“Kau dulu tidak pernah bercerita masalahmu apa. Kau tidak pernah terbuka,” kata Ibu.
“Masalahnya, di kampus aku tidak punya kawan dekat. Hanya dua orang yang mau berkawan denganku. Seorang bernama Riky, ia sakit jiwa. Seorang lagi Surup, orang bermasalah, galau terus-menerus. Bawaannya curhat saja kalau datang ke kosku. Kedua kawanku ini sama-sama egois, dan suka menang sendiri. Orang-orang di kampus bilang, Surup pemakai narkoba,” kataku.
“Kau berkawan dekat dengan orang sakit jiwa. Jangan-jangan sakit jiwanya pindah ke kau. Alhamdulillah, kau tidak ikut-ikutan Surup yang pemakai narkoba.”
“Hanya mereka berdua yang mau berkawan denganku. Namun, kemudian mereka membullyku. Main keroyok, bayar preman. Katanya, aku merebut gebetan mereka. Aku tidak tahu gebetan yang mana yang dimaksud dan siapa orangnya.”
“Mungkin mereka memang begitu. Soal cewek, sensitif. Kadang orang mau bunuh-bunuhan kalau urusan cewek atau pacar. Tak peduli kawan sendiri. Untung kau selamat, sampai akhirnya ke kampung.”
“Ongkos pulangku saja meminjam uang ibu kos, dan sampai sekarang belum kubayar. Riky dan Surup tidak saja main pukul, tapi juga secara psikis. Mereka membuatku was-was, cemas, dan takut-takut,” kataku.
Kami duduk di ruang tengah, ruang makan. Di kursi berhadap-hadapan, dipisahkan meja makan. Kebiasaan kami adalah saling bercerita pada malam hari sebelum mata mengantuk. Aku memandang dinding yang putih bersih. Lantas, memandang wajah Ibu yang sudah mulai banyak kerutan.
“Kau cerdas sejak dari SD. Sayangnya, kelas 3 SMP, kau sudah merokok. Di Padang, sewaktu SMA, kau juga sering bergaul dengan preman sana. Tapi, kau tetap cerdas dan lolos di kampus negeri di Jawa. Mau tak mau, Ibu memenuhi permintaanmu, kuliah di Jawa,” kata Ibu.
Udara malam belum terasa dingin. Cahaya bohlam lampu di ruang tengah, tempat kami bercerita, memancar terang sedang, memancar putih. Sementara suara binatang malam bernyanyi di semak-semak. Diselingi suara kendaraan yang melaju sekali-kali di jalan membuat suasana seperti nyanyian syahdu.
Ibu lantas bercerita tentang keadaanku sebelum masuk rumah sakit jiwa. Juga tentang Apak, adik laki-laki Ayah—Ayah sendiri sudah lama meninggal. Apak bekerja dengan berjualan ikan asin di pasar.
“Dulu sewaktu kau pulang dari Jawa, kau tidak mau diajak ke psikiater. Tidak mau menceritakan kejadian-kejadian yang menyebabkan kau pulang kampung. Tidak mau lagi kembali ke Jawa. Tidak berminat lagi melanjutkan kuliah. Katamu, ‘Tidak apa-apa.’,” kata Ibu.
“Dulu, aku pikir ke psikiater itu mahal,” kataku.
Memang begitulah pikiranku waktu itu. Sementara kami hanyalah keluarga sederhana. Ibu sudah tidak lagi bekerja semenjak aku kuliah. Uang kuliahku dan uang kebutuhan Ibu berasal dari kiriman Uda yang sulung, yang bekerja pada sebuah perusahaan di Jakarta. Jika ke psikiater, dengan perkiraanku yang mahal, tentu saja Ibu harus menelepon Uda di Jakarta. Itu jadi membuatku tak enak hati, karena selama aku kuliah, biaya SPP, uang kosan, dan bulannanku sudah ditanggungnya. Sementara kuliahku tak jelas ujungnya.
“Akhirnya, setiap hari kau berjalan-jalan saja kerjanya di sepanjang jalan kampung. Sampai ke kampung sebelah. Tidak ada tujuan, hanya berjalan-jalan saja. Rokokmu Surya, dua bungkus sehari,” kata Ibu. Ia memandangku dengan kilau mata yang mengasihi. Nampak ia berbicara sepenuh hati.
“Kalau tidak dapat rokok, kau hanya diam seperti orang mati. Kakakmu iba melihatmu kalau kau tidak merokok. Makanya, setiap kali kau minta rokok, dia belikan. Padahal gajinya di kantor wali nagari kecil. Kau memasak air dengan kayu di dapur luar. Kalau Ibu bilang memasak air dengan kompor gas saja di dapur dalam rumah, kau marah-marah dan menumpahkan air dari dalam panci. Setiap kali mau dibawa ke rumah sakit jiwa, kau tidak pernah mau. Selalu kau bilang, ‘Aku tidak gila.’ Lalu datanglah Apakmu. Katanya, ada dukun Banten. Dukun tersebut pandai mengobati berbagai macam penyakit, terutama penyakit orang sepertimu,” lanjut Ibu.
“Berbagai macam penyakit?”
“Penyakitnya orang putus cinta. Orang kehilangan semangat hidup. Ada orang pulang dari rantau dan gagal di rantau, tidak mau lagi berusaha di kampung dan teru teringat-ingat rantau. Itu beberapa contoh saja. Selain itu, banyak lagi yang disebutkan dukun Banten tersebut. Ibu tidak hapal semuanya.”
“Putus cinta? Kehilangan semangat hidup?”
“Iya. Apakmu mengajak Ibu datang ke rumah dukun Banten tersebut. Berapa kali, ya, Ibu datang ke dukun Banten tersebut? Lebih dari empat kali, kalau tidak salah. Setiap kali mau datang ke dukun Banten tersebut, Ibu memberi uang Apakmu Rp 1 juta, kadang Rp 2 juta.”
“Ke dukun bayarnya sejuta atau dua juta? Ke dukun paling Rp 50 ribu, atau paling banyak Rp 100 ribu kalau sakitnya berat,” kakaku.
Ingatanku segera melayang pada masa-masa sebelum aku memutuskan pulang kampung. Aku berobat ke tukang urut di Jatinangor dulu sehabis aku dibully Riky dan Surup beserta preman bayarannya. Aku bayar jasa tukang urut memang tak sedikit. Berulang-ulang pula. Membuat uang SPP-ku terpakai. Dengan tabib, aku berobat juga. Namun, dengan tabib, akhirnya aku hanya disuruh balikan saja dengan Rania. Katanya, itulah satu-satunya jalan agar hatiku bisa tenang; tidak was-was, perasaan cemas dan takut-takut hilang. Aku nurut, harapanku semoga semua keadaan akan berbalik seperti sediakala, sebelum terjadi pembullyan terhadapku.
Aku putuskan menelepon Rania malam hari. Mengobrol tentang hubungan yang putus. Aku minta maaf, mengatakan kalau aku yang lagi tempramen, yang mengakibatkan putusnya hubungan kami. Namun, kemudian tersebar kabar di kampus, kalau aku begitu tergila-gila pada Rania. Aku tidak tahu, siapa yang menyebarkannya. Lantas, gonjang-ganjing, dari mulut ke mulut, aku telah berusaha memeras Rania dan memaksanya, mengajak bersetubuh—dan Rania tak sedia. Opini publik terbentuk di kampus—aku yang paksa mengajak Rania bersetubuh—itulah yang mengakibatkan aku dan Rania putus. Sementara Riky dan Surup ikut pula bermain. Menyebarkan gosip, kalau Rania perempuan baik-baik dan akulah lelaki yang kurang ajar, orang dusun yang tak tahu diuntung, dan suka main perempuan. Hari-hari berikutnya—dengan gonjang-ganjing, opini publik, dan gosip—membuat hatiku sungguh keruh. Aku pun mulai merasakan diri seperti tak kuat lagi menghadapi kenyataan.
“Kata Apakmu. Masalahnya, ini dukun Banten, bukan dukun kampung. Dan penyakitmu bukan penyakit sembarangan, berat,” kata Ibu, yang membuatku tersadar kalau aku sedang mengenang masa lampau.
“Dukun Banten. Siapa tahu Apak saja yang mengarang, kalau dukunnya dukun Banten. Jangan-jangan orang-orang kabupaten kita juga,” kataku
“Tidak tahulah Ibu, pokoknya dukun hebat, katanya. Ibu memberikan uang kepada Apakmu. Apakmu yang mengurus pembayarannya ke dukun Banten tersebut. Mungkin tidak sejuta, tidak pula dua juta. Kita tidak punya sanak dekat di kampung, Nak. Ingat itu. Kau tahu Mamak dan Etekmu di Surabaya semua. Ibu sendiri tinggal di kampung, tanpa sanak kandung. Hanya Apakmu itu sanak yang peduli dengan keadaanmu. Makanya Ibu memberinya uang sebanyak itu. Kedua adik ayahmu yang perempuan bersikap acuh tak acuh saja. Semua orang di kampung kita juga tidak ada yang peduli dengan keadaanmu. Tidak ada yang menolong. Tahunya kamu gila saja. Karena cita-cita yang tinggi kuliah di Jawa, dan tidak sampai. Ada juga sebagian orang yang menyebut kau gila karena putus cinta. Katanya, kau pernah curhat pada Desi tentang pacarmu yang rancak, anak dosen, di kampus. Desi menyebarkan curhatmu ke orang-orang kampung. Hampir setiap hari orang-orang kampung membicarakanmu.”
“Anak dosen? Perasaan Rania bukan anak dosen. Ayahnya karyawan swasta dan ibunya juga karyawan swasta?” gumamku.
“Ke dukun Banten. Memang pengobatannya bagaimana, Bu?” kataku.
“Macam-macam. Kadang ia membacakan ayat-ayat Al Qur’an ke telingamu. Ke sukujur tubuhmu. Disuruh minum air putih yang sudah dibacakan ayat-ayat Al Qur’an. Pernah syaratnya air kelapa muda. Kelapa muda itu harus diambil pada malam hari. Tengah malam, kakakmu memanjat pohon kelapa untuk mengambil kelapa muda. Air laut juga ada syaratnya. Juga harus diambil malam hari. Malam-malam kakakmu mengendarai sepeda motor mengambil seember air laut ke Muara Air Haji. Limau ini, limau itu. Daun ini, daun itu. Banyaklah.”
“Astagfirullah. Musyrik, Bu.”
“Sudah sejak semula Ibu tidak percaya sama dukun Banten tersebut. Ibu segan pada Apakmu. Ibu merasa dihargai karena ada orang yang mau membantu. Apakmu memang waktu itu nampak seperti orang yang benar-benar menolong. Saat dua kali pengobatan, Apakmu terus-menerus meyakinkan Ibu. Katanya, sebentar lagi juga sembuh,” kata Ibu.
“Kemudian, kau tidak juga ada tanda-tanda membaik. Ibu dan kakakmu mulai panik. Lalu datang Lia, kawan kakakmu di kantor wali nagari, menjengukmu ke rumah. Ia bercerita. Katanya, adik ayahnya juga pernah kena penyakit sepertimu. Berbagai macam dukun pernah didatangi. Dukun ini, dukun itu. Dukun hebat di kampung ini, dukun hebat di kampung itu. Dukun Banten, dukun apalagi…, hampir semua didatangi. Tak terkira habisnya uang. Ustaz-ustaz sudah pula diminta nasehat dan mengobati. Rukiah juga sudah sering. Semuanya tidak ada yang mempan. Akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa. Rawat inap. Kembali ingatannya. Harus rutin minum obat, dan memang sembuhnya butuh waktu.”
“Berarti Tuhan menolong kita lewat Lia itu, Bu,” kataku.
“Karena kau berbicara sudah meracau, kami mengikatmu dengan kain panjang, memaksamu masuk ke dalam mobil. Kakakmu duduk di bangku tengah memegangmu erat-erat. Apakmu juga ikut. Ia duduk di depan sebelah sopir. Dan Tanduak si sopir mobil rental pun membawamu ke rumah sakit jiwa di Padang,” kata Ibu.
Aku jadi lega. Kalau Ibu sudah bercerita banyak tentang pengalaman hidupnya, tentang diriku, menurutnya, apalagi tentang diriku sewaktu sakit jiwa; perasaanku memang jadi tenang dan semua beban seperti lepas.
“Apakmu itu yang ikut membawamu ke Padang. Ibu beri uang Rp 2 juta sampai di rumah. Sekali lagi ialah satu-satunya sanak yang peduli, Nak. ”
Dari cerita kakak tengahku. Sewaktu Ayah kecelakaan dengan sepeda motor, Apak juga peduli terhadap Ayah. Umurku baru lima tahun waktu itu.
Si penabrak bernama Udin mengatakan, ia bertanggung jawab terhadap kondisi Ayah.
Sepeda motor Ayah melaju lambat di depan. Sepeda motor Udin juga melaju lambat di belakang. Tapi, ketika menyeberang, Ayah tidak melihat ada sepeda motor di belakangnya. Tertabraklah Ayah. Kepalanya terbentur ke aspal, mengeluarkan banyak darah.
Udin lantas mengatakan, berapa pun biaya pengobatan Ayah, ia siap menanggungnya. Ibu dan kakakku membawa Ayah ke Padang. Menyewa mobil. Tidak berobat di puskesmas. Karena Ayah sudah tidak sadarkan diri, takut sakitnya parah.
Udin memberikan biaya pengobatan kepada Apak. Namun, biaya itu tidak pernah sampai ke tangan Ibu. Akhirnya biaya pengobatan Ayah pakai uang Ibu.
Bertahun-tahun kemudian, setelah kakak tengahku sudah lulus kuliah dan aku SMA, Udin bercerita, Apak banyak berbohong kepadanya sewaktu Ayah kecelakaan dulu. Ia bilang sakitnya tidak di kepala saja. Ada luka dalam juga di dada. Ia peras Udin. Ia minta uang setiap minggu ke Udin. Untuk obat ini-itu. Luka kepala yang tak kunjung sembuhlah, katanya. Macam-macam. Padahal luka Ayah cuma di kepala. Sudah dijahit. Lantas, sebulan kemudian Ayah bisa lagi menjalani hari-harinya.
***
“Ibu cerita begini, nanti kau jangan menyimpan prasangka yang bukan-bukan pada Apakmu itu. Kalau ia duduk denganmu di kedai, traktir dia, dan kasih uang buat beli rokok. Atau, kalau dia ke tokomu sekadar berkunjung, kasih ia rokok. Ia satu-satunya adik laki-laki ayahmu, Nak,” kata Ibu.
Aku terdiam. Memang beda sifat Ibu denganku. Ibu begitu mulia bagiku. Begitu pandai berbasa-basi; dan menyiratkan padaku bagaimana “tata-cara” hidup di kampung—sebagai seorang yang tidak punya sanak kandung. Berbeda denganku. Dalam hatiku berkata, Apak bukan menolong namanya saat aku sakit jiwa. Tapi, mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Sementara malam sudah pukul sebelas. Udara dingin malam mulai menjamah pori-pori.
“Sekarang apalagi yang kau risaukan,” kata Ibu. Ia berdiri dan berjalan, mengambil dua gelas dari rak piring. Kembali ke meja, menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas-gelas. Ia menyuruhku minum.
Lantas, Ibu kembali duduk di kursinya. Meneguk setengah gelas air putih.
“Aku tidak punya kawan di kampung, Bu. Semua kawan-kawanku sewaktu aku belum bersekolah di Padang dan kuliah di Jawa dulu, sudah tidak mau berkawan denganku. Bila bertemu di jalan mereka tak mau disapa. Sering aku berkunjung ke rumah-rumah mereka. Semuanya sama, tidak mau aku ajak ngobrol. Mengacuhkanku. Sampai akhirnya aku pergi sendiri dari rumahnya. Walau obatku cuma tinggal satu dan aku sudah berusaha bergaul, mereka tetap saja menganggapku orang gila. Tetap menganggapku seperti dulu, sebelum dibawa ke rumah sakit jiwa. Atau memang begitu kebiasaan orang kampung kita? Kalau seseorang sudah sakit jiwa, walau ia sudah berobat dan sudah bisa beraktivitas, tetap saja ia orang gila.”
“Wajar. Semua orang kampung sini tahu, kau itu dulu gila. Satu nagari tahu kau gila. Nagari sebelah juga tahu kalau kau itu dulunya orang gila. Sakit jiwa. Dibawa ke rumah sakit jiwa sebuah aib, dan malu, Nak, kalau di kampung kita. Ibu sendiri sudah tidak tahu sebenarnya harus bagaimana menyurukkan muka saat kau sakit jiwa dulu. Mereka bersikap begitu terhadapmu, mungkin mereka takut kau kumat,” kata Ibu, yang tampak wajahnya tiba-tiba berubah, di sepasang matanya lambat mengalir air mata.
“Tapi sekarang kau kan sudah bekerja. Punya penghasilan. Sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu lagi. Rajut kembali semua impianmu. Yang berlalu biarlah berlalu,” lanjutnya.
***
Suatu siang Apak datang ke toko. Tidak pernah ia datang ke tokoku semenjak aku keluar dari rumah sakit jiwa. Kami duduk di luar toko, di palanta. Sesuai pesan Ibu, kutanyakan merek rokok Apak. Ia jawab, ”Sampoerna Mild.” Aku ambil rokok Sampoerna Mild isi 16 dari etalase, menyodorkan ke Apak—dalam hatiku, walau sudah tua, selera rokok Apak ternyata tinggi juga.
“Terima kasih,” kata Apak sambil tersenyum. “Nampak tambah sehat kau kini. Apakmu ini yang menyarankan dan membawamu ke rumah sakit jiwa dulu. Banyak orang sepertimu, maksudnya dapat penyakit seperti kau. Sudah berobat ke rumah sakit jiwa. Kambuh terus. Obat diminum terus-menerus. Tapi, tak mau sembuh. Ya… seperti sediakala lagi. Sakit jiwa lagi. Gila lagi.”
“Iya, Pak,” kataku sopan.
“Begini,” kata Apak. Ia duduk di sampingku. Sambil menepuk pahaku. “Apak kan ikut pengajian di Bayang. Daerah utara. Di sana bagus benar pengajiannya. Ustaznya menyampaikan ceramah pas benar. Tidak seperti orang-orang itu. Yang sedikit-sedikit bid’ah. Ini bid’ah, itu bid’ah. Ini musyrik, itu musyrik. Ini khurafat, itu khurafat. Bagus benar pengajian Ustaz di Bayang itu. Ceramah yang disampaikannya sesuai benar dengan ajaran Nabi. Ajaran Nabi Muhammad kan tidak boleh iri, dengki, hasad, tamak, dan lain-lain. ”
“Penyakit hati yang Apak maksud. Tapi, tentang bid’ah, musyrik, dan khurafat juga ajaran Islam. Ajaran Islam itu luas, Pak. Tapi bagus Apak ikut pengajian,” kataku. Aku tidak mau berbicara panjang lebar, nanti aku dikiranya menggurui.
“Nah, rencananya kami mau buka cabang di daerah selatan ini. Di daerah kita. Cuma tempatnya belum ada. Maksud Apak datang ke sini, meminjam rumahmu untuk tempat pengajian. Ibumu kan sudah meninggal. Kau tinggal sendiri di rumah sekarang. Nanti pasti banyak orang nagari kita yang datang. Pasti ramai rumahmu nanti. Ada rukiah gratis bagi orang yang kena gangguan jin dan sakit jiwa. Ya… paling mereka, ustaz-ustaz itu, ke sini cuma tiga kali dalam seminggu. Mereka menginap. Rumahmu kan besar. Bagaimana?”
Aku lantas diam. Dalam hatiku, mengapa harus rumahku yang dipakai untuk pengajian. Aku tidak ikut pengajian. Tidak pula tergabung dalam kelompok yang Apak ikuti. Apakah Apak minta balas budi karena pernah mengurusku saat aku sakit jiwa?
Firasatku segera berkata, ada maksud tertentu dari Apak. Ada udang di balik batu. Numpang tinggal sebenarnya. Sekarang, dia kan duda dan tidak bekerja, ikan asinnya tak lagi laku di pasar karena kalah saing. Ia tidak pula punya rumah (selama hidup berumah tangga, ia tinggal di rumah pihak istrinya). Sedangkan rumah dan tanah orang tuanya dihuni adik-adik perempuannya dan keponakan-keponakannya. Itu sesuai dengan tradisi orang-orang kampung kami, Air Haji.
“Tidak bisa, Pak. Tidak bisa rumahku dipakai,” kataku dengan suara sedikit keras. “Pokoknya tidak bisa.”
Tidak kupikirkan lagi perasaan Apak mendengar jawabanku. Aku sudah muak dengan segala tindak-tanduknya.
Tanah bukan pembelian Ayah. Rumah juga bukanlah rumah bikinan Ayah. Beli tanah, bikin rumah: semua uang dari Mamak-ku yang sulung.
“Masa dengan Apak sendiri kau begitu. Kasih tempatlah kami. Lagi pula, kami belum punya uang untuk menyewa rumah. Buat Agama kau begitu?” kata Apak.
Lantas, ia ceritakan semua kisah kanak-kanak dan remaja Ayah. Hidup dengan orang tua dan sanak-sanaknya, sebelum Ayah menikah dengan Ibu. Hatiku pun jadinya tersindir, sedikit tersentuh, tapi aku berusaha menyingkirkannya.
“Seperti ada asoi terbang di langit, Apak lihat, mungkin ini ‘wahyu’ dari langit,” kata Apak tiba-tiba sembari menatap langit yang biru dengan awan-awannya yang putih bersih.
Aku tidak mau mengatakan bahwa itu hanya ilusi atau halusinasi saja. Biasanya kalau sudah melihat asoi terbang, menurut obrolan dari mulut ke mulut orang di kampungku, tandanya seseorang sudah jatuh tapai; atau, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Kuyakinkan diriku sendiri. Bahwa bukan tanggungjawabku terhadap kehidupan Apak yang terluntang-lantung. Ia punya anak.
Hidupnya sungguh pilu kini—hari ke hari ia numpang makan di rumah adik-adik perempuannya dan keponakan-keponakannya; malam hari kadang ia menginap di rumah sanaknya itu, kadang di rumah keponakannya, dan kadang di masjid: digilir.
- Apak (orang tua laki-laki atau paman dari ayah)
- Uda (kakak laki-laki)
- Wali nagari (kepala desa secara adat dan administratif di Minangkabau)
- Mamak (kakak/adik ibu yang laki-laki)
- Etekmu (kakak/adik ibu yang perempuan)
- Asoi (Anjing)
- Rancak (bagus/indah)
- Palanta (bangku panjang dari kayu)
- Seperti ada asoi terbang di langit/Seperti ado asoi tabang di langik (ungkapan yang secara harfiah berarti seperti ada anjing terbang di langit. Maknanya, sesuatu yang mustahil atau tidak masuk akal)
Editor: Farras Pradana
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








