Mengenyam Kepedihan

Penulis

Pada pagi yang belum sepenuhnya merekah, seperti biasanya Bandi telah siap dengan peralatan yang melekat di tubuh cekingnya yang nantinya akan menunjang pencahariannya sebagai seorang petani hari itu. Dia mulai melangkah ke pekarangan rumah sembari berusaha keras mengacuhkan seruan lambungnya yang belum sempat didulang sejumput nasi. Istrinya yang tengah mengandung anak ketiga mereka tak pernah lalai untuk mengecup punggung tangannya dan menyajikan segaris senyum untuknya sebagai salam perpisahan sekaligus ucapan penyemangat. Sesampainya di ladang, ia menjumpai kawan-kawannya telah berkerumun di sepanjang pematang dengan beberapa perlengkapan seperti cangkul yang dipikul. Mereka melontarkan seloroh satu sama lain dan saling menampilkan air muka yang kelihatan sumringah. Bandi lalu menghampiri ibu-ibu petani di gubuk kayu yang terletak di tengah ladang itu. Para perempuan yang juga merisaukan keadaan perut suami mereka telah menyiapkan beberapa potong singkong dan kacang tanah rebus yang diberi alas oleh selembar daun pisang.

“Hei, Bandi. Kamu sudah datang rupanya,” tegur perempuan yang merupakan istri dari kawan baiknya, Darman.

“Sini, kemarilah,” ajak ibu lain yang tengah mengucurkan air pada cangkir gembreng.

Salah satu dari mereka dengan cekatan menarik pergelangan tangannya untuk digiring ke gubuk kayu yang hampir lapuk itu.

“Ambil ini dan masukkan ke perutmu terlebih dahulu.”

“Jangan sampai kamu semaput saat mengeduk tanah dan membuat istrimu yang sedang hamil besar itu khawatir.”

Para perempuan itu saling memandangi satu sama lain dan mengangguk samar pertanda sepaham dengan apa yang dikatakan teman mereka. Sementara Bandi hanya mengangguk kikuk dan mulai memiringkan ketel untuk menuangkan teh yang masih berkelun. Setelah Bandi berhasil memadamkan gelegak lambungnya dengan sepotong singkong rebus, ia segera menyusul para petani lain yang sudah mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing yang telah disepakati beberapa hari sebelumnya. Bandi, seperti yang telah dikatakan salah satu perempuan tadi, mendapatkan tugas membuat galian tanah yang memanjang untuk meletakkan pipa seukuran lengan orang dewasa yang nantinya akan digunakan untuk mengalirkan air. Darman, salah satu kawannya yang punya postur tubuh kerdil dan sedikit bungkuk, diminta untuk memanggul pipa-pipa yang telah disiapkan pada jalan setapak menuju ladang bersama dua orang petani lain. Hari ini mereka akan merealisasikan sebuah rencana yang telah disetujui bersama perkumpulan petani di desa itu sebulan yang lalu. Setiap musim kemarau hendak menyambangi desa. Bandi dan kawan-kawannya harus dengan sigap membuat saluran air tambahan untuk menjaga sayuran-sayuran yang mereka tanam tetap gemuk segar dan bisa dipanen di kemudian hari. Jika pada suatu waktu mereka sengaja maupun tidak sengaja melalaikan agenda yang kini terasa bagaikan sebuah kewajiban bagi para petani itu, mereka hanya perlu menanti dampak yang akan lahir dari keputusan mereka dalam waktu singkat, tidak lebih dari dua minggu.

“Hei, tengoklah si Darman.” Salah satu kawannya berseru dengan kekeh yang siap disemburkan.

Yang lain serentak menoleh ke arah Darman dan mendapati laki-laki itu telah berada dalam posisi terperosok ke dalam liang parit. Selang beberapa saat, gelegak tawa seketika mengucur dari bibir mereka dan memadati ladang yang tadinya cukup lengang itu. Sementara itu, Darman masih terdiam mematung dengan betis yang sepenuhnya terbenam pada kedalaman lungkang.

“Kau hanya diminta membawa pipa-pipa itu, tapi tetap saja terjatuh,” ujar Bandi dengan kekehan samar setelah riuh tawa yang gaduh itu mulai mereda.

“Itu karena tubuhnya yang terlalu kering,” timpal yang lain turut mencemooh sembari berusaha menyodorkan alasan.

“Atau karena dia lupa mengisi perutnya pagi ini.”

“Bisa jadi, semalam kudengar istrinya tengah merajuk dan tak ikut datang menyiapkan sarapan tadi pagi.”

“Hei Darman, kau betul belum sarapan?” tanya kawan di belakangnya dengan raut yang cukup serius.

“Apa kau harus selalu disuapi sama istri mudamu itu?” Salah seorang yang lain menimpali dengan nada mencibir.

Darman hanya menunduk canggung sembari menyengir samar.

Kegiatan membuat saluran air tambahan untuk memastikan lahan milik para petani tetap subur ini mulai menjadi layaknya sebuah keharusan setiap tahunnya semenjak tambang batu bara menyusupi daerah mereka. Pengerukan sumber daya alam yang dilakukan secara gencar pada kenyataannya sering kali tak menghiraukan hajat penduduk setempat yang akhirnya menjadikan aliran sungai yang biasanya dijadikan sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari oleh warga desa sukar diperoleh. Jika pada akhirnya masyarakat berhasil mendapatkan hal yang sekarang terasa layaknya sesuatu yang mahal itu, mereka hanya akan mengecap kekecewaan yang pahit karena kualitas air sungai sudah tak sama lagi seperti dulu. Para warga desa menemukan adanya kadar keasaman yang terkandung dalam air konsumsi tersebut karena bekas galian tambang batu bara mengalirkan limbah hasil produksinya ke sungai-sungai di sekitar pemukiman warga. Pernah pada suatu waktu, setelah bekas-bekas galian batu bara mulai bermunculan di beberapa sudut desa, para petani masih berusaha menggantungkan harapan pada sumber air utama yang biasanya mereka andalkan untuk mengairi lahan mereka. Tetapi, ternyata mereka terlalu berprasangka baik terhadap alam yang telah dibejati karena yang terjadi setelahnya adalah suatu peristiwa yang terasa mustahil menimpa para petani dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan. Mereka dijerat rasa terkejut dan tidak percaya karena menemukan sebagian besar tanaman yang telah siap dipanen mengerut layu dan ladang itu dipenuhi tanaman busuk.

Hari ini, Bandi beserta masyarakat sekitar yang telah bermukim lama di desa yang sekarang telah disusupi perusahaan-perusahaan tambang itu akhirnya merasakan kesengsaraan yang terlampau mencekik kelangsungan hidup mereka. Laki-laki itu lalu memantapkan kehendaknya untuk merangkul para petani di desa tersebut dan mengerahkan mereka untuk mendatangi kantor gubernur dengan iring-iringan truk muatan terbuka. Rombongan itu tak habis menyerukan dengan militan tuntutan-tuntutan yang nantinya akan ditodongkan kepada gubernur, salah satunya mendesak pemangku jabatan itu agar lekas mencabut izin aktivitas tambang yang selama ini telah mengeruk habis-habisan desa mereka. Bandi berdiri dengan gigih dan tanpa segan di hadapan kantor gubernur itu, jemarinya terkepal erat. Ia sepenuhnya mengacuhkan sengatan matahari yang dengan lancang menjerang tubuh keringnya. Petani itu telah merelakan telapak kakinya yang tak beralaskan apa pun turut meruap karena aspal jalanan yang melepuh siang hari itu.

“Kemari kau! Temui kami para masyarakat kecil ini.”

“Kami telah mengalami banyak penderitaan.”

“Kehidupan kami seolah dirampas paksa.”

“Usir tambang-tambang yang merusak itu!”

“Bawa alat-alat berat itu pergi dari sini!”

Bandi sempat melangkah mundur dari titik kerumunan. Dia lalu terduduk letih di trotoar jalan yang sedikit lengang dengan hembus napas yang tersendat-sendat. Pandangannya yang sudah memburuk itu semakin mengabur ketika Darman bergegas menghampiri sosoknya dan langsung mengasongkan sebotol air mineral untuk diteguknya. Setelah Bandi berhasil mengaliri kerongkongannya yang amat gersang dan merasakan hitam di sudut-sudut matanya perlahan mulai memudar. Darman yang menampilkan raut iba bercampur cemas akhirnya dapat meloloskan napas panjang yang sedari tadi seolah tertahan di tenggorokan.

“Lebih baik kau pulang lebih dulu saja,” ujar Darman lirih, nadanya terdengar khawatir.

“Biar aku yang mengantar.” Ia masih menatap sayu sahabatnya.

“Aku masih harus membersamai mereka sampai akhir,” sahut Bandi sedikit putus-putus.

“Aku yang memboyong mereka untuk datang kemari.”

“Aku tidak mau membiarkan diriku menjadi pengkhianat yang senang melarikan diri.” Tandasnya dengan penuh penekanan.

Setelah mendengar langsung jawaban kawannya yang rasanya mustahil untuk disanggah lagi itu, Darman akhirnya hanya bisa mengangguk samar sebagai tanda menyerah sekaligus menyetujui apa yang sudah menjadi ketetapan Bandi. Bandi lalu perlahan bangkit dari duduknya dan melangkah dengan tubuh yang sedikit terhuyung, sementara Darman hanya menatap prihatin dari kejauhan dan sekali lagi mengembuskan napas pasrah. Setelah Bandi benar-benar telah lenyap dari tangkapan matanya, Darman kemudian melamun. Pikirannya jadi mengembara pada bayangan kemungkinan-kemungkinan yang nantinya akan ditodongkan kepada Bandi setelah apa yang ia lakukan hari ini dengan tekad yang terlampau gigih bersama petani-petani yang lain. Suatu kali Darman pernah diberitahu oleh para petani di desa sebelah yang sebelumnya telah menggelar aksi untuk mengusir aktivitas tambang-tambang ilegal yang merugikan di desa tersebut. Malam hari setelah rencana itu berhasil dilangsungkan di hadapan kantor gubernur, beberapa petani yang sedari awal dianggap telah menggagas perwujudan aksi tersebut menelan sejumlah perilaku intimidatif dari pihak-pihak yang menurut penuturan mereka memiliki karakteristik fisik khas seperti berperawakan kekar dan berpenampilan rapi.

Sore hari itu, di meja persegi kumal yang duduknya hanya beralas tikar bekas, Banyu dan Limar, kedua anak Bandi, sudah terduduk rapi dengan lambung yang menggelegak. Mereka termangu sejenak sebelum saling melontarkan tatapan penuh tanya. Ibu mereka melangkah tergopoh-gopoh dari dapur yang sumpek dengan sepiring ikan asin yang baru ditiriskan dari wajan sebelum diasongkan kepada kedua anaknya.

“Mana Bapak, Buk?” tanya anak sulungnya penasaran.

“Bapak masih di jalan, ya?” susul Banyu dengan nada lugu.

“Kita makan duluan saja, nanti Bapak juga nyusul.” Dia menjawab datar sambil mencoba menelan liur yang terasa lebih sepat.

Benaknya menerawang pada situasi yang mungkin tengah memasung suaminya saat ini di jalanan yang menyebabkan laki-laki keras kepala itu belum menjejalkan langkah ke pintu rumah sampai saat ini. Namun, perempuan muda yang tampak letih itu segera menggelengkan kepalanya dan berusaha keras menangkis bayang-bayang yang berhasil membuat napasnya tersendat dan tetes keringat mencuat dari permukaan kulitnya. Malamnya, sosok Bandi yang sedari tadi dirapalkan akhirnya muncul dengan rambut yang semrawut dan kaos tipis serampangan. Jejak peluh yang melinangi sekujur tubuhnya masih terpampang jelas dalam pandangan istri dan anak-anaknya. Dia lekas merengkuh lekat istri dan kedua anaknya yang nampak sudah terkantuk-kantuk di dipan panjang. Tak lupa ia juga mengusap lembut perut istrinya yang tengah mengandung denyut kehidupan. 

“Kau makanlah dulu,” ujar istrinya memberi titah. Tatapannya mengisyaratkan keprihatinan pada kondisi suaminya.

Bandi hanya tersenyum simpul dan mengangguk sekali sebelum bergegas menghampiri meja yang masih menyuguhkan semangkuk sayur bening dan beberapa potong ikan asin yang sudah dingin. Ketika ia tengah mencentong sekepal nasi untuk dilandaskan di piringnya, saat itu pula pintu rumahnya yang belum sempat dikatupkan digedor tiga kali dengan jeda singkat. Mendadak degup jantungnya mengubah ritme menjadi lebih cepat dan suhu tubuhnya yang terasa melalui permukaan kulitnya menjadi demam.

“Hei, di mana suamimu?”

“Dia pasti sudah pulang kan.”

Sebelum Bandi sempat menafsirkan kiranya situasi seperti apa yang akan menyergapnya beberapa saat ke depan, laki-laki tersebut akhirnya menyadari kedua pergelangan tangannya yang kering telah berada di sebalik tubuhnya dan sudah dikekang oleh tangan-tangan yang angkuh dan tak mengenal kemanusiaan.

“Kau ikut kami malam ini.”


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *