Buku ABC Feminisme karya Andrea Gaviota hadir sebagai sebuah peta komprehensif yang mengulas tuntas seluk-beluk gerakan feminisme. Lebih dari sekadar menjelaskan sejarah, Gaviota berhasil membongkar konstruksi feminisme sebagai upaya membentuk masyarakat yang berlandaskan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan, dengan gender sebagai fokus utama, melampaui batasan jenis kelamin semata.
Gaviota mengawali dengan menjelaskan bahwa feminisme bukanlah atribut bawaan, melainkan sebuah konstruksi yang berupaya mewujudkan masyarakat yang adil. Dia menyoroti transisi diskusi feminisme dari kelompok-kelompok kecil hingga masuk ke ranah akademis pada 1970-an.
Buku ini secara tegas menyoroti isu-isu krusial yang kerap luput dari perhatian. Gaviota mengingatkan kita untuk tidak menutup mata terhadap kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh perempuan. Ini adalah pengingat penting bahwa korban dan pelaku tidak selalu bergender tunggal, menantang narasi yang sering kali menyudutkan satu gender.
Selain itu, Gaviota membahas penindasan laki-laki dalam ranah seksualitas, khususnya terkait stigmatisasi hasrat seksual perempuan. Masyarakat cenderung membatasi nafsu pada laki-laki, menjadikan perempuan dengan hasrat yang setara atau bahkan lebih, sebagai anomali. Gaviota menekankan pentingnya konsensus dalam aktivitas seksual untuk memastikan kepuasan kedua belah pihak, mencegah salah satu terperangkap dalam penindasan.
Media dan Industri Kecantikan
Aspek lain yang dikupas ialah budaya konsumsi global dan industri kosmetik yang merugikan perempuan. Gaviota berargumen bahwa selama standar kecantikan masih dipegang oleh laki-laki, penindasan patriarki akan sulit diatasi. Perempuan perlu mendefinisikan kecantikan secara mandiri, bukan demi memikat lawan jenis.
Industri kosmetik, dengan target utamanya perempuan yang belum memiliki pasangan dan sudah berumur, memanfaatkan rasa tidak aman ini, mendorong perempuan untuk menguras dompet demi kecantikan yang didikte. Paradigma “kecantikan untuk memikat” ini harus dimusnahkan agar perempuan tidak terus-menerus tersiksa.
Gaviota juga membahas tantangan dalam menjaga napas panjang gerakan feminis, terutama terkait representasi media. Media arus utama cenderung menyoroti perempuan kulit putih sebagai representasi gerakan feminis, mengabaikan keragaman orientasi dan keresahan perempuan berkulit berwarna atau mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.
Sekelumit Pertengkaran Gagasan Antarfeminis
Masalah ini menjadi lebih serius jika perempuan kulit putih tersebut menduduki kursi pemerintahan, karena berisiko berselingkuh dengan sistem dan meninggalkan gerakan feminis. Kehadiran perempuan di pemerintahan tidak secara otomatis menyelesaikan masalah kesetaraan gender yang sistematis.
Pentingnya perjuangan melawan rasialisme bersamaan dengan feminisme menjadi sorotan utama. Gaviota menyoroti potensi konflik internal antara perempuan kulit putih dan kulit berwarna dalam gerakan feminis. Perempuan kulit putih, yang lebih diistimewakan, cenderung memisahkan isu ras karena tidak mengalami penindasan multitubuh seperti perempuan berkulit berwarna.
baca juga:
–Familisme dan Dilema Perempuan Menikah: Ibu Rumah Tangga atau Berkarier?
–“Perempuan Bangga Anti Ditata”: International Women’s Day 2025 di Yogyakarta
Gagasan bahwa perempuan kulit putih lebih layak memimpin gerakan feminis adalah contoh nyata dari kejahatan internal yang meniadakan isu ras. Perempuan kulit berwarna adalah garda terdepan dalam isu rasialisme, dan Gaviota menegaskan pentingnya porsi setara bagi semua perempuan untuk mencapai solidaritas.
Isu ras juga terhubung dengan isu kelas. Gaviota tidak menampik fakta bahwa perempuan kelas menengah ke atas, terutama yang berkulit putih, lebih mudah mendapatkan pekerjaan layak dengan upah memadai dibandingkan perempuan kulit berwarna. Ini berarti kemandirian ekonomi lebih mudah dicapai oleh perempuan kulit putih.
Namun, Gaviota memperingatkan bahwa mendapatkan pekerjaan bukanlah hasil akhir perjuangan feminis, karena tantangan selanjutnya adalah mencapai kesejahteraan dan hak yang sesuai dalam dunia kerja. Dia menyoroti kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan, bahkan ketika perempuan sudah mendapatkan ruang di dunia kerja.
Rasa puas diri bisa jadi dimiliki oleh perempuan kulit putih yang berpenghasilan layak, namun ini berisiko mengorbankan perempuan lain dan tunduk pada patriarki. Bahkan, laki-laki pun bisa merasa malu jika gaji pasangannya lebih tinggi, menunjukkan kompleksitas penindasan yang tidak hanya datang dari laki-laki, tetapi juga sesama perempuan.
Gaviota juga membahas krusialnya kebebasan atas tubuh dan hak reproduksi. Akses legal terhadap aborsi masih sulit, terutama bagi perempuan kelas menengah ke bawah yang seringkali dipaksa menikah akibat hubungan badan, membawa mereka pada penderitaan.
Ini juga menyasar korban pemerkosaan yang tidak hanya menjadi korban kekerasan, tetapi juga korban hukum masyarakat yang brengsek. Oleh karena itu, Gaviota menekankan pentingnya akses kontrasepsi dan aborsi yang merata di seluruh lapisan masyarakat, juga untuk menepis anggapan bahwa perempuan hidup hanya untuk beranak.
Secara global, Gaviota menegaskan bahwa gerakan feminis tidak hanya didominasi oleh perempuan kulit putih berpendidikan tinggi, tetapi juga diperjuangkan oleh perempuan berkulit berwarna. Namun, dia mengkritik feminis kulit putih kelas menengah di Barat yang kerap mengklaim diri sebagai pilar dan ujung tombak gerakan, bahkan merasa perlu ‘membebaskan’ perempuan di negara dunia ketiga.
Selain kejadian di atas, Gaviota juga menyoroti konflik yang terjadi antara feminis Barat dan negara berkembang. Aktivis feminis di negara berkembang melawan ketidakadilan sosial dengan cara yang sering kali tidak sesuai dengan pemahaman Barat, menyebabkan kesalahpahaman dan salah tafsir tujuan. Salah satu yang menjadi sorotan bagi Gaviota ialah sindrom messiah complex dalam feminisme Barat yang menggambarkan perempuan Barat sebagai individu kuat dan berdaya, sementara perempuan di negara berkembang digambarkan bodoh, tidak berdaya, dan perlu diselamatkan.
Secara keseluruhan, ABC Feminisme adalah buku yang esensial bagi siapa pun yang ingin memahami kompleksitas dan dinamika gerakan feminisme. Andrea Gaviota tidak hanya memberikan gambaran historis yang kaya, tetapi juga mendorong pembaca untuk berpikir kritis tentang berbagai isu yang saling terkait, mulai dari kekerasan, seksualitas, industri kecantikan, hingga ras, kelas, dan representasi. Buku ini membuka mata kita terhadap perjuangan yang masih panjang demi mencapai masyarakat yang benar-benar adil dan setara bagi semua gender.
*Ulasan buku berjudul ABC Feminisme yang ditulis oleh Andrea Gaviota (Yogyakarta: Bright Publisher, 2021)
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








