Pemerkosaan Bidadari

Penulis

Seorang lelaki baru saja ditangkap oleh Malaikat Penjaga Surga karena telah kepergok menyusup masuk ke dalam Surga dan memperkosa salah satu bidadari di dalamnya. Segera setelah menangkap basah lelaki itu, Malaikat Penjaga Surga langsung pergi ke tempat Tuhan. Ia menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di tempatnya, sekaligus memohon ampun karena lalai menjaga Surga. Tuhan lalu memanggil Malaikat Peniup Sangkakala dan menyuruhnya untuk meniup trompet sangkakala sebagai bentuk pengumuman penting.

Dengung sangkakala terdengar sampai ke seluruh penjuru semesta. Menembus galaksi-galaksi, menjangkau galaksi di luar galaksi yang tidak ada habisnya. Semua makhluk yang ada menadahkan kepalanya ke atas. Mereka sudah terbiasa mendengar bunyi trompet sangkakala itu. Terakhir kali mereka mendengar sangkakala dibunyikan sekitar satu minggu yang lalu. Ketika itu, kurang dari sepuluh menit, mereka menghentikan aktivitas hanya untuk mendengar pengumuman mengenai seorang ilmuwan manusia yang menyusup masuk ke Neraka. Ilmuwan itu berani menerobos masuk ke Neraka untuk meneliti seberapa derajat panas di sana. Setelah pengumuman itu dikumandangkan, Tuhan memberi pilihan kepada semua makhluk yang ada. Apakah ilmuwan manusia itu mau dihukum atau tidak. Makhluk seperti manusia memang diberi banyak keistimewaan oleh Tuhan. Dan, karena tidak ada manusia yang sempurna, maka mereka sepakat untuk tidak memberi hukuman pada ilmuwan itu. Supaya kelak, mereka juga dapat bersiap dengan panasnya Neraka jika harus masuk ke sana.

Sama seperti seminggu sebelumnya, seluruh makhluk meninggalkan aktivitasnya sejenak untuk mendengarkan dengan seksama ucapan Tuhan yang menggaung tanpa rupa. “Ada seorang manusia yang telah menyusup masuk ke Surga dan memperkosa salah satu bidadari di dalamnya,” ucap Tuhan. “Apa yang kalian putuskan?”

Makhluk yang tinggal di luar bumi, yang bukan manusia langsung tidak peduli lagi pada pengumuman itu dan kembali bekerja. Mereka tidak perlu ambil pusing dengan kejadian itu karena yang membikin ulah bukan dari kaum mereka. Itu ulah kaum makhluk manusia.

Semua manusia di Bumi saling berbisik satu sama lain, mengomentari kejadian itu.

“Beruntung sekali dia bisa menyelinap masuk ke Surga,” kata salah satu manusia yang ada di bagian utara Bumi.

“Bagaimana rasanya, ya, kira-kira, bercinta dengan bidadari?” manusia yang ada di bagian selatan Bumi penasaran.

“Kawinkan!” teriak salah seorang dari tenggara.

“Kawinkan?” Manusia di barat daya bertanya-tanya. “Mana mungkin bisa?”

“Bunuh bagaimana?’ usul seorang dari bagian timur laut.

Terjadi pertentangan pendapat antar manusia di setiap bagian Bumi. Selama lebih dari seminggu berdebat, manusia belum menghasilkan keputusan apa pun. Sementara itu, Si Pemerkosa telah berhasil ditangkap oleh beberapa Jin, setelah sebelumnya berusaha kabur ketika ditinggal Malaikat Penjaga Surga melapor pada Tuhan. Dan sekarang, Si Pemerkosa itu dipenjara di langit ketiga. Termasuk di sana juga ada Malaikat Penjaga Surga. Ia dihukum karena dianggap lalai mengerjakan tugasnya.

“Ini gara-gara kau,” Malaikat Penjaga Surga menyalahkan Si Pemerkosa.

“Tidak!” Si Pemerkosa membela diri.

Mereka berdua dimasukkan dalam sel tahanan yang berhadapan. Jadi terdapat ruang yang leluasa bagi keduanya untuk saling menghardik.

“Ini gara-gara berita yang mengatakan bahwa kelak di Surga nanti manusia akan bisa bercinta dengan bidadari sepuasnya,” kata Si Pemerkosa dengan semangat. “Jadi aku perlu mencobanya sebagai bentuk kesiapan.”

“Kau tahu tidak,” ucap Malaikat Penjaga Surga dengan kalimat yang agak menggurui. “Bidadari-bidadari itu tidak tahu apa-apa. Mereka itu perawan polos. Jika ada manusia yang masuk ke sana, mereka kira kiamat sudah datang dan mereka pasti akan melayanimu dengan senang hati.”

“Pantas saja.”

Malaikat Penjaga Surga bertanya: “Apa maksudmu?”

“Pantas saja ketika aku masuk, aku tidak perlu menggunakan kekerasan untuk memaksa bidadari-bidadari itu bercinta. Semua yang terjadi berjalan begitu lembut dan halus.” Si Pemerkosa sedikit tersenyum.

Malaikat Penjaga Surga diam. Ia tidak tahu apa yang dirasakan manusia setiap kali bercinta. Ia sendiri tidak pernah dan tidak akan bisa mengalami apa itu “bercinta”. Namun, kadang ia bertanya-tanya, mengapa manusia mengorbankan banyak hal hanya untuk bisa bercinta?

Sesaat kemudian: “Ya, ampun!” Si Pemerkosa mengagetkan Malaikat Penjaga Surga yang masih merenung. “Celana dalamku tertinggal di sana!”

Malaikat Penjaga Surga memandang dari tempatnya. Dan, Si Pemerkosa balas menentang. “Masih berada di dalam Surga,” katanya.

*

Sebulan sudah peristiwa pemerkosaan bidadari itu terjadi. Hari-hari pasca kejadian, para manusia sibuk menentukan keputusan apa yang mau diambil. Apakah mau menghukum Si Pemerkosa atau tidak. Media-media di Bumi segera dibanjiri pemberitaan tentang hal itu, dan meninggalkan pemberitaan yang lain. Semua orang dari berbagai kalangan juga menyatakan pendapatnya masing-masing. Siapa pun tidak mau ketinggalan dalam obrolan atau diskusi untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi umat manusia itu. Peristiwa pemerkosaan bidadari itu telah menjadi kasus luar biasa di Bumi. Dan sepertinya memang menjadi demikian.

Kaum Beragama menyarankan agar Si Pemerkosa dihukum sama seperti hukuman pada pemerkosaan sesama manusia. Namun sebenarnya mereka juga ragu, karena yang diperkosa adalah bidadari. Kaum Nasionalis menyarankan agar Si Pemerkosa dihukum sesuai undang-undang negara Si Pemerkosa berasal. Tetapi mereka juga tidak yakin, karena undang-undang yang ada hanya untuk manusia. Belum ada untuk bidadari. Kaum Tradisional menyarankan untuk dikawinkan seperti kebiasaan-kebiasaan zaman dulu. Dan kaum-kaum lainnya, ada yang menyarankan untuk dibunuh, dipenjara saja, dan dibiarkan bebas.

Di dalam penjara, Si Pemerkosa bertanya pada Iblis yang menjadi sipir penjara. “Apa yang diputuskan manusia untuk nasibku?” katanya.

“Belum ada.”

Sulitkah menentukan nasibku? batin Si Pemerkosa.

Waktu berlalu begitu saja. Setahun terlewat dan kasus itu belum diputuskan oleh para manusia. Hal itu menjadikan Si Pemerkosa harus tinggal lebih lama di dalam penjara menunggu nasibnya yang tidak jelas.

Tiga bulan setelah menjalani masa hukuman, Malaikat Penjaga Surga dibebaskan dari kurungannya. Ia kembali pada tugasnya menjaga Surga. Di tempat kerjanya itu, ia menanyai bidadari yang diperkosa oleh Si Pemerkosa.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya.

“Oh, tolong kembalikan ini pada laki-laki itu.” Bidadari korban pemerkosaan itu memberikan celana dalam milik Si Pemerkosa yang tertinggal pada Malaikat Penjaga Surga.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” Malaikat Penjaga Surga mengulangi.

“Aku masih sama. Tidak ada yang berubah,” jawab Bidadari itu polos. “Memangnya ada apa?”

Malaikat Penjaga Surga mengabaikannya.

Sementara itu di dalam selnya, Si Pemerkosa mulai jenuh karena sudah setahun berada di sana dan tidak ada tanda-tanda dari para manusia. Akhirnya ia menyuruh sipir Iblis menyampaikan surat yang ditulisnya kepada pemimpin umat manusia.

Tak butuh lama untuk surat itu sampai pada tujuannya. Si Pemimpin umat manusia, di depan semua perwakilan manusia dari seluruh kaum yang ada di Bumi, membacakan isi surat dari Si Pemerkosa. Isinya pendek, tertulis: “Aku mungkin salah, atau mungkin benar. Itulah yang membuat kalian berdebat soal keputusan apa yang tepat untukku. Aku sekarang merasa jenuh di penjara ini. Aku siap untuk dihukum sesuai keputusan kalian.”

Semua yang hadir langsung gaduh. Suasana gedung pertemuan itu berubah menjadi berisik.

“Bagaimana ini?” gumam seseorang.

“Apakah bidadari itu hamil?” teriak seseorang dari sudut ruangan yang membuat semua yang hadir memandangnya.

“Tidak mungkin!” teriak seseorang yang duduk paling depan.

“Tapi kita belum tahu kalau tidak mengeceknya,” balas seseorang yang kemungkinan adalah dokter.

“Kalau begitu kita akan periksa dulu bidadari itu hamil atau tidak,” kata Si Pemimpin. “Setelah tahu hasilnya baru kita tentukan kesepakatan buat Si Pemerkosa.”

Semua perwakilan setuju akan hal itu. Pengambilan keputusan ditunda.

Seorang dokter terpilih akhirnya dikirim ke Surga setelah mendapat persetujuan dari Tuhan. Si Dokter dijemput oleh Jin dari Bumi ke Surga. Tetapi hanya sampai pintu gerbang saja, selepas itu Malaikat Penjaga Surga membukakan pintu dan mengantarkannya masuk. Saat sudah bertemu dengan bidadari yang akan diperiksa, Si Dokter ditinggal pergi.

Kabar mengejutkan menggegerkan bumi sekali lagi. Trompet sangkakala kembali ditiup. Tuhan mengumumkan bahwa dokter yang dikirim untuk memeriksa bidadari yang diperkosa malah memperkosa. Tidak hanya satu, ada bidadari lainnya juga yang ikut diperkosa. Dan, sama seperti sebelumnya, Tuhan memberikan pilihan kepada manusia untuk mengambil keputusan. Seluruh manusia bertambah bingung. Karena yang menjadi masalah bukan hanya satu manusia melainkan sudah bertambah menjadi dua manusia.

Di dalam penjara, kedua pemerkosa itu ditempatkan dalam satu sel yang sama. Si Dokter tidak melupakan kewajibannya mengapa ia berangkat ke Surga. Hasil pemeriksaan apakah bidadari itu hamil atau tidak, ia sampaikan lewat sebuah surat yang dititipkan pada sipir Iblis. Sejujurnya Si Dokter lebih menyukai kalau hasil itu disampaikan kepada manusia bukan sebagai tugasnya. Melainkan sebagai ucapan terima kasih karena telah diutus pergi ke Surga dan ia bisa memperkosa beberapa bidadari sekaligus.

“Apakah kau merasakannya?” tanya Si Pemerkosa.

Si Dokter, yang juga pemerkosa, menjawab: “Itu sungguh luar biasa.”

Sementara itu surat Si Dokter telah sampai kepada pemimpin umat manusia. Di depan semua hadirin perwakilan manusia, Si Pemimpin membacakan isi surat itu.

Isinya: “Aku telah merasakan apa yang kalian belum rasakan. Aku mengucapkan terima kasih atas hal itu. Akan kusampaikan bahwa bidadari tidak bisa hamil. Semua yang terlahir berada di dunia, dan bukan di Surga. Surga sudah disiapkan kapasitasnya oleh Tuhan, jadi tidak mungkin bertambah. Semua keputusan kuserahkan pada kalian.”

Semuanya langsung gaduh. Terjadi pemilihan pengambilan suara keputusan secara mendadak terhadap dua pemerkosa bidadari itu. Semua perwakilan manusia dari berbagai kaum akhirnya menghasilkan suatu keputusan, tetapi saat hasil keputusan itu akan disampaikan, Tuhan mengatakan bahwa kedua pemerkosa itu telah mati karena usia mereka sudah diputuskan terlebih dahulu.

***

Naskah cerpen ini awalnya saya ikut sertakan dalam Lomba Cipta Cerpen Festival Sastra 2020 yang diinisiasi oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia UGM. Dalam lomba tersebut, naskah cerpen ini menjadi naskah terbaik 3. Meskipun pernah diikutsertakan dalam lomba, naskah cerpen ini belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun sebelumnya.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *