Mia Bustam Melampaui Melankolia: Pameran Merawat Ingatan

Penulis

“Teman-teman, bisa dilihat gedungnya di sebelah sana. Mia Bustam pernah dipenjarakan di sana, jadi kita sedang melihat sendiri situs ingatannya,” kata Astrid Reza berdiri di tengah-tengah hadirin dan menunjuk bangunan di bagian ujung tenggara di dalam kompleks Benteng Vredeburg. Dia kemudian melanjutkan dengan memaparkan materi diskusinya yang berjudul “Mia Bustam melampaui Melankolia.” Tajuk yang sama yang digunakan dalam pameran Mia Bustam, sebuah pameran arsip yang mengangkat sosok Mia Bustam di luar label atas dirinya yang selama ini terdistorsi cuma sebagai ‘mantan istri Sudjojono’.

Senin sore, 6 Oktober 2025, pembukaan pameran tersebut dibuka dengan diskusi di pelataran Benteng Vredeburg. Diskusi dan pameran itu merupakan rangkaian dari Biennale Jogja 18 yang telah dihelat sejak 19 September 2025. Pameran Mia Bustam sendiri akan berlangsung hingga  20 November 2025 mendatang. Dalam diskusi sore itu, anak-anak Mia Bustam pun datang dan Sri Nasti Rukmawati selaku anak ke-2 dihadirkan sebagai salah satu pembicara. Selain itu, ada pula pembicara lainnya seperti Alia Swastika sebagai kurator pameran Mia Bustam, Astrid Reza sebagai periset utama yang tesisnya mengangkat sosok Mia Bustam; Stanislaus Sunardi selaku Dosen Kajian Budaya di Universitas Sanata Dharma, Dyah Soemarno sebagai pimpinan produksi pameran Mia Bustam, dan Chandra Rosselinni sebagai salah satu seniman muda yang dilibatkan untuk merespons Mia Bustam dalam karyanya.

Mia Bustam atau yang lahir dengan nama Sasmiyati Sri Mojoretno adalah salah satu orang yang dipenjara pasca-Peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Selama 13 tahun enam bulan masa hidupnya dihabiskan dari penjara ke penjara. Ditangkap di rumahnya pada 23 November 1965, lalu dibawa ke Penjara Sleman, dipindah ke Benteng Vredeburg, lalu ke Penjara Wirogunan, nyaris lima tahun di sana Mia pun dipindahkan lagi ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bulu, Semarang, setelahnya dia kembali dipindah ke Kamp Plantungan hingga dibebaskan pada 27 Juli 1978. Kisahnya tersebut telah dituliskannya dalam memoar keduanya Dari Kamp ke Kamp (terbit pertama kali pada 2006 dan diterbitkan ulang pada 2022).

Pemilihan lokasi pameran di Benteng Vredeburg memiliki makna simbolik sebagai upaya untuk mengembalikan Mia Bustam di Yogyakarta. Bukan lagi sebagai pesakitan seperti 60 tahun lalu, tetapi dengan dirayakan sebagai perempuan yang tangguh dan luar biasa. Sebuah ruang besar di Gedung Sultan Agung di bagian utara kompleks Benteng Vredebrung dipilih oleh tim pameran untuk menyambutnya. 

Pada bagian ruang pameran, penonton disuguhi penggalan tulisan Mia Bustam di Harian Rakjat yang dipampang secara besar-besaran. Masuk melalui sisi kiri, terdapat garis waktu kehidupan Mia Bustam dari sejak lahir pada 1920 hingga dia ditangkap pasca G30S dan dimasukkan ke Benteng Vredeburg yang saat itu berfungsi sebagai penjara. Kemudian, berlanjut di tembok seberang, kehidupan Mia Bustam dari Kamp Plantungan hingga wafat pada 2011. 

Sepanjang timeline kehidupan itu, karya-karya Mia Bustam, arsip, dan respons tentangya terpampang memenuhi isi ruangan. Lalu di salah satu sisi ruang, terdapat dua monitor layar televisi dilengkapi headphone yang menyediakan wawancara video Mia Bustam semasa hidupnya. Setidaknya, ada lima seniman muda yang diminta untuk merespons Mia Bustam melalui karya masing-masing. Kelima seniman itu adalah Awanda B. Destia, Kemala Hayati, Nadya Hatta, Venessa Theonia, dan Chandra Rosselinni.

Arsip atau sumber yang ditampilkan untuk menyusun gambaran tentang Mia Bustam baru diambil 15-20 persen dari yang dikumpulkan tim riset. Keterbatasan ruang menjadi salah satu faktor utamanya. Sehingga beberapa arsip berupa surat-surat Mia Bustam, tidak bisa ditampilkan saat pameran. Sementara itu, sebagian yang ditampilkan juga dikemas dalam bentuk reprint untuk menghindari kerusakan dan semacamnya.

“Karena tim-tim yang riset arsip nego sama tim yang kuratorial. Jadi kan mereka yang memainkan visualnya apa gitu. Wah, ini udah kepenuhan,” ungkap Astrid saat diwawancara Semut Api Media selepas diskusi.

Saat pameran Mia Bustam resmi dibuka, ada peristiwa yang menarik dan agaknya bisa jadi cerita tersendiri kelak. Di salah satu karya yang dipamerkan, terdapat karya yang memvisualkan pohon keluarga Mia Bustam. Sebelum acara diskusi dimulai, dalam karya tersebut hanya ada empat foto dari keluarga Mia Bustam yang tertempel. Namun, sesudah diskusi atau tepatnya ketika pameran resmi dibuka, anak-anak Mia Bustam diajak untuk merespons pohon keluarga itu dan menempelkan foto-foto mereka pada setiap cabang pohon yang tersedia. Semua ada di cabang-cabang pohon, kecuali foto Sudjojono.

Latar belakang pameran berawal dari tesis Astrid di Prodi Magister Kajian Budaya, Universitas Sanatha Dharma yang membahas trilogi memoar Mia Bustam sebagai subjek utama penelitian. Pasca tesis diuji beberapa bulan lalu, gayung pun bersambut. Alia sebagai Direktur Yayasan Biennale Jogja menawarkan penelitian itu untuk dialihwahanakan ke bentuk pameran seni rupa.

Alia menjelaskan bahwa Biennale Jogja biasanya diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta. Namun, karena lokasi tersebut sedang direnovasi, maka perhelatan dipindah ke Benteng Vredeburg, kebetulan pula lokasi ini memiliki relasi tersendiri dengan kisah hidup Mia Bustam.

“Karena saya sendiri cukup memahami sejarah Benteng Vredeburg ini. Transformasinya dari benteng kolonial, lalu kaitannya dengan sejarah 1965. Bagaimana sekarang, cerita-cerita 1965-nya itu terhapus dari tampilan artefaknya di benteng ini. Jadi, ketika memutuskan memakai benteng sebagai venue, sebenarnya agak gamang.”

Ada rasa dilematis dengan sejarah panjang Benteng Vredeburg. Namun, setelah bertemu dengan Kelompok Perempuan, sebuah jaringan berisikan para mantan tahanan politik perempuan, Alia menjadi percaya diri. Dia ingin menampilkan satu bagian cerita tentang Benteng Vredeburg yang belum diketahui sebagian besar orang. Sekaligus, sebagai salah satu cerita yang banyak dikisahkan dalam buku memoar Mia Bustam.

“Jadi, ketika Astrid bilang baru saja selesai menulis tesis, saya bilang, kenapa hasil penelitian itu tidak dibuat pameran? Karena, saya kira, ini bisa menjadi satu cara untuk mengonfrontasi narasi dan sejarah tentang bangunan (Benteng Vredeburg—red) ini sendiri,” ungkapnya dalam diskusi.

Astrid menjelaskan pilihannya terhadap sosok Mia Bustam. Seperti misalnya, hidup Mia Bustam yang panjang hingga usia 91 tahun serta peninggalan arsip dan tulisan yang banyak.

“Aku berharap yang (tapol perempuan—red) lain juga ada (peninggalan arsip atau tulisan—red). Tapi, sementara ini memang yang paling lengkap adalah dia (Mia Bustam—red). Ya, karena juga dia di dunia seni. Jadi, dia merekam banyak sekali periode, banyak sekali peristiwa. Jadi, dia jadi seperti ensiklopedia penting dan panjang. Sayangnya, untuk karyanya sendiri tidak.”

Sementara itu, mewakili pihak keluarga, Sri Nasti mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya pameran Mia Bustam.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Alia, Mbak Astrid, Mbak Dyah, Pak Sunardi dan semua tim yang mengerjakan pameran yang begitu luar biasa. Yang memberikan penghargaan kepada ibu kami, yang kami tidak menyangka, betapa di luar sana orang memberikan apresiasi (yang luar biasa—red) sekali kepada ibu kami.”


Serial Liputan Biennale Jogja 18, “KAWRUH: Tanah Lelaku”
Babak II – Museum Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta (6 Oktober-20 November 2025)


Reporter: Farras Pradana dan Aisya Puja Ray
Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya.
Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita.
Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *