Ekologi Manusia dalam Pers Pergerakan Masa Kolonial

Penulis

Ketika kita membaca sejarah pergerakan nasional Indonesia masa kolonial, perhatian selalu diberikan hanya kepada isu-isu yang berhubungan dengan politik. Padahal, kolonialisme Belanda yang digugat oleh pergerakan tidak hanya berdampak pada masalah politik, melainkan juga berbagai bidang lain seperti budaya dan bahkan lingkungan hidup.

Akibatnya, tidaklah mengherankan apabila surat kabar atau pers, sebagai salah satu aspek terpenting dari pergerakan, juga selalu dibaca melalui sudut pandang politik. Hal itu dapat dilihat misalnya dari studi klasik sejarawan Ahmat Adam, The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness. Di situ, pers dimaknai sebagai media yang melahirkan kesadaran Indonesia modern, yaitu sebuah semangat untuk perbaikan nasib rakyat yang berada di dalam kurungan politik kolonial.

Padahal, pengaruh dari kebijakan seperti Tanam Paksa (1830-1870) dan Reforma Ekonomi Liberal (1870-1900) menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda tidak berhenti hanya sebagai fakta eksistensi kekuasaan politik. Lebih dari itu, ia merupakan kekuasaan politik yang mengubah lingkungan hidup dengan melakukan pembukaan lahan dan hutan menjadi perkebunan komoditas perdagangan. Seperti disebutkan antropolog Clifford Geertz, “hampir setiap tanaman yang pada saat itu dapat ditanam dengan menguntungkan telah dicoba: indigo, gula, kopi, teh, tembakau, lada, kina, kayu manis, kapas, sutra, cocheneale.”

Di titik ini, perubahan dalam hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya (ekologi manusia) merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan. Sejarawan lingkungan Peter Boomgaard memberikan sebuah contoh penting terkait hal ini. Ia menjelaskan bahwa kolonialisme telah mengubah pola pengumpulan hasil hutan bukan kayu (non-timber forest products) dari yang semula merupakan kegiatan sampingan, yang dilakukan hanya jika terjadi gagal panen, menjadi sebuah kewajiban agar dapat memenuhi permintaan pasar.

Seperti ditunjukkan sejarawan Faizah Zakaria, perubahan ekologi semacam itu berpengaruh terhadap imajinasi manusia atas lingkungan hidupnya. Hal ini terjadi setidaknya di dalam konteks masyarakat Batak yang mensakralkan pohon kamper. Sejak lama, masyarakat Batak membayangkan pohon kamper sebagai tempat roh leluhur berada. Namun, penebangan pohon kamper secara masif dilakukan untuk mendukung ekspansi perkebunan kolonial. Akibatnya, lingkungan hidup yang semula memiliki makna spiritual kemudian berubah menjadi ruang tanpa daya magis.

Berangkat dari hal tersebut, tulisan ini ingin menunjukkan isu yang selama ini dipinggirkan ketika membaca pers pergerakan masa kolonial: ekologi manusia. Hal ini dilakukan dengan berfokus pada salah satu pers pergerakan yaitu Islam Bergerak.

Islam Bergerak

Riwayat Islam Bergerak tidak dapat dilepaskan dari figur penting pergerakan di Surakarta era 1910-an hingga 1920-an: Haji Misbach. Ia merupakan pemimpin pergerakan yang mengadvokasi semangat Islam untuk menentang ketidakadilan kolonialisme. Hal ini dicurahkannya dengan membentuk asosiasi Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV) dan surat kabar Medan Moeslimin pada tahun 1915. Sebagai pelengkap, Haji Misbach kemudian mendirikan Islam Bergerak pada tahun 1917.

Dalam perkembangan Islam Bergerak, Islam ternyata bukan satu-satunya pisau analisa yang digunakan oleh mereka untuk mengkritik kolonialisme. Sebab, Islam Bergerak kerap meleburkan Islam dengan komunisme. Hal ini dilakukan dengan keyakinan bahwa Islam dan komunisme adalah saling terkait.

Seperti sejarawan Lin Hongxuan tulis:

“Tema konsisten di dalam terbitan mereka adalah gagasan bahwa Islam dan komunisme saling terkait secara organik. Mereka tidak membedakan antara cara Islam dan komunisme untuk mewujudkan masyarakat yang adil, dan mereka memperjuangkan perlindungan kepentingan ekonomi Muslim Indonesia sebagai hal yang setara dengan kepentingan spiritual mereka.”

Salah satu edisi Islam Bergerak, 20 April 1919.

Pada akhirnya, pandangan komunisme menjadi kian dominan di dalam Islam Bergerak. Hal ini kemudian mendorong terjadinya perubahan besar yaitu transformasi Islam Bergerak menjadi Ra’jat Bergerak pada September 1923. Seperti disebutkan sejarawan Takashi Shiraishi, hal ini menandai perubahan fokus Islam Bergerak dari yang semula hanya ditujukan bagi kalangan Islam menjadi kepada rakyat kebanyakan.

Dalam dinamika di atas, lantas sejauh mana Islam Bergerak menjelaskan berbagai isu melalui artikel-artikel yang diterbitkannya, khususnya terkait ekologi?

Harmoni yang Dirusak

Salah satu isu yang sering diangkat oleh pers pergerakan adalah perkembangan sejarah. Namun, berbeda dengan pers pergerakan lain yang hanya menekankan peran manusia, Islam Bergerak menarasikan sejarah di dalam konteks ekologi. Hal ini dapat dilihat dalam dua artikel yaitu “Keada’an Lelaki dan Prampoean Djawa!!!” yang terbit pada 1 Januari 1921 dan “Pemandangan” yang terbit pada 1 April 1921.

Dua artikel Islam Bergerak tersebut menggambarkan masa lalu ekologi Jawa yang harmonis. Islam Bergerak menerangkan bahwa tanah Jawa pada awalnya terbentuk di atas lautan dan diisi oleh bukit, gunung, sungai, dan pepohonan sebagai lingkungan hidup bagi binatang dan manusia. Dalam hal ini, hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya berjalan berdasarkan sesuatu yang disebut sebagai “kodrat.”

Kutipan artikel “Keada’an Lelaki dan Prampoean Djawa!!!,” Islam Bergerak, 1 Januari 1921
Kutipan artikel “Pemandangan,” Islam Bergerak, 1 April 1921

Dalam artikel “Openbaar Vergadering Kring S. I. Alijan (Keboemen)” yang terbit pada 20 Juni 1920, Islam Bergerak menambahkan bahwa masa lalu ekologi Jawa yang harmonis dapat terjadi karena “Tuhan membuat alam bumi seisinya supaya menjadi keperluan rakyat.” Namun, keadaan harmonis ini kemudian diguncang oleh kapitalisme.

Melalui artikel tersebut, Islam Bergerak menjelaskan bahwa pada masa kolonial hidup rakyat ditentukan oleh beberapa “bagian” atau faktor, salah satunya adalah kapitalisme. Dalam hal ini, kapitalisme sebagai faktor penentu kehidupan rakyat dinarasikan sebagai “perdagangan yang berbahaya sekali,” yang dalam karakternya merupakan sesuatu yang “selalu mata duitan.”

Kutipan artikel “Openbaar Vergadering Kring S. I. Alijan (Keboemen),” Islam Bergerak, 20 Juni 1920

Kritik atas kapitalisme kolonial yang merusak ekologi manusia tersebut kemudian dijelaskan lebih rinci dalam dua artikel yaitu “Datangnja Kapitalist di Tanah Kita Hindia, Membikin Roegi Sama Lahir Batinnja Pendoedoek Hindia” yang terbit pada 10 November 1918 dan “Doenia Vorstenlanden Bergontjang oleh Saudara Misbach” yang terbit pada 10 Juni 1919.

Dua artikel Islam Bergerak tersebut menggambarkan bahwa pengusaha perkebunan kolonial adalah orang-orang “bangsa kapitalis” yang merenggut kemerdekaan “anak negeri” dalam mengolah lingkungan hidupnya. Sebelum bangsa kapitalis datang, dinarasikan bahwa “kaum tani dapat menanami sendiri tanah-tanah dan sawahnya.” Namun, kapitalisme kolonial menyebabkan “hilangnya nafsu” para petani untuk mengolah tanah ladang dan sawah karena akan mendapat “gangguan dan tindasan” jika melakukan hal tersebut. Pada akhirnya, dinyatakan bahwa karakter rakyat kemudian berubah dari yang semula adalah bangsa “kaum tani” menjadi “kaum buruhnya kapitalis.”

Kutipan artikel “Datangnja Kapitalist di Tanah Kita Hindia, Membikin Roegi Sama Lahir Batinnja Pendoedoek Hindia,” Islam Bergerak, 10 November 1918
Kutipan artikel “Doenia Vorstenlanden Bergontjang oleh Saudara Misbach,” Islam Bergerak, 10 Juni 1919

Dalam artikel “Hindia Kita dan Rajatnja” yang terbit pada 10 Oktober 1921, Islam Bergerak meneruskan bahwa kapitalisme kolonial bukan sekadar mengubah karakter rakyat dalam mengolah lingkungan hidupnya. Lebih dari itu, kapitalisme yang membuka perkebunan dan pabrik kolonial dengan membabat hutan justru juga menggambarkan terusirnya rakyat dari lingkungan hidup yang semula mereka olah.

Kutipan artikel “Hindia Kita dan Rajatnja,” Islam Bergerak, 10 Oktober 1921

Keadilan Ekologi

Di atas telah disinggung bahwa Islam Bergerak berupaya menggambarkan kapitalisme kolonial sebagai faktor yang merenggut kemerdekaan rakyat untuk dapat mengolah lingkungan hidupnya. Hal ini kemudian Islam Bergerak bingkai ulang dengan sebuah narasi ketidakadilan ekologis, seperti dapat dilihat dalam dua artikel yaitu “Pergera’an Ra’jat dan Politiek” yang terbit pada 20 Oktober 1919 dan “Witte Bloemke. Wij Zijn Man Genoeg!” yang terbit pada 20 Juni 1919.

Dua artikel Islam Bergerak tersebut menyebutkan bahwa usaha petani untuk mengolah lahan sawah dan ladangnya adalah sebagai sebuah hak; “hak bertani itu menentukan hak kaum tani atas sawah ladangnya dengan sempurna (grondrecht).” Namun, kolonialisme telah menciptakan mekanisme yang sedemikian rupa sehingga hak tani rakyat itu harus melalui proses perizinan tertentu.

Kutipan artikel “Pergera’an Ra’jat dan Politiek,” Islam Bergerak, 20 Oktober 1919
Kutipan artikel “Witte Bloemke. Wij Zijn Man Genoeg!,” Islam Bergerak, 20 Juni 1919

Di samping kritik ketidakadilan ekologis, Islam Bergerak juga menyuarakan tuntutan keadilan ekologi terkait akses atas air. Hal ini dapat dilihat dalam artikel “Vergadering Besar” yang terbit pada 10 September 1920. Tuntutan tersebut Islam Bergerakan sampaikan dengan sebuah dalil ketuhanan; “air adalah kodrat Tuhan yang berguna bagi segala makhluk.” Berangkat dari hal itu, maka sudah seharusnya pemerintah kolonial menjamin akses air untuk segala kalangan dengan “tidak memandang bangsa.”

Kutipan artikel “Vergadering Besar,” Islam Bergerak, 10 September 1920

Ekologi Bergerak

Sebagai penutup tulisan ini, mari simak kutipan dari pembuka buku Bacaan Bumi yang ditulis sejarawan Farabi Fakih sebagai berikut:

“Akhir-akhir ini, dengan terbitan tulisan John Bellamy Foster dan Kohei Sato, pemikiran Karl Marx mengalami revaluasi dengan penemuan bahwa Marx itu sendiri seorang ekolog dan bahwa Marxisme tidak hanya membicarakan mengenai pencurian kerja kaum buruh, melainkan juga pencurian kerja alam.”

Dengan adanya revaluasi dalam membaca Marxisme seperti dinyatakan Farabi, maka kecenderungan baru semacam ini juga dapat dilakukan untuk menelaah perkembangan wacana dari pers pergerakan masa kolonial. Bahwa terdapat cara lain untuk membaca sesuatu yang dianggap telah “selesai” di dalam historiografi. Mapannya isu politik yang selalu diketengahkan ketika membicarakan pers pergerakan bukan berarti menutup kemungkinan bahwa tidak ada tema lain selain hal itu.

Seperti ditunjukkan dalam tulisan ini, pers pergerakan Islam Bergerak tidak sekadar meleburkan ideologi politik Islam dan komunisme. Lebih jauh lagi, peleburan tersebut diaktualisasikan mereka untuk berbagai isu termasuk ekologi. Islam dan komunisme bukan semata-mata dileburkan hanya di dalam trayektori advokasi politik, melainkan juga untuk mengangkat kepentingan ekologi manusia yang terguncang di dalam kehidupan kolonial.

Hal tersebut dilakukan Islam Bergerak dengan memunculkan dalil ketuhanan dan semangat antikapitalisme. Ekologi manusia yang harmonis dijelaskan terjadi berdasarkan kodrat ciptaan Tuhan. Kapitalisme kolonial yang kemudian mendisrupsi harmoni ekologi manusia itu pada gilirannya dinyatakan melalui ungkapan-ungkapan kritik: kapitalisme yang berbahaya, kapitalisme yang mata duitan, pemilik modal sebagai bangsa kapitalis perenggut hak untuk mengolah lingkungan hidup, dan seterusnya.

Pada akhirnya, Islam Bergerak tidak hanya dapat dibaca sebatas sebagai “Islam bergerak,” yaitu sekadar semangat untuk menggerakkan umat Islam. Lebih dari itu, ia juga dapat dibaca sebagai semangat umat untuk menggerakkan berbagai persoalan termasuk ekologi, menjadi sebuah “ekologi bergerak.”

Referensi

Adam, Ahmat B. 1995. The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness (1855-1913). Ithaca: Southeast Asia Program Cornell University.

Boomgaard, Peter. 1998. “Introducing Environmental Histories of Indonesia.” Dalam Peter Boomgaard, Freek Colombijn, David Henley, eds., Paper Landscapes: Explorations in the Environmental History of Indonesia. Leiden: KITLV Press, 1-26.

Boomgaard, Peter, Freek Colombijn, David Henley, eds. 1998. Paper Landscapes: Explorations in the Environmental History of Indonesia. Leiden: KITLV Press.

Crawford, Oliver. 2021. “Translating and Transliterating Marxism in Indonesia.” Modern Asian Studies 55(3): 697-733.

“Datangnja Kapitalist di Tanah Kita Hindia, Membikin Roegi Sama Lahir Batinnja Pendoedoek Hindia,” Islam Bergerak, 10 November 1918.

“Doenia Vorstenlanden Bergontjang oleh Saudara Misbach,” Islam Bergerak, 10 Juni 1919.

Fakih, Farabi. 2025. “Sekapur Sirih: Manifesto Lingkungan untuk Indonesia Baru di Masa Mendatang.” Dalam Gerry van Klinken, ed., Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 31-40.

Farid, Hilmar. 2024. Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan. Depok: Komunitas Bambu.

Geertz, Clifford. 1963. Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia. Berkeley: University of California Press.

“Hindia Kita dan Rajatnja,” Islam Bergerak, 10 Oktober 1921.

Hongxuan, Lin. 2018. “Sickle as Crescent: Islam and Communism in the Netherlands East Indies, 1915-1927.” Studia Islamika 25(2): 309-350.

“Keada’an Lelaki dan Prampoean Djawa!!!,” Islam Bergerak, 1 Januari 1921.

“Openbaar Vergadering Kring S. I. Alijan (Keboemen),” Islam Bergerak, 20 Juni 1920.

“Pemandangan,” Islam Bergerak, 1 April 1921.

“Pergera’an Ra’jat dan Politiek,” Islam Bergerak, 20 Oktober 1919.

Shiraishi, Takashi. 1990. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926. Ithaca: Cornell University Press.

Van der Meer, Arnout. 2020. Performing Power: Cultural Hegemony, Identity, and Resistance in Colonial Indonesia. Ithaca: Southeast Asia Program Publications Cornell University Press.

“Vergadering Besar,” Islam Bergerak, 10 September 1920.

Wie, Thee Kian. 2013. “Colonial Extraction in the Indonesian Archipelago: A Long Historical View.” Dalam Ewout Frankema, Frans Buelens, eds., Colonial Exploitation and Economic Development: The Belgian Congo and the Netherlands Indies Compared. London: Routledge, 41-59.

“Witte Bloemke. Wij Zijn Man Genoeg!,” Islam Bergerak, 20 Juni 1919.

Zakaria, Faizah. 2023. The Camphor Tree and the Elephant: Religion and Ecological Change in Maritime Southeast Asia. Seattle: University of Washington Press.


*Tulisan ini didasarkan dari naskah yang telah penulis presentasikan di AIFIS-MSU Conference on Indonesian Studies 2026.


Editor: Dhika Marcendy


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *