Diskusi Luka dan Suka dalam Keluarga: Bedah Makna Keluarga dalam Karya

Penulis

KALIURANG, YOGYAKARTA — Makna keluarga dan pengalaman personal dalam proses penciptaan karya menjadi pembahasan utama dalam diskusi bertajuk Luka dan Suka dalam Keluarga pada hari Kamis, 27 Agustus 2026. Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Jakal Bookshop Festival yang diselenggarakan di Akal Buku, Jalan Kaliurang KM 10, dengan menghadirkan penulis Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie serta Ruhaeni Intan dan dipandu oleh Zata selaku moderator.

Pembahasan berangkat dari pengalaman dua penulis dalam melihat hubungan keluarga, baik melalui pengalaman pribadi maupun pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Ruhaeni Intan menjelaskan bahwa latar belakang dibesarkan oleh kakek dan nenek turut memengaruhi eksplorasinya dalam menulis. Menurutnya, setiap karya memiliki irisan dengan pengalaman penulis, meskipun cerita yang diangkat merupakan karya fiksi.

Sementara itu, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie melihat hubungan keluarga dari pengalaman berada di lingkungan keluarga yang dekat dan harmonis. Kondisi tersebut justru membuatnya menyadari bahwa tidak semua orang memiliki hubungan keluarga yang sama. Pengamatan terhadap hubungan keluarga orang lain sejak kecil kemudian menjadi bagian dari prosesnya dalam memahami karakter dan persoalan yang diangkat dalam karya.

Dalam diskusi, keluarga tidak dipandang sebagai konsep yang terbatas pada orang tua dan saudara kandung. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie menyebut keluarga dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap orang, termasuk orang-orang yang memberikan rasa nyaman untuk pulang dan bercerita. Ruhaeni Intan menambahkan bahwa pemaknaan keluarga dapat berubah seiring pertambahan usia. Keluarga yang semula dipahami sebagai keluarga inti dapat meluas menjadi chosen family, yakni keluarga yang dipilih sendiri.

“Keluarga itu seperti rumah. Setiap orang memiliki tempat yang dianggap nyaman untuk pulang, baik rumah tempat lahir, kos, maupun orang lain. Kurang lebih, keluarga juga seperti itu. Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda tentang keluarga,” ujar Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. 

Perbedaan pengalaman keluarga juga menjadi pertimbangan dalam proses penciptaan karya. Ruhaeni Intan menilai penulis tetap perlu melakukan riset dan mengamati kenyataan sosial agar karya tidak hanya bertumpu pada konsep keluarga yang telah diterima secara umum. Menurutnya, tulisan seharusnya dapat membongkar kembali pemahaman yang sudah ada.

Bagi Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, karya tidak selalu dibuat untuk memberikan satu pemahaman tertentu kepada pembaca. Sebuah karya justru dilahirkan sebagai ruang bagi pembaca untuk memiliki penafsiran yang berbeda dan menjadikannya sebagai bahan diskusi.

Bagi kedua penulis, pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari proses memahami keluarga, baik sebagai hubungan yang sudah ada maupun hubungan yang terbentuk melalui pilihan.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *