Tabir Gelap Trikora Bagian II: Misi-misi Khas Kolonialisme “Mem-barbar-kan Bangsa yang Ditarget”*

Penulis

Belanda, Amerika Serikat, dan juga Indonesia, dalam hal ini, memiliki cara pandang yang sama terhadap bangsa Papua: ‘primitif’ dan ‘terbelakang’. Ini terbukti lewat perilaku negara-negara tersebut pada bangsa Papua. Kennedy, dalam Poulgrain, mengatakan secara terang-terangan bahwa Tanah Papua berisikan ‘orang-orang primitif’. 

Belanda juga sama, mereka menilai bangsa Papua adalah bangsa terbelakang, tak beradab, dan tak terdidik sehingga mereka merasa perlu untuk mengayomi bangsa Papua. Indonesia, sampai hari ini, tak ada bedanya. Negara yang konon menjunjung tinggi adab ketimuran ini masih saja mendiskriminasi bahkan menjajah bangsa Papua secara gamblang tanpa rasa bersalah sedikit pun. 

Tujuan negara-negara penjajah ini juga sama; mau mengeruk habis sumber daya di Papua. Belanda sejak 1930-an sudah tahu bahwa tanah Papua adalah tambang emas terbesar di dunia, lebih dari tambang-tambang yang ada di Afrika. Indonesia pada masa konflik kedaulatan Papua tahu bahwa di Papua terdapat banyak sumber minyak bumi, dan lewat AS mereka tahu bahwa di Papua juga terdapat tambang emas. 

AS, yang paling kurang ajar, di tengah konflik kedaulatan, mereka sempat mengirim tim peneliti minyak bumi ke Papua. AS lebih jauh lagi mengeksplorasi kebudayaan Papua dan membawa banyak artefak untuk dipajang di museum. AS adalah negara pertama yang memfitnah orang-orang Papua sebagai ‘kanibal’.

AS menang telak dalam konflik ini. Mereka berhasil mengeruk Papua lewat Indonesia sebagai jalan masuknya, dengan memanfaatkan obsesi persatuan Sukarno terhadap Papua. AS juga berhasil menggulingkan rezim Sukarno dengan menunggangi TNI AD. Setelah Sukarno jatuh, AS memulai semua rancangan bisnisnya di Papua. 

Freeport adalah bukti nyata bahwa AS mengeksplorasi dan mengeksploitasi tanah Papua. 

 

Taktik Imperialis AS Menggenggam Papua

 

Michael Rockefeller (23 tahun), anak laki-laki Gubernur Kota New York, Nelson Rockefeller, hilang di wilayah pantai di selatan Papua pada 18 November 1961. Peristiwa itu terjadi ketika dia sedang mengumpulkan artefak untuk museum bapaknya. Media di seluruh dunia menulis bahwa ‘orang-orang kanibal’ di Irian Barat sudah ‘memakan’ Michael Rockefeller, “memakan dagingnya di pantai dengan sagu.” 

Tuduhan ini pertama kali dikeluarkan oleh tim eksplorasi minyak yang sedang bekerja di wilayah yang sama tempat Rockefeller hilang. Tim eksplorasi ini adalah sebuah perusahaan cabang dari grup minyak Rockefeller yang setiap hari berkomunikasi dengan Michael Rockefeller.

Pada 1961, motif politiklah yang mendasari penduduk Papua dikenal sebagai orang yang primitif, suka perang dengan orang yang tidak disukai. Richard Archbold, seorang pejabat penting dari Standard Oil yang pernah mengunjungi Papua pada 1938, sebelum perang dunia, menggambarkan tanah dan penduduk di sana dengan ‘Shangri-la’—pemandangan lahan pertanian yang damai—jauh dari penjelasan tentang orang asli yang doyan perang yang digembar-gemborkan media saat itu.

Rene Wassing, seorang antropolog Belanda, menjelaskan bagaimana dia bersama tiga orang lainnya bepergian dengan kapal yang dibangun dari dua kano yang diikat. Michael Rockefeller menambah sebuah papan rata di bagian atas perahu, menyebabkan sampan susah diarahkan karena keseimbangannya terganggu, dan ditambah atap untuk berteduh. 

Kapal menggunakan tenaga mesin dari motor kecil. Setelah menyeberangi muara seluas lebih dari 24 km (kata Wassing) dan sekitar beberapa ratus meter dari tujuan, kapal terbalik. Ombak yang datang menyebabkan kapal miring melawan arus yang keluar dari sungai. Dua orang polisi Papua itu memutuskan untuk berenang ke tepian guna mencari pertolongan. 

Kedua polisi itu menghadapi kekuatan sungai Eilanden yang berarus sangat kuat dan berbahaya, meninggalkan Michael dan Rene yang pasrah berpegangan pada kapal yang terjungkir. Beberapa jam kemudian, ketika Wassing dan Rockefeller mengapung di laut, mereka melihat dari jauh, dua orang polisi itu telah mencapai daratan. 

Sepanjang sore hingga malam hari, kapal yang terbalik itu mengapung di lautan Arafura. Keesokan paginya, Michael panik. Wassing memintanya agar tidak meninggalkan kapal, dan berusaha menentramkan hatinya dengan meyakinkan bahwa dua orang polisi itu pasti telah memberitahu otoritas Belanda. Wassing menekankan pentingnya untuk tetap berada di kapal.

“Kami tidak melihat daratan di arah manapun,” kata Wassing. Tanah pesisir terlihat datar—wilayah yang luas dengan lumpur dan sungai-sungai menjulur dari pedalaman lebih dari 128 km sebelum kaki gunung pertama. Keputusan Michael Rockefeller untuk meninggalkan kapallah yang menyebabkan kematiannya. Kematian yang kelak menyebarkan fitnah sekaligus menyebabkan tragedi besar untuk rakyat Papua.

Ketika media internasional datang ke tempat terpencil itu, tim eksplorasi minyak menyebarkan rumor bahwa orang kanibal telah memakan Michael Rockefeller. Mereka menceritakan bahwa kapal terbalik saat menyeberangi sebuah sungai dan mestinya mereka hanya perlu berenang ke tepian sungai untuk mencapai daratan. 

Michael Rockefeller adalah perenang yang handal. Kenyataannya, arus di muara tidak memberi mereka kesempatan untuk mencapai tepi sungai. Kedua polisi itu berenang untuk keluar dari arus, tidak melawan arus, kemudian ke arah pantai melalui laut. Meskipun pantai hanya beberapa ratus meter jauhnya dari daratan, dua polisi itu membutuhkan waktu empat jam untuk berenang dan mencapai daratan dengan arah diagonal. Jika tidak, maka arus akan membawa mereka ke laut lepas.

Hilangnya Michael Rockefeller dengan cara yang sama terbungkus rapat, tertutup kemungkinan adanya penjelasan lain dalam pertemuan media dan dampak politik dari kehilangan itu.  Hingga akhirnya rumor khas penjajahan diciptakan dan menjadi tragedi tetap bagi rakyat Papua. Berita kehilangan tentang ‘kematian yang disebabkan oleh kanibalisme’ adalah alat politik imperialis yang sengaja digunakan untuk menyangkal penentuan nasib sendiri. Sebab mereka dinarasikan ‘tidak beradab’, maka perlu ‘pihak beradab’ untuk ‘membimbingnya’. 

* Seluruh isi dalam artikel ini masih merujuk pada buku Bayang-Bayang Intervensi, Greg Poulgrain.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *