Apakah Benar Luffy adalah Seorang Anarko?

Penulis

Tahun 2025, One Piece menjadi bahasan yang menarik bagi kalangan pecinta anime dan masyarakat umum. Hal yang menarik dalam one piece saat ini adalah berkembangannya world building One Piece di arc Egghead & Elbaf, munculnya trailer serta pemeran One Piece Live Action Season 2, dan yang paling menarik ialah bendera One Piece digunakan dalam perlawanan gerakan sipil di berbagai negara. Dari Indonesia, Nepal, Prancis, Filipina, Madagaskar, dan Amerika Serikat menggunakan bendera One Piece sebagai salah satu simbol perlawanan mereka kepada rezim. Ramainya One Piece dalam gerakan sipil, juga membuat para aktivis menuliskan sebuah artikel tentang One Piece. Berbagai kejadian dalam manga One Piece menjadi pemantik dalam sebuah tulisan maupun konten yang dikaitkan dengan fenomena maupun ideologi di dunia nyata. 

Beberapa tulisan menyebutkan bahwa Monkey D. Luffy, protagonis dari One Piece memiliki semangat pembebasan anarkisme. Al Mujahid dalam tulisannya yang berjudul “Jejak Anarkisme di Dunia One Piece” menyebutkan beberapa jejak anarkisme seperti luffy yang tidak mau diatur, tukar cawan saat dibentuknya armada Bajak Laut Topi Jerami tanpa hirarki, sistem kelompok Bajak Laut Topi Jerami, dan perlawanan Bajak Laut Topi Jerami terhadap penguasa (Al Mujahid, 2025). Dzikri juga menarasikan Luffy sebagai penganut anarkisme dengan cara membawa kebebasan kepada kru dan rakyat di pulau berkonflik yang disinggahinya dalam artikel “Membaca One Piece, Membaca Anarkisme” (Dzikri, 2025). Firdaus juga menyebutkan Luffy adalah seorang anarkis di artikelnya yang berjudul “One Piece, Anarkisme, dan Indonesia: Ketika Bajak Laut Lebih Bijak daripada Pejabat Negara” (Firdaus, 2025). Dalam artikelnya menyebutkan Luffy tidak otoriter dalam kelompok bajak lautnya. Ketiga artikel tersebut menyebutkan bahwa Luffy Adalah seorang anarkis.

Akan tetapi, klaim tersebut terlalu cepat. Klaim tersebut tidak bisa hanya menggunakan beberapa kejadian besar yang dilakukan oleh Luffy ataupun Bajak Laut Topi Jerami. Sebagai pembaca dan akan menginterpretasi sebuah scene atau dialog manga, sebaiknya harus juga memperhatikan detail kecil melalui dialog yang dilontarkan. Maka dari itu, saya akan menuliskan detail lain yang menjelaskan apakah Luffy benar-benar sudah bisa dianggap sebagai seorang anarkis atau belum.

Aku kaptennya!!

Dalam artikel Al Mujahid (14/02/2025), Dzikri (11/08/2025), dan Firdaus (17/08/2025) menyebut bahwa Bajak Laut Topi Jerami tidak memiliki hierarki. Akan tetapi dalam beberapa dialog dalam manga justru Luffy kerap menggunakan otoritasnya sebagai kapten atau mendeklarasikan diri sebagai kapten dan enggan posisinya digantikan. Berikut beberapa temuan dari manga yang saya baca:

Vol & ChapterTemuan Klaim serta otoritas Luffy sebagai Kapten dalam Cerita
Vol.5, Chapter 41Luffy menolak posisinya digantikan oleh Usopp, karena dia meneguhkan posisinya sebagai kapten
Vol.5, Chapter 42Luffy menentukan Jolly Roger Bajak Laut Topi Jerami (identik dengan Luffy), dan menolak lambang dari Usopp (identik dengan Usopp)
Vol.5, Chapter 42Luffy menentukan posisi Usopp sebagai penembak jitu
Vol.13, Chapter 114Luffy menanyakan Robin yang datang ke “kapalnya” dan menolak usulan rute yang disarankan Robin, padahal Nami mengharapkannya. Luffy mengklaim dirinya lah yang menentukan rute.
Vol.24, Chapter 219Luffy menentukan rute perjalanan pulau selanjutnya yaitu ke Skypiea.
Vol.24, Chapter 222Luffy meneguhkan dirinya sebagai kapten dan dia yang berwenang dalam menentukan rute perjalanan.  
Vol.32, Chapter 305Luffy menyetujui ajakan Foxy untuk permainan Davy Back Fight, tanpa diskusi dengan krunya.
Vol.33, Chapter 306Luffy tetap teguh pendirian mengikuti Davy back Fight, walaupun krunya sudah memberikan peringatan tentang permainan tersebut.
Vol.35, Chapter 330Luffy memutuskan untuk meninggalkan kapalnya -Going Merry- karena sudah tidak bisa berlayar lagi.
Vol.35, Chapter 331Luffy tetap teguh keputusaannya untuk meninggalkan Going Merry, walaupun Usopp menolak keputusannya. Bahkan Luffy menyuruh Usopp untuk keluar dari bajak lautnya kalau tidak mau mengikuti keputusannya.
Vol. 38, Chapter 367Luffy memerintahkan Sanji untuk melawan pasukan pemerintah dunia. 
Vol. 41, Chapter 398Luffy melakukan deklarasi perang melawan pemerintah dunia untuk menyelamatkan Robin. Deklarasi dilakukan dengan membakar bendera pemerintah dunia tanpa diskusi, namun seluruh kru tampak setuju karena demi menyelamatkan robin.
Vol.46, Chapter 442Luffy merekrut Brook tanpa diskusi terlebih dahulu dengan krunya walaupun beberapa kru takut dengan Brook karena penampilannya.
Vol. 51, Chapter 502Luffy memukul kaum naga langit yang mengakibatkan kelompoknya menjadi sasaran admiral angkatan laut. Insiden pemukulaan ini tanpa diskusi, namun seluruh kru tidak keberatan,
Vol. 52, Chapter 507Luffy memarahi Usopp karena menanyakan perihal One Piece kepada Rayleigh.
Vol. 61, Chapter 597Luffy memberikan perintah untuk menunda perjalanan ke New World ke seluruh krunya selama dua tahun.
Vol.62, Chapter 605Luffy memutuskan untuk melawan Kraken di dalam laut, walaupun Usopp dan Chopper menolaknya.
Vol.66, Chapter 651Luffy melakukan deklarasi melawan Big Mom salah satu kaisar bajak laut tanpa diskusi. Beberapa kru ketakutan atas keputusan tersebut.
Vol.66, Chapter 653Luffy menentukan rute perjalanan, walaupun Nami sebagai navigator menolak arah yang ditentukan Luffy. Luffy tetap teguh karena dialah kaptennya.
Vol.66, Chapter 655Luffy menentukan Punk Hazard sebagai tempat berlabuh walaupun Nami selaku navigator dan kru lainnya sudah memberikan peringatan. Luffy tidak mendengarkan keluhan krunya.
Vol.68, Chapter 668Luffy memutuskan untuk beraliansi dengan Trafalgar Law tanpa diskusi walaupun sudah diperingatkan oleh krunya.
Vol. 73, Chapter 729Luffy memberikan restu kepada Franky atas permintaanya berjuang bersama suku Tontatta untuk mengalahkan Doflamingo
Vol.85, Chapter 857Luffy menyetujui usulan Jinbei untuk beraliansi dengan Bege walaupun sudah diperingatkan oleh Sanji
Vol. 90, Chapter 901Luffy memberikan perintah ke Jinbei untuk bertemu di Wano.

Selain berbagai sikap Luffy dalam dunia One Piece, beberapa kru juga menunjukkan sikap membutuhkan atau menerima perintah dari seorang kapten. Zoro menyelamatkan Smoker yang merupakan Angkatan laut karena perintah Luffy saat di Kerajaan Alabasta. Sanji mengikuti perintah Luffy untuk tidak terlibat dalam duel melawan Aokiji di Pulau Long Ring. Nami menunggu perintah dari Luffy untuk melanjutkan berlayar, karena Luffy & Robin dalam keadaan pingsan saat dibekukan oleh Aokiji. Zoro juga mengakui Luffy sebagai Kapten, bahkan Zoro di Enies Lobby juga menyebutkan bahwa yang tidak dapat menerima keputusan Luffy sebagai kapten lebih baik pergi dari Bajak Laut Topi Jerami. Hal ini menunjukkan sikap krunya tetap menghormati Luffy sebagai kapten untuk mengikuti sebuah perintah.

Tidak sepenuhnya benar bahwa Luffy tidak otoriter dalam krunya. Temuan saya dalam membaca manga sampai arc Whole Cake Island menunjukkan sikap Luffy yang mempertunjukkan sikapnya sebagai kapten dan terkadang otoriter, terutama dalam menentukan pulau selanjutnya walaupun beberapa kru tidak setuju. Beberapa kru juga tetap menghargai perintah Luffy sebagai kapten, terutama Zoro. Kurang tepat apabila mengklaim bahwa Luffy tidak otoriter dan Bajak Laut Topi Jerami tidak mengenal hierarki.

Restorasi Penguasa

Mikail Bakunin salah satu tokoh kunci Anarkis menolak negara transisi untuk mencapai kesetaraan. Bakunin mengkritik Marx dengan adanya kediktatoran proletariat untuk mencapai kesetaraan. Bagi Bakunin, jika ada negara pasti ada dominasi salah satu kelas dan melahirkan kelas penguasa baru (Bakunin, 2017b). Negara tidak pernah netral, bagi Bakunin negara adalah otoritas, dominasi, dan kekuatan yang diorganisir oleh kelas penguasa(Bakunin, 2017a). Tokoh lain seperti Kropotkin juga menolak strategi perebutan negara dalam mencapai kesetaraan (Kropotkin, 1896). Anarkisme menolak adanya kesetaraan melalui negara.

Lalu bagaimana dengan Luffy dalam konteks negara dan anarkisme? Luffy sering membebaskan wilayah atau kerajaan dari sebuah penguasa yang menindas, otoriter, mementingkan kepentingannya sendiri, atau tidak berpihak kepada rakyatnya. Luffy mengalahkan Arlong yang memaksa rakyat membayar pajak kepadanya di Pulau Conomi;  mengalahkan Wapol yang melarang dokter untuk melayani rakyat di Kerajaan Drum;  mengalahkan Crocodile alias Mr.0 yang memanipulasi situasi untuk menciptakan perang sipil, bertujuan untuk menggulingkan Kerajaan Alabasta dan menguasainya dengan memanfaatkan sumber daya negara; mengalahkan Enel yang memimpin dengan otoriter dan tidak segan untuk mengeksekusi rakyatnya di Pulau Skypiea; mengalahkan Doflamingo yang mengeksploitasi rakyat demi kepentingannya melalui menghapus kenangan warga, kerja paksa untuk warga dan pengunjung yang dilupakan, menjadikan Dressrosa sebagai tempat perdagangan gelap; dan terakhir mengalahkan Kaido & Orochi yang membuat rakyat kelaparan, miskin, kerja paksa serta merusak lingkungan dan mengganti sejarah Kerajaan Wano. Musuh Luffy yang memiliki kekuasaan wilayah, mayoritas menindas rakyatnya.

Akan tetapi Luffy tidak menghancurkan sistem kekuasaan di wilayah yang dijelajahinya. Seluruh wilayah yang dibebaskannya tetap mempertahankan sistem kekuasaan dan penguasa yang zalim digantikan oleh penguasa sah atau sebelumnya, seperti Orochi yang digantikan oleh Momonosuke dan Wapol yang digantikan oleh Dalton. Luffy tidak pernah secara tersurat maupun tersirat untuk membubarkan sistem masyarakat di suatu wilayah. Dia tetap membiarkan corak sistem masyarakat hidup berjalan seperti sebelumnya dan membantu menggantikan penguasa zalim ke penguasa yang berpihak kepada rakyatnya.

Apa yang Dibawa oleh Weekly Shonen Jump?

Luffy membantu rakyat yang ditindas oleh penguasa atau penjahat zalim. One Piece menjadi salah satu manga yang diterbitkan oleh Weekly Shonen Jump. Selain One Piece ada juga manga yang terkenal seperti Bleach, Naruto, dan Boku no Hero Academia yang merupakan terbitan Weekly Shonen Jump. Manga–manga Weekly Shonen Jump memiliki kecenderungan dalam membantu. Kurosaki Ichigo (Bleach) yang membantu menyelamatkan Rukia dan rakyat Soul Society, Uzumaki Naruto (Naruto) yang menyelamatkan warga Konoha, dan Midoriya Izuku (Boku no Hero Academia) yang menyelamatkan pahlawan lain, warga, bahkan penjahat. Membantu menjadi hal yang dinarasikan oleh Weekly Shonen Jump.

Weekly Shonen Jump menyebarkan ideologinya melalui karya manga yang diterbitkan. Weekly Shonen Jump memiliki ideologi Doryoku – Yūjō – Shōri atau kerja keras, persahabatan, dan kemenangan (Hartzheim, 2021). Doryoku berarti menjelaskan latihan tanpa henti, ketekunan, pengorbanan fisik dan mental. Yūjō berarti persahabatan yang egaliter, dalam praktiknya relasi kuasa digantikan hubungan emosional. Shōri berarti yang menang dianggap benar. Ideologi ini digunakan juga untuk menanamkan ke pembaca muda (shonen dalam Bahasa jepang artinya anak laki – laki). Seluruh ideologi ini tercermin dalam manga Shonen Jump termasuk One Piece. Di Naruto, walaupun dia menjadi hokage masih bersifat layaknya teman ke teman seangkatannya. Hirarki tetap muncul, akan tetapi tidak menggunakan kekuasaan tersebut untuk otoriter dan tetap menghargai temannya sebagai manusia. Hal ini karena relasi kuasa digantikan hubungan emosional.

Selain itu, melawan penguasa, tindakan zalim atau kritik sistem tidak hanya terjadi di One Piece. Di Bleach, Kurosaki Ichigo melawan hukum negara (soul society) di mana temannya Rukia akan dihukum mati karena mentransfer kekuatan Shinigami ke Ichigo demi melindungi nyawa. Di Black Clover, terdapat perlawanan tokoh utama dan karakter lainnya melawan Dark Triad yang memerintah melalui teror bahkan melakukan pembunuhan massal dan penculikan terhadap rakyatnya. One Piece tidak menjadi satu – satunya manga yang melakukan perlawanan terhadap penguasa zalim, karena shonen jump memiliki ideologi untuk membantu rakyat, melawan penguasa zalim serta membawa narasi dimenangkan oleh yang baik. 

Penutup

Klaim Luffy adalah seorang anarkis kurang tepat. Untuk memahami Luffy seorang anarkis tidak hanya bisa dari satu atau dua kejadian, tapi kita harus memahami seluruh kisah hidupnya. Manga One Piece juga saat ini belum tamat dan kita masih terus membersamai perjalanan Luffy. Tujuan Luffy saat ini juga belum jelas, di perjalanan menuju Egghead Luffy menyebutkan cita cita sesungguhnya yang sebenarnya bukan hanya Raja Bajak Laut dan sampai manga terbaru cita – cita sesungguhnya belum diungkapkan. 

Kita harus berhati – hati dalam sebuah klaim sikap politik seseorang. Dalam penilaian sikap tidak bisa hanya berdasarkan beberapa kasus. Kita harus memahami keseluruhan rangkaian hidupnya. Sikap Luffy yang terkadang otoriter maupun menunjukkan sikap kapten tetap muncul setelah pembentukan armada Bajak Laut Topi Jerami. Luffy masih menggunakan otoritas kapten di Totto Land atau saat arc melawan Big Mom. Luffy tidak sepenuhnya otoriter dan tidak sepenuhnya antihierarki.

Bagi saya, Luffy hanyalah orang yang suka membantu orang. Dia tidak memiliki tendensi politis apapun saat ini. Dia hanya membantu orang, terlebih orang tersebut sudah memberinya makan. Bagi Luffy, orang yang sudah memberinya makan adalah orang baik dan dia akan membantunya. Sikap Luffy juga diperkuat oleh narasi Weekly Shonen Jump yang membawa ideologi membantu orang, kebersamaan tanpa relasi kuasa, dan kemenangan untuk mencapai kebenaran. Saat ini kita tidak bisa menilai sikap politik Luffy, yang bisa kita pastikan hanyalah kompas moral Luffy dalam berbuat kebaikan sangat berkaitan dengan makanan.  

Referensi

Al Mujahid, A. A. (2025, February 14). Jejak Anarkisme di Dunia One Piece. Omong-Omong.Com. https://omong-omong.com/jejak-anarkisme-di-dunia-one-piece/

Bakunin, M. (2017a). God and The State (Z. Ishak, Trans.). Second Hope.

Bakunin, M. (2017b). Statism & Anarchy (A. I. Arifin, Trans.). Second Hope.

Dzikri, A. M. (2025, August 11). Membaca One Piece, Membaca Anarkisme. Tirto.id. https://tirto.id/membaca-one-piece-membaca-anarkisme-hfvH

Firdaus, M. R. (2025, August 17). One Piece, Anarkisme, dan Indonesia: Ketika Bajak Laut Lebih Bijak daripada Pejabat Negara. SAMZine Spesial, 1, 44–49. https://semutapi.id/samzine-spesial-vol-1-17-agustus-2025/

Hartzheim, B. H. (2021). Making of a Mangaka: Industrial Reflexivity and Shueisha’s Weekly Shônen Jump. Television and New Media, 22(5), 570–587. https://doi.org/10.1177/1527476419872132

Kropotkin, P. (1896). The State: Its Historic Role. Freedom Press.


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *