KALIURANG, YOGYAKARTA — Sejumlah penerbit buku anak membahas perkembangan serta tantangan dalam membangun ekosistem buku anak di Indonesia melalui diskusi bertajuk Ruang Tumbuh Ekosistem Buku Anak pada hari Selasa, 25 Agustus 2026. Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Jakal Bookshop Festival yang diselenggarakan di Solusi Buku, Jalan Kaliurang KM 10.
Diskusi yang dipandu moderator Najma AJ ini menghadirkan empat penerbit dengan fokus produksi berbeda, yaitu Praba Shinta dari Mighty Jungle, Zulfa Adiputri dari Hujan dan Bumi, Sulistyawati dari Impian Studio, serta Nathania Tifara dari Guru Bumi.
Dalam diskusi, para narasumber menyoroti persoalan produksi sebagai salah satu tantangan yang masih dihadapi penerbit buku anak. Impian Studio, misalnya, mengalami kendala dalam memproduksi buku pop-up karena proses pembuatannya masih dilakukan secara manual. Keterbatasan tenaga kerja membuat produksinya tidak dapat dilakukan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat penerbit menerapkan sistem open pre-order sebelum memulai proses produksi.
Selain mengatasi keterbatasan produksi, Impian Studio juga berupaya melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan buku pop-up. Salah satunya melalui pelatihan kepada ibu rumah tangga untuk membuat produk pop-up. Langkah tersebut dilakukan sekaligus untuk membuka peluang kerja dan mendukung perekonomian masyarakat setempat.
Sementara itu, Mighty Jungle melihat tantangan produksi tidak hanya berkaitan dengan percetakan, tetapi juga bagaimana menghadirkan cerita yang sesuai dengan sudut pandang anak.
“Tantangannya bagaimana caranya membuat buku untuk anak-anak dari sudut pandang anak, karena generasi anak-anak setiap tahunnya berbeda. Apa yang mereka rasakan, alami, dan diimbangi dengan ilmu parenting,” ujar Praba Shinta.
Menurutnya, penerbit perlu memahami perubahan karakter dan pengalaman anak dari setiap generasi. Di sisi lain, buku anak juga perlu mempertimbangkan orang tua sebagai pihak yang umumnya menjadi pembeli.
Selain produksi, distribusi dan penjualan juga menjadi tantangan bagi penerbit buku anak. Nathania Tifara dari Guru Bumi menilai semakin banyaknya penerbit buku anak membuat pilihan di pasar semakin beragam, namun turut berdampak pada stok buku yang tidak terjual. Guru Bumi menyikapi tantangan ini dengan memperluas pasar melalui kerja sama dengan toko buku independen, serta memanfaatkan e-commerce dan toko buku khusus anak.
Diskusi juga menyinggung kebutuhan buku yang dapat dinikmati anak berkebutuhan khusus. Para narasumber menekankan pentingnya menghindari pembedaan terhadap anak dan menggunakan pendekatan yang dapat diterima berbagai kalangan. Ilustrasi dan ekspresi visual dinilai penting, sementara riset terhadap anak dilakukan untuk memastikan cerita dan kosakata yang digunakan dapat dipahami.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, para penerbit sepakat mempertahankan produksi buku anak. Mereka menilai ekosistem buku anak masih terus berkembang dan melibatkan banyak pihak, mulai dari penerbit, kreator, pekerja produksi, pembaca, book reviewer, reseller, orang tua, hingga guru.
“Keberlanjutan ekosistem buku anak sangat penting karena masih banyak pengetahuan tentang Indonesia yang dapat disampaikan dan divisualisasikan melalui buku sebagai media edukasi,” ujar penerbit Hujan dan Bumi saat menutup sesi diskusi.
Buku anak tidak hanya menjadi bagian dari industri penerbitan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pengetahuan tentang Indonesia sekaligus mendukung tumbuh kembang anak.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








