Hari ini kuputuskan pulang ke rumah. Bukan rindu pada Bapak. Aku rindu pada kamar mandi yang berukuran sepetak di ujung rumah. Aku rindu sekali padanya.
Kakiku tiba di muka rumah. Bapak duduk di kursi teras, takzim membaca koran sambil menyantap pisang goreng.
Aku masa bodoh dengan Bapak. Tanpa seucap kata pun, aku menyelonong masuk ke dalam rumah, menuju kamar mandi.
Aroma bilik kecil itu tak pernah berubah. Abadi. Wangi lavender bercampur vanila menguar lembut. Menusuk hidungku.
Begitu kakiku menjejak lantai yang dingin, beban berat di dadaku seolah mencair, terhanyut bersama aliran air yang mengalir dari gayung. Kuusap wajahku perlahan. Segar. Aku menemukan ketenangan di sini, di pelukan kamar mandi kecilku.
Aku memulai ritual. Kunyalakan keran setengah putaran, menciptakan bising yang menenggelamkan suara yang kuciptakan sendiri.
Air mataku jatuh, menyatu dengan air keran yang kubiarkan mengalir. Ia jatuh sederas aliran sungai yang meluap setelah hujan lebat turun. Bilik kecil ini jauh lebih banyak mengenal aku ketimbang Bapak.
Sejak dulu, Bapak enggan memelukku. Bapak bilang, “Pelukan hanya untuk perempuan. Kau lelaki, lelaki harus kuat.” Aku patung yang dipahat Bapak dan dibiarkan usang sendiri.
Aku kerap diam, Bapak tak suka dibantah. Mataku menatap kosong ke arah dinding, hatiku berteriak dalam keheningan.
Tempat berikutnya yang aku tuju setelah kamar mandi adalah kamar Ibu. Kuendus sisa wangi di seprai yang menjelang kumal, berharap Ibu masih menyisakan kasih sayangnya pada keharuman itu. Hatiku merasa Ibu masih di sini, menemaniku, memelukku, dan menenangkan jiwaku.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Dari balik pintu kamar, muncul kepala Bapak. Mengintip. Tatapan matanya datar, tanpa senyuman, menatapku lalu pergi begitu saja. Tatapan matanya membuatku terbayang-bayang masa lalu. Pikiranku diseret mengenang masa itu.
Usiaku tujuh tahun kala itu. Selepas salat subuh, aku bergegas ke dapur. Gumpalan asap putih mengepul dari panci yang sedang digunakan memasak oleh Ibu, memenuhi ruangan dengan aroma hangat yang menenangkan. Bau ikan goreng dan sayur sop membuat perutku semakin keroncongan.
“Bu, boleh aku bantu?” ucapku lembut merayu.
Ibu menatapku sembari tersenyum. “Boleh, potong ini saja,” katanya sambil menyerahkan beberapa wortel yang belum dipotong ke tanganku.
Aku sangat antusias. Pisau kecil di tanganku mulai bekerja, memotong wortel menjadi potongan-potongan kecil. Kami berbincang hangat. Entah kenapa suasana dapur selalu membuatku mendapatkan ketenangan.
Suasana mendadak berubah saat kaki Bapak melayang menendang tatakan. Potongan-potongan wortel itu berhamburan, berceceran di lantai.
“Hei, Bayu! Kenapa kamu diam saja saat Bapak memanggilmu?” Suara Bapak pecah menggelegar, memekakkan telingaku. Matanya melotot, alisnya berkerut tajam. Tubuhku gemetar ketakutan, jantungku berdegup kencang. Aku spontan bersembunyi di balik tubuh Ibu, mencari perlindungan.
Ibu hanya diam, menunduk. Aku bisa merasakan napasnya yang berat dan tangan yang sedikit gemetar di sampingku, seolah menahan sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tak berani.
“Kenapa, Bayu? Jawab, heh?” Bapak bertanya lagi dengan nada yang semakin murka. Suaranya menggema di dapur kecil itu, membuat udara terasa sesak.
“Suaramu tidak terdengar, Mas.” Ibu berusaha membelaku, mencoba meredakan suasana.
“Diam kau!” Bapak membentak. Bapak meraih lenganku dengan kasar dan menarikku tanpa ampun, membuatku meringis kesakitan. “Bayu, dengar baik-baik. Lelaki tidak memasak. Memasak bukan pekerjaan lelaki sejati. Sekarang, ikut Bapak memperbaiki motor di depan.” Aku diam ketakutan, mengikuti langkah bapak menuju halaman rumah.
Aku menyeka keringat yang bercucuran di dahiku. Menghela napas panjang.
Tidak hanya kisah itu, masih banyak kenangan buruk yang menghantuiku.
