Marinaleda: Ketika yang Utopis Menjadi Nyata

Penulis

Di era saat ini, kapitalisme kerap dianggap sebagai sebuah keniscayaan. Ia bukan hanya hadir sebagai sistem ekonomi, tetapi juga membentuk cara manusia memandang dunia. Kapitalisme membuat banyak orang enggan—bahkan takut—membayangkan kemungkinan tatanan sosial yang berbeda dari dirinya. Setiap gagasan tentang sistem alternatif sering kali segera dianggap sebagai angan-angan yang mustahil, bahkan dicap “gila”. Adanya majikan sebagai pemilik modal dan pekerja yang menjual tenaga kerjanya demi mendapatkan upah dianggap sebagai hal alamiah. Sehingga berpikir adanya kemungkinan lain dianggap bertentangan dengan yang “kodrati”.

Dalam kerangka berpikir yang semacam ini, kapitalisme dianggap sebagai satu-satunya cara untuk manusia bisa bekerja, bertahan hidup, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun dalam praktiknya, kapitalisme justru melahirkan ketimpangan dalam tatanan sosial. Alih-alih menghapus kemiskinan, sistem ini cenderung mereproduksinya. Kemiskinan tidak benar-benar diselesaikan karena keberadaannya sebagai prasyarat bagi akumulasi kekayaan kelas borjuis karena jika tidak ada pekerja yang membutuhkan upah maka siapa lagi yang akan bekerja untuk kelas borjuis?

Namun di tengah keyakinan yang dipegang sebagian besar umat manusia saat ini bahwa kapitalisme merupakan satu-satunya sistem yang mungkin, maka akan selalu ada percikan kecil yang menawarkan sebaliknya. Di daerah Spanyol selatan, di sebuah kota kecil wilayah Andalusia terdapat kelompok masyarakat yang berusaha membangun tatanan sosial berbeda dengan logika ekonomi arus utama. Kota itu bernama Marinaleda. Melalui perjuangan panjang dalam merebut hak atas tanah, kerja kolektif dan pengambilan keputusan yang melibatkan warga, Marinaleda menjadi sebuah tempat eksperimen sosial yang kerap disebut sebagai salah satu contoh komunitas yang mencoba hidup di luar logika kapitalisme. Cerita tentang kota Marinaleda diabadikan dalam karya Dan Hancox yang berjudul Marinaleda: Eksperimen Kota Kecil Antikapitalis. Tulisan ini menelusuri warga kota Marinaleda berjuang mulai dari mewujudkan dan mempertahankan mimpi tentang masyarakat yang setara.

Dari Ketimpangan Agraria ke Perjuangan Kolektif

Marinaleda tidak tercipta dari sebuah gagasan utopis yang tiba-tiba muncul di kepala. Gagasan itu tercipta dari kondisi sosial yang keras di wilayah Andalusia karena sebagian besar tanah pertanian dikuasai oleh segelintir orang, sementara masih banyak warga kota hidup sebagai buruh tani dengan upah rendah dan tanpa kepastian kerja. Ketimpangan agraria menjadi pemantik masyarakat Marinaleda untuk melakukan perjuangan kolektif—demonstrasi, pemogokan, dan pendudukan tanah—untuk menuntut hak atas pekerjaan dan akses terhadap tanah yang digarap. Proses ini dicatat oleh Dan Hancox, Marinaleda perlahan berubah dari kota kecil yang miskin di Andalusia menjadi ruang eksperimen ekonomi-politik yang berusaha membangun kehidupan ekonomi-politik yang setara.

Prinsip masyarakat Marinaleda dalam merebut tanah adalah tanah bagi yang menggarap sehingga tidak ada lagi yang menikmati hasil dari garapan tanpa terlibat dalam proses penggarapan (Hancox, 2023:97). Satu persatu lahan-lahan yang dimiliki oleh tuan tanah diambil alih masyarakat Marinaleda dan dijadikan milik bersama. Tidak hanya tanah, masyarakat Marinaleda juga berhasil merebut pabrik sehingga pabrik pun akhirnya dimiliki secara kolektif oleh masyarakat Marinaleda. Tanah dan pabrik yang telah direbut tidak dikembalikan dalam kepemilikan privat, sebaliknya dikelola secara kolektif melalui sistem koperasi yang menjadi penyangga utama ekonomi kota (Hancox, 2023:56-89).

Dalam sistem koperasi, masyarakat bekerja bersama dalam sektor pertanian maupun pengolahan hasil panen dan keuntungan yang dihasilkan digunakan untuk kepentingan bersama. Mereka yang bekerja mendapatkan bayaran diatas dari upah ketika mereka masih menjadi buruh tani, belum lagi jam kerja pun menjadi tidak eksploitatif. Sistem ini bukan hanya untuk memastikan distribusi hasil yang lebih adil melainkan juga untuk menghilangkan relasi kerja yang timpang antara pemilik modal dan pekerja yang menjadi ciri khas kapitalisme  (Hancox, 2023:97).

Demokrasi Sebagai Praktik Kehidupan

Semangat kolektivitas masyarakat Marinaleda tidak hanya dalam bidang ekonomi melainkan juga pada pengambilan keputusan politik kota. Kebijakan-kebijakan penting kota dibahas melalui pertemuan warga sehingga memungkinkan masyarakat terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini menjadikan masyarakat bukan hanya sebagai objek kebijakan melainkan juga menjadi subjek yang menentukan arah kehidupan mereka bersama. Walikota di Marinaleda hanya menjalankan mandat dari keputusan yang telah dibuat oleh masyarakat. Pada titik ini, demokrasi bukan lagi dipahami hanya sebatas prosedur elektoral, tetapi menjadi praktik kehidupan sehari-hari.

Kebijakan yang cukup fenomenal adalah program perumahan kolektif sementara di kota-kota lain Andalusia untuk memiliki rumah bukan hal yang mudah karena harga properti sangat mahal sementara upah relatif kecil. Pemerintah kota Marinaleda menyediakan tanah dan bangunan, sementara masyarakat bergotong-royong dalam proses pembangunan rumah. Dengan cara ini maka biaya kepemilikan rumah dapat ditekan secara signifikan sehingga masyarakat tidak terjebak dalam utang berkepanjangan seperti yang umum terjadi pada sistem perumahan kapitalisme (Hancox, 2023:5 dan 22).

Pelajaran dari Marinaleda

Namun, bukan berarti eksperimen sosial yang dilakukan di Marinaleda bukan tanpa tantangan. Marinaleda sebagai kota kecil tetap berada dalam struktur ekonomi yang lebih luas yang dikuasai oleh kapitalisme global. Oleh sebab itu, banyak kebijakan yang diterapkan di Marinaleda seringkali berhadapan dengan keterbatasan sumber daya, tekanan ekonomi, serta kritik tajam dari pihak luar yang meragukan keberlanjutan sistem sosialisme di Marinaleda.

Dari pengalaman Marinaleda memperlihatkan bahwa upaya membangun sistem yang setara dengan himpitan ekonomi kapitalistik tidak selalu harus dimulai dengan revolusi skala besar, tetapi dapat tumbuh dari praktik kehidupan masyarakat lokal yang tercipta dari perjuangan kolektif masyarakat. Selama ini hal utopis sering dianggap sebagai kemustahilan, namun sejarah masyarakat Marinaleda merupakan sejarah perjuangan dalam membuktikan bahwa sebuah gagasan yang dianggap utopis namun berakar pada masyarakat bisa terwujud. 


*Ulasan buku Marinaleda: Eksperimen Kota Kecil Antikapitalis karya Dan Hancox dan diterjemahkan oleh Lita Soerjadinata (Marjin Kiri, 2023)


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *