Membaca kembali karya Walter D. Mignolo yang berjudul “Epistemic Disobedience and the Decolonial Option: A Manifesto” (2011) untuk memahami kompleksitas problematis di Indonesia saat ini, bukanlah sekadar kerja klerikal para akademisi di balik meja mahoni. Ini adalah sebuah ledakan api di tengah derasnya informasi mengenai hilangnya keadilan dan keresahan masyarakat sipil hingga kaum intelektual akhir-akhir ini.
Ketika di segenap penjuru Nusantara para sejarawan partikelir, aktivis intelektual, dan tetua adat sedang berjibaku membongkar kuburan sejarah yang ditimbun penguasa, memperjuangkan sejengkal tanah warisan leluhur, dan mempertanyakan kembali kitab-kitab pengetahuan yang ditulis dengan tinta darah dan keringat kaum jajahan, konsep Mignolo nampaknya mampu menawarkan seperangkat alat untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut.
Konsep-konsepnya semacam epistemic disobedience (pembangkangan epistemik), colonial matrix of power (matriks kekuasaan kolonial), border thinking (pemikiran batas) adalah alat bedah untuk menguliti persoalan bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya (Mignolo, 2013). Dia menyadarkan kita bahwa segala perjuangan yang tampak tercerai-berai itu sesungguhnya diikat oleh satu benang merah kusut, yaitu hantu kolonialitas yang terus bergentayangan, bahkan puluhan warsa setelah bendera londo itu diturunkan.
Mengapa kolonialitas masih dapat dianggap bercokol pada negara-negara yang merdeka pasca Perang Dunia II? Bagi Mignolo, kolonialitas bukan cuma soal penguasaan teritori dan ekonomi. Ia adalah racun yang meresap ke dalam cara kita berpikir, cara kita merasa, bahkan cara kita bermimpi (Mignolo, 2000).
Bahkan hantu itu menjelma dalam kurikulum sekolah yang masih menghamba kepada Eropa sebagai kiblat peradaban, dalam proyek-proyek pembangunan yang menggilas kearifan lokal dengan buldoser keserakahan, serta dalam universitas-universitas yang mencap pengetahuan nenek moyang kita sebagai ‘takhayul’ atau ‘klenik.’ Maka, pekik Mignolo untuk ‘membangkang secara epistemik’ adalah gema dari suara-suara perlawanan yang telah lama berbisik di lorong-lorong sejarah Nusantara.
Membedah Ide-ide konseptual Mignolo
Modernitas/kolonialitas adalah jantung pemikirannya. Mignolo, mengikuti jejak pemikir seperti Aníbal Quijano dan Enrique Dussel berargumen bahwa modernitas dan kolonialitas adalah dua sisi dari mata uang yang sama dan tidak dapat dipisahkan. Retorika modernitas yang menjanjikan kemajuan, pencerahan, dan keselamatan (misalnya melalui peradaban, pembangunan, atau demokrasi) sesungguhnya dibangun di atas dan disokong oleh logika kolonialitas yang menindas, mengeksploitasi, dan menyingkirkan.
Sisi terang modernitas—revolusi industri, pencerahan, Hak Asasi Manusia memiliki the darker side (sisi gelap) yang tersembunyi, yaitu perbudakan, genosida, dan penghancuran peradaban non-Eropa (Mignolo, Catherine E. Walsh, 2024). Dengan demikian, kolonialitas bukanlah sebuah ‘penyimpangan’ dari modernitas, melainkan kondisi yang dimungkinkan keberadaannya oleh modernitas itu sendiri. Kemiskinan di Afrika, misalnya, bukanlah kegagalan modernitas untuk menjangkau benua itu, melainkan konsekuensi logis dari sistem ekonomi kapitalis yang menjadi tulang punggung modernitas.
1. Matriks Kekuasaan Kolonial (Colonial Matrix of Power)
Jika kolonialitas adalah hantunya, maka ‘matriks kekuasaan kolonial’ adalah struktur yang mengamininya. Ini adalah jaring laba-laba raksasa yang tak kasat mata, yang menjerat bukan hanya ekonomi dan politik, melainkan juga otak dan jiwa kita. Istilah colonial matrix of power yang dipelopori oleh Aníbal Quijano ini merujuk pada sebuah jaringan kekuasaan global yang tidak hanya mengontrol ekonomi (melalui perampasan tanah dan sumber daya) dan otoritas kekuasan (melalui negara), tetapi juga merangsek hingga ke ranah pengetahuan (episteme) dan keberadaan (being) atau subjektivitas (Quijano, 2024).
Matriks ini menciptakan hierarki rasial (kulit putih di atas non-kulit putih), hierarki epistemik (pengetahuan Barat di atas pengetahuan non-Barat), dan hierarki gender (patriarki). Dalam konteks Indonesia, keberadaan konsep ini telah diidentifikasi dan digunakan dalam berbagai analisis akademis untuk membongkar bagaimana kekuasaan kolonial terus beroperasi hingga pascakemerdekaan yang digadang-gadang hingga saat ini.
2. Pelepasan Diri (De-linking) & Pembangkangan Epistemik (Epistemic Disobedience)
Bagaimana cara lolos dari jaring ini? Mignolo menyerukan: “Lepaskan diri!” Putuskan rantai pikiran yang membelenggu tersebut (Mignolo, 2011). Ini bukan sekadar ganti baju teori dari Marx ke Foucault, yang sama-sama anak kandung Eropa. Ini adalah sebuah ‘pembangkangan epistemik’, suatu tindakan memproklamirkan kemerdekaan berpikir. Ini adalah keberanian untuk menolak terus bermain catur dengan aturan yang dibuat oleh tuanmu . Ini adalah ajakan untuk kembali menggali sumur pengetahuan kita sendiri yang telah lama ditimbun dan dicap sebagai barang kuno, primitif, atau mistis.
3. Pemikiran Batas (Border Thinking)
Lalu, dari mana datangnya pikiran merdeka ini? Mignolo menjawab: dari ‘luka kolonial’ yang menganga. Pikiran dekolonial bukanlah sebuah abstraksi filosofis, melainkan sebuah respons eksistensial terhadap pengalaman penindasan, penghinaan, dan penyingkiran. Ia tumbuh di parit-parit perbatasan antara dunia si tuan dan si budak, dalam benak orang-orang yang dipaksa hidup di dua kebudayaan.
Mignolo merujuk pada sosok Waman Puma de Ayala, seorang pribumi Andes abad ke-17, dan Ottobah Cugoano, bekas budak Afrika di London abad ke-18. Keduanya menulis risalah politik monumental dengan cara memadukan kerangka berpikir Eropa (teologi Kristen) dengan pengalaman dan kosmovisi dari dunia mereka yang terjajah (Mignolo, 2000). Mereka tidak menolak modernitas sepenuhnya, tetapi juga tidak menerimanya begitu saja. Mereka berpikir dari dan melalui celah yang diciptakan oleh perbedaan kekuasaan kolonial.
Resonansi dan Penerapan Pemikiran Dekolonial di Indonesia
Gagasan Mignolo bukan omong kosong dari menara gading di Barat sana. Di Nusantara, gagasannya yang cukup lantang menyulut api di berbagai medan laga pemikiran. Salah duanya adalah Dekolonisasi Penulisan Sejarah. Lihatlah buku-buku sejarah kita! Masih bau keringat kompeni dan beraroma feodalisme Jawa.
Selama puluhan tahun, dari bangku sekolah dasar hingga menengah atas kita dipaksa menelan sejarah yang ditulis dari sudut pandang para residen dan bupati, bukan dari sudut pandang para kuli dan masyarakat biasa lainnya. Gerakan dekolonisasi historiografi adalah upaya merebut kembali ingatan kita, menulis ulang kisah bangsa dengan perspektif indonesiasentris, sekaligus memberi suara pada mereka yang selama ini dibungkam atau bahkan sengaja dihilangkan.
Seruan Mignolo untuk memulai silsilah pemikiran dari Waman Puma (bukan dari Plato) adalah contoh teoretis yang dapat dilakukan para sejarawan kita untuk menendang warisan kolonialsentris ke tong sampah. Ini adalah proyek mendesak untuk membebaskan memori bangsa dari penjara pikiran kolonial.
Perjuangan Masyarakat Adat dan Pengetahuan Lokal
Bagi saudara-saudara kita masyarakat adat, luka kolonial itu bukan metafora, melainkan nanah yang tak kunjung kering. Perampasan tanah atas nama ‘pembangunan’, perusakan hutan atas nama ‘kemajuan’, dan pelecehan hukum adat adalah bukti bahwa logika kolonialitas masih berkuasa. Logika ini mengubah gunung yang semula sakral menjadi sekadar ‘sumber daya alam’ yang siap dikeruk habis tanpa memedulikan konservasi.
Mungkin contoh yang masih kalian ingat adalah Raja Ampat. Perlawanan masyarakat adat untuk mempertahankan tanah ulayat mereka adalah bentuk ‘pembangkangan epistemik’ yang paling murni. Mereka menegaskan bahwa ada cara lain untuk hidup dan berhubungan dengan alam, cara yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah bertaraf internasional itu. Dengan mempertahankan kosmovisi yang dipercayai, mereka secara aktif melepaskan diri dari matriks kekuasaan yang ingin menyeragamkan segalanya demi tumpukan modal semata.
Kesimpulan
Pembacaan manifesto Walter Mignolo ini bukanlah bacaan akademis untuk meninabobokan kaum intelektual di menara gading. Ini adalah suatu seruan yang dilempar ke tengah kemapanan berpikir, sebuah wacana perlawanan yang mendesak untuk dibaca oleh setiap jiwa yang merasa terjajah di negerinya sendiri. Dengan bahasanya yang cukup menyala, Mignolo menelanjangi borok terbesar zaman ini, yaitu modernitas yang kita puja-puji sebagai dewa kemajuan, padahal sesungguhnya adalah dewa bermuka dua. Wajah depannya berkilau dengan janji pencerahan dan kemajuan, tetapi punggungnya berlumur darah dan nanah kolonialitas. Keduanya tak terpisahkan. Kemajuan Eropa dibangun di atas kuburan massal bangsa-bangsa lain. Inilah yang Mignolo sebut modernitas/kolonialitas.
Hantu penjajahan, bagi Mignolo, tidak mati bersamaan dengan diturunkannya bendera kompeni. Ia terus hidup dalam sebuah jaring laba-laba raksasa yang disebut matriks kekuasaan kolonial, yang tidak hanya menjerat tanah dan sumber daya, tetapi juga otak dan cara kita memandang dunia. Kurikulum sekolah, model pembangunan, hingga standar ilmu pengetahuan kita masih disetir oleh logika sang tuan dari seberang lautan nan jauh di sana.
Lalu, apa jalan keluarnya? Lagi-lagi Mignolo tidak menawarkan isak tangis atau peratapan nasib yang tiada ujung, dia menyodorkan perbekalan yang setidaknya masih dapat digunakan, yaitu disobedience epistemic, sebuah agenda untuk memproklamirkan diri sebagai sosok individu yang tidak hanya merdeka dalam berkewarganegaraan, tetapi hingga pada taraf merdeka berpikir.
Pemikiran inilah yang acapkali disebut border thinking. Ia tidak lahir dari ruang seminar ber-AC, melainkan dari ‘luka kolonial’ yang menganga, dari kebun-kebun perbatasan antara dunia si tuan dan si budak. Ia adalah senjata kaum tertindas yang mau belajar menggunakan bahasa tuannya untuk menikam jantung tuannya sendiri.
Di Indonesia kini, manifesto Mignolo adalah cermin raksasa. Ia memberi nama dan kerangka bagi segala perjuangan yang sedang berkecamuk. Dari para petani Kendeng yang mempertahankan Ibu Bumi hingga para sejarawan yang membongkar kebohongan sejarah yang diciptakan oleh rezim kekuasaan.
*Ulasan artikel berjudul “Epistemic Disobedience and the Decolonial Option: A Manifesto” yang ditulis oleh Walter D. Mignolo (Transmodernity, Fall 2011)
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








