Perkembangan teknologi bukan hanya soal kecanggihan perangkat, tapi juga perihal konsekuensi budaya dan paradigma baru yang lahir mengikutinya. Arus digitalisasi menekankan asas efisiensi dan kepraktisan sebagai mazhab utama. Impaknya, mentalitas manusia pascamodern menjadi cenderung tergila-gila akan keserbacepatan. Logika yang berorientasi pada keserbacepatan ini oleh Paul Virilio, dalam karya-karyanya seperti Speed and Politics (1986) dan The Aesthetics of Disappearance (1991), disebut dengan istilah “dromologi”.
Virilio menangkap bahwa keserbacepatan telah menjadi logika baru yang menyelinap di benak dunia kontemporer.1 Kita menggandrungi segala yang serba satset. Efisiensi didewa-dewakan. Grusa-grusu diagung-agungkan. Setiap laku kita seakan serba didikte orientasi kemrungsung. Logika keserbacepatan menyesaki setiap jengkal kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dan contoh paling tampak bisa kamu amati tiap momen perayaan wisuda tiba.
Pada hari selebrasi wisuda, salah satu pemandangan paling mencolok adalah selempang cum laude yang seliweran ke sana-kemari melekati tubuh wisudawan. Saya bilang mencolok karena kini rasanya mata kita lebih mudah menemukan wisudawan dengan selempang cum laude daripada yang tidak. Dan memang faktanya demikian.
Fenomena “banjir cum laude” terjadi di hampir seluruh kampus di Indonesia. Rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa, di semua daerah dan bidang ilmu, memang cenderung naik secara nasional. Di beberapa kampus seperti UGM, UNY, UNS, hingga UI, lulusan cum laude bahkan mendominasi persentase mayoritas wisudawan. Kampus UI, contoh, mencatatkan 74% sarjana cum laude pada wisuda periode Agustus 2023 lalu. Angka ini meningkat nyaris lima kali lipat dari angkatan kelulusan sewindu lalu, periode Februari 2015, yang hanya melahirkan 16,8% lulusan cum laude.2
Artinya, lulus cum laude sudah menjadi fenomena umum sekarang. Sekilas, “progres” ini tampak positif jika kita merasionalisasikannya dengan kemajuan era digital seperti keterbukaan akses informasi, inovasi perangkat teknologi, dan kehadiran platform-platform kiwari yang menunjang fleksibilitas pengajaran dan memudahkan proses belajar. Namun, apakah dengan ini kita bisa serta-merta menafsirkan bahwa para sarjana kita semakin berkualitas?
Belum tentu. Fenomena banjir cum laude ini tidak bisa begitu saja disamaartikan dengan peningkatan intelektualitas. Dan pada titik inilah, efek dromologi bekerja.
Predikat cum laude senantiasa identik dengan lulus cepat. Selempang cum laude kini bukan lagi tanda “kamu si paling pintar”, tapi lebih menonjol sebagai stempel “kamu si paling satset”. Disrupsi dromologi melahirkan ilusi bahwa seolah-olah menjadi yang tercepat berarti sama dengan menjadi yang terbaik.
Mahasiswa pengen cepat-cepat lulus itu tentu sah-sah saja. Punya ambisi itu bagus, tapi penting untuk mengenali bias obsesi. Apakah kita benar-benar perlu dan tahu untuk apa dan mengapa kita mesti cum laude atau cuma sebatas kebelet cum laude saja sebetulnya?
Temuan Deduktif tadi tidak hanya mengonfirmasi betapa lazimnya cum laude era sekarang. Namun, fenomena tersebut juga membawa konsekuensi psikososial yang jarang disadari. Bahwa cum laude bukan lagi semata “penghargaan akademis”, tetapi telah menjelma semacam standar sosial (peer pressure) di kalangan mahasiswa. Seseorang mengejarnya, entah dengan sadar atau naif, tidak melulu karena motivasi kredensial, melainkan demi mendapatkan apa yang dimaksud oleh psikolog Solomon Asch sebagai “konformitas sosial”.3 Ben padha kancane, kalau orang Jawa bilang. Biar sama kayak temannya.
Hari-hari ini, cum laude seakan sudah menjadi semacam lifestyle. Ia tidak lagi mutlak sebagai representasi substantif individu, tapi bergeser jadi indikator skala performatif. Dan fenomena banjir cum laude ini sebetulnya memang sudah niscaya kalau kita mau sejenak merenungkannya. Dromologi bersemayam tidak hanya di benak para mahasiswa, tapi juga dalam kinerja dosen, visi birokrat kampus, dan logika dunia kerja.
IPK mahasiswa mempengaruhi penilaian Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) terhadap kriteria akreditasi kampus tempat mereka berkuliah. Tak ayal, birokrasi kampus pun lantas “menyesuaikan diri” dengan menetapkan standar nilai minimum yang dapat dosen berikan kepada para mahasiswanya demi mengerek “nama baik kampus”. Imbasnya, para dosen kesulitan memberikan nilai apa adanya. Dosen dilanda dilema, integritas akademik dipaksa berkompromi dengan tekanan administratif.4 Praktik katrol nilai pun menjadi semacam keniscayaan. Mengapa? Karena nilai bagus mahasiswanya (dianggap) merupakan refleksi keberhasilan sang dosen.
Belum lagi kehadiran situs kuesioner semacam EDOM (Evaluasi Dosen dan Mahasiswa) yang cenderung jadi formalitas semesteran belaka.5 Anonimitas responden mahasiswa belum terjamin, akibatnya EDOM secara tak langsung malah jadi medan senyap tawar-menawar nilai.6 Dosen dan mahasiswa seakan sudah sama-sama paham apa yang masing-masing pihak mesti lakukan: selama kamu memberikan dosenmu testimoni mengajar yang bagus, laju nilaimu akan tetap mulus. Ada hegemoni transaksional yang diam-diam bekerja di kepala sivitas akademika.
Inilah mengapa birokrat kampus hobi betul menyuruh mahasiswanya agar cepat-cepat lulus dan cum laude lewat beragam cara. Mulai dari wejangan-wejangan halus para dosen di sela-sela kelas, pidato-pidato rektor di sesi-sesi kuliah umum, gembar-gembor promosi program magang dengan iming-iming konversi SKS, sampai legalisasi peraturan akademik yang arbitrer.
UNY, misalnya, memaksa halus mahasiswanya agar lekas lulus dengan meniadakan aspek fungsional cuti kuliah. Sejak terbitnya Peraturan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Nomor 9 Tahun 2022, cuti kuliah mahasiswa UNY diperhitungkan sebagai masa studi.7 Dengan pemberlakuan aturan ini, maka mau tidak mau mahasiswa UNY bakal memilih untuk tetap aktif semester karena tahu cuti atau tidak itu sama saja—jatah studi tetap bakal hangus. Padahal, salah satu alasan mendasar mengapa mahasiswa ambil cuti kuliah itu ya biar jatah studinya tetap utuh ketika ia sedang tidak sanggup mengikuti perkuliahan karena terhalang prioritas lain.
Prioritas lain tersebut bisa berupa masalah kesehatan (kecelakaan, sakit kritis, atau membutuhkan pemulihan fisik/mental), kendala finansial (kesulitan ekonomi keluarga yang membutuhkan mahasiswa untuk bekerja), kesempatan aktualisasi diri (program magang, pertukaran pelajar, memulai usaha mikro, maupun mengikuti kompetisi pengembangan bakat/keterampilan), ataupun keadaan darurat seperti bencana alam dan konflik perang. Bahkan, faktor-faktor ini seringkali integral memengaruhi satu sama lain sehingga tidak selalu bisa disederhanakan ke dalam selembar formulir.
Selain itu, para calon sarjana ini juga berkutat dengan ageisme rekrutmen perusahaan yang kerap mensyaratkan batasan usia para pelamar kerja semuda mungkin, tapi sekaligus menuntut kompetensi “berpengalaman” yang selangit.8 Jadi, lengkap sudah. Baik mahasiswa, dosen, birokrat kampus, maupun kondisi pasar kerja, semuanya ingin serba cepat. Sebab, di dunia yang mengimani dromologi, lamban berarti kontraproduktif. Manusia hanya berarti selama ia masih memiliki fungsi dalam pusaran logika produksi. Tak ada lagi tempat buat refleksi dan kontemplasi.
Pada titik ini, kampus bukan lagi ruang komunitas akademisi (universitas magistrorum et scholarium), tapi tak beda macam rumah laundry: semata penyedia jasa cuci ijazah ekspres.
Pada akhirnya, si mahasiswa sendirilah yang mesti mafhum menakar diri. Mau lulus cepat atau lambat, bahkan memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliah pun, semua itu kembali ke pilihan masing-masing individu. Jangan sampai kebelet cum laude cuma karena ikut-ikutan kawan tanpa menimbang kapasitas diri dan urgensi konsekuensi, apalagi sampai menghalalkan cara-cara yang mencederai nilai-nilai etika akademis.
Oh, betapa hidup kini berputar bagai roda balap dengan rem blong: buyar kesadaran dalam radian zaman yang tak lagi kenal kata pelan. Oleh karena itu, perihal cum laude, kita perlu merefleksikan ulang mana ambisi keilmuan, mana obsesi eksistensial.
Karena jika tidak, omelan Tyler Durden dalam Fight Club (1999) itu akan menampar kita lagi dan lagi: “Kita sering kali menipu diri dengan mati-matian mengejar hal-hal taek hanya demi mengesankan orang-orang taek!”
Referensi
- Tazid, A. (2022). Memahami Konsep Dromologi Paul Virilio. PANOPTIKON: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(1), 14-29. ↩︎
- Putri, A. W. (22 April 2024). “IPK Selangit Jangan Sombong! Sekarang cum laude cuma Pepesan Kosong.” Deduktif. Diakses dari https://deduktif.id/ipk-selangit-jangan-sombong-sekarang-cumlaude-cuma-pepesan-kosong ↩︎
- Asch, S. (1951). Effects of group pressure on the modification and distorture of judgements. Groups, leadership and men; research in human relations, 177-190.
↩︎ - Rokhmah, N. S. (13 Januari 2026). “Dilema Dosen: Antara Integritas Akademik dan Tekanan Administrasi Kampus.” S2 Pendidikan Dasar Unesa. Diakses dari https://s2dikdas.fip.unesa.ac.id/post/dilema-dosen-antara-integritas-akademik-dan-tekananadministrasi-kampus ↩︎
- Dinasih, A. R. (25 Agustus 2025). “Celah Formalitas pada Sarana Evaluasi Dosen.” LPM Institut. Diakses dari https://lpminstitut.com/2025/08/25/celah-formalitas-pada-sarana-evaluasi-dosen/
↩︎ - Mendrofa, A., & Sitanggang, F. R. (23 April 2025). “Anonimitas EDOM Dipertanyakan, Direktorat Pengembangan Pendidikan USU Berikan Tanggapan.” Suara USU. Diakses dari https://suarausu.or.id/anonimitas-edom-dipertanyakan-mahasiswa-ragu-akan-keamanan-dan-dampaknya/
↩︎ - Peraturan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Nomor 9 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Rektor Nomor 17 Tahun 2021. ↩︎
- Izzati, N. R. (7 Maret 2023). “Diskriminasi Usia dalam Lowongan Pekerjaan: Bagaimana ‘Ageism’ Merugikan Pekerja, Terutama Pekerja Kontrak dan Perempuan.” The Conversation. Diakses dari https://theconversation.com/diskriminasi-usia-dalam-lowongan-pekerjaanbagaimana-ageism-merugikan-pekerja-terutama-pekerja-kontrak-dan-perempuan-199603
↩︎
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








