Pram, Pram, Pram

Penulis

Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) adalah nama yang tak lekang oleh waktu. Lahir di Blora, Jawa Tengah, Pram mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari, berpikir dan menulis tentang Indonesia. Sekitar 50 karya telah dihasilkan dan sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. Jumlah ini belum termasuk tulisannya yang termuat di media massa, maupun naskah-naskahnya yang dirampas dan diberangus. Menjadikan sastra sebagai alat perjuangan, kelihaian Pram merangkai kata tidak hanya mengetuk hati, tetapi juga mengintervensi kesadaran pembacanya untuk memihak.

Pram bukan sekadar sastrawan, sejarawan atau tokoh dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia adalah korban atas kebiadaban rezim Orde Baru yang menangkapnya tanpa proses pengadilan dan harus ditahan selama 14 tahun, mulai dari Penjara Salemba, Pulau Nusakambangan dan Pulau Buru, Maluku.

Hidup di pengasingan dengan keterbatasan, represi yang membayangi, Pram secara konsisten menulis. Roman Tetralogi Buru—Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988)—menjadi karya paling tersohor. Mengisahkan tentang ketimpangan struktural masyarakat pribumi yang hidup di bawah kolonialisme dan feodalisme awal abad ke-20, Pram menghadirkan Minke sebagai simbol perlawanan, dan mengajarkan kepada kita betapa pentingnya berpikir kritis melampaui batas sebagai syarat menuju perubahan.

Dalam Bumi Manusia (1980), selain Minke, ada juga sosok Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang dijual oleh ayahnya kepada orang Belanda untuk dijadikan gundik. Menolak pasrah, Nyai Ontosoroh berusaha membuktikan bahwa perempuan pribumi juga memiliki kecerdasan dan keterampilan. Meski pada akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit: Annelies, putrinya, diambil oleh pengadilan kolonial yang memandang statusnya dengan sebelah mata. Namun Nyai Ontosoroh telah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!

Pram tentunya sangat menaruh perhatian pada kisah perempuan yang mengalami diskriminasi, yang dirampas haknya, serta terpinggirkan atas nama etika, norma dan tradisi. Dalam Gadis Pantai (1962), Pram memotret kuasa patriarki terhadap perempuan muda desa yang dipaksa menikah dengan seorang bendoro. Sementara itu, lewat Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer (1979), Pram mengisahkan bagaimana para remaja perempuan yang dijadikan sebagai budak seks (jugun ianfu) selama masa pendudukan Jepang. Topik serupa dengan permasalahan yang kompleks dapat ditemukan dalam karya lainnya, seperti Cerita Calon Arang, Arok Dedes, Larasati, Midah Simanis Bergigi Emas, dan Panggil Aku Kartini Saja.

Kemudian, melalui Arus Balik (1995) yang berlatar abad ke-16, Pram menggambarkan bagaimana keruntuhan sebuah kerajaan tidak semata-mata karena musuh dari luar, tetapi dilakukan oleh sesama anak bangsa. Dalam karya ini, Pram mengajak pembaca untuk merenungkan sejarah Dipantara yang sarat dengan intrik politik, konflik agama serta pengkhianatan.

Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan (Christanty, 2003).

Saat menjelang runtuhnya rezim Orde Baru, Pram secara terbuka menunjukkan sikap politiknya dengan menyatakan dukungan terhadap Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dalam rapat pendirian Komite Persiapan Legalisasi PRD 14 Juli 1996 di LBH Jakarta, Pram mengatakan: “PRD berhak mandiri sebagai partai politik. Dan saya bersedia menjadi anggota, kalau diterima.” Pada saat deklarasi PRD 22 Juli 1996, ia diberi penghargaan PRD Award karena kontribusinya melalui sastra dan perlawanannya terhadap ketidakadilan.

Sebagai bentuk sokongan moral, mempertegas keberpihakannya pada gerakan rakyat dan demokrasi, serta kepercayaannya untuk angkatan muda dalam gelanggang politik, Pram bergabung dengan PRD pada 21 Maret 1999. Dalam pidato pembuka, ia menegaskan:

“Sekarang ini, di tengah-tengah Angkatan Muda yang menggelora, sungguh saya merasa berbahagia. Inilah peristiwa terpenting dalam hidup saya, yang saya dambakan sejak muda: menyaksikan sendiri lahirnya Angkatan Muda sendiri yang tidak dibebani bombasme, rasional, korektif, kritis, dan yang semua itu dirangkum oleh ketegasan.”

Di bagian akhir pidatonya, ia kembali menekankan:

“Keberanian! Sekali lagi keberanian! Terutama untuk Angkatan Muda keberanian adalah modal pertama. Tanpa keberanian, kalian akan diperlakukan sebagai ternak belaka: dibohongi, digiring ke sana kemari atau bisa saja digiring ke pembantaian. Keberanian saja yang bisa membuat pribadi menjadi kokoh.”

Namun, seandainya Pram masih hidup, dukungan itu tentunya akan disesali, mengingat sebagian angkatan muda yang dulunya ia sokong, kini justru berpaling dari perjuangan, mengekor dan menjilat pantat sisa Orba demi menjadi bagian dari sistem yang dulu mereka lawan.

Pram memang sangat teguh dengan prinsipnya, saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meminta maaf kepada korban tragedi 1965-66, ia secara tegas menolak. Inilah yang membuat Goenawan Mohamad mengkritik sikapnya dalam sebuah tulisan yang dimuat di majalah Tempo edisi 3-9 April 2000, berjudul: “Surat Terbuka Untuk Pramoedya Ananta Toer”. Menurut Goenawan, Pram semestinya bersikap seperti Nelson Mandela di Afrika Selatan yang selama bertahun-tahun ditindas, kemudian menawarkan rekonsiliasi dengan bekas musuh.

Pram kemudian membuat tulisan tanggapan untuk Goenawan Mohamad berjudul: “Saya Bukan Nelson Mandela”. Menurut Pram, Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Ia secara gamblang menyatakan ketidakpercayaannya kepada Gus Dur, karena Gus Dur seperti Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. Pram hanya menginginkan tegaknya hukum dan keadilan, bukan basa-basi.

Meski Pram telah wafat pada 30 April 2006 silam, membaca dan merefleksikan karya-karyanya menjadi alternatif untuk melawan narasi dominan yang sarat akan manipulasi sejarah. Melalui tokoh-tokohnya, Pram memberi pelajaran penting untuk membebaskan diri dari hal-hal yang membelenggu. Menulis bukan hanya sekadar bercerita, melainkan sebuah keberanian yang juga terdapat risiko. Sementara berjuang adalah kesediaan untuk berpihak pada kelas yang tertindas. Sebagaimana kata Pram, “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Tentunya, di tengah kondisi sosial-politik yang makin carut-marut, Pram akan tetap hidup. Tugas kita bukan hanya mengenang dan berlarut dalam romantisme perjuangannya, melainkan harus melanjutkan warisannya. Bahkan bila perlu, sampai mencari hujan di musim kemarau. Membaca untuk memahami realitas, menulis untuk keabadian, dan berjuang untuk memanusiakan manusia.


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *