Cara Bertahan Hidup Dengan Satu Jeriken

Penulis

Pagi tidak datang bersama Matahari yang sinarnya menerangi seantero Bumi. Ia tiba lebih dulu lewat bunyi jeriken kosong yang saling beradu. Sari menyusunnya satu per satu di sudut dapur, jika ruang selebar dua langkah itu masih pantas disebut dapur. Lantainya yang terbuat dari semen plesteran kasar selalu terasa lembap dan dingin di telapak kaki. Seolah menyimpan sisa air hujan minggu lalu karena sinar Matahari tak sudi menembus masuk ke dalam rumah yang temaram itu. Dindingnya, yang dulu mungkin berwarna putih, kini kusam tertutup lapisan garam kerak kapur yang mengelupas, gugur lapis demi lapis layaknya kulit mati yang terkelupas, menyisakan bercak-bercak lumut tipis di sudut-sudut yang retak.

Udara di dalam ruangan terasa berat, apak, dan menyesakkan, berbau campuran antara tanah basah dan lapuknya kayu kusen yang sudah dimakan usia. Tidak ada aliran udara yang lancar, membuat setiap barang di dalamnya, mulai dari kursi kayu yang goyah hingga kalender usang yang tergantung miring, terasa lengket saat disentuh. Menurut standar pemerintah, rumah itu tidak layak huni. Tapi, bagi Sari dan keluarga, rumah itu menjadi satu-satunya pelindung dari panasnya siang dan dinginnya malam. 

Dari jendela rumah itu, laut hanyalah rahasia yang tak pernah menampakkan wujudnya. Namun aromanya merangsek masuk. Bau itu menyusup lewat celah pintu, menempel pada pakaian, rambut, bahkan mimpi yang tak sempat jadi panjang. Bau asin itu selalu menjadi penanda dan pengingat bahwa hidup mereka berdekatan dengan air, namun justru air itu hanya menunda haus. 

Uang di tangan Sari tidak pernah banyak, tapi pagi itu memang terasa lebih berat dari pagi-pagi biasanya. Ia sudah menghitungnya sejak subuh, bahkan sebelum ayam tetangga sempat berkokok dan mengabarkan hari baru. Dua lembar sepuluh ribu, satu lembar lima ribu, dan beberapa koin kusam yang bunyinya terdengar lebih nyaring daripada nilainya. Uang di tangan Sari sudah tidak pernah netral sejak pertama kali ia genggam. Masing-masing dari kertas bergambar pahlawan tersebut sudah membawa takdirnya sendiri-sendiri. Sebagian untuk air dan sebagian lagi untuk beras. Masalahnya, uang itu tidak cukup patuh untuk menuruti dua nasib sekaligus.

Sari duduk di bangku depan rumah dengan punggung yang sedikit membungkuk, sebab beban pagi sudah lebih dulu hinggap di bahunya daripada apa pun yang ia temui. Pandangannya tertuju pada jeriken-jeriken itu, seakan mereka adalah makhluk hidup yang sedang menunggu vonis. Yang satu penyok di bagian samping, dan yang lainnya sudah tak pernah bisa menutup. Ia tahu betul hitungannya. Satu jeriken tak akan cukup sampai malam. Tak akan cukup untuk minum, masak, dan sekadar membasuh wajah dari debu yang asin. Tapi, dua jeriken artinya dapur akan tetap tanpa asap dan tanpa nanakan nasi. Pagi seakan menunggu pilihan Sari, sementara perut dan tenggorokan sama-sama menagih hak yang tak bisa dipenuhi bersamaan. 

Anaknya, Sukar, terbangun sambil menggaruk lengannya, gerakan sangat mahir sebab menjadi kebiasaannya setiap pagi sebelum benar-benar sadar. Kulitnya yang kasar dan memerah hampir seperti peta luka yang tidak pernah selesai digambar. Gatal itu bukan lagi keluhan, ia sudah lama berdamai dengannya. Kondisi pemukimannya memang memaksa banyak orang berdamai dengan berbagai rasa sakit.

“Bu,” panggil Sukar pelan, matanya masih setengah tertutup. “Airnya masih ada?”

Pertanyaan itu keluar lirih dari mulut Sukar, terdengar nyaris seperti permintaan maaf. Sari tidak langsung menjawab. Ia berdiri, mengambil ember kecil di sudut ruangan, lalu menuangkan sisa air ke dalam gelas plastik yang warnanya sama seperti hidup mereka—buram. Air yang dituangkan Sari untuk Sukar memang terlihat bersih, tapi meski direbus berkali-kali rasa asin tidak sepenuhnya hilang.

“Banyak, Bu?” tanya Sukar lagi dengan ragu.

“Cukup, Nak.” jawab Sari singkat.

Ia menyerahkan gelas itu. “Minum pelan-pelan, Nak.” Katanya, suaranya agak ditahan agar terdengar cukup tenang. 

Sukar meneguknya tanpa protes. Tenggorokannya menawar dengan rasa hausnya sendiri. Anak itu sudah belajar sejak lama bahwa tidak semua keinginan bisa dilawan, dan tidak semua kekurangan pantas diributkan. 

Menjelang siang, panas datang lebih cepat. Atap seng rumahnya memantulkan cahaya Matahari dengan baik, sehingga menjadikan rumah itu seperti kaleng kosong yang dipanaskan dari luar. Air di ember kian surut, meninggalkan garis-garis basah di dinding plastiknya, menjadi penanda waktu yang lebih akurat daripada jam dinding. Sari membagi-baginya dengan hitungan yang bahkan lebih rumit daripada matematika yang Sukar pelajari di sekolah. Dua gayung untuk memasak, satu untuk mencuci piring, dan sisanya untuk mandi sore—kalau masih tersisa. Tak ada ruang bagi kesalahan sedikit pun, sedikit air yang jatuh ke lantai bisa berarti piring yang tak terbilas, atau tubuh yang harus kembali berdamai dengan rasa lengket.

Sumur di belakang rumah sudah lama kehilangan janjinya. Airnya terlalu asin, pahit, dan meninggalkan rasa gatal bagi mereka yang memaksa menggunakannya. Air itu hanya dipakai untuk menyirami lantai atau membasuh kaki yang terlalu kotor. Untuk diminum, mereka harus membeli pada pedagang air keliling. Bahkan untuk kebutuhan manusia paling dasar sekalipun mereka harus merogoh kocek lebih dalam, seolah-olah air bersih adalah barang mewah yang hanya boleh dinikmati setelah disetujui dalam rapat paripurna.

Sekitar pukul sepuluh siang, suara yang ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya datang dari ujung gang. Teriakan penjual air, serak namun tegas, segera meluncur di antara dinding-dinding rumah warga.

“Air! Air bersih!”

Sari berdiri cepat dan segera menghampiri pedagang tersebut. Uang di tangannya kembali ia genggam, rasanya lebih berat dari kenyataan yang harus dibayarnya. Beberapa tetangga sudah keluar lebih dulu dan membawa jeriken masing-masing. Ada yang tertawa sambil mengeluh soal harga air yang terus-menerus naik. Tahun lalu masih sepuluh ribu per jeriken, tapi hari ini dua belas ribu per jeriken. 

Sari menunduk sebentar sambil menghitung ulang di kepalanya. Sari harus menghitung dengan baik berapa jeriken yang harus ia beli hari ini, karena jika ia tidak tepat perhitungan harus ada kebutuhan lain yang ia korbankan. Harga air yang naik semakin mempersempit jarak antara bertahan dan menyerah. 

Sari mendekat dengan langkah ragu seolah tanah di bawah kakinya bisa berubah lunak kapan saja. Ia berdiri di depan gerobak air itu dengan perasaan yang tak pernah benar-benar siap, meski sebenarnya adegan ini sudah ia ulangi setiap hari. Wajah penjual air itu setengah tertutup bayang-bayang topi lusuhnya. Penjual air pun sama susah hidupnya, ia hanya bekerja menjualkan air milik bosnya, bukan kepunyaannya sendiri. Setiap hari ia hanya dibayar lima puluh ribu rupiah untuk setiap tiga puluh jeriken yang berhasil terjual. Sungguh, penjual dan pembeli harus menggantungkan hidupnya dari kebutuhan dasar yang seharusnya negara hadir untuk pemenuhan hak kebutuhan dasar warganya.

“Satu jeriken, Bu?” tanyanya singkat, tanpa menatap wajah Sari, seolah pertanyaan itu hanya bagian dari rutinitas, sama hambarnya dengan bunyi air yang mengalir dari jeriken pedagang dan pembeli. 

Sari menarik napas panjang setelah menghitung berapa jeriken yang harus ia beli. Kata-kata sempat menumpuk di lidahnya, lalu jatuh satu per satu dengan suara yang lebih kecil dari niatnya. 

“Kalau dua, bisa kurang, Mang?”

Ia tidak sedang menawar harga. Ia sedang menawar hidup, menawar kemungkinan dari yang bisa sedikit lebih layak, meski hanya bertahan sampai besok pagi. 

Sari sebenarnya tidak mau menawar, karena ia paham sekali apa yang diderita pedagang air keliling ini. Tapi, Sari pun hanya berusaha agar kebutuhan kehidupan lainnya bisa ia cukupi. 

Penjual itu pun menggelengkan kepalanya dengan gerakan pelan, tapi cukup untuk memutus harapan yang sudah rapuh sejak awal. 

“Solar naik, Bu. Ini juga sudah harga yang ditentukan sama Bos. Saya gak bisa kasih harga murah seenaknya, nanti gaji saya juga akan dipotong.”

Sari mengerti alasan pedagang tersebut. Sesama orang yang berkesusahan, Sari tahu rasanya kalau pendapatannya berkurang walau sedikit pasti berdampak besar bagi kehidupan keluarganya. Sari pun hanya seorang janda yang hidupnya jauh dari kata cukup, suaminya meninggal beberapa tahun lalu sehingga ia hanya hidup berdua dengan Sukar. Sehari-hari ia hanya menjadi buruh cuci dari rumah tetangga ke rumah lainnya. Pekerjaan itu pun tidak selalu didapatkan setiap harinya, kadang di satu hari tenaganya tidak dibutuhkan di rumah mana pun, dan terpaksa ia harus berpuasa. Mendengar keluhan pedagang air, Sari pun amat mengerti apa yang dirasakannya. 

Jawaban itu selalu sama dan tak memberi ruang bagi rakyat kecil seperti Sari untuk membantah. Jika solar naik, harga pun turut naik, tapi taraf kehidupan orang-orang seperti Sari tidak pernah naik. Ia kembali membuka telapak tangannya, dan mulai menghitung ulang uang yang sebenarnya sudah ia hafal jumlahnya. Dua lembar sepuluh ribu, selembar lima ribu, dan koin-koin kecil yang dinginnya menempel di kulit. Ia menghitung ulang bukan karena lupa, tapi karena berharap belas kasihan. Mungkin saja dengan mengulang hitungan, takdir bisa tergelincir sedikit dan harga sedikit bisa berpihak padanya. 

Di kepalanya, suara Sukar muncul tanpa diundang. Di rumah, Sukar kembali menggaruk tangannya sampai kulitnya terbuka tipis. Garukan itu bukan lagi gerakan biasa, tapi sudah jadi kebiasaan yang lahir dari keputusasaan. 

Sari memalingkan wajahnya, terlihat jelas bahwa ia menanggung rasa bersalahnya sendiri. Ia tahu, air bersih bisa meredakan perih itu. Air yang jernih bisa membersihkan luka kecil di kulit Sukar, menghapus asin yang tertinggal, setidaknya untuk sementara. Tapi, membeli beras juga tidak bisa ditunda. Perut kosong punya suaranya sendiri. Suara itu lebih keras, mendesak, dan sering kali menang dalam perdebatan yang tak pernah adil. Ia kebingungan memilih antara menunda haus atau menunda lapar. Sungguh ironi sekali di sebuah negara yang pejabatnya selalu membanggakan sumber daya alam yang melimpah, tapi ada warga yang kebingungan memilih harus minum atau makan. 

Sari berdiri di tengah jalan pikiran yang sempit itu. Di satu sisi, ia tidak tega melihat Sukar yang terus-terusan merasa perih. Di sisi lain, ada juga panci yang harus ia isi dengan nasi agar keluarganya bisa mengisi perut, walau hanya dengan nasi dan telur. Ia merasa seperti ibu yang gagal bahkan sebelum hari belum benar-benar selesai. 

Ia membayangkan malam nanti, akan ada nasi yang dimasak dengan air sedikit lebih banyak agar terlihat mengembang dan cukup, sendok yang harus menunggu giliran, agar cucian sedikit, dan mandi sore yang harus menggunakan air sebijak mungkin agar cukup untuk dua orang. Jeriken yang harus disimpan di sudut rumah, dijaga seperti benda paling berharga, ditutup rapat, diperingatkan pada Sukar agar tidak menyentuhnya sembarangan. Tidak ada pilihan yang terasa manusiawi. Tapi, hidup tidak menunggu pilihan yang manusiawi tersebut, ia hanya menuntut keputusan.

Akhirnya, dengan tangan yang terasa amat berat, Sari menyerahkan uang itu hanya untuk satu jeriken. Pedagang air menuangkan airnya tanpa emosi, air pun akhirnya tertuang ke jeriken Sari dengan penuh. Hal yang seharusnya bebas dan murah, tapi selalu dibayar mahal oleh orang-orang seperti Sari. Bunyi setiap tetes tuangan menampar siapa saja yang mendengarnya, gemerciknya terdengar seperti pengingat bahwa ada yang harus dikorbankan hari ini. 

Sari mengangkat jeriken itu dan berjalan pulang. Pundaknya miring, tubuhnya condong ke satu sisi, langkahnya pendek-pendek agar air dalam jeriken bisa terjaga dengan baik. Setiap tetesnya terlalu penting untuk disia-siakan. 

Siang datang bersama angin laut yang ributnya sampai masuk setiap gubuk-gubuk si miskin. Sari menutup jeriken itu rapat-rapat, memutarnya sampai bunyi plastiknya mengeluh. Air itu dihitung sampai keperluan-keperluan terkecil. Baginya, satu gayung air adalah kemewahan bagi setiap keluarga di perkampungannya. 

Akhirnya Sukar bisa mandi dengan air yang sudah ditunggunya.

“Jangan lama-lama,” kata Sari.

“Iya, Bu.”

Beberapa detik, lalu suara Sukar dari balik pintu kamar mandi.

“Bu, air ini punya siapa?”

“Punya kita.”

“Kata guruku di sekolah, air itu punya negara.”

Sari diam sebentar. “Mungkin negara punya banyak.”

“Kalau negara punya banyak, kenapa kita harus pakai sedikit?”

Sari menoleh ke pintu kamar mandi. “Karena yang banyak tidak sampai ke sini.”

Akhirnya bunyi gemercik air berhenti. Sukar keluar, dengan rambutnya yang setengah basah.

“Bu, kalau aku pakai lima gayung, Ibu marah gak?”

“Bukan Ibu yang marah, tapi besok.”

Sukar mengangguk, seolah benar-benar paham. Ia mengusap rambutnya dengan kaus tipis, lalu menatap jeriken di sudut rumah dengan wajah serius.

“Bu,” katanya pelan, “kalau yang marah adalah besok, berarti orang-orang yang bikin besok selalu kekurangan, ya?”

Sari terdiam, kalimat itu jatuh terlalu tepat untuk anak seusia Sukar. Ia ingin membantah, ingin mengoreksi, tapi tak ada kata yang cukup sederhana untuk menjelaskan ketidakadilan tanpa merusaknya. 

Sukar melanjutkan, dengan nada polosnya. “Kalau airnya ada banyak, tapi jalannya muter-muter dulu, pastilah capek. Makanya sampai ke kita sisa sedikit.”

Sari menatap anaknya lama. Ia tahu, suatu hari Sukar akan berhenti bertanya. Bukan karena mengerti, tapi karena terbiasa. Dan kebiasaan itu lebih berbahaya daripada kehausan.

Ia memalingkan wajah ke jeriken di sudut rumah. Air di dalamnya masih ada, cukup untuk hari ini, tapi tidak untuk esok hari. Sari berkata pada anaknya bahwa hidup seharusnya tidak sesempit ini, bahwa air tidak diciptakan untuk dihitung dengan ketakutan. Bahwa ketakutan bukan kodrat, melainkan hasil dari keputusan-keputusan yang dibuat jauh dari rumah mereka. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh manusia yang tidak pernah merasakan kelaparan dan kehausan sekalipun. Mereka yang dari kecil hidup serba ada dan tidak mengerti bagaimana penderitaan rakyat di bawahnya. Bahkan hanya untuk air pun mereka tidak bisa berbuat adil. 

Dalam lamunannya, Sari berdoa, bukan agar air datang lebih banyak esok hari. Melainkan agar Sukar kelak berani bertanya lagi. Bertanya pada siapa pun yang membuat air melimpah, tapi membiarkannya berhenti sebelum sampai ke rumah-rumah seperti kami. Ia berharap Sukar tidak cepat belajar menjadi diam. Tidak terlalu cepat berdamai dengan kekurangan lalu menyebutnya nasib. Sebab yang benar-benar menakutkan bukanlah air yang habis, melainkan pertanyaan yang ikut mengering.

Dan semoga jika suatu hari Sukar berhenti bertanya, bukan karena ia sudah menerima nasibnya. Tapi, Sukar sudah cukup jauh dari rumah ini, hingga ia tak lagi tahu rasanya menunggu air.


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *