“Biarlah! Mereka…, tenaga pembentuk negara; Aku penghancur negara. Mereka orang-orang yang suatu saat jadi yang terkemuka, para pelopor; Aku, orang buangan berikutnya.”
-Ernest Francois Douwes Dekker
Kutipan di atas digunakan oleh Feby Dani dan Bima Satria Putra untuk menutup buku Hindia Bawah Tanah: Ernest Douwes Dekker dan Anarkisme Zaman Kolonial (Marjin Kiri, 2026). Dalam penulisan sejarah Indonesia era kolonialisme Belanda, spektrum politik anarkisme kerap kali diabaikan. Kebanyakan dari kita memahami hanya ada tiga ideologi besar yang menyongsong pembebasan nasional: nasionalisme, komunisme, dan agama (Soekarno berupaya mengarusutamakannya dengan mencetuskan akronim NASAKOM), dan anarkisme terkesan sebagai ideologi “buangan”. Lewat penelusuran arsip-arsip media De Expres dan Het Tijdschrift yang diasuh oleh Douwes Dekker, seorang pahlawan nasional yang dijuluki Bapak Pergerakan Nasional Indonesia, riwayat hidupnya, dan juga beberapa karya tulisannya, Feby dan Bima hendak mengungkap satu fakta sejarah lainnya:
“Anarkisme dengan demikian telah memainkan peran yang aneh dalam proses radikalisasi gerakan pembebasan nasional di Indonesia.” (hlm.182)
Kata “aneh” yang disematkan Feby dan Bima pada anarkisme di Indonesia era kolonialisme Belanda memiliki arti bahwa ideologi ini memang tidak membentuk suatu gerakan atau organisasi yang menggaet begitu banyak orang. Kendati begitu, anarkisme memberikan asupan kritis untuk menantang dominasi, menggambarkan alternatif kehidupan di luar kekuasaan, dan hingga batas tertentu melakukan konfrontasi secara terang-terangan terhadap kekuasaan kolonial. Tulisan-tulisan yang terbit di Het Tijdschrift (1911-1913) dan De Express (1912-1914, 1922) kerap mengangkat topik radikalisasi rakyat jajahan lintas wilayah, kritik terhadap dominasi agama, dan secara spesifik mengulas gagasan anarkisme, seperti aksi langsung, anjuran penggunaan aksi kekerasan bagi perjuangan anti-kolonialisme, dan konsep anti-negara serta usulan persaudaraan yang bersifat universal.
Berkat pergaulannya yang luas dengan para pejuang anti-kolonial internasional yang mendaku diri sebagai seorang anarkis, Douwes Dekker memuat karya anarkis India Har Dayal, anarkis Cina Li Hoean Tsjeng, dan anarkis Inggris Sir Walter Strickland di Het Tijdschrift. Artikel-artikel tersebut kemudian ditanggapi oleh penulis lokal di De Express. Maka, pembaca Het Tijdschrift kemungkinan juga membaca De Express, kanal penyebaran gagasan revolusioner organisasi Indische Partij yang turut didirikan Ernest Douwes Dekker.
Douwes Dekker sendiri menulis beberapa artikel yang berkaitan dengan anarkisme atau topik lainnya yang relevan. Ia menulis di berbagai media, seperti Bataviaasch Nieuwsblad, Jong Indie, De Bewegening, dan tentu saja Het Tijdschrift dan De Express dalam rentang tahun 1908-1923. Tulisan-tulisan Douwes Dekker yang telah dikaji Feby dan Bima menunjukkan keselarasan dengan tiga pilar utama anarkisme; kritik terhadap sistem dominasi, usulan menggantinya, dan bagaimana mewujudkannya. (hlm.158) Maka dari itu, menggolongkan Douwes Dekker sebagai tokoh nasionalis semata, hanya akan mengabaikan kompleksitas perjalanan intelektual dirinya. Douwes Dekker tidak segan untuk meleburkan berbagai ideologi yang bernafaskan antikolonial, selama itu masih mengusung cita-cita Hindia merdeka. “Ernest telah memadukan nasionalisme, atau lebih tepatnya, memanfaatkannya demi gerakan pembebasan nasional”. (hlm.177)
Feby dan Bima menemukan kontradiksi pada tulisan-tulisan Douwes Dekker yang berayun pada dua wilayah ideologis yang berbeda: anarkisme dan nasionalisme. Douwes Dekker menyerukan penghancuran negara (kolonial), tetapi di sisi lain tetap mendukung solusi akhir pembentukan negara yang dikelola oleh rakyat terjajah. Terkait metode penyerangan terhadap kapitalisme, ia setuju dengan sabotase dan sindikalisme, dengan catatan tidak mengarah pada kelompok kapitalisme pribumi. Terakhir, ia menolak keras patriotisme selama hal tersebut melayani kepentingan Belanda, tetapi ia mafhum bahwa patriotisme sangat penting untuk perjuangan pembebasan nasional.
“…Ernest percaya ada tahapan: pertama-tama dibutuhkan nasionalisme Hindia, baru bisa mencapai internasionalisme dan terakhir anasionalisme, istilah aneh untuk merujuk pada ketiadaan nasionalisme atau saat nasionalisme tak lagi dibutuhkan” (hlm.165)
Anarkisme Zaman Kolonial
Hindia Bawah Tanah mencoba untuk mendeteksi geliat anarkisme dalam percaturan gerakan anti-kolonialisme di Hindia Belanda awal abad 20. Tokoh-tokoh pergerakan selain Douwes Dekker pun turut membaca karya penulis anarkisme Internasional (Leo Tolstoy, Mikhail Bakunin, dan anarkis Belanda Ferdinand Domela Nieuwenhuis), gerakan nihilisme/anarkisme secara lebih luas untuk kemudian menuliskan artikel tentang anarkisme atau topik lainnya yang relevan.
Bahkan, di dalam tubuh Partai Komunisme Indonesia (PKI), Alimin mengaku ada beragam aliran politik: sosialisme, nasionalisme, komunisme, dan anarkisme. Lebih jauh lagi, salah satu anggota Indische Partij di Semarang menegaskan dirinya adalah seorang anarkis dalam tulisannya di De Express pada tahun 1913. Sebagaimana dikutip oleh Feby dan Bima, sang anarkis Indische Partij misterius itu menulis begini: “Saya belum menjadi seorang anarkis, tapi waktu yang menjadikan saya seorang anarkis saat ini.
Haji Umar Said Cokroaminoto yang dijuluki “Bapak Pendiri Bangsa” dan Sukarno pernah menulis beberapa karya tulis yang terilhami oleh anarkisme. Dalam salah satu artikelnya, Cokro menerangkan bentuk ideal “Negara Islam” yang sepenuhnya dihuni oleh “ummat yang merdeka” untuk mencapai keadaan “tidak terdapat perbedaan antara yang memerintah dan diperintah.” Cokroaminoto, dalam bukunya Islam dan Sosialisme, juga mencoba mendefinisikan anarkisme yang menurutnya adalah salah satu jenis sosialisme yang berusaha menjadikan alat produksi sebagai barang milik perhimpunan-perhimpunan. Sedangkan Sukarno sendiri, seturut dengan hasil temuan Feby dan Bima, begitu fasih menulis dua artikel terkait anarkisme berjudul “Anarchisme” yang dimuat di Fikiran Ra’jat, No.2 2, 8 Juli 1932 dan Fikiran Ra’jat, No.21, 18 November 1932.
Menurut Feby dan Bima, “anarkisme” di Hindia Belanda dimaknai sebagai ideologi untuk mencapai kepemilikan alat produksi secara bersama melalui kontrol buruh dan juga dipahami sebagai kendaraan untuk melenyapkan feodalisme dan pemerintahan melalui aksi kekerasan, terorisme politik, hingga pembunuhan. Mengutip Soe Hok Gie, pada tahun 1923-1926 di Surakarta telah terjadi pemboman, sabotase, pembakaran, dan perusakan properti yang terinspirasi oleh pemboman nihilis ala Sophia Perovskaya yang mengakibatkan Haji Misbach, tokoh komunis-religius, diasingkan. Sejalan dengan Hok Gie, George D.Larson mengidentifikasi serangkaian aksi langsung oleh kelompok komunis di Surakarta terpengaruh oleh anarkisme.
Peristiwa pemberontakan PKI tahun 1926, menurut Harry J. Benda, yang juga dikutip Feby dan Bima, dibayang-bayangi oleh hantu Bakunin yang akhirnya mendorong pemberontakan bersenjata lewat keputusan Prambanan. Tetapi, pasca Indonesia merdeka, generasi kedua PKI yang dipimpin oleh Aidit melakukan penyederhanaan narasi sejarah pemberontakan 1926 dalam buku resmi partai. Menurut buku tersebut hanya kaum komunislah yang mengobarkan semangat memberontak dan mereka berhasil mewujudkan pemberontakan berskala nasional itu walaupun berantakan. “Benar sekiranya anarkisme disebut sebagai hantu,” tegas duo penulis Hindia Bawah Tanah.
Hingga saat ini, anarkisme tetap menjelma hantu, dan Hindia Bawah Tanah hendak memberikan wujud nyata terhadap anarkisme itu dalam bentangan sejarah pergerakan Indonesia. Buku ini menyodorkan kompleksitas perjuangan pembebasan nasional di Indonesia untuk menepis langkah-langkah penajaman ideologi progresif tertentu yang berakibat pada penyingkiran ideologi anti-penindasan lainnya. Menerbitkan buku ini sama saja dengan menyaringkan lagi semangat persatuan di antara sesama rakyat untuk melawan tiran, yang kini telah berganti rupa, terlepas dari ideologi-ideologi/alasan-alasan yang melandasi hasrat memberontak masing-masing individu/kelompok.
Lewat amatan dari sosok Douwes Dekker dan iklim politik di sekelilingnya, Hindia Bawah Tanah menyoroti satu hal yang krusial: perbedaan ideologi dan metode perlawanan itu nyata adanya, tetapi asal rakyat mampu mengenal musuhnya, mari bergabung dalam barisan rakyat dan bertempur sekeras-kerasnya. Seperti kata Douwes Dekker:
“Perjuangan besar ini harus menjadi perhatian kita. Bahkan walaupun kita bukanlah kaum sosialis, kita harus memahami bahwa hasil dari pertarungan ini akan menyangkut kita semua.”
Resist till the very end. Melawanlah!
*Ulasan buku berjudul Hindia Bawah Tanah: Ernest Douwes Dekker dan Anarkisme Zaman Kolonial karya Feby Dani dan Bima Satria Putra (Marjin Kiri, 2026).
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








