Henri Arvon melihat Realisme Sosialis bukan hanya sebagai aliran seni, tetapi sebagai cermin hubungan rumit antara estetika Marxis dan kekuasaan negara.
Pada Kongres Pertama Penulis Soviet pada Agustus 1934, Realisme Sosialis ditetapkan sebagai aliran resmi segala kesenian dan kebudayaan di Uni Soviet. Pada saat itu, Realisme Sosialis tidak mengacu kepada suatu gaya khusus yang harus digunakan oleh seniman atau penulis. Justru, Realisme Sosialis digunakan untuk mendefinisikan prinsip artistik yang mendasari semua karya yang mendapat persetujuan resmi dari negara.
Dalam buku Estetika Marxis (2010), Henri Arvon membahas mengenai Realisme Sosialis—sebagai bagian dari estetika Marxis—secara detail, khususnya pada Bab 6. Pada pembukaan Bab 6, Henri Arvon menyatakan Realisme Sosialis menggambarkan konsep birokratis dan administratif kesusastraan serta kesenian yang mencolok.
Mencolok yang dimaksud oleh Arvon adalah mencolok dari segi kesamaran yang luar biasa dan ketidakjelasan gagasan-gagasannya dalam bidang estetika murni. Oleh karena itu, keberadaan Realisme Sosialis pada saat itu sebagian besar tidak memiliki justifikasi selain kebutuhan politik yang ada pada saat itu (Avron, 2010: 88).
Kultus Stalin dan Gorky
Arvon melihat bahwa Stalin dan Gorky dielu-elukan—bahkan cenderung dikultuskan—sebagai “Bapak Realisme Sosialis”. Hal itu didasarkan pada Great Soviet Encyclopedia (GSE) yang memberikan penghormatan yang besar kepada Stalin. GSE sendiri adalah sebuah ensiklopedia berbahasa Rusia yang diterbitkan di Uni Soviet pada 1926 hingga 1990.
Penghormatan dari GSE kepada Stalin sejatinya tidak mengejutkan, mengingat setiap kata yang ada di GSE diawasi dan harus disetujui oleh pemimpin Partai Komunis Uni Soviet (hlm. 88). GSE memberikan penghormatan yang besar kepada Stalin dengan menyatakan bahwa “Dengan mengambil sebagai titik anjaknya definisi artistik metode kesusastraan Soviet yang dirumuskan oleh Stalin, Gorky mengembangkan prinsip-prinsip dasar Realisme Sosialis.”
Kongres Pertama Penulis Soviet pada Agustus 1934—yang telah disebutkan pada paragraf pertama—sejatinya berhubungan dengan dialog Joseph Stalin dengan Maxim Gorky dan Alexei Tolstoy pada 1932. Atas nama Realisme Sosialis, Stalin kemudian menerapkan aturan-aturan kaku yang mengendalikan seni dan kesusastraan (Avron, 2010: 89). Stalin juga mendeklarasikan bahwa terdapat suatu doktrin yang dikembangkan secara ilmiah yang tersedia bagi para penulis di Uni Soviet. Para penulis di Uni Soviet juga harus mengakui atau mengeklaim bahwa mereka adalah “perekayasa jiwa manusia”.
Pembicara utama pada Kongres Pertama Penulis Soviet tersebut ada beberapa orang, salah duanya adalah Maxim Gorky dan Andrei Zhdanov. Pada kongres tersebut, Gorky berpidato mengenai kewajiban penulis untuk melihat bahwa aktivitas kesusastraannya sesuai dengan aktivitas keseluruhan masyarakat. Selain itu, Gorky juga mendefinisikan Realisme Sosialis sebagai “realisme orang-orang yang mentransformasi dan membangun ulang dunia.”
Sementara Andrei Zhdanov—”tangan kanan” Stalin—mengambil peran sebagai juru bicara bagi pandangan-pandangan yang bersifat politis. Dalam pidatonya pada Kongres Pertama Penulis Soviet tersebut, Zhdanov menyatakan sistem kesusastraan Soviet sejatinya mengalami penyimpangan. Namun, para penulis di Uni Soviet harus bangga dengan hal itu karena penyimpangan yang dimaksud adalah sebuah keinginan untuk membebaskan pekerja dan orang-orang dari penindasan perbudakan kapitalis (Avron, 2010: 90).
Menuju Realisme Sosialis
Realisme Sosialis pun pada akhirnya ditetapkan oleh Partai Komunis Uni Soviet sebagai doktrin bagi penulis di Uni Soviet. Doktrin ini membatasi kesusastraan dalam kerangka yang sangat kaku dan hanya mengizinkan karya-karya yang dianggap terlibat dalam memajukan pembangunan Sosialisme.
Walaupun Realisme Sosialis terbilang kaku, Arvon menyatakan bahwa banyak penulis-penulis yang berusaha lentur dalam menerapkan Realisme Sosialis dengan tujuan untuk melindungi warisan budaya masa lalu. Caranya adalah dengan memandang bahwa Realisme Sosialis adalah kelanjutan dari tradisi kesusastraan progresif dan bukan sebagai pemikiran hasil dari situasi politik yang ada.
Contohnya adalah Louis Aragon—penyair asal Prancis yang kritis terhadap Uni Soviet. Louis Aragon mengingatkan Kongres Pertama Penulis Soviet dengan menyatakan bahwa Realisme Sosialis adalah titik puncak usaha kesusastraan yang dilakukan dalam kesusastraan Prancis oleh tokoh-tokoh seperti Honore de Balzac, Eugene Pottier, dan lain-lain.
Dari situ, bagi Arvon, Realisme Sosialis dengan demikian dapat dilihat sebagai tahap yang lebih tinggi dalam realisme kritis. Hal itu berarti menjadikan Realisme Sosialis sebagai prinsip yang menyertai dan menggambarkan perjuangan kelas melalui sejarah manusia (hlm. 91).
Kemunculan Zhdanovisme Pasca Perang Dunia II
Kemenangan Blok Sekutu—yang terdapat Uni Soviet di dalamnya—dalam Perang Dunia II juga memengaruhi kebudayaan di Uni Soviet. Doktrin Realisme Sosialis semakin kuat di Uni Soviet dengan Stalin yang menyatakan bahwa kesusastraan Uni Soviet adalah yang paling terkemuka di dunia. Stalin menyatakan demikian pada 14 Agustus 1946 melalui surat terbuka yang disebarkan oleh Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet.
Pada masa pasca Perang Dunia II, muncul “Zhdanovisme” yang kurang lebih sinonim dengan Realisme Sosialis. Zhdanovisme menekankan chauvinisme kesusastraan Uni Soviet pasca Perang Dunia II. Dalam bukunya yang berjudul On the Subject of Art and Science (1951), terlihat chauvinisme Andrei Zhdanov dengan menyatakan bahwa kesusastraan Uni Soviet adalah yang paling kaya dalam gagasan-gagasan, yang paling progresif, dan yang paling revolusioner.
Selain itu, Zhdanov juga menyatakan bahwa hanya kesusastraan Soviet yang memiliki darah dan daging yang sama dengan bangunan Sosialisme. Kesusastraan Soviet juga dapat menjadi kesusastraan yang progresif, subur secara intelektual, dan revolusioner (hlm. 96).
Arvon menyebut masa Zhdanovisme sebagai “masa kegelapan”. Hal itu karena keberadaan Zhdanovisme menekan penulis di Uni Soviet dengan mereduksi perannya sebagai “humas” Partai dan Komite Sentral. Penulis di Uni Soviet diposisikan sebagai penonton yang patuh dan dituntut menjelaskan keputusan-keputusan politik dari penguasa-penguasa Partai Komunis Uni Soviet—termasuk Komite Sentral di dalamnya—kepada publik.
De-Stalinisasi Seni
Pada Kongres Ke-19 Partai Komunis Uni Soviet pada Oktober 1952, Georgy Malenkov mengkritik keseluruhan kebijakan Andrei Zhdanov—yang sudah meninggal pada 1948—tanpa menyebutkan namanya. Bagi Malenkov, penulis di Uni Soviet berkontribusi terhadap pembangunan Sosialisme tidak dengan cara menulis tulisan-tulisan yang menyanjung Sosialisme, tetapi dengan berani menulis tulisan-tulisan yang menunjukkan ketidaksempurnaannya (hlm. 100).
Kematian Stalin pada 1953 kemudian mengubah segalanya. Karya-karya yang mencela perbuatan-perbuatan buruk Stalinisme pun bermunculan. Contohnya seperti novel The Thaw (1954) karya Ilya Ehrenburg, Not by Bread Alone (1956) karya Vladimir Dudintsev, dan A Battle Along the Way (1957) karya Galina Nikolayeva. Zhdanovisme pun juga akhirnya ditinggalkan.
De-Stalinisasi akhirnya resmi dijalankan pasca Kongres Ke-20 Partai Komunis Uni Soviet pada 1956. Arvon melihat bahwa Realisme Sosialis pada masa ini menjadi estetika yang sangat liberal karena mendorong subjektifitas kreatif—hal yang dicela pada era Stalinis. Dari sini, bisa dibilang Realisme Sosialis diposisikan sebagai doktrin yang bebas penafsirannya selama tujuannya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan estetika rakyat di Uni Soviet serta memenuhi fungsinya sebagai perangkat aktif pendidikan (Avron, 2010: 102).
Penutup
Realisme Sosialis, seturut yang diuraikan oleh Henri Arvon, memperlihatkan bagaimana sebuah doktrin estetika bernama Realisme Sosialis dapat berubah fungsi. Dari instrumen kendali politik menjadi perangkat kreatif yang sedikit lebih lentur walaupun masih tetap mempertahankan esensinya sebagai “seni untuk rakyat”.
Perjalanan Realisme Sosialis dari era Stalin yang kaku hingga masuk ke era de-Stalinisasi menunjukkan bahwa Realisme Sosialis sangat erat kaitannya dengan politik, partai, dan kekuasaan. Melalui penjelasan Arvon mengenai Realisme Sosialis dalam buku Estetika Marxis ini, pembaca dapat melihat bahwa Realisme Sosialis lebih dari sekadar catatan sejarah seni Uni Soviet—gambaran dari perdebatan antara kebebasan berkreasi dan tuntutan ideologis.
*Ulasan buku berjudul Estetika Marxis yang ditulis oleh Henri Arvon dan diterjemahkan oleh Ikramullah (Yogyakarta: Resist Book, 2010).
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








