Ketika Kata “Skena” Bergeser Makna, Itulah Saat Subkultur Mati dimakan Algoritma

Penulis

Kata ”skena” sering kali digunakan untuk melabeli mereka yang menghabiskan waktu nongkrong di kedai kopi maupun gigs, mengenakan celana baggy, ber-sneakers Samba atau bersepatu bot Dr Martens, mengenakan kaos oversize ataupun kaos crop-top. Namun, arti kata ”skena” sebenarnya memiliki akar dari subkultur musik. 

”Skena” merupakan serapan dari kata ”scene” yang merujuk pada lingkungan yang dibangun secara sosial di mana berbagai aktor dan institusi, seperti musisi, penonton, lembaga pendidikan, tempat pertunjukan, industri rekaman, serta kritikus dan media, berinteraksi dengan cara yang cair dan berubah-ubah untuk memungkinkan presentasi musik kepada publik (Jackson, 1998, dalam Matsue, 2009). Pada tahun 2000-an di Indonesia, istilah skena semakin menguat karena menguatnya musik underground di Indonesia (Hayashi et al., 2023, dalam Suharli et al., 2024).

Kemudian, karena ekslusifitas yang melekat pada anggota skena musik serta didukung dengan sedikit bahan bacaan mengenai skena, membuat pemahaman masyarakat terkait skena yang terbatas (Suharli et al., 2024) semakin melenceng. Kata ”skena” yang dulunya sangat lekat dengan subkultur, kemudian mengalami pergeseran. Di bulan Mei 2023 ketika akun clothing brand, @tenuedeattire di bulan Mei 2023, membuat konten dengan takarir ”tutor jadi cowok skena plis”. Kemudian, kata ini menjadi tren visual, menyebabkan reduksi makna budaya terhadap simbolik kultur, di mana identitas hanya dilihat dari tampilan visual (Shakila et al., 2025). Kemudian ketika kata ”skena” mengalami pergeseran makna, begitu juga dengan hilangnya personal taste (selera pribadi), dan juga hilangnya subkultur.

Will Stolk dalam esainya di Frank151, menggambarkan subkultur seperti punk, skate, hiphop, grafiti, dan rave muncul dari kondisi yang sama pada dahulu kala: kebosanan, kemiskinan, pengucilan, dan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap institusi. Para anak punk, artis hiphop, dan para skater ini menemukan dan mendefinisikan diri mereka sendiri dengan mengambil risiko untuk disalahpahami, diserang, ditangkap, dilarang masuk tempat hiburan, dikeluarkan dari sekolah, atau dikucilkan dan mereka tahu bahwa tak ada jalan kembali. Stolk kemudian mencontohkan bagaimana para pelaku subkultur ini menemukan jati diri mereka dari aktivitas-aktivitas yang terbatas dan perlu waktu bertahun-tahun untuk mendalami, bukan dari rekomendasi sosial media: CD bajakan, zine, kaset VHS, radio indie, toko skate, konser kecil di lingkungan rumah mereka, dan dari rekomendasi mulut-ke-mulut. Bahkan, subkultur-subkultur ini bersifat lokal, teritorial, juga seringkali bermusuhan dengan luar daerah mereka. Stolk menyebutkan seperti Hiphop New York yang tak sama seperti LA, punk di London yang berbeda dengan punk di Sydney, dan para skater West Coast yang punya cara skate sendiri dan berbeda dari East Coast. Ketidakseragaman inilah yang menjadi ciri budaya. 

Namun Stolk berpendapat bahwa kini cukup koneksi Wi-Fi dan kamera yang layak, subkultur direduksi menjadi sebuah estetika yang dapat diekstrak, di-remix, dan dimonetisasi: subkultur menjadi sesuatu yang dikonsumsi.   

Subkultur kini hanyalah estetika dan rekomendasi algoritma sosial media.

Algoritma sebagai Objek Budaya: Ciri Khas dan Micro-Trendyang Diciptakan

Menurut Mukerji dan Schudson (1991, dalam Gillespie, 2016), objek budaya dirancang dengan mengantisipasi nilai yang mungkin akan ditemukan di dalamnya dan cara objek tersebut dapat beredar. Budaya diproduksi dan diedarkan dari nilai mereka, yakni dari apa yang signifikan, populer, layak diberitakan atau menarik, dan bagaimana budaya ini memberi tahu kita sesuatu tentang diri kita (Gillespie, 2016). Singkatnya, pembuatan objek budaya dirancang sebagai beriku: prediksi, mengetahui apa yang ”bernilai”, dan diedarkan. Algoritma, juga mirip seperti mekanisme pembuatan objek budaya, yakni prediksi dari suatu institusi pengetahuan, mengetahui apa yang ”bernilai” atau pengukuran, dan diedarkan. Inilah yang membuat algoritma adalah sebuah objek budaya yang membentuk budaya, apalagi ia sering dikontestasikan. 

Algoritma sebagai objek budaya dapat dilihat dari caranya membuat budaya baru, atau tren. Dalam bukunya “Filterworld: How Algorithms Flattened Culture (2024)”, Kyle Chayka, menyebutkan bahwa rekomendasi algoritma akan menentukan seuatu yang langsung menarik perhatian paling banyak. Ia mencontohkan bahwa masing-masing sosial media memiliki ciri khas tersendiri: Liz Pelly yang mengidentifikasi genre yang dibuat Spotify bernama “streambait“, yakni genre pop melankolis dengan tempo yang lembut di 2018. Kemudian, temuan Jia Tolentino di 2019 tentang “Instagram Face“, yakni wajah kaukasia namun sangat multikultur: mata seperti kucing, bulu mata yang panjang mirip kartun, hidung kecil, dan bibir yang penuh. Platform-platform ini memiliki ciri khas tersendiri dan bukan hanya preferensi estetika belaka. Ciri khas ini juga dilatari oleh bias ras, gender, dan politik dari model bisnis fundamental dari perusahaan yang memiliki sosial media platform tersebut. 

Muncul tren yang berumur pendek seperti tarian-tarian TikTok, interior minimalis, dan logo sans serif monoton cenderung mudah diakses, dapat direplikasi, dan partisipatif. Tren ini disebut micro-trend karena dalam hitungan minggu atau bulanan, tren ini pasti sudah hilang: tidak ada yang membahasnya, tidak ada yang membuatnya lagi, dan tidak akan muncul lagi di halaman utama sosial mediamu.    

Namun, walaupun efek ini bersifat internasional, sebagian besar platform sosial media berbasis di pusat kecil Amerika, Silicon Valley, dan dikendalikan oleh banyak pria kulit putih yang kaya; dibalik keragaman yang ditampilkan sosial media.  

Algoritma yang Menciptakan Budaya yang Seragam (Flattened Culture)

Spivak (2013) menulis, “globalisasi hanya terjadi dalam modal dan data. Segala hal lainnya hanyalah upaya pengendalian kerusakan”. Platform digital telah mengumpulkan banyak data dan juga menyebarkan data para penggunanya. Namun budaya yang homogen, yang seragam (flattened culture), menjadi akibat yang tidak terhindari dari penyebaran tersebut (Chayka, 2024). 

Chayka (2024) juga menyebutkan kafe-kafe estetik dengan interior yang seragam seperti lampu gantung dengan bohlam Edison dan meja lebar industrial dengan sebutan “Generic Coffee Shop” (Kedai Kopi Generik), yang telah ia lihat walaupun ia telah melintasi banyak benua. Ia menyebutkan bahwa kafe-kafe ini tak pernah sepi, bahkan dalam jarak geografis yang berbeda, karena banyak yang ingin berpartisipasi dalam “budaya” ini. Ia juga menyebutnya dengan harmonization of tastes  (harmonisasi selera) dan fenomena ini terjadi secara internasional. 

Bahkan, di Indonesia pun, kata ”Kafe Instagram-able” sering berseliweran di konten-konten sosial media juga memiliki interior yang mirip dengan yang Chayka sebutkan. Dengan adanya algoritma digital, banyak orang di dunia ingin berpartisipasi dengan cara mencari produk dan pengalaman serupa dalam kehidupan fisik mereka. Melalui feed Instagram, mereka mengonsumsi hal yang serupa, di mana pun mereka tinggal, dan inilah yang membuat taste kita jadi seragam. 

Budaya yang paling ambigu, paling mengganggu, dan tidak bermakna, tidak akan diangkat oleh algoritma. Sehingga, keseragaman secara luring terjadi. Apalagi, sesuatu yang radikal dari subkultur, menjadi dilunakkan agar dapat dimonetisasi oleh algoritma. Stolk (2026) berpendapat bahwa subkultur bermutasi, yakni seperti punk menjadi ”punk-core”, hiphop menjadi “aesthetic rap”, skateboarding menjadi “konten lifestyle”, dan grafiti menjadi “visual yang terinspirasi jalanan”, sebagai bukti bahwa subkultur yang dulunya radikal kini menjadi lebih lunak. 

Di Indonesia, gaya alternatif seperti punk, goth, emo, hiphop, bermutasi menjadi “style skena”. Kedai kopi dengan desain interior Japandi, menyajikan kopi specialty dan manual brew, yang juga menawarkan matcha ceremonial grade, bermutasi menjadi “kafe skena”. Ini semua karena paling aman dan dapat dimonetisasi oleh algoritma.

Matinya Personal Taste

Kini buku-buku yang dipajang di rak ”best seller” toko buku besar adalah buku-buku yang sering kita lihat di sosial media seperti ”Sapiens” karya Yuval Noah Harari, ”It End With Us” karya Colleen Hoover, dan ”The Psychology of Money” karya Morgan Housel. Rasanya algoritma daring juga mendikte rekomendasi kita hingga luring.

Sebelum internet muncul, kita akan mencari rekomendasi dari penjual buku independen, penjual baju pinggir jalan, radio, dan teman-teman kita yang memiliki taste yang menurut kita bagus. Rekomendasi datang dari kurasi mereka sendiri, dan inilah mengapa banyak orang bisa cocok dengan rekomendasi mereka. 

Kini rekomendasi lagu, gambar, atau acara televisi, datang dari rekomendasi otomatis algoritma: sebuah mesin, otomatis, cenderung aman, dan tak dapat dihindari. Ini menyebabkan taste semua orang sama. 

Taste adalah preferensi personal dari apa yang kita suka, baik dari musik, fesyen, makanan, dan bacaan. Kita memilih dari apa yang kita baca, tonton, ataupun yang kita pakai dan pilihan-pilihan ini sangat dekat dengan kita. Taste menunjukkan suasana hati kita di waktu tertentu, kepekaan kita sebagai individu, dan sense of self kita (Chayka, 2024). 

Taste juga menjadi ukuran bagaimana budaya dan hubungan kita terhadap budaya. Misal, taste jadi ukuran apakah sesuatu cocok dengan kita atau tidak. Taste juga jadi ukuran apakah kita akan merasa dekat dengan hal tersebut dan mengidentifikasi diri kita dengan hal tersebut, serta membuat koneksi dengan orang-orang yang juga senang dengan hal tersebut. Bahkan, taste yang jelek pun juga masih sebuah taste (Chayka, 2024).

Pemikir asal Prancis di tahun 1750an, Voltaire (dalam Chayka, 2024), menulis:

“Untuk memiliki selera, tidak cukup hanya melihat dan mengetahui apa yang indah dalam suatu karya. Seseorang harus merasakan keindahan dan tersentuh olehnya. Bahkan tidak cukup hanya merasakan, tersentuh yang tidak bisa diungkapkan dengan kata: sangat penting untuk membedakan berbagai nuansa perasaan.” 

Dengan kata lain, taste muncul dari observasi yang mendalam, bukan sesuatu yang dianggap “keren”. Taste adalah sesuatu yang abstrak, ambigu, tidak stabil, dan juga bagian dari pencarian jati diri. Taste muncul dari bawah sadar kita dan melewati banyak proses jika dibandingkan dengan secara pasif mengonsumsi konten apapun. 

Namun, algoritma tak dapat sepenuhnya disalahkan. Sosial media dengan algoritmanya membuat pilihan budaya semakin bervariasi. Misalnya, musik yang dulunya asing bagi kita, kini dapat diakses dengan satu klik dan kini menjadi hal yang familiar. Jika dulu mendengarkan suatu musik bersifat lokal, kini kita berpartisipasi sebagai kosmopolitan, dengan pilihan, agensi, dan kemungkinan pertukaran yang lebih demokratis, menikmati menyaksikan dan bergabung dengan arus musik dunia yang luas (Stokes, 2007). 

Diantara “kafe skena”, “style skena”, “musik skena”, dan semuanya akan dilabeli “skena”, kematian subkultur ini bukanlah tragedi. Menurut Stolk (2026), ini adalah peringatan.

Ini adalah peringatan agar merebut kembali kendali dan memanusiakan taste sekali lagi, disaat algoritma dan AI merekomendasikan kita hal-hal yang kita suka dan membentuk taste kita. Saatnya kita pergi ke konser kecil di kafe-kafe kecil untuk mendapatkan rekomendasi musik, menanyai teman untuk rekomendasi film, pergi ke toko buku independen kecil maupun perpustakaan kecil untuk rekomendasi buku, dan lainnya. Subkultur mungkin mati dimakan algoritma, dan ini saatnya untuk memerdekakan taste kita dari algoritma maupun AI.

Referensi

Chayka, K. (2024). Filterworld: How Algorithms Flattened Culture. Penguin Random House.

Gillespie, T. (2016). #trendingistrending: when algorithms become culture. In R. Seyfert & J. Roberge (Eds.), Algorithmic Cultures: Essays on meaning, performance and new technologies (p. 52). Routledge.

Matsue, J. M. (2009). Making Music in Japan’s Underground: The Tokyo Hardcore Scene. Routledge. 

Shakila, T., Rizqi, M., Benedicta, F., & Citra Paramita, A. (2025). Analisis Wacana Kritis Trend Fashion Pada #Skena di Media Sosial TikTok. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Komunikasi (SEMAKOM), 03(02), 589–593. https://conference.untag-sby.ac.id/index.php/semakom

Spivak, G. C. (2013). An Aesthetic Education in The Era of Globalization. Harvard University Press.

Stokes, M. (2007). On Musical Cosmopolitanism. The Macalester International Roundtable 2007. https://doi.org/10/1093/oxfordhb/978019993521.013.62

Stolk, W. (2026, January 12). SUBCULTURE IS DEAD: THE ALGORITHM ATE THE UNDERGROUND. Frank 151. https://frank151.com/subculture-is-dead-the-algorithm-ate-the-underground/

Suharli, R. A., Pradana, Y., & Nugrahani, R. U. (2024). Konstruksi Identitas Anggota Skena Musik Komunitas Jangan Kolektif. Jurnal Riset Komunikasi, 15(1). https://doi.org/10.31506/JRK..V15i1.28566


Editor: Balqis Nabila


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *