Hari itu di Budapest, ibu kota Hungaria, pada 70 tahun lalu, tepatnya pada 23 Oktober 1956, terjadi demonstrasi besar-besaran yang menuntut penarikan pasukan Soviet dari Hungaria. Demonstrasi ini juga menuntut diangkatnya Imre Nagy—yang lebih reformis dan liberal—menjadi Perdana Menteri Hungaria untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya pada 18 April 1955 dipecat oleh pemerintahan Stalinis di Hungaria yang dipimpin oleh Mátyás Rákosi.
Kemarahan rakyat benar-benar di luar nalar. Patung Joseph Stalin juga dirubuhkan. “Kerusuhan bermula kemarin [pada 23 Oktober 1956] ketika sepuluh ribu mahasiswa menggelar dua demonstrasi untuk menuntut penarikan pasukan [Soviet] Rusia dan juga pengadilan terbuka bagi mantan pemimpin partai Komunis [Hungaria], Rákosi [yang Stalinis]. Mereka juga menuntut pembentukan pemerintahan yang dipilih secara bebas,” tulis The Guardian, edisi 24 Oktober 1956.
Akhirnya pada 24 Oktober 1956, karena tekanan yang begitu besar dari rakyat, Imre Nagy diangkat (kembali) menjadi Perdana Menteri Hungaria. Namun, Imre Nagy dan rakyat baru saja memasuki perjalan berliku revolusi yang nantinya akan dihalang-halangi oleh Uni Soviet. Perjalanan itulah yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Hungaria 1956.
Menghapus Bayang-bayang Stalin
Pemicu utama Revolusi 1956 adalah “pidato rahasia” Nikita Khruschev, orang nomor satu di Uni Soviet, pada Kongres Ke-20 Partai Komunis Uni Soviet, 25 Februari 1956. Pidato rahasia tersebut pada intinya mengecam segala macam kebijakan, taktik, dan tindakan Joseph Stalin selama masa kekuasaannya. Pidato ini menjadi awal dari kebijakan menghapus bayang-bayang Stalin, yang biasa disebut sebagai de-Stalinisasi.
Di Hungaria, efek dari de-Stalinisasi ini adalah melemahnya legitimasi kekuasaan Mátyás Rákosi sebagai orang nomor satu di Hungaria, yang mencitrakan dirinya sebagai pengikut Stalin. “Rákosi telah menerapkan serangkaian program ekonomi yang keras dan kasar yang menekankan industrialisasi berat dan kolektivisasi pertanian. Kebijakannya dapat diprediksi menyebabkan upah rendah, harga tinggi, dan standar hidup yang rendah bagi rakyatnya,” tulis Todd Avery Raffensperger dalam Freedom or Death: The Hungarian Uprising of 1956 (2008).
Karena tekanan yang begitu besar dari Soviet, pada 18 Juli 1956, Mátyás Rákosi mundur dari jabatannya sebagai Sekretaris Pertama Partai Rakyat Pekerja Hungaria (Magyar Dolgozók Pártja/MDP) yang menjadikannya sebagai orang nomor satu di Hungaria. Rákosi kemudian dibawa ke Uni Soviet, dan diasingkan di Gorky hingga akhir hayatnya.
Namun, pengganti Rákosi, Ernő Gerő, tidak jauh berbeda dari pendahulunya. “Jelas para penguasa Komunis di negara [Hungaria] itu merasa perlu mengorbankan [Rákosi yang merupakan] Stalinis brutal ini untuk meredakan ketidakpuasan rakyat yang begitu menonjol dalam beberapa bulan terakhir. Tentu saja, pengganti Rákosi, Ernő Gerő, ternoda oleh catatan hitam yang sama tentang kejahatan dan kesetiaan pada kediktatoran Stalinis,” tulis The New York Times, halaman 16, edisi 20 Juli 1956.
Mahasiswa Bergerak
Jatuhnya Rákosi membuat munculnya harapan baru bagi rakyat Hungaria, setelah sebelumnya ditindas oleh pemerintahan Rákosi dengan gaya kediktatoran Stalinis-nya, dan terutama setelah sebelumnya dihantui oleh represi yang dilakukan oleh Otoritas Perlindungan Negara (Államvédelmi Hatóság/ÁVH, setara KGB di Uni Soviet). Nicholas Smith dalam artikel The Beast of Budapest (2018), menjelaskan bahwa kejatuhan Rákosi membuat rakyat serta mahasiswa di Hungaria yang percaya bahwa liberalisasi dan kebebasan akhirnya berada dalam genggaman mereka.
Namun, kejatuhan Rákosi tidak berhasil meredam amarah rakyat begitu saja. Hal itu karena pengganti Rákosi, Ernő Gerő, memiliki rekam jejak yang tidak jauh berbeda dengan Rákosi yang Stalinis. Pada 23 Oktober 1956, terjadi demonstrasi besar yang menuntut agar Gerő mundur, dan rakyat serta mahasiswa menuntut agar Imre Nagy, seorang Komunis yang lebih reformis dan liberal, menjadi Perdana Menteri Hungaria untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya pada 18 April 1955 dipecat oleh Rákosi dengan pemerintahan Stalinis-nya.
Demonstrasi terjadi dengan sorak-sorai oleh puluhan ribu demonstran, orang-orang dengan kabel derek dan obor las merobohkan patung Joseph Stalin yang dibenci karena merupakan simbol kediktatoran. Sementara demonstran yang lain menjatuhkan bintang merah dari berbagai bangunan dan monumen Komunis. Sebagai gantinya, bendera tiga warna Hungaria, yang bagian tengahnya bolong karena terdapat lambang heraldik Komunis khas Soviet di tengahnya yang dipotong secara kasar, berkibar di sepanjang Budapest (Smith, 2018).
Di kalangan kaum intelektual di Hungaria, mencakup para penulis, mahasiswa, dan intelektual membentuk kelompok diskusi. Kelompok diskusi yang paling terkenal adalah Lingkaran Petőfi, yang didirikan oleh Persatuan Pemuda Pekerja (Dolgozó Ifjúság Szövetsége/DISZ). Lingkaran Petőfi rutin mengadakan pertemuan di mana para pembicara, di hadapan ribuan orang, menyampaikan kecaman terhadap Rákosi, ÁVH, dan Soviet (Smith, 2018).
Akhirnya pada 24 Oktober 1956, Imre Nagy diangkat (kembali) menjadi Perdana Menteri Hungaria karena tekanan yang begitu besar dari rakyat. Namun, Imre Nagy dan rakyat sebenarnya baru saja melangkah ke awal perjalanan revolusi yang penuh rintangan dengan adanya upaya untuk digagalkan oleh Soviet.
Budapest dalam Kemelut Revolusi
Sesuai dengan tuntutan rakyat, Imre Nagy akan memulai kembali reformasi dan liberalisasi Hungaria yang sudah sempat ia jalankan dengan program “Kebijakan Baru” yang digagasnya pada 1953. Namun ternyata, usaha mereformasi dan liberalisasi Hungaria ini nyatanya sudah dihalang-halangi bahkan sebelum dimulai. “Erno Gero, pemimpin Stalinis terakhir Hungaria [dan pendahulu Imre Nagy] sebelum pemberontakan [23 Oktober] tahun 1956, menyatakan darurat militer dan memerintahkan pasukan Soviet untuk membubarkan massa,” tulis Matt Fratus dalam The 1956 Hungarian Revolution and the Russian Tanks That Crushed It (2022).
Ya, Soviet kemudian datang dengan tank-tanknya. “Para pengunjuk rasa yang berubah menjadi pemberontak terlibat baku tembak dengan tank-tank Rusia saat mereka berpatroli di jalanan — beberapa hanya membawa perlengkapan dapur dan bensin. Soviet membalas dengan tembakan dan tank,” lanjut Matt Fratus (2022).
Namun, Nagy dan pemerintahannya tetap maju tidak gentar untuk melakukan reformasi dan liberalisasi. Walaupun begitu, pertempuran antara Hungaria dan Uni Soviet selama seminggu menimbulkan korban jiwa yang besar di kedua pihak. Soviet hanya mendapatkan puing-puing dan darah sebagai hasil dari upaya mereka mengintervensi Hungaria. Bahkan menurut Letnan Kolonel James Noel Cowley, atase militer yang ketika itu ditugaskan di Kedutaan Besar Inggris di Budapest, melaporkan bahwa beberapa tentara Soviet kehilangan semangat untuk bertempur. Hal itu karena mereka ngeri melihat penderitaan orang-orang yang tidak berdosa dalam pertempuran itu (Smith, 2018).
Pada 28 Oktober 1956, pemerintahan Imre Nagy mengumumkan untuk gencatan senjata, dan unit-unit Soviet yang babak belur mulai mundur dari Budapest. Sementara itu, Nagy memerintahkan pembubaran ÁVH yang dikenal brutal, dan menyatakan amnesti bagi para pemberontak (Smith, 2018).
Langkah Nagy bisa dibilang semakin “berani” dalam melakukan reformasi dan liberalisasi Hungaria. Dalam Proud & Torn: A Visual Memoir of Hungarian History – 1956: Rise Up! (n.d.), Bettina Fabos menjelaskan bahwa pada 30 Oktober 1956, Nagy melalui radio mengumumkan bahwa ia akan membentuk sistem multipartai, membubarkan ÁVH, dan membebaskan Kardinal Mindszenty dan tahanan politik lainnya. Kardinal Mindszenty sendiri adalah seorang kardinal Gereja Katolik Hungaria yang terkenal menentang fasisme dan komunisme di Hungaria.
Pada 1 November 1956, Nagy mengumumkan bahwa Hungaria menjadi negara netral dan keluar dari Pakta Warsawa, sebuah aliansi militer negara-negara komunis Blok Timur di Eropa Tengah dan Eropa Timur. Hal ini membuat Soviet memutuskan untuk kembali mengangkat senjata dan lanjut mengintervensi Hungaria (Fratus, 2022).
Intervensi Soviet ini merupakan operasi yang diberi kode nama Vichr (Angin Puyuh). Operasi ini akan membuat Soviet menginvasi Hungaria dengan kekuatan dan kecepatan sedemikian superior sehingga hampir tidak ada waktu untuk pihak Hungaria melawan (Raffensperger, 2008).
Pada 4 November 1956, János Kádár, pendiri sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Sosialis Hungaria (Magyar Szocialista Munkáspárt/MSZMP) yang didirikan pada 31 Oktober 1956 untuk menggantikan Partai Rakyat Pekerja Hungaria (Magyar Dolgozók Pártja/MDP) era Rákosi, mendirikan Pemerintahan Buruh-Petani Revolusioner Hungaria untuk untuk melawan dan menggantikan pemerintahan Nagy yang dianggap sebagai “kontra-revolusi” (Raffensperger, 2008). Pemerintahan Buruh-Petani Revolusioner Hungaria ini juga biasa disebut sebagai Pemerintahan Kádár Pertama, dan mendapatkan dukungan dari Soviet.
Dengan dukungan Soviet, Pemerintahan Kádár Pertama dapat dengan cepat mengambil alih dan menguasai Hungaria. Hal itu tentu dengan banyak korban yang berjatuhan, “Sekitar 2.000 warga Hungaria dan 650 tentara Soviet tewas dalam pertempuran tersebut. Setelah itu terjadi 236 eksekusi, pemenjaraan 22.000 orang dan interniran 13.000 orang, serta eksodus hampir 200.000 warga Hungaria,” tulis Open Society Archives (OSA) dalam pameran 1956-301-1989: Prehistory to the 1989 Fall of Communism in Hungary (2008) yang dikurasi oleh Gwen Jones.
Nagy dan rekan-rekannya kemudian melarikan diri ke Kedutaan Besar Yugoslavia untuk mencari suaka. Pada 22 November 1956, ketika Nagy meninggalkan halaman kedutaan, ia ditangkap oleh agen Soviet dan ditahan di penjara hingga akhirnya dieksekusi pada 16 Juni 1958 (Raffensperger, 2008).
“Pengumuman eksekusi Imre Nagy [pada 16 Juni 1958] dan tiga rekannya membangkitkan kembali ingatan akan pemberontakan Hungaria tahun 1956. Peristiwa itu mengingatkan kita pada tiga belas hari keberanian dan tekad yang memberi Hungaria sedikit gambaran tentang pemerintahan yang lebih demokratis,” tulis The New York Times, halaman 5, edisi 17 Juni 1958.
Ingatan akan Revolusi
Sejak saat itu, pembahasan mengenai peristiwa Revolusi 1956, pemerintahan Imre Nagy, dan Imre Nagy itu sendiri menjadi tabu di Hungaria. Namun, ingatan rakyat bahwa pada tahun 1956 ada cita-cita perubahan yang belum tercapai, masih sangat kuat.
Para pemimpin Revolusi 1956, termasuk Imre Nagy, dimakamkan di Plot 301, Pemakaman Umum Baru, Budapest. “Sejak awal tahun 1980-an, pada peringatan 16 Juni eksekusi Imre Nagy dan rekan-rekannya, anggota keluarga [korban Revolusi] dan aktivis oposisi merawat makam dan meletakkan bunga di Plot 301 di Pemakaman Umum Baru [di Budapest], tempat peristirahatan terakhir para korban [Revolusi] yang belum terkonfirmasi,” tulis Open Society Archives (OSA) (2008).
Dalam film dokumenter berjudul 1989 (2014) yang disutradarai oleh Anders Østergaard dan Erzsébet Rácz, dijelaskan bahwa Imre Nagy dimakamkan dengan identitas palsu dan diperlakukan sebagai rahasia negara. Selain itu, Plot 301 berjarak “lebih dari tiga kilometer dari pintu masuk [pemakaman], [dan berada] di daerah yang tertutup oleh semak dan pohon tebal.”
Secara mengejutkan, pada 28 Januari 1989, Imre Pozsgay, seorang anggota Politbiro MSZMP yang berpengaruh, menyatakan di radio publik bahwa Revolusi 1956 adalah pemberontakan rakyat, dan bukan kontra-revolusi (Open Society Archives, 2008). Ini adalah pengakuan pertama pejabat Partai yang secara tidak langsung mengakui bahwa Imre Nagy dan rekan-rekannya tidak bersalah.
“[Pozsgay] menyebut revolusi itu sebagai ‘pemberontakan rakyat melawan sistem kekuasaan oligarki yang telah mempermalukan bangsa,’ dan dengan demikian merusak legitimasi dan identitas pemerintah Komunis,” tulis Maciej Siekierski dan Jolanta Szabone Szuba dalam artikel Communism Does Not Work (2010).
Pernyataan Pozsgay itu memicu penggalian kembali makam Imre Nagy dan rekan-rekannya. Pada 29 Maret 1989, Plot 301 mulai digali kembali dan selesai pada 6 April 1989. Hasilnya, ada lima jenazah yang ditemukan. Lima jenazah itu adalah para pemimpin Revolusi 1956, yakni Imre Nagy, József Szilágyi, Pál Maléter, Géza Losonczy dan Miklós Gimes. Lima jenazah itu ditemukan dalam kondisi dikubur bersama, menghadap ke bawah, dan dibungkus dengan kawat (Open Society Archives, 2008).
Akhirnya pada 16 Juni 1989, Imre Nagy dan para pemimpin Revolusi 1956 lainnya dimakamkan kembali secara kenegaraan dan dimakamkan sebagai pahlawan Revolusi. Miklós Németh, Perdana Menteri Komunis Hungaria terakhir, menjelaskan bahwa upacara pemakaman kembali itu diselenggarakan di Lapangan Pahlawan, Budapest. Upacara pemakaman itu sendiri dihadiri oleh 150.000-200.000 orang (Østergaard & Rácz, 2014).
Menurut laporan The New York Times edisi 17 Juni 1989, Budapest pada hari itu mengalami hari yang penuh dengan anomali dan kontradiksi, karena tidak ada pemakaman kenegaraan yang dapat dirayakan dengan lebih khidmat dan terbuka serta diadakan di tempat bergengsi (di Lapangan Pahlawan) sebelum peristiwa pemakaman kembali para pahlawan Revolusi 1956. Ditambah pemerintah Hungaria dan MSZMP yang masih menganggap para pahlawan Revolusi 1956 itu sebagai pengkhianat dan kontra-revolusioner. Hal itu terbukti dari Károly Grósz, sekjen MSZMP, yang bersikukuh menolak rehabilitasi Imre Nagy.
Para pahlawan Revolusi 1956 itu kembali dimakamkan di Plot 301 di Pemakaman Umum Baru, Budapest. Pemakaman kembali pahlawan Revolusi 1956 itu menjadi momentum awal dari runtuhnya komunisme di Hungaria, dan menjadi negara bernama Republik Hungaria seperti yang kita kenal sekarang.
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