Dulu, aku juga suka merajut. Bahkan sekarang pun aku tetap merajut. Aku membuat berbagai kerajinan rajut: tas, baju, gantungan kunci, dan boneka. Kala itu, yang paling banyak kubuat adalah boneka rajut. Boneka-boneka itu kususun rapi di kamarku. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, aku menatap mereka, menyapa satu per satu, lalu pergi. Entah mengapa, aku merasa mendapatkan ketenangan batin saat merajut. Sepanjang hari, aku hanya ingin merajut.
Suatu sore sepulang sekolah, dengan hati riang, aku berniat membuat boneka rajut baru untuk menambah koleksi. Aku cepat-cepat masuk kamar, ingin menyapa boneka-bonekaku dan mengabarkan bahwa mereka akan memiliki teman baru.
Namun, hatiku lebur saat tiba di muka rumah. Kulihat Bapak membakar semua boneka rajut milikku. Api melahapnya dalam sekejap, satu per satu luluh lantak dalam kobaran api. Aku berusaha menyingkir dari pandangannya, melangkah lirih supaya langkah kakiku tidak terdengar. Berjalan mengendap-endap, berharap Bapak tidak menyadari kehadiranku.
Tiba-tiba, suara teriakan Bapak memecah keheningan, “Bayu!”
Hatiku melonjak, takut. “Kemari!” perintahnya dengan suara keras.
Aku menghampiri dengan langkah lunglai, tubuhku lemas, bercampur aduk antara takut dan sedih.
“Siapa yang mengajarimu merajut, heh? Merajut dan membuat boneka bukan pekerjaan lelaki sejati! Lelaki itu harus bermain bola!” Bapak membentak dengan penuh amarah.
Aku menunduk, air mataku mulai mengalir. Hatiku tersayat melihat semua boneka yang kucintai hangus terbakar api. Aku berusaha menahan tangis, tapi sepertinya telinga Bapak memiliki sensitivitas berkali-kali lipat lebih tinggi.
“Siapa yang mengajarimu menangis, heh? Tangisan bukan untuk lelaki, Bayu. Jiwamu semakin menjadi seperti perempuan. Ini pasti ulah Ibumu yang selalu memanjakanmu!” Bapak membentakku.
Tanpa basa-basi, dia menyeretku. Langkahku mengikutinya. Bapak membawaku ke lapangan, tempat anak-anak kampung berkumpul. “Ajak dia main bola,” perintahnya kepada salah satu di antara mereka.
Beberapa anak mendekat dan mengajakku, “Ayo sini, bergabung ke tim!”
Aku enggan, hatiku berat. Namun, tatapan tajam Bapak membuatku diam tak menolak. Aku melangkah masuk ke tim dengan hati yang tak damai.
Aku bermain sebentar. Bola tak bisa membuat hatiku nyaman. Aku tidak mencintai permainan itu.
Setelah beberapa waktu, kulihat Bapak berangkat bekerja. Aku bergegas pulang ke rumah, membantu Ibu memasak. Ini kesempatan besar untukku.
Bapakku bekerja di tambang dekat rumah, berangkat pagi buta dan pulang sebentar untuk makan siang, lalu kembali bekerja hingga menjelang malam.
Wajahku muram saat menghampiri Ibu di dapur. “Bu, apakah aku salah?” tanyaku kepada Ibu yang sibuk menanak nasi.
Ibu menoleh dan tersenyum hangat. “Apa yang salah, Nak?”
“Mencintai merajut, memasak, dan tidak suka main bola?”
Ibu mengangguk pelan. “Tidak ada yang salah dengan memasak, merajut, atau menangis, Bayu. Semua orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, selama itu membuatmu bahagia dan tidak menyakiti siapa pun, kamu boleh melakukannya.”
“Lantas, mengapa Bapak melarangku merajut dan memasak? Juga melarangku menangis? Apakah lelaki tidak boleh melakukan hal itu? Bapak bilang, ‘Pekerjaan itu hanya untuk wanita, dan lelaki sejati tidak pernah melakukannya.’”
Ibu membelai rambutku lembut sembari tersenyum. “Sudah Ibu katakan tadi, boleh saja. Semua manusia boleh memasak, merajut, dan menangis, Bayu. Mungkin bapak hanya ingin melihatmu bermain di luar rumah bersama teman-teman.”
Aku menatap mata Ibu, mencari jawaban lebih dalam.
“Lakukan apa yang kamu suka saat Bapak pergi, dan jadilah lelaki yang Bapak inginkan saat dia kembali,” ucap Ibu dengan suara pelan.
“Kenapa aku harus berpura-pura, Bu? Apakah dunia tidak bisa menerima lelaki sepertiku?”
Ibu menghela napas panjang. “Ibu tidak bisa banyak membantumu, Nak. Sepertinya dunia memang sudah membentuk itu untuk kaum lelaki. Mereka harus kuat. Pesan Ibu, lakukanlah apa yang kamu suka selama itu tidak bertentangan dengan kodratmu sebagai lelaki. Hiduplah dengan bahagia. Tidak ada yang bisa mengatur hidupmu selain dirimu sendiri. Jangan dengarkan apa kata orang lain.”
Nasihat Ibu aku simpan rapat-rapat dalam benak, aku akan mengingat nasihat itu selamanya.
Usiaku menginjak delapan. Ibu jatuh sakit. Badannya kurus kering, tersisa tulang belulang. Ibu mengidap chronic fatigue syndrome (CFS).Penyakit itu disebabkan oleh aktivitas yang memeras tenaga tanpa istirahat yang cukup.
Berbulan-bulan Ibu terbaring di rumah sakit. Tubuhnya semakin kurus. Tulangnya semakin menonjol. Namun, senyum Ibu tak pernah pudar menghiasi hari-hariku. Ibu selalu ceria. Aku selalu setia menunggu Ibu.
Saban hari, selepas pulang sekolah, aku memasak makanan kesukaan Ibu, lalu pergi ke rumah sakit. Aku merajut di sana. Menemani ibu. Bapak sesekali menjenguk Ibu dan membawakannya buah. Bapak juga pernah membawakan Ibu buket bunga yang sangat indah, bermacam-macam bunga, menyatu, terangkai cantik. Aku tidak sengaja melihat buket itu tergeletak di meja. “Bu, siapa yang membawakan buket ini?”
“Bapak, Bayu.”
“Bapak mencintai bunga?” aku bertanya dengan nada penasaran. Ibu hanya tersenyum.
Aku selalu menanti Ibu sembuh. Menemaniku memasak dan merajut lagi. Mendengarkan ceritaku sepanjang hari.
Tapi takdir berkata lain. Guru memanggilku dan mengantarku pulang. Katanya, “Ibumu sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ibumu ingin kamu menemaninya.”
Dengan langkah gembira, aku pulang. Sepanjang jalan, hatiku riang. Namun, tepat di depan halaman rumah, kulihat dari kejauhan bendera kuning tertancap. Orang-orang ramai sekali berkumpul.
Aku merengek, berlari terburu-buru masuk ke dalam. Tubuh Ibu sudah terbujur kaku di ruang tamu, terbalut kain putih. Bapak duduk di sebelahnya, tanpa air mata yang jatuh dari kelopak matanya. Dia tidak menangis. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin Bapak masih terus berusaha menjadi “lelaki sejati”.
Tidak! Aku menganggapnya kejam! Aku menangis sesenggukan, tapi Bapak tidak memelukku. Semua lelaki yang hadir dari pihak saudara Ibu juga tidak menangis.
Beberapa orang mencoba menenangkanku. “Sudah, Bayu. Anak lelaki tidak boleh menangis,” kata mereka. Bude Amal menepuk pundakku. Memelukku erat.
“Apakah dunia ini benar-benar kejam?” tanyaku dalam hati. “Mengapa semua orang melarang lelaki untuk menangis?”
Setelah kepergian Ibu, duniaku runtuh. Aku kehilangan tempat bersandar. Tak ada lagi yang benar-benar mengerti diriku. Aku berjalan sendiri menyusuri hidup yang semakin membuat pikiranku rumit. Semua orang terus menyuruhku menjadi “lelaki sejati” seperti yang mereka inginkan. Bapak semakin sering mengawasiku, membatasi kebebasanku untuk melakukan hal-hal yang kucintai. Aku dipaksa menjalani pekerjaan yang tidak pernah memberi ketenangan di dalam hatiku.
Bapak semakin keras, dan aku semakin kehilangan ruang untuk menjadi diriku sendiri. Hingga akhirnya aku menemukan satu tempat di mana aku bisa berekspresi sepenuhnya: kamar mandi kecil. Tempat yang kini aku rindukan, yang kuanggap seperti Ibu, mengerti aku tanpa kata “lelaki sejati”.
Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku merajut boneka-boneka di kamar mandi. Saat Bapak murka dan memarahiku karena enggan keluar bermain bola bersama teman-teman, kulepaskan tangisan bersama keran air yang mengalir hangat membasuh jemariku. Saat orang-orang mencercaku, menghakimiku, aku segera memeluk boneka rajutku, bergegas ke kamar mandi, menyendiri, bercerita dan menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Kamar mandi itu bukan sekedar bilik kecil. Ia adalah rumahku, sahabatku, dan mungkin Ibu keduaku.
Hari ini aku pulang ke rumah. Bukan karena rindu Bapak. Aku ingin mengunjungi kamar mandi. Minggu lalu, Bapak memutuskan akan menjual rumah ini. Aku sudah mencoba mengelak dan membantah, mengatakan bahwa rumah ini tak boleh dijual. “Rumah ini menyimpan berjuta kenangan bersama Ibu.” Namun Bapak menolak, berkata, “Apalah arti kenangan itu? Kamu tidak pernah berubah, masih saja seperti perempuan, lelaki tidak lemah, tidak berperasaan seperti kau!”
Aku sudah terbiasa dengan kata-kata dan sikap semua orang yang memakiku. Dadaku sudah sesak dengan makian yang tak berujung usai. Aku akan membuat keputusan yang berat.
Dunia sepertinya tak pernah menerima lelaki sepertiku. Bagi mereka aku asing. “Lelaki sejati itu harus kuat, lelaki sejati itu tidak pernah menangis, lelaki sejati itu bermain bola bukan merajut dan memasak.”
Biarlah jiwaku lebur bersama kamar mandi ini, menyatu dengan tetes air dan dinding-dinding kenangan. Menguar tenang dengan wangi vanila bercampur lavander. Ibu pergi, dunia terasa seperti pintu yang tak pernah benar-benar terbuka lebar untukku. Biarlah aku berpulang pada bilik kecil yang tak pernah menghakimi.
Pagi buta, aku bangun sebelum Bapak terjaga. Kuhirup udara pagi dan mencium kasur Ibu sekali lagi. Kupeluk boneka rajut buatanku. Dengan hati yang rumit, kuambil tali tambang di belakang rumah. Aku ingin pergi dengan tenang, meninggalkan dunia yang tak pernah bisa menerimaku sebagai “lelaki sejati.”
Tanganku gemetar saat mengikatkan tali. Air mataku mengalir tanpa suara. Aku sempurna melilitkan tali pada leherku. Dadaku terasa sesak, aku hampir kehabisan napas. Pandangan mataku perlahan membuyar. Berkunang-kunang. Tiba-tiba suara ketukan terdengar di telingaku. Nyaris hilang suaranya. Aku merasa dibawa seseorang menuju tempat yang nun jauh di sana. Aku samar mendengar suara isak tangis.
Mataku perlahan terbuka. Aku belum bisa jelas melihat sekitar, sepertinya aku di surga. Kupandangi sekeliling, ruangan berwarna putih dan suara isak tangis. Aku membuka lebar daun telinga, “Siapa yang menangis?” Suara isak tangis itu tak pernah kudengar sebelumnya. Suara isak tangis seorang lelaki.
“Apakah di surga lelaki boleh menangis?” Diriku belum sepenuhnya bisa memahami sekitar, mataku juga masih sedikit buram. Sampai aku mendengar suara yang tak asing di telingaku memanggil lembut.
“Bayu, Kamu sudah sadar, Nak?” Suara Bapak? Apakah aku tidak salah dengar? Bapak memelukku erat. Untuk pertama kalinya aku mendengar Bapak menangis dan pertama kalinya aku merasakan kehangatan pelukannya.
“Bapak, apakah ini di surga?” Kesadaranku masih berusaha meraba.
“Bukan, Bayu, ini rumah sakit.”
“Siapa yang membawaku ke sini? Bukannya aku sudah di surga, bertemu Ibu?”
“Bayu, maafkan Bapak, Nak.” Aku mencoba menoleh, melihat wajah Bapak yang basah oleh air mata. Aku belum sepenuhnya percaya-laki-laki yang selama ini dingin dan keras, kini menangis di sampingku.
“Bapak…?” suaraku nyaris tak terdengar.
Bapak mengangguk, memelukku erat, tubuhnya bergetar. “Maafkan Bapak, Nak. … Maafkan Bapak….”
Bapak menarik napas panjang, suaranya bergetar.
“Dulu, waktu Bapak seusiamu, Bapak juga suka memasak, menanam bunga, dan menjahit. Bapak suka pekerjaan yang kata orang-orang ‘bukan untuk laki-laki’. Orang-orang mencecar Bapak seorang banci. Kakekmu murka, Bapak dipaksa jadi lelaki sejati, dipaksa menahan air mata. Bapak takut, Bayu…. Bapak takut dunia akan menyakitimu seperti dunia dulu menyakiti Bapak. Bapak merasa bersalah Bayu, tapi Bapak juga tidak mau dunia meremehkanmu…. Bapak minta maaf.” Tangan Bapak menggenggam tanganku erat.
Aku terisak, memeluk Bapak lebih erat. Di ruang putih itu, di antara bau obat dan suara mesin, kami saling memaafkan dan saling memahami luka yang selama ini tersembunyi.
*Cerpen ini hasil dari Writing Bootcamp X Lokakarya Aksara yang diselenggarakan oleh Sinau Nulis yang bekerja sama dengan Penerbit Semut Api dan Semut Api Media
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








