semutapi.id | Luce Irigaray, seorang feminis pascamodern memandang bahwa bahasa telah merepresi perempuan. Pemikirannya dimulai dari keberadaan bahasa dan budaya dalam lingkungan dunia objek Hal ini kemudian memicu problem dan kritik hingga melahirkan pandangan baru bahwa bahasa tidak membentuk pandangan tentang dunia dari si penuturnya, melainkan berkecenderungan membentuk pandangan tertentu si subjek tentang dunia.
Dalam artian, lelaki, sebagai penutur hanya menggunakan pandangannya untuk memberi sebutan kepada segala hal di dunia, bahkan pada perempuan. Berbagai istilah soal perempuan yang diciptakan lelaki, pada kenyataannya, tak merepresentasikan perempuan sama sekali. Hal ini kemudian memengaruhi subjek lain atau pun kelompok lain dalam memandang perempuan dan tercermin melalui bahasa yang digunakan dan disampaikan. Kenyataan inilah yang membawa Irigaray terus menyelami bagaimana perempuan dipandang dan terepresi oleh bahasa yang dibentuk oleh maskulinitas budaya patriarki.
Bahasa dalam Pandangan Luce Irigaray
Bagi Irigaray, bahasa dapat meminggirkan perempuan dari posisi subjek aktif. Dia percaya bahasa harus diubah jika perempuan ingin mendapatkan subjektivitasnya. Sebagai seorang ahli linguistik yang juga tertarik pada kajian mendalam soal bahasa, Irigaray menarik benang merah bahwa kebudayaan patriarki itu berwujud dalam sistem batin bahasa.
Menurutnya, keberadaan gender bukan tanpa alasan. Ada alasan semantik yang membentuk sejumlah makna. Pemisahan pemaknaannya berhubungan dengan pengalaman inderawi dan kebertubuhan. Pemisahan itu bisa berubah-ubah, sesuai dengan waktu dan tempat. Misal, perbedaan seksual menentukan sistem pronomina, adjektiva posesif, gender kata, dan pengelompokannya dalam kategori gramatikal. Contohnya, maskulin/feminin, konkret/abstrak, dsb.
Kerja bahasa patriarki dalam memengaruhi cara pandang subjek terhadap dunia sangat berhubungan dengan stigma bahwa lelakilah penciptanya sehingga menyebabkan perempuan tak memiliki bahasanya sendiri. Mengapa? Sebab bahasa yang selama ini digunakan dan dituturkan adalah produk dari budaya patriarki yang tak mampu mewakili feminitas perempuan. Pada akhirnya, perempuan dibisukan oleh bahasa yang tidak bisa mewakilinya sekaligus merepresi feminitasnya.
Sementara lelaki, di dalam bahasanya cenderung memosisikan dirinya sebagai subjek di tiap tulisan maupun wacana yang dituturkan dan perempuan cenderung memposisikan dirinya bukan sebagai subjek.
Penamaan Aplikasi Buatan Pemda adalah Wujud Represi Perempuan Melalui Bahasa
Beberapa waktu lalu, di sosial media, publik ramai membicarakan nama-nama aplikasi yang diluncurkan pemerintah daerah, dari tingkat kota, kabupaten, hingga provinsi, karena sangat seksis dan maskulin. Misal, Pemkot Surakarta meluncurkan aplikasi dengan nama Sistem Monitoring Stok dan Kebutuhan Pangan yang disingkat Simontok. Lalu ada aplikasi bernama Sistem Informasi Organisasi Kemasyarakatan buatan Pemkab Cirebon yang disingkat menjadi Sisemok. Paling memalukan, aplikasi yang diluncurkan Pemprov Kalimantan Selatan bernama Siska Ku Intip, akronim dari Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma.
Singkatan-singkatan nama aplikasi di atas adalah representasi bagaimana bahasa yang ada adalah bahasa patriarki yang maskulin. Parahnya lagi, hal ini dituturkan oleh para pejabat di struktur pemerintahan yang seharusnya menjadi role model masyarakat. Penamaan akronim aplikasi tersebut secara gamblang memperlihatkan bagaimana di kehidupan hari ini, terutama di struktur kenegaraan, objektifikasi perempuan masih saja dinormalisasi dan dilakukan tanpa tedeng aling-aling.
Objektifikasi perempuan melalui pemberian nama akronim aplikasi secara bersamaan juga telah merendahkan perempuan. Tak ada alasan yang bisa diterima dalam penormalisasian struktural ini. Bahkan tak hanya objektivikasi, seksualitas perempuan juga telah dianggap sebagai sebuah komoditi melalui akronim-akronim seksis untuk aplikasi pemerintahan tersebut. Apa yang disampaikan Irigaray tampak lebih nyata sekarang bahwa perempuan telah terepresi sedemikian rupa melalui bahasa oleh maskulinitas para patriark.
Referensi:
- Pratiwi, N.P.S. Melawan Bahasa Patriarki. Yogyakarta: Penerbit Semut Api, 2023.
- Darmawan, Aditya Priyatna dan Ahmad Naufal Dzulfaroh. “Nama Aplikasi Bikinan Pemda Bernuansa Seksisme: Pengamat: Objektifikasi Perempuan dan Tak Relevan”. Kompas, 11 Juli 2024.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis








