Ini tanggal lima, bulan lima, tahun kelima, kisah tentang Kurahashi yang tak sengaja mencoret baju seorang mahasiswi tertinggal jauh di belakang. Namun, setiap kali menunggu busway di Halte Ampera, memori tentang wanita itu selalu memenuhi benaknya. Bukan soal cinta, apalagi ia tidak benar-benar mengenal sosok yang pernah membuatnya menyandera seorang sopir busway.
Semua bermula pada suatu hari di masa lalu yang jauh, saat arloji menunjukkan tepat pukul lima sore.
Kurahashi terkejut. Ia tidak mengira bisa melakukan kelalaian di tengah kerumunan penumpang bus. Sebelum ia berjongkok mengambil bolpoin, seorang wanita menimpuk kepalanya. “Plak!”
“Kurang ajar kau, Dik! Pakaianku jadi kotor begini.”
Padahal Kurahashi hanya ingin menulis puisi, tapi tersentak gara-gara busway mengerem mendadak, menghindari seorang ibu bermotor matic yang menyalakan lampu sein kanan, tapi belok ke kiri. Ia termangu, menatap punggung kemeja putih yang tercoret panjang dari bawah kerah.
Semua penumpang menoleh kasihan melihat pelajar SMA kurus kering berambut cepak dimaki-maki seperti ayam sayur oleh seorang wanita berkerudung.
Lima bulan setelah sembuh dari trauma, Kurahashi kembali naik busway untuk pulang ke rumah. Sial, ia bertemu lagi dengan sosok penyebab tekanan batin itu. Ia berdiri tepat di depannya.
“Eh, kau?”
Alis tebal, bibir merah, dan berkulit putih, sosok yang sama. Wanita itu mengenakan atribut yang sama: hem putih, rok putih, dan berkerudung putih. Ia menatap bolpoin di tangan Kurahashi, lalu pura-pura memalingkan muka ke jendela.
Tiba-tiba busway mengerem mendadak, genggaman Kurahashi oleng. Bolpoin jatuh ke pangkuan wanita itu. “Pluk!”
“Maaf, Kak…”
Wanita itu tersenyum canggung, sedikit kesal mengulurkan bolpoin. “Tidak apa-apa.”
Kurahashi melirik rok putih wanita itu yang sedikit kotor akibat cairan tinta bolpoin.
“Maaf, aku sungguh menyesal beberapa bulan sebelumnya aku juga tidak sengaja mencoret kemeja Kakak. Pasti Kakak ingat, sekarang pun aku merasa bodoh tidak mengucapkan apa pun. Maafkan, aku.”
“Memang kau yang salah, dan aku sama sekali belum memaafkanmu. Siapa kau berani mengotori pakaianku. Apalagi pakaian itu kubeli dengan uang jajanku sendiri. Kau ini ya…”
Wanita bernama Lin itu kembali mencurahkan kekesalannya pada Kurahashi. Ia adalah mahasiswi semester delapan di sebuah kampus di Ibu Kota dan tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci di Ragunan. Melihat Kurahashi mengenakan jas almamater yang sama dengan miliknya di rumah, membuat Lin sedikit maklum. Hal itu membuat Kurahashi merasa lega.
Bus sampai di Halte Ragunan pukul lima sore. Lin turun dari busway, tapi matanya mengerling pada arloji yang dikenakan Kurahashi.
***
Musim hujan Februari, beberapa bulan setelah pertemuan kedua. Kurahashi kembali bertemu Lin di Halte Ampera. Kebetulan yang canggung, mereka duduk berjauhan di ujung sisi seperti tolakan magnet. Ia tengah menulis puisi di secarik kertas, sementara Lin memperhatikan tangan Kurahashi. Sadar diperhatikan, ia berhenti menulis, menatap tampias gerimis.
“Kakak masih kesal denganku?”
Dahi Lin mengkerut. “Lah, bagaimana menurutmu?”
“Kak, tasmu basah.”
Lin menggeser tas ranselnya agar tidak terkena cipratan hujan. “Aduh, busnya lama sekali. Jam berapa sekarang?”
Kurahashi menatap arlojinya. “Jam lima kurang seperempat”
Lin menatap sinis. “Arlojimu bagus sekali. Beli di mana?”
“Oh ini? Ini hadiah dari ayah, saat aku juara membaca puisi waktu kelas dua SMA.”
“Benda itu kelihatan antik, memangnya ayahmu kerja apa?”
Kurahashi terdiam sesaat, wajahnya tertekuk. “Dia telah meninggal akibat leukemia, sesaat setelah aku mendapat piala kejuaraan.”
“Oh, aku tidak bermaksud mengungkit memori kelammu. Hanya penasaran, benda itu mirip sekali dengan arloji yang selalu dikenakan mendiang ayahku. Itu alasan, kenapa aku langsung mengingatmu lagi waktu di dalam bus. Kau selalu mengenakannya.”
Kurahashi melepas arloji, menunjukkan benda itu pada Lin. Kilau jam antik berlapis timah itu seakan menampilkan memori masa lalu. Peristiwa lima tahun lalu yang membuat Lin dan ibunya menderita. Ia menutup mata. “Bisakah aku memiliki benda ini?”
“Tidak, benda ini berharga buatku.” Bus perlahan mendekat. Kurahashi seperti mencium sesuatu yang aneh. “Memang apa yang terjadi?”
Lin meraih kertas di genggaman Kurahashi. Ia menulis nomor ponselnya.
“Dia tewas dalam insiden pembunuhan lima tahun lalu di Bank Helo, kantor tempat dia bekerja. Hubungi aku jika berubah pikiran, demi mendiang ayahku.”
Lin beranjak masuk ke dalam bus, Kurahashi tertegun, angin menyibak dedaunan ketika bus berangkat meninggalkan halte. Waktu menunjukkan pukul lima sore.
***
Kurahashi menatap pesanWhatsapp di ponselnya, “Halo, aku Kurahashi.” Tidak ada balasan, padahal ia mengirim pesan pertamanya lima pekan yang lalu. Foto profil kosong, seperti pesan kepada makhluk astral. Bagaimana kabar Lin sekarang?
Ia telah mencari tahu kasus pembunuhan di Bank Helo lima tahun lalu. Lima lelaki bertopeng pada malam hari datang menggunakan mobil van. Mereka loncat, membunuh dua petugas keamanan dan mengambil semua uang di brankas. Teller penjaga kantor malam itu tewas ditikam berkali-kali. Polisi yang mengusut, berhasil menangkap dua penjahat dalam kondisi tewas gantung diri di rumah mereka, sementara sisanya tidak pernah terungkap.
Kasus itu mengerikan. Kurahashi tidak bisa membayangkan trauma yang dihadapi Lin selama lima tahun terakhir. Ketika kasus itu menjadi sorotan media massa nasional, ia melihat wajah lusuh Lin diekspose sebagai keluarga putus asa, ibunya menangis meraung-raung sambil bercerita tentang jasad suaminya yang rusak.
Cerita itu membuat Kurahashi memutuskan akan memberikan arloji itu pada Lin sebagai belasungkawa.
Muncul dering telepon dari Lin saat Kurahashi ada di dalam busway.
“Halo?”
Tiba-tiba terputus.
Busway tujuan pulang bergerak pelan tanpa penumpang. Sebuah van hitam menyalip laju bus dalam gerakan lambat, tampak seorang wanita memukul-mukul jendela memekik tertahan, “Tolong…,” berlalu di antara kendaraan yang melintas.
Intuisi Kurahashi bangkit. Ia loncat ke depan, memukul-mukul pundak sopir busway.
“Pak! Kejar van hitam itu!”
Sopir busway kebingungan. “Jangan sembarangan kau, …”
Kurahashi mencengkram kerah belakangnya. “Kejar dia! Sekarang!”
Supir bergaji kecil dan sayang nyawa itu mengangguk, takut melihat wajah panik Kurahashi.
“Tidak begitu! Kau tidak bisa sembarangan…”
Bus melaju kencang keluar jalur. Jalan raya mendadak rusuh. Motor yang ingin menyalip tiba-tiba balik arah, ibu-ibu sein kanan akan belok kiri mengerem mendadak, menyumpahi bus yang ugal-ugalan. Orang-orang dari van hitam itu segera sadar mereka sedang dikejar. Pengemudi van hitam banting setir masuk ke jalan tol. Terjadi adu kecepatan.
“Brakk!” Busway menabrak sisi belakang van hitam. Mobil itu ringsek, merepet ke bahu jalan.
Busway berhenti. Sopirnya pingsan. Kurahashi bergegas turun mendekati van hitam. Orang-orang di dalam van hitam keluar menenteng parang. Tubuh mereka tinggi besar dan penuh tato, mencak-mencak. “Sial! Siapa kau yang berani menantang kami, hah?”
Pintu belakang mobil van terbuka. Terlihat Lin meloncat turun dalam kondisi kaki dan tangan terikat, tapi tidak terlalu kencang. Dua dari lima lelaki garang segera melemparkan Lin kembali ke dalam mobil. Kurahashi ingin menolong, tetapi langkahnya terhenti oleh acungan parang.
“Lepaskan dia!”
“Bocah ingusan ini menantang kita!”
Para lelaki garang segera mengepung. Tampaknya mereka tidak ingin kompromi. Ketika salah seorang dari mereka akan menebaskan parang, gerakannya terhenti. Kurahashi yang tertunduk, tertegun melihat preman itu tiba-tiba melempar parang, lantas menarik lengannya untuk melihat arloji.
“Ada apa?” Seorang preman berambut merah mendekat. Seketika paham melihat arloji yang dikenakan Kurahashi.
“Apakah kau putra Bos Darling?”
Kurahashi terheran, menggeleng tidak tahu. Preman rambut merah itu menepuk-nepuk wajah Kurahashi, lalu berisyarat agar para preman menurunkan parang.
“Bos Darling adalah panggilan ayahmu yang bernama Naka. Aku tahu, kau dulu sering bermain dengan kami di Pasar Minggu. Arloji itu, benda yang ayahmu kenakan terakhir kali. Arloji yang sama, ketika ia menghabisi orang-orang dalam perkelahian brutal di Bank Helo.”
“Mengapa kau mengejar kami?”
Kurahashi terdiam, berpaling menatap Lin yang memekik ketakutan dari jendela mobil. Lin diculik, lantaran sore ini memergoki transaksi jual beli narkotika di Pasar Minggu. Para preman marah sekaligus senang mendapati ikan yang siap dijual masuk ke dalam jaring. Kalau saja Kurahashi tidak mengejar, Lin akan dibawa ke pelabuhan untuk dijual ke Myanmar.
“Wanita ini dalam bahaya.”
“Aku ingin mengetahui semua pembunuh ayahku!” teriak Lin.
Lin berani memasuki sarang preman, terpicu oleh memori arloji itu.
Sambil melepas ikatan Lin, preman itu bertanya. “Kejadian di Bank Helo itu sudah selesai. Tiga orang itu yang terbukti membunuh, sia-sia kau ungkit lagi. Apa yang kau harapkan?”
“Membalaskan dendam ayah.”
Preman itu tertawa. “Lantas kau ingin membunuhku?”
Lin mendengus.
“Kau ingin tahu siapa yang menanggung dosa itu?”
Preman itu menunjuk Kurahashi.
“Dialah, anak pembunuh ayahmu. Aku melihat ayahnya mengambil arloji itu dari mayat ayahmu, lalu memakainya sampai mati.”
Preman-preman itu meninggalkan mereka di tengah jalan tol. Lin menatap wajah Kurahashi. Mereka terdiam. Kurahashi ingat, ia pernah melihat mereka sewaktu ayahnya bertemu seseorang yang membawa koper. Ia lepas arloji, menyerahkan pada Lin yang menatap lekat benda itu. Garis di permukaan kaca, memantulkan bayangan imaji ketika ayahnya terbunuh oleh belati berukir naga. Lin yang yatim bertarung dengan sulitnya kehidupan bersama ibunya, sendirian.
Sirine mobil polisi meraung dari kejauhan. Lin tidak berkata apa pun selain menangis.
***
Kurahashi tidak pernah bertemu lagi dengan Lin. Wanita yang berkaitan dengan masa lalu ayahnya itu. Tidak ada jejaknya di kampus, rumah, nomor ponsel, apalagi di dalam busway yang datang ke arahnya.
Kurahashi melihat arloji, waktu menunjuk pukul 17.05.
Kaca depan turun perlahan. Tampak supir yang dulu diancam Kurahashi tertawa mengejek. “Dua tahun terakhir aku tak pernah melihatmu, Nak. Bagaimana rasanya penjara?”
Kurahashi mendengus. “Kau terlambat lima menit, Pak Supir.”
Ia menenteng tas, masuk ke dalam busway untuk pulang.
Boyolali, 17 September 2024
*Cerpen ini hasil dari Writing Bootcamp X Lokakarya Aksara yang diselenggarakan oleh Sinau Nulis yang bekerja sama dengan Penerbit Semut Api dan Semut Api Media
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








