Ada masa ketika tulisan ‘Jakarta’ di tembok-tombok Amerika Latin bukan penanda kota, melainkan ancaman pembantaian.
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Jakarta”? Ibu kota Indonesia yang menjadi pusat dari segala sektor di Indonesia (Jakartasentris)? Atau mungkin sebuah kota yang dulunya bernama Batavia ketika era kolonial Belanda?
Apa yang kita—sebagai orang Indonesia—pikirkan tentang Jakarta sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang di Amerika Latin khususnya pada tahun 1960-an. Pernahkah kita terpikir bahwa “Jakarta” pernah menjadi nama strategi Amerika Serikat untuk menumpas gerakan-gerakan komunis di Amerika Latin dan berujung pada pendirian pemerintahan anti-komunis di sana?
Inilah yang dibahas oleh Vincent Bevins dalam bukunya—yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—yang berjudul Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965, dan Dunia Global Kita Sekarang (2022). Buku karya wartawan AS ini membahas mengenai bagaimana pembantaian massal 1965 pasca-G30S menjadi percontohan bagi AS untuk menumpas gerakan-gerakan komunis di belahan dunia lain.
Indonesia dan Gagasan Dunia Ketiga
Istilah Dunia Ketiga lahir pada 1951 di Prancis, tetapi baru mewujud pada 1955 di Indonesia. Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Christopher J. Lee, Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 yang digelar pada bulan April di Bandung mengukuhkan gagasan tentang Dunia Ketiga. Pertemuan luar biasa ini menghimpun kaum terjajah sedunia ke dalam satu gerakan yang menentang imperialisme Eropa dan merdeka dari adidaya AS dan Uni Soviet (hlm. 82).
Bangsa-bangsa yang bertemu dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung mewakili nyaris setengah jumlah anggota PBB, atau sekitar 1,5 miliar jiwa dari total 2,8 miliar penduduk Bumi. Konferensi ini menaikkan nama-nama pemimpin negara-negara Asia-Afrika ke panggung dunia. Sebut saja seperti Sukarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), dan Gamal Abdul Nasser (Mesir) (hlm. 83).
Dengan diselenggarakannya KAA 1955 di Bandung, Sukarno percaya bahwa Dunia Ketiga bisa dipersatukan dengan cita-cita bersama, seperti anti-rasisme dan kedaulatan ekonomi (hlm. 86). Hal ini dilakukan karena latar belakang negara-negara Asia-Afrika yang berabad-abad dijajah, yang membuatnya jauh tertinggal di belakang negara-negara kaya, dan melalui KAA 1955 ini, mereka berusaha untuk mengubah kondisi tersebut (hlm. 87).
Sejak saat itu, reputasi Indonesia di mata dunia harum dengan dikenal sebagai simbol antikolonialisme dan antiimperialisme. Selain itu, sebagaimana yang dikatakan oleh sejarawan Belgia yakni David Van Reybrouck, KAA 1955 secara tidak langsung mentransformasi PBB dari yang tadinya didominasi negara-negara Barat menjadi lebih “ramai” dengan negara-negara baru merdeka pada 1960-an. Hal itu karena dalam lima tahun pasca-KAA 1955, belasan negara Afrika mencapai kemerdekaannya.
Gerakan 30 September dan Hancurnya Reputasi Indonesia
Larut malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, terjadilah peristiwa penculikan 7 jenderal Angkatan Darat yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung. Gerakan yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) ini bertujuan untuk mencegah “kudeta kontrarevolusioner” yang direncanakan oleh Dewan Jenderal—kelompok yang memiliki rencana jahat menentang Republik Indonesia dan Presiden Sukarno (hlm. 199).
G30S akhirnya gagal. Pada 1 Oktober 1965, kebanyakan rakyat Indonesia tidak mengetahui siapa Jenderal Soeharto. Namun, CIA mengenalnya. Sejak September 1964, CIA mendaftarkan Soeharto dalam surat kawat rahasia sebagai salah satu jenderal Angkatan Darat yang dianggap “bersahabat” dengan kepentingan AS dan anti-komunis (hlm 203).
Dengan Soeharto yang berhasil merebut kendali negara pasca-G30S, ia mulai menggencarkan propaganda anti-komunisme besar-besaran—menyebarkan hoaks yang dipersiapkan dengan hati-hati. Dusta-dusta yang berkaitan dengan propaganda anti-komunisme ini menjadi dogma resmi di Indonesia selama beberapa dekade (hlm. 202).
Dusta-dusta itu pulalah yang menjadi legitimasi untuk terjadinya pembantaian massal 1965-1966. Pembantaian tersebut menargetkan anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, dalam praktiknya, siapapun yang dituduh dan dianggap komunis, akan dibunuh tanpa peradilan.
Sejak saat itu, Indonesia akhirnya menjadi “rekan yang tunduk dan penurut” bagi Amerika Serikat (hlm. 244). Penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI)—yang merupakan partai komunis terbesar ketiga di dunia—membuat reputasi Indonesia sebagai salah satu pendiri gerakan Dunia Ketiga hancur.
Horornya Nama ‘Jakarta’ di Amerika Latin
Kali ini, Indonesia menjadi semacam percontohan bagi AS untuk menumpas gerakan-gerakan komunisme di belahan dunia lain. Cara-cara AS dalam menumpas gerakan komunis di Indonesia pasca-G30S inilah yang kemudian dikenal sebagai “Metode Jakarta”.
Kudeta 1973 oleh Augusto Pinochet di Chile untuk menggulingkan Presiden Salvador Allende (1908-1973, menjabat 1970-1973) menjadi contoh penerapan Metode Jakarta terbesar di luar Indonesia. AS—melalui CIA—jelas terlibat. CIA mendanai operasi penumpasan komunis di Chile sejak 1970. CIA mendanai koran sayap kanan El Mercurio, untuk mempropagandakan anti-komunisme di Chile. CIA juga membayar poster, pamflet, dan grafiti di dinding-dinding kota (hlm. 288).
Di Chile, khususnya di sekitar Santiago, kata “Jakarta” sangat mencolok di muka umum. Di sana, seseorang mulai menulis pesan di dinding-dinding. Bentuknya bermacam-macam (hlm. 297).
“Yakarta viene.”
“Jakarta se acerca.”
Pada 11 September 1973, Allende jatuh dari kekuasaannya, ia wafat karena bunuh diri pada tanggal yang sama. Pupus sudah mimpi sosialisme demokratik di Chile, digantikan oleh rezim anti-komunis keji yang berkolaborasi dengan Brazil dan AS untuk melakukan teror berdarah yang tidak hanya ditujukan untuk kaum kiri, melainkan siapapun yang menghadang jalan mereka (hlm. 307).
Sebelum peristiwa ’65, nama “Jakarta” merujuk pada pembangunan berdikari Dunia Ketiga yang tidak perlu dianggap sebagai ancaman oleh AS. Pasca peristiwa ’65, “Jakarta” bermakna sebagai pembantaian massal oleh kelompok anti-komunis. Ia berarti penumpasan yang diorganisir oleh negara terhadap warga yang menentang pembentukan rezim otoriter kapitalis yang loyal kepada AS. Ia berarti penghilangan paksa dan teror negara yang tidak berkesudahan. Ini akan diterapkan nun jauh di Amerika Latin sana dalam skala luas selama dua dekade (hlm. 307).
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Buku Metode Jakarta karya Vincent Bevins ini menunjukkan bahwa G30S dan peristiwa pembantaian massal 1965-1966 tidak bisa dilepaskan dalam konteks global. Dengan gaya bahasanya yang bagi saya sangat bergaya reportase, Bevins mengungkap bahwa G30S dan peristiwa pembantaian massal 1965-1966 adalah satu dari sekian banyak operasi penumpasan gerakan komunis yang dilakukan oleh AS bersama CIA di era Perang Dingin, dan Indonesia—melalui Jakarta—menjadi contoh bagi AS dan CIA untuk menumpas gerakan komunis di belahan dunia lain, khususnya Amerika Latin.
Sebagai seorang wartawan, Bevins banyak mewawancarai orang-orang yang dekat dengan peristiwa ’65. Sebut saja seperti Francisca Pattipilohy, Benny Widyono, Sakono, Magdalena, dan lain-lain. Bevins menceritakan pengalaman hidup narasumber secara mengalir dan ketika narasumber tersebut bercerita seputar peristiwa ’65, Bevins kemudian seperti melakukan zoom out untuk menceritakan konteks yang lebih luas yang terkait dengan apa yang diceritakan oleh narasumber.
Pada akhirnya, buku Metode Jakarta ini penting untuk memahami konteks global di era Perang Dingin yang membantu kita untuk mengetahui peristiwa ’65 secara lebih dalam. Selain itu, buku ini juga menjadi pengingat bahwa masyarakat global hari ini mewarisi era pasca-Perang Dingin yang dimenangkan oleh Dunia Pertama termasuk Amerika Serikat di dalamnya.
*Ulasan buku Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965 dan Dunia Global Kita Sekarang karya Vincent Bevins dan diterjemahkan oleh Pradewi Tri Chatami (Marjin Kiri, 2022)
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








