Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Chairil Anwar
Pada mulanya adalah Dadang, menolak solidaritas datang, menjadi dalang perpecahan. “Untuk masalah Cak Andie Peci dan teman-teman Bonek mau ke Kanjuruhan untuk bersama-sama mengawal kasus hingga tuntas, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap teman-teman Bonek, kalau pertandingannya tidak melawan Persebaya, kami persilakan. Tapi ini kan lawan Persebaya,” jelas Dadang, perwakilan Aremania dalam acara Mata Najwa (6/10/2022). Fanatisme itu sungguh sakti, “Kami tidak ingin nantinya ada semacam friksi yang tidak-tidak di tingkatan grassroot. Kalau kami terima, tapi tingkatan grassroot friksinya beda-beda,” katanya, menjadi bom yang meledakkan solidaritas gerakan hingga kini. Biasanya, situasi darurat itu selalu memicu perubahan, tapi Tragedi Kanjuruhan tidak mempan bagi Dadang, selayaknya Iblis yang menolak perintah Tuhan, Dadang menolak tuntutan persatuan—ia memilih menempatkan kekhawatiran rivalitas di atas keadilan.
Sementara itu, sehari setelah tragedi (02/10/2022), Sekjen PSSI Yunus Nusi mengatakan bahwa federasi telah berkomunikasi dengan FIFA. Esoknya (03/10/2022), Jokowi melakukan telfon dengan Presiden FIFA, membahas Kanjuruhan dan potensi sepak bola Indonesia. Dua hari kemudian (05/10/2022), Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi Presiden FIFA Gianni Infantino di Doha, Qatar. Walhasil semua komunikasi itu berhasil, FIFA mempertahankan status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, tanpa sanksi atau skors imbas tragedi.
Sehari kemudian, Dadang yang naif itu lebih memilih khawatir terhadap rivalitas, ketimbang fakta bahwa pemimpin negeri ini sedang sibuk menyelamatkan investasi ketimbang menuntaskan kasus, permintaan maaf yang ia kemukakan pun tidak berdampak apa-apa selain kekecewaan. Seribu hari berlalu, Tragedi Kanjuruhan tak kunjung tuntas, entah Dadang sedang apa, kita tidak tahu dan tidak perlu tahu, yang pasti adalah bahwa para Ibu masih berduka atas kepergian anaknya.
Kabut Keputusasaan Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan telah melahirkan apa yang bisa disebut sebagai kabut keputusasaan, suatu lapisan asap yang menyesatkan imajinasi perjuangan kelas suporter. Penuntasan keadilan selalu dijanjikan, tapi tak pernah tiba, membuat gerakan terjebak dalam siklus hasrat tanpa pemenuhan. Kabut ini merupa dalam kebuntuan proses hukum, semakin padamnya gerakan UsutTuntas, polisi yang mulai bangkit di Malang, perpecahan keluarga korban, dan fenomena lainnya.
Di balik kabut ini, terkandung suatu arketip mental kolektif. Para suporter terjebak dalam ruang imajiner melalui identitas tim yang diidealkan, yang diimplan menjadi fanatisme buta, menjadi penghalang kesadaran atas permasalahan sebenarnya, suatu permasalahan kelas. Fanatisme adalah alat kontrol sosial yang muncul dalam dinamika industri sepak bola untuk memecah belah potensi perlawanan struktural. Ketika Dadang menolak solidaritas dengan Bonek, ia sebenarnya sedang mengoprasikan alat ini, menjaga ruang imajiner kapitalistik, di mana rivalitas lebih penting ketimbang keadilan.
Bisa jadi, kabut ini juga diperkuat oleh mereka yang mengaku sebagai pembela korban. Para aktivis yang terjebak dalam narasi hukum formal, para politisi yang mengeluarkan pernyataan belasungkawa kosong, para media yang menjadikan tragedi sebagai konten, dan suporter yang terpecah serta fanatisme beku. Mereka sibuk memperjuangkan “keadilan”, tapi kurang menyentuh kerangka sistem yang menciptakan ketidakadilan, suatu sistem yang menjadi medan eksploitasi sepak bola.
Di sini, kebuntuan pengusutan tragedi Kanjuruhan bukan sekadar kegagalan prosedural hukum atau ketidakmampuan institusional. Ia adalah manifestasi sempurna dari kontradiksi kapitalisme yang ditubuhkan dalam sepak bola: sistem yang harus menghasilkan spektakel untuk menjamin sirkulasi kapital, namun pada saat yang sama harus menyembunyikan kekerasan yang menopang spektakel tersebut. Ini adalah kekerasan sistemik, suatu kekerasan yang melekat pada kondisi sosial kapitalisme global, yang selalu tersembunyi di balik kekerasan subjektif yang terlihat. Kebuntuan ini bukan anomali, melainkan komponen esensial dari cara kerja sepak bola dalam fase kapitalisme lanjut, di mana keamanan penonton selalu subordinat terhadap keamanan aliran kapital. Kematian 135 orang di Kanjuruhan adalah “kecelakaan” yang terlalu mengganggu bagi mesin akumulasi, sebuah lubang hitam yang harus segera ditutup agar roda terus berputar, hasrat tetap mengalir, dan kapital tetap berakumulasi.
Dengan demikian, kabut keputusasaan itu adalah konstruksi sosial yang harus dihancurkan dengan kesadaran kelas, suatu kesadaran objektif untuk membongkar sistem yang memungkinkan situasi ini. Karena kabut keputusasaan adalah kausalitas dari mesin kapital yang dirancang untuk membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita memiliki kekuatan untuk mengubah segalanya, sebuah kekuatan untuk merombak struktur sosial sepak bola, kemudian mendobrak kebuntuan pengusutan Kanjuruhan.
Tragedi Kanjuruhan dijerat Rantai Kapital
Dalam logika rantai nilai global yang diuraikan Intan Suwandi dalam Value Chains: The New Economic Imperialism (2019), korporasi multinasional mengendalikan teknologi, merek, dan distribusi, sementara perusahaan domestik menanggung risiko produksi dan menyerap tenaga kerja murah. Mekanisme “penangkapan nilai” memastikan bahwa sebagian besar surplus (keuntungan atau nilai lebih) dialihkan ke pusat kapitalisme melalui kontrak outsourcing, hak kekayaan intelektual, dan platform digital.
Di sepak bola, pola serupa terlihat: klub lokal bergantung pada hak siar yang sebagian besar nilainya dikendalikan oleh konglomerasi media nasional yang kemudian menjual paket ke platform global; transfer pemain ke luar negeri disyaratkan membayar komisi ke FIFA; dan sponsor produk sering mengalir ke merek asing. Tragedi Kanjuruhan menjadi mikrokosmos di mana tekanan profit mengabaikan risiko keselamatan suporter.
Di sinilah “rantai kapital”—sebagai istilah analitis—menjelaskan bagaimana eksploitasi tidak hanya terjadi di lini industri pada umumnya, tetapi juga di tribun stadion, di mana emosi, identitas, dan tubuh suporter diekstrak untuk mengakumulasi rantai nilai global dari kantor PSSI kemudian mengalir ke kantor pusat FIFA. Rantai ini juga menjadi spektrum yang menjerat proses penuntasan tragedi dan menjadi aspek prakondisi terjadinya tragedi Kanjuruhan.
Organisasi FIFA, sebagai suprastruktur global, berfungsi seperti mafia yang menetapkan aturan sekaligus melanggarnya. Skandal 2015 mengungkap bagaimana FIFA mengalirkan uang suap senilai $150 juta melalui rekening di Swiss. Michael Garcia, jaksa agung Amerika Serikat, menghasilkan laporan sepanjang 350 halaman yang menggambarkan kondisi internal FIFA. Namun alih-alih mempublikasikan laporan tersebut secara transparan, FIFA justru memilih merilis ringkasan sepanjang 42 halaman yang secara signifikan meredam temuan penting.
Di Kanjuruhan, FIFA berperan sebagai wasit yang memvonis federasi tidak bersalah—tidak ada sanksi, tidak ada investigasi serius, hanya ada bisnis seperti biasa. FIFA adalah organisasi yang mengendalikan produksi, distribusi, dan konsumsi sepak bola global demi keuntungan segelintir elit. Di Indonesia, PSSI berfungsi sebagai komprador yang menjalankan perintah FIFA. Mereka bukan organisasi otonom, melainkan alat yang mengimplementasikan logika ekstraksi nilai di Indonesia. Bersama elit seperti Erick Thohir. Mereka menjalani peran sebagai broker bisnis yang menjual tragedi demi konsesi bisnis.
Perjalanan Erick untuk menemui Infantino adalah sebuah transaksi—bukan untuk menyelesaikan kasus, melainkan untuk memastikan Piala Dunia U-20 tetap berjalan, meskipun kemudian gagal karena penolakan Indonesia atas kehadiran Israel. Tak lama setelahnya Erick menjadi Ketua PSSI yang sama sekali dan tentu saja gagal menyelesaikan tragedi, karena memang tugasnya menyelamatkan industri sepak bola Indonesia setelah Kanjuruhan.
Rantai ini melibatkan beberapa media dan sponsor. Media massa, yang bergantung pada iklan dan hak siar, diam-diam mendukung penutupan kasus Kanjuruhan, mereka ikut serta dalam menyebarkan kabut keputusasaan—mengalihkan perhatian dari isu substansial ke drama-drama sekunder seperti “siapa yang salah” antara polisi, suporter, dan panitia. Beberapa brand bahkan menjadikan tragedi sebagai kesempatan sponsor dengan mengeluarkan pernyataan belasungkawa kosong. Rantai kapital juga hadir dalam hasil persidangan yang menjatuhkan vonis ringan, membebaskan beberapa terdakwa, dan bahkan menyalahkan angin—situasi ini adalah buntut dari konstruksi borjuis pengadilan yang melindungi elit dan pemilik modal.
Perlu dipahami bahwa rantai kapital tidak bekerja setelah tragedi, kehadirannya adalah prakondisi yang memungkinkan tragedi dan sekaligus menjadi jawaban atas ketidaktuntasannya. Sebelum tragedi, rantai kapital terbentuk dari tiket yang dicetak secara berlebihan melebihi kapasitas stadion, PSSI yang tidak melakukan sosialisasi tentang peraturan FIFA kepada kepolisian, hingga fanatisme yang mendasari rivalitas Aremania dan Bonek.
Setelah tragedi, di ranah akar rumput, rantai kapital muncul dalam fanatisme sepak bola, pernyataan Dadang yang mengukuhkan rivalitas, sabda Yuli Sumpil tentang logo yang sakral, hingga pelemparan bis Persik. Rantai kapital juga hadir dalam upaya persatuan Arema, mewujud dalam bentuk kontradiksi. Di satu sisi, 7 presidium Satu Arema berupaya menyatukan suporter Arema FC dan Arema Indonesia, di sisi lain pihak Arema FC melakukan somasi merk terhadap Arema Indonesia. Rantai ini kemudian juga mengurung keluarga korban dalam situasi perpecahan yang amat dilematis—situasi yang mustahil dipahami tanpa melihat sistem infiltrasi polisi dan bahkan gerakan itu sendiri.
Di sini, kita melihat rantai kapital sebagai suatu sistem yang menjerat kasus Kanjuruhan. Ia tersusun dari jaringan kompleks, mulai dari organ multinasional seperti FIFA, federasi PSSI, elit politik, media, kepolisian, industri eksploitatif sepak bola, fanatisme suporter, hingga pengadilan borjuis—semuanya bekerja untuk membangun imajinasi bahwa malapetaka yang menimpa 135 korban jiwa itu mustahil dituntaskan.
Kebuntuan Sebagai Awal, Bukan Akhir!
Frustasi dan keputusasaan dalam gerakan adalah tentang imajinasi, sedangkan imajinasi sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Semakin luas suatu imajinasi, semakin beragam serta kuat pula gerakan yang hendak dilakukan. Ketika frustasi dan keputusasaan datang, artinya pengetahuan tentang gerakan sedang terbatas. Ketika hendak melakukan UsutTuntas, pernahkah dipertanyakan apa yang hendak diusut dan bagaimana ia bisa tuntas? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan kemana gerakan akan dibawa.
Tuntasnya suatu pengusutan ditandai ketika tidak adanya anasir permasalahan yang masih tersisa. Hanya mengusut para pelaku lapangan (penembak gas air mata) dalam tragedi tentu masih menyisakan rantai komando, dengan demikian tidak tuntaslah pengusutan itu. Demikian pula mengusut rantai komando (atasan yang memerintahkan penembakan gas air mata) tanpa mempertanyakan sistem apa yang memungkinkan komando tersebut muncul, tentu masih menyisakan permasalahan. Mengusut sistem yang memunculkan komando (PSSI dan Panitia Pelaksana yang merumuskan mekanisme pengamanan) tersebut tanpa melihat hal di baliknya tentu masih bermasalah. Dengan demikian, mengusut hal di balik sistem (kapitalisme sepak bola yang memprioritaskan profit dibanding keselamatan supporter) yang memungkinkan rantai komando penembakan gas air mata di lapangan adalah UsutTuntas sebenarnya.
Dengan demikian, ketika gerakan mengalami kebuntuan, pengetahuan tentang UsutTuntas tragedi harus dikaji ulang. Tanpa melakukannya, kebuntuan gerakan akan menjadi akhir perjuangan. Tapi jika melakukannya, kebuntuan gerakan akan menjadi kondisi awal yang harus digali, mengapa ia bisa terjadi? Di sini, kegagalan penuntasan tragedi bukan pemberhentian, melainkan pembuka tabir kontradiksi: mengapa proses hukum macet? Mengapa stadion dihancurkan? Mengapa elit politik lebih sibuk lobi FIFA ketimbang memenuhi tuntutan korban? Mengapa setelah tragedi, rivalitas dan fanatisme masih ada? Mengapa polisi masih ada dan berlipat ganda sekalipun ia begitu bobrok? Mengapa ada perpecahan keluarga korban? Pertanyaan-pertanyaan ini, jika ditempatkan sebagai permulaan, akan mengungkap rantai kapital yang menggerogoti perjuangan dari dalam.
Kebuntuan pengusutan Kanjuruhan adalah jendela untuk memahami lebih dalam bagaimana kapitalisme membenamkan olahraga dalam logika komodifikasi total. Ketika kita memahami kebuntuan bukan sebagai kegagalan pengusutan, melainkan sebagai manifestasi dari kontradiksi struktural antara sepak bola sebagai ekspresi kultural dan sepak bola sebagai industri ekstraktif, kita mulai melihat kemungkinan-kemungkinan gerakan serta perjuangan baru. Menempatkan kebuntuan sebagai awal berarti menolak narasi frustasi yang pasif. Sebaliknya, kita harus melihat kebuntuan sebagai moment of truth—saat di mana kontradiksi kapitalis terekspos secara vulgar.
Kebuntuan Kanjuruhan membuka mata kita pada fakta bahwa sepak bola Indonesia—dan global—bukanlah fenomena otonom yang berjalan menurut logikanya sendiri, melainkan bagian integral dari formasi sosial kapitalisme. Dalam pengertian ini, kita tidak dapat memahami sepak bola tanpa memahami basis material rantai kapital yang menjeratnya: Siapa yang memiliki klub? Siapa yang menguasai hak siar? Bagaimana nilai lebih diekstraksi dari tenaga kerja pemain dan dari hasrat penggemar? Siapa yang diuntungkan dari fanatisme dan rivalitas supporter? Bagaimana perpecahan keluarga korban dapat dimungkinkan? Diperlukan pengetahuan mendalam untuk memahami hal ini, diperlukan suatu teori mutakhir, seperti kata Lenin dalam What Is to Be Done? Burning Questions of Our Movement (1902), “Without revolutionary theory there can be no revolutionary movement. This idea cannot be insisted upon too strongly at a time when the fashionable preaching of opportunism goes hand in hand with an infatuation for the narrowest forms of practical activity [Tanpa teori revolusioner tak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini tak dapat ditekankan terlalu keras pada masa di mana khotbah opotunis yang sedang tren berjalan berdampingan dengan keasyikan pada bentuk-bentuk aktivitas praktis yang paling sempit].”
Untuk mendobrak kebuntuan, perlu dilakukan praksis revolusioner, yaitu mula-mula mengubah perspektif dari tuntutan hukum individual menjadi perjuangan kelas kolektif yang menyerang akar masalah—yaitu, kepemilikan sarana produksi sepak bola oleh segelintir elit. Para suporter harus menyadari bahwa mereka bukan sekadar penonton, melainkan kelas pekerja penggemar sepak bola yang dieksploitasi secara brutal, yang puncaknya adalah kematian 135 nyawa di Kanjuruhan.
Stadion adalah pabrik, tiket adalah upah, dan pertandingan adalah proses produksi—di mana nilai lebih diekstraksi dari tenaga, emosi, dan bahkan nyawa supporter—untuk menciptakan keuntungan sebesar-besarnya. Tentu di sini solusinya bukan lebih banyak aksi protes simbolis, melainkan memutus rantai kapital. Ketika kita memahami ini, kebuntuan bukan lagi frustasi, melainkan panggilan untuk revolusi, sebagaimana kata Andie Peci kepada TGIPF (06/10/2022), “Kalau kami tidak bisa mendapatkan hasil yang adil buat suporter, tentu kami akan melakukan gerakan yang revolusioner,” sebelum Dadang datang mengobrak-abrik segalanya di hari yang sama.
Perjuangan untuk keadilan Kanjuruhan adalah bagian dari perjuangan yang lebih luas dalam melawan rezim akumulasi kapital yang predatoris. Dengan demikian, UsutTuntas adalah mengusut segala aspek objektif yang menjadi prakondisi tragedi, UsutTuntas adalah merebut sarana produksi sepak bola dari tangan kapital. Perjuangan revolusioner tersebut tentu akan sangat kompleks, fanatisme adalah tantangan utamanya. Salah satu keluarga korban bertanya pilu, “Dulu di Kanjuruhan kenapa kemarahannya tidak sebesar ini yah? Padahal 135 nyawa yang menghilang,” saat seluruh warga marah dan mengobrak-abrik kekuasaan ketika Affan Kurniawan dilindas oleh Rantis Brimob (28/08/2025), kita tahu jawabannya: Karena ada Dadang. Kini, di tiga tahun tragedi, Dadang terus ada dan berlipat ganda, menjelma menjadi ragam rantai kapital panjang yang memborgol keadilan dalam dilema tak berkesudahan.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








