Bedah “Lagu Kebun” Nosstress, Peneliti Independen Memaknai Slow Living sebagai Proses Merawat

Penulis

SURAKARTA — Fenomena gaya hidup slow living di media sosial kerap diidentikkan secara sempit dengan keindahan alam atau pelarian menuju masa pensiun di pedesaan. Membongkar stereotip tersebut, peneliti independen lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sekar Ayu Maharani, membedah makna sesungguhnya dari slow living melalui representasi video musik “Lagu Kebun” karya duo musisi Bali, Nosstress. Kajian ini dipresentasikan pada panel “Music, Lifestyle, and Social Identity in Everyday Life” di hari keempat Konferensi Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026 di Lokananta, Surakarta, Jumat (25/9/2026). Ia menegaskan bahwa gaya hidup ini bukanlah bentuk kemalasan, melainkan sebuah identitas sosial untuk merespons laju modernitas yang serba cepat.

Dalam paparannya, Sekar menjelaskan bahwa praktik bertani dan berkebun yang ditampilkan dalam video musik tersebut adalah inti dari slow living. Berdasarkan proses tumbuhnya tanaman dari biji menjadi tunas, ia menyoroti adanya tuntutan untuk melambat guna menghargai sebuah tahapan kehidupan. “Slow living bukan berarti living slow tanpa melakukan apa-apa, melainkan bagaimana kita memaknainya sebagai sebuah proses merawat dan living at the moment,” papar Sekar meluruskan miskonsepsi publik. 

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang kritik terhadap tuntutan produktivitas kapitalisme modern yang sering kali menghilangkan makna dari rutinitas harian. Interpretasi tersebut selaras dengan proses kreatif yang melatarbelakangi penciptaan karya musik itu sendiri. Mengutip hasil wawancaranya dengan Guna Warma selaku personel Nosstress, Sekar membeberkan bahwa lagu ini murni lahir dari keseharian sang musisi. 

“Alasan lagu ini ditulis adalah karena mereka hanya menulis apa yang dirasakan dan dilakukan sehari-hari, dan berkebun merupakan kegemaran mereka,” jelas Sekar mengutip Guna Warma.

Melalui lirik dan visual yang disajikan, Nosstress dinilai berhasil membuktikan musik mampu menjadi bentuk perlawanan kultural dengan menawarkan alternatif gaya hidup yang merdeka dari tekanan modernitas.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *