Dolar Naik, Harapan Beranak Pinak Turun: Wawancara dengan Sri Wahyaningsih Tentang Ketakutan Generasi Muda Menjadi Orang Tua

Penulis

Dalam sebuah perbincangan kecil bersama seorang kawan, yang juga seorang reporter, kami terpantik untuk membahas soal bagaimana nasib keluarga muda hari ini? Benarkan waktu bersama anak adalah ‘barang mewah’ bagi mereka?

Obrolan semakin dalam hingga kawanku membuat sebuah pengakuan: Itu karena aku masih mau berkeluarga.

Pengakuan sederhana itu membuatku berpikir, di tengah harga rumah yang terus melambung, pekerjaan yang kian tak menentu, dan masa depan yang terasa rapuh, mengapa semakin banyak anak muda ragu menjadi orang tua? 

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membawaku menemui Sri Wahyaningsih, pendamping keluarga sekaligus pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM), untuk membicarakan ketakutan, pengasuhan, dan kemungkinan memelihara harapan di zaman yang serba mahal.

Foto Ibu Sri Wahyaningsih, Pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM). Foto diambil di Nitiprayan pada 8 Juli 2026 Sumber: Kanya Kiarra

***

Ketika ada keluarga yang ingin bergabung di SALAM, apa yang menjadi pertimbangan utama?

Yang kami seleksi bukan anaknya, tetapi orang tuanya.

Kami ingin mengetahui sejauh mana orang tua memiliki perspektif tentang pendidikan, memahami konsep SALAM, dan bersedia menjalankan prosesnya.

Kalau mereka sudah memahami dan memiliki komitmen, barulah kami melanjutkan dengan berbagai diskusi dan workshop.

Banyak orang tua awalnya bertanya, “Saya bekerja. Bagaimana mungkin bisa mendampingi proses belajar anak?”

Pendampingan yang kami maksud bukan berarti setiap hari harus hadir di sekolah. Yang penting adalah orang tua memahami apa yang sedang dipelajari anak, mengetahui prosesnya, dan menyediakan waktu untuk membangun hubungan dengan anak.

Konon, Indonesia mengubah cara pandangnya terhadap pengasuhan anak. Selama sekitar lima belas tahun terakhir, kebijakan perlindungan anak bergerak ke arah deinstitusionalisasi. Sekolah tidak lagi dipandang sebagai tempat ideal untuk membesarkan anak, melainkan didorong bertransformasi menjadi lembaga yang memperkuat keluarga dan komunitas agar anak tetap dapat tumbuh dalam lingkungan keluarganya.
Tempat dan Suasana di Komunitas SALAM. Foto diambil di Nitiprayan pada 8 Juli 2026 Sumber: Kanya Kiarra
Namun, di sisi lain, menurut penelitian World Youth Report tahun 2025, semakin banyak orang dewasa muda tumbuh dalam keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi dan pengasuhan lintas generasi. Orang tua mereka bekerja sangat keras, tetapi sering kali tidak memiliki ruang untuk hadir secara emosional.
Apakah Ibu juga melihat fenomena ini dalam pengalaman mendampingi keluarga di sekitar SALAM?

Sebenarnya saya sudah memprediksi hal itu. Saya ini orang tua generasi tahun 60-an, yang tumbuh dengan keluarga besar, tetangga, dan lingkungan yang sangat dekat. Dulu rasanya keluarga dan tetangga itu benar-benar menjadi surga bagi anak-anak.

Orang tua saya memiliki delapan anak, tetapi masih sempat bermain bersama anak-anaknya. Tetangga pun demikian. Waktu itu banyak keluarga yang memiliki tujuh, delapan, bahkan sebelas anak. Anehnya, mereka masih punya waktu untuk berkumpul.

Sore hari, setelah salat Magrib atau saat bulan terang, anak-anak bermain bersama. Orang tua juga berkumpul dan mengobrol. Padahal saat itu belum ada listrik, belum ada kompor gas, semua masih serba manual. Memasak memakai kayu bakar, mengambil air juga masih manual. Teknologinya jauh lebih sederhana, tetapi orang tua justru memiliki lebih banyak waktu untuk anak-anaknya.

Sekarang kondisinya terbalik. Memasak sudah memakai berbagai peralatan modern, banyak pekerjaan rumah tangga menjadi lebih mudah, tetapi justru orang tua tidak lagi memiliki waktu untuk anak-anak, sehingga banyak anak sebenarnya mengalami kesepian. 

Jadi yang ingin dibangun SALAM memang ikatan antara anak dan orang tua, ya Bu?

Betul. Dari pengalaman kami, ketika orang tua mulai terlibat dalam proses belajar anak, mereka justru merasa senang. Mereka mulai mengenal perkembangan anaknya dan menikmati proses itu.

Bahkan ada orang tua yang sebelumnya bekerja di kantor kemudian memutuskan mengundurkan diri dan memilih pekerjaan yang lebih fleksibel agar memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.

Awalnya saya juga sempat khawatir. Saya berpikir, jangan-jangan keputusan seperti itu justru akan membuat keluarga mengalami kesulitan. Tetapi, ternyata tidak. Hubungan mereka justru menjadi jauh lebih kuat.

Ada pasangan yang sama-sama dokter. Akhirnya mereka membuat kesepakatan bahwa salah satu akan mengambil peran lebih besar dalam pengasuhan, sementara yang lain tetap bekerja. Itu semua adalah pilihan hidup.

Yang penting adalah orang tua menyadari mana yang menjadi tanggung jawab dan mana yang benar-benar penting dalam hidupnya. Kesadaran itu muncul bukan karena kami memberi ceramah, melainkan karena mereka mengalami sendiri prosesnya.

Orang sering mengatakan bahwa harta yang paling berharga adalah anak. Tetapi setelah memiliki anak, justru banyak yang menyerahkan pengasuhannya kepada orang lain. Di sini mereka mulai menyadari kembali makna tanggung jawab itu.

Karena itu saya yakin, kalau komunitas seperti SALAM tumbuh di banyak tempat, walaupun kecil, dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan masyarakat.

Selain SALAM, apakah Ibu pernah berkolaborasi atau mendampingi lembaga yang menangani anak usia di bawah tiga tahun? 
Yah, sebab, sependek pengetahuan saya, masa setelah melahirkan kan termasuk fase yang cukup rentan. Secara hormonal ibu masih beradaptasi, belum lagi banyak yang tidak memiliki contoh pengasuhan. Tiba-tiba harus merawat bayi, sementara dirinya sendiri masih dalam masa transisi…
Logo SALAM (Sanggar Anak Alam). Foto diambil di Nitiprayan pada 8 Juli 2026 Sumber: Kanya Kiarra
Bagaimana Ibu melihat peran tempat penitipan anak atau panti asuhan dalam situasi seperti itu?

Saya sendiri belum pernah terlibat langsung dengan panti asuhan, tetapi saya memiliki beberapa teman yang mengelolanya. Jadi pengetahuan saya berasal dari pengalaman mereka.

Ada teman yang mengelola tempat penitipan untuk keluarga berpenghasilan rendah, terutama para buruh gendong di Pasar Beringharjo. Mereka hanya mampu membayar harian. Tempat itu lebih bersifat sosial, sehingga pendanaannya banyak bergantung pada donatur.

Yang saya lihat menarik adalah pengelolanya benar-benar memperlakukan anak-anak seperti anak sendiri. Ada ikatan batin yang kuat. Bahkan ketika anak-anak itu sudah dewasa, mereka masih datang berkunjung, bersilaturahmi, dan mengingat tempat itu sebagai bagian dari keluarganya.

Saya juga mengenal model lain di kawasan Tangerang, tempat banyak pabrik berdiri. Anak-anak para buruh dititipkan bukan di lembaga besar, melainkan kepada keluarga-keluarga yang memang bersedia mengasuh. Hubungannya menjadi seperti keluarga sendiri. Bahkan ketika anak-anak itu sudah menikah, mereka tetap menjaga hubungan dengan keluarga yang dulu mengasuh mereka.

Sebaliknya, saya juga mendengar beberapa kasus panti yang cukup memprihatinkan. Ada pihak-pihak yang memanfaatkan kebingungan keluarga yang tidak memiliki pilihan lain untuk menitipkan anaknya.

Sejak dulu saya memang kurang setuju jika anak harus dibesarkan di panti dalam pengertian institusi yang besar. Karena itu, ketika dulu saya terlibat di Code dan mendampingi anak-anak jalanan, saya selalu berusaha agar mereka bisa diasuh dalam lingkungan keluarga, menjadi anak asuh, bukan sekadar penghuni panti.

Saya juga mengenal teman di Kalasan yang mendirikan Rumah Impian. Mereka mendampingi anak-anak jalanan dengan menciptakan suasana yang menyerupai keluarga. Ada figur ayah, ibu, kakak, dan adik.

Model seperti ini juga saya lihat di SOS Children’s Village. Anak-anak tinggal dalam rumah-rumah kecil, sekitar lima sampai tujuh anak dalam satu rumah, bersama seorang ibu asuh. Jadi suasananya tetap menyerupai kehidupan keluarga.

Ketika ada orang tua yang masih ingin terlibat dalam pengasuhan, sekalipun memiliki keterbatasan ekonomi atau merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup, apakah lembaga-lembaga seperti itu juga mendampingi?

Ya, justru itu yang penting.

Beberapa lembaga yang saya kenal tidak hanya mendampingi anak, tetapi juga menguatkan orang tuanya. Ada keluarga yang anaknya mulai tinggal di asrama sejak usia sembilan tahun. Selama itu, orang tuanya juga didampingi agar kondisi ekonominya membaik. Ketika anak berusia sekitar lima belas tahun, keluarga sudah siap menerima anak kembali ke rumah.

Model seperti itu menurut saya jauh lebih sehat, karena tujuannya bukan menggantikan keluarga, melainkan menguatkan keluarga agar kembali mampu menjalankan fungsinya.

Misal di SALAM ada orang tua yang sebenarnya punya semangat belajar, tetapi kondisi ekonominya lemah, apakah SALAM juga membantu mereka menjadi lebih berdaya?

Tentu.

Di sini kami berusaha membangun saling dukung antarkeluarga.

Karena itu, ada berbagai kegiatan seperti Pasar Simbok, Pasar Ekspresi, dan kegiatan ekonomi lainnya. Tujuannya bukan sekadar berjualan, tetapi membangun ekonomi kerakyatan.

Banyak produk yang dijual merupakan hasil karya orang tua. Ada yang membuat minuman herbal, sabun, desain, kaos, sampul buku, dan berbagai produk lainnya.

Di SALAM hampir semua fasilitator juga memiliki usaha produktif di luar mengajar. Ada yang menjadi penulis, perajin, petani, atau pelaku usaha lainnya.

Dengan begitu, keluarga memiliki kesempatan untuk meningkatkan penghasilan.

Karena saya percaya, kondisi ekonomi sangat berkaitan dengan kualitas pengasuhan. Kalau ekonomi keluarga lebih kuat, orang tua memiliki ruang yang lebih besar untuk hadir bersama anak.

Kami juga mengembangkan kemandirian pangan. Menanam sayuran, memelihara ayam, dan memanfaatkan pekarangan rumah.

Mungkin hasilnya tidak besar, tetapi setidaknya kami tidak selalu bergantung pada pasar. Misalnya, tidak perlu membeli telur karena sudah memiliki ayam sendiri.

Semuanya berangkat dari cara mengelola keluarga dengan sederhana.

Saya dan suami bahkan tidak pernah memiliki penghasilan tetap. Tetapi, kebutuhan keluarga tetap berjalan karena kami terus berusaha menciptakan berbagai sumber penghidupan.

Kuncinya adalah hidup sederhana dan terus produktif.

Orang tua termuda di SALAM usianya berapa?

Sekitar dua puluh tahun.

Berarti menikah di usia sekitar tujuh belas tahun?

Iya.

Yang menarik, mereka tetap bisa berinteraksi dengan orang tua yang jauh lebih senior. Karena kami rutin mengadakan pertemuan orang tua setiap bulan. Bahkan di luar pertemuan resmi, mereka sering bertemu saat mengantar atau menjemput anak.

Interaksi itulah sebenarnya sekolah bagi para orang tua.

Menarik. Harga rumah menanjak. Dolar melambung. Generasi muda yang hari ini takut memiliki anak karena persoalan ekonomi dan kondisi dunia yang terasa semakin tidak pasti.

Sekarang memang bukan hanya takut punya anak. Banyak juga yang takut menikah.

Di keluarga saya sendiri ada beberapa keponakan yang memilih tidak menikah.

Saya memahami ketakutan itu. Dunia memang sedang mengalami banyak ketidakadilan dan kesenjangan. Ketakutan tersebut bukan sesuatu yang mengada-ada.

Tetapi jangan sampai seluruh hidup kita hanya dipenuhi kekhawatiran.

Yang jauh lebih penting adalah memiliki keterampilan.

Karena itu saya selalu mendorong anak-anak untuk memiliki keterampilan hidup.

Saya pernah meminta seorang anak belajar menjahit. Waktu itu ia marah dan merasa dipaksa.

Beberapa tahun kemudian ia datang menemui saya sambil berkata, “Bu, saya mau minta maaf. Dulu saya marah, tetapi ternyata keterampilan menjahit itulah yang menyelamatkan saya ketika terkena PHK.”

Sekarang ia memiliki usaha jahit sendiri dan mempekerjakan beberapa orang.

Berarti punya anak justru bisa menjadi harapan untuk membangun kembali kehidupan yang lebih manusiawi?

Saya percaya begitu.

Pengasuhan tidak bisa dilakukan sendirian. Kita membutuhkan keluarga dan komunitas.

Saya bersyukur karena anak saya sendiri memutuskan berhenti bekerja ketika akan melahirkan anak pertamanya. Saya tidak pernah memintanya. Saya hanya berdoa.

Saya selalu mengatakan bahwa usia nol sampai tiga tahun adalah masa yang sangat menentukan. Pada masa itu kehadiran orang tua tidak tergantikan.

Ketika anak sudah lebih besar, mungkin pengasuhan bisa dibantu oleh kakek, nenek, atau keluarga lain. Tetapi, pada masa awal kehidupan, kehadiran orang tua sangat penting.

Suatu hari anak saya bertanya, “Mah, dulu waktu punya anak, Mama pernah takut tidak punya uang?”

Saya jawab, tentu pernah khawatir. Tetapi, saya percaya Tuhan itu adil. Selama kita mau berusaha dan hidup sederhana, jalan akan selalu ada.


Editor: Dhika Marcendy


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *