iri dan benci. Mereka mendiskriminasiku, bukan lagi karena aku hitam atau karena aku menolak dinaiki. Mereka membenciku karena aku punya akses.

Aku akhirnya mengerti. Pablo mungkin menguasai tanah dan pintu gerbang. Tapi, aku menguasai waktu sang penguasa. Aku bisa duduk di singgasananya, di dekat kakinya. Sesuatu yang tidak pernah bisa mereka beli dengan semua kencing di tubuh mereka.

Frustrasi mereka membutuhkan pelampiasan. Karena mereka tidak bisa menyentuhku—Tuan akan marah—maka mereka mencari target lain. Yang paling lemah. Yang paling mirip dengan si ambisius Vamos, tapi tanpa apinya. Namanya Balto.

Aku merasa miris melihatnya. Balto, kembaran Vamos. Rakyat jelata paling murni. Dia tidak punya ambisi. Dia tidak punya perlindungan. Dia hanya ingin tidur dan makan. Dia adalah warga negara yang sempurna untuk ditindas.

Balto biasa dijadikan objek nafsu oleh Pablo dan Vamos. Saat aroma sang betina tak terjangkau, saat Tuan sedang berada di dalam Rumah Besar, saat itulah drama paling menjijikkan di republik ini dimulai. Mereka butuh panggung untuk menegaskan hierarki. Dan Balto adalah panggung yang sempurna.

Ia pasrah. Ia tidak melawan. Ia tidak pernah belajar menyalak sepertiku. Ia hanya diam, seolah menerima itu sebagai pajak keamanan yang harus ia bayar untuk bisa hidup di wilayah Pablo.

Pablo, sang penguasa lama, akan menaikinya dengan geraman berat dan gerakan yang lambat. Seolah itu adalah hak feodalnya. Sebuah ritual untuk mengingatkan semua orang siapa pemilik tanah ini.

Vamos, si politisi frustrasi, akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Ia melakukannya dengan kikuk, terburu-buru, dan penuh agresi. Gerakannya patah-patah. Itu bukan nafsu. Itu adalah pertunjukan kekuasaan yang menyedihkan. Sebuah kompensasi atas tubuhnya yang pendek dan kegagalannya menantang Pablo atau menyentuhku.

Setiap kali itu terjadi, aku akan pergi ke bawah pohon sirsak. Aku akan memalingkan muka. Aku tidak tahan melihatnya. Bukan karena adegannya, tapi karena kepasrahan Balto. Matanya yang cokelat itu akan menatap kosong ke dinding, seolah raganya sedang pergi ke tempat lain.

Malam turun. Tuan masuk ke Rumah Besar. Asapnya yang menenangkan telah hilang. Udara kembali dipenuhi bau amonia pekat dari kencing Pablo yang posesif dan geraman rendah Vamos yang gelisah. Balto tidur meringkuk di sudut terjauh, di dekat tumpukan bata merah bekas, seolah ingin menghilang ditelan bayangan.

Aku berbaring di bawah pohon sirsak. Ujung ekor putihku diam. Aku memandangi mereka bertiga. Tuan tanah, politisi frustrasi, dan rakyat tertindas. Tiga pilar yang menopang republik bobrok ini.

Dan aku? Aku adalah pribadi yang tenang. Aku adalah pengamat. Aku adalah filsuf yang terpaksa hidup di tengah para barbar. Aku tahu jika suara sudah dibungkam, jika salakan protesmu hanya membuatmu dimusuhi, maka masih ada alternatif lain untuk bersuara: diam dan mengamati.

Aku memiliki moto hidupku sendiri, sesuatu yang kurasakan di tulang-tulangku setiap kali aku melihat Tuan mengembuskan asapnya ke langit. Ad maiora natus sum. Aku terlahir untuk hal-hal yang lebih luhur daripada sekadar memperebutkan wilayah kencing atau menindas yang lemah.

Maka dari itu, aku tak menderita. Aku tidak terkejut. Aku tidak marah. Aku hanya mencatat. Aku tetap berusaha hic et nunc—di sini dan saat ini—untuk tetap menjalankan hidup yang penuh likunya ini, di bawah perlindungan dewa yang rapuh dan di tengah republik yang sudah lama busuk.


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *