Dari 18 Maret hingga 28 Mei 1871, kaum buruh Paris melakukan eksperimen demokrasi dan mendirikan pemerintahan swadaya. Mereka melakukannya dengan cara mendirikan Komune Paris. Komune Paris hanya berjalan selama 72 hari. Namun, walaupun Komune Paris berjalan singkat, banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari pemerintahan ini.
Oleh karena itu, buku Komune Paris 150 hadir agar pembaca bisa mengetahui lebih dalam mengenai Komune Paris sekaligus untuk merawat ingatan terhadap pemerintahan yang pernah ada di Paris sekitar 1,5 abad yang lalu. Pemerintahan yang berjalan selama 72 hari ini memberikan banyak pembelajaran penting dengan menjadi blueprint untuk pemerintahan kelas pekerja yang dapat menjadi ‘penerus’ Komune Paris.
Buku Komune Paris 150 ini memuat tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Komune Paris dari banyak tokoh seperti Vijay Prashad, Bertolt Brecht, Vladimir Lenin, Karl Marx, dan lainnya. Buku Komune Paris 150 ini bisa dibilang cukup spesial. Hal itu karena buku ini diterbitkan pada 2021 dalam rangka memperingati 150 tahun kejatuhan Komune Paris. Selain itu, buku ini juga diterbitkan secara serentak dalam 18 bahasa oleh 27 penerbit di seluruh dunia. Untuk yang versi bahasa Indonesia sendiri, diterbitkan oleh Marjin Kiri.
Watak Pekerja ala Komune Paris
Dalam tulisannya—yang juga menjadi pendahuluan dari buku ini—yang berjudul Membuka Pintu ke Utopia, Vijay Prashad menyatakan bahwa dekrit-dekrit Komune Paris sangat berwatak pekerja, terutama dalam kepengurusannya. ‘Watak pekerja’ yang dimaksud dalam Komune Paris adalah: pabrik-pabrik yang kosong akan diduduki dan dijalankan oleh kaum buruh, denda yang dijatuhkan kepada buruh dihapuskan, kerja lembur dilarang di toko-toko roti, dan hak milik gereja diambil alih untuk kepentingan sosial (hlm. 4).
Dalam Perang Saudara di Prancis: Pidato Dewan Umum Asosiasi Pekerja Internasional, Karl Marx berpidato dengan menyatakan bahwa (hlm. 50): “Ini pada dasarnya (Komune Paris) adalah pemerintahan kelas pekerja, produk perjuangan dari kelas yang berproduksi melawan kelas yang mencaplok, bentuk politik yang pada akhirnya ditemukan untuk memulai emansipasi ekonomi tenaga kerja.” Pidato tersebut disampaikan di hadapan Asosiasi Pekerja Internasional pada dua hari setelah jatuhnya Komune Paris (hlm. 5).
Seniman di Era Komune Paris
Di balik berdirinya Komune Paris, terdapat seorang tokoh yang bernama Gustave Courbet (1819-1877). Gustave Courbet adalah seorang pelukis yang memimpin gerakan realisme di Prancis abad ke-19. Dia terkenal karena karya-karyanya yang menggambarkan keringat kaum tani di atas kemewahan hidup kaum borjuasi. Gustave Courbet menyebut Komune Paris sebagai ‘impian indah’. Selama masa Komune Paris, Courbet terpilih sebagai ketua pendiri Federasi Seniman (Federation of Artists).
Selama masa Komune Paris, Federasi Seniman menyusun serta memperdebatkan berbagai usulan terkait pendidikan dan estetika, metode kerja, bentuk organisasi, hingga rencana untuk meruntuhkan monumen-monumen lama dan menggantinya dengan yang baru. Mereka menyadari bahwa perjuangan kaum proletar juga merupakan perjuangan di ranah kebudayaan, ideologi, dan struktur kelembagaan. Dalam konteks ini, peran seniman dibayangkan kembali sebagai bagian dari kekuatan militan dalam proses revolusioner (hlm. 16).
Empat puluh tujuh orang yang terbagi atas para pelukis, pematung, arsitek, penggrafir, dan dekorator berkumpul bersama untuk mencanangkan misi mereka, yakni mendirikan Federasi Seniman. Dalam Manifesto Federasi Seniman Komune Paris, para seniman Paris menyatakan bahwa kecerdasan artistik mereka didasarkan pada (hlm. 110): “Kebebasan ekspansi seni, menyingkirkan semua kemungkinan campur tangan pemerintah dan dari semua privilese. Persamaan hak bagi seluruh anggota federasi. Kemerdekaan dan kehormatan seniman dalam berkarya harus dilindungi oleh sebuah komite yang anggota-anggotanya dipilih sendiri oleh para seniman melalui pemungutan suara.”
Di antara orang-orang yang mendirikan Federasi Seniman tersebut, terdapat seorang penyair bernama Eugene Pottier. Ketika Komune Paris berakhir pada 28 Mei 1871 dan terdapat pembantaian berdarah ketika itu, Eugene Pottier menulis puisi. Kata-kata dalam puisinya itulah yang kemudian akan abadi dengan menjadi lagu perjuangan yang paling banyak dinyanyikan di seluruh dunia, lagu tersebut berjudul “L’Internationale.”
Ya, pada buku Komune Paris 150 sendiri, terdapat syair “L’Internationale” yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa—termasuk bahasa Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Sepucuk Kembang Terang, Tings Chak menyatakan bahwa (hlm. 17): “Dalam bahasa-bahasa itu, lagu (“L’Internationale”) tersebut selama bertahun-tahun telah dinyanyikan untuk memberi keberanian pada perjuangan kita. Bersama-sama, aneka terjemahan ini melengkapi lagu tersebut dalam kepenuhannya, setia pada maksud internasionalisnya.”
Membaca Marx Lewat Lenin
Pada musim gugur 1870 yang berjarak beberapa bulan sebelum berdirinya Komune Paris, Marx mengingatkan kaum buruh Paris bahwa segala upaya untuk menggulingkan pemerintah adalah suatu tindakan yang dungu. Namun, pada Maret 1871 ketika sebuah pertempuran yang menentukan telah ‘dipaksakan’ pada kaum buruh dan kemudian Komune Paris berdiri, Marx menyambut revolusi proletariat itu dengan antusiasme terhangat, walaupun ada petanda-petanda yang tidak menguntungkan.
Dalam tulisannya yang berjudul Pengalaman dari Komune Paris 1871: Analisis Marx, Vladimir Lenin mengapresiasi antusiasme Marx terhadap revolusi proletariat tersebut. Lenin menyatakan bahwa Marx tidak ngotot dengan bersikap angkuh dan mengecam revolusi proletariat tersebut sebagai gerakan yang ‘tidak pada waktunya’ (hlm. 83). Lenin membandingkan sikap Marx tersebut dengan Georgi Plekhanov yang pada November 1905 menulis dengan gagah berani tentang perjuangan kaum buruh dan tani, tetapi sesudah Desember 1905 meratap ala gaya orang liberal: “(s)emestinya mereka jangan angkat senjata.”
Selain itu, Lenin menyatakan bahwa Marx menganggap Komune Paris sebagai pengalaman sejarah dengan arti penting yang luar biasa. Maksudnya adalah memiliki arti penting yang luar biasa sebagai kemajuan tertentu dari revolusi proletariat dunia, sebagai langkah praktis yang lebih penting ketimbang beratus-ratus program dan argumentasi (hlm. 84).
Pada bagian akhir dari tulisannya, Lenin menyatakan bahwa revolusi-revolusi Rusia pada 1905 dan 1917, akan melanjutkan kerja Komune Paris. Tentu dengan keadaan yang berlainan dan di bawah kondisi-kondisi yang berbeda dengan Komune Paris, serta membenarkan analisis sejarah Marx yang brilian (hlm. 107).
Tumbangnya Komune Paris
“Menimbang, bahwa kami terkapar lapar
diam membisu saat kalian beringas merampas
dengan ini kami jernihkan nalar,
bahwa hanya oleh kaca jendela,
kami terpisah dari roti yang entah terhempas.”
— Bertolt Brecht, dalam puisi “Resolution der Kommunarden” (Resolusi Komune)
Komune Paris hanya bertahan selama 72 hari, yakni dari 18 Maret hingga 28 Mei 1871. Komune Paris tumbang karena diserang oleh kelompok reaksioner yang dipimpin oleh Adolphe Thiers, Presiden Republik Prancis Ketiga. Ketika kaum buruh merebut Paris, mereka tidak mengonsolidasikan kekuatan mereka yang terbilang besar itu untuk berbaris ke Versailles dan menuntut penyerahan pemerintahan kaum borjuasi (hlm. 10).
Ya, kaum buruh Paris membiarkan pemerintahan Adolphe Thiers tetap berkuasa. Dengan membiarkan pemerintahan Adolphe Thiers tetapi berkuasa, itu artinya memberikan waktu bagi pemerintahan Adolphe Thiers berunding dengan pihak Prusia untuk mengambil kembali prajurit-prajurit Prancis yang tertangkap, membangun tentara mereka, dan merencanakan penyerangan Paris (hlm. 11).
Kaum komunard—anggota dan pendukung Komune Paris—membangun barikade dan bersiap diri menerima serangan dari pemerintahan Adolphe Thiers. Pada 22-28 Mei 1871, ketika serangan itu tiba, kaum komunard tidak sanggup mempertahankan Paris. Kaum komunard pun semakin terdesak mundur, dan pasukan pemerintahan Adolphe Thiers bertindak brutal dengan membunuh kaum komunard di mana pun mereka berada. Setiap jalanan di Paris menjadi medan perang dan membuat jalanan tersebut menjadi banjir darah.
Pada akhirnya, Komune Paris pun tumbang. Walaupun berjalan singkat, Komune Paris ini menjadi pelajaran penting bagi revolusi proletariat selanjutnya. Komune Paris memang telah tumbang sejak 154 tahun yang lalu—terhitung sejak 2025, tetapi ide-idenya akan terus hidup alias abadi di setiap perjuangan rakyat tertindas.
Vive la Commune!
Vive la Commune de Paris!
*Ulasan buku berjudul Komune Paris 150 yang ditulis oleh Vijay Prashad et al. dan diterjemahkan oleh Ronny Agustinus et al. (Tangerang: Marjin Kiri, 2021).
Editor: Ivo Trias Julianno
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








