Memutus Rantai Kepalsuan!

Penulis

Perasaan Ibnu bercampur aduk—antara rasa girang juga penasaran. Sejak dinyatakan lulus seleksi beberapa waktu lalu, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kampus.

Turun dari angkot, ia menyeberangi jalan dengan langkah bersemangat. Begitu melewati gerbang utama, pandangannya tertuju pada mahasiswa yang lalu-lalang sambil menenteng buku. Menoleh ke sisi kiri, ada taman kecil yang asri. Di bawah pepohonan yang rindang, ada sekelompok mahasiswa duduk melingkar sambil berdiskusi.

“Wah… sepertinya benar. Kampus memang tempatnya masyarakat ilmiah!” gumam Ibnu dengan kagum.

Ia melanjutkan langkah, menyusuri lingkungan barunya yang terasa asing juga menantang. Gedung-gedung tinggi menjulang, koridor megah yang berisi kejutan-kejutan kecil. Pelataran fakultas yang ramai dipenuhi mahasiswa yang bercengkerama. Setelah beberapa saat, Ibnu beristirahat sebentar di sebuah warkop kecil yang terletak paling ujung.

Duduk sendiri dengan segelas kopi. Ia merasa seakan berada dalam labirin, saat mendengar obrolan tiga pria di meja sebelah. Semakin menyimak, ia mengernyitkan dahi. Kepalanya terasa berat, dadanya terasa sesak. Bukan karena asap rokok yang mengepul, melainkan istilah-istilah yang terdengar asing baginya.

Tak tahan lagi. Akhirnya ia menginterupsi, “Permisi, Bang. Saya mau bertanya? Apa itu dekonstruksi? Dan… apa maksudnya epistemologi?”

Salah satu dari mereka menoleh sambil tersenyum. “Oh, epistemologi itu cabang filsafat yang mempelajari sumber pengetahuan manusia—bisa juga dibilang genealogi pengetahuan. Sedangkan dekonstruksi, itu metode pembongkaran untuk mengurai sebuah makna,” jelasnya tenang.

Mengangguk pelan. Ibnu bertanya lagi, “Filsafat? Genealogi? Apa itu?”

“Filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan,” jawabnya lagi, “dan genealogi itu tentang asal-usul.”

Tawa ringan pecah, situasi sedikit mencair. Salah satu dari mereka memberi gestur memanggil. Ibnu pun bergeser, mendekat dan perkenalan pun dimulai. Ketiga orang itu bernama Sofyan, Asril, dan Rafiz.

“Dari pertanyaanmu, kelihatannya kau mahasiswa baru, ya?” kata Sofyan sambil menepuk bahu Ibnu. “Kalau kau tertarik berfilsafat, belajar memimpin, dan ingin punya relasi luas. Ayo! Bergabung dengan organisasi kami.”

“Kau tahu?” sambung Asril. “Setahun setelah Indonesia merdeka, organisasi ini didirikan. Ini adalah organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia, punya cabang di mana-mana.”

Ibnu lalu tersenyum. “Hmmm… sepertinya menarik. Terima kasih atas tawarannya. Mungkin minggu depan, saat PKMB, saya akan kabari.”

Selepas obrolan. Ibnu menjabat tangan mereka, berpamitan pulang. Di perjalanan menuju ke rumah, Ibnu terus memikirkan ajakan itu, pikirannya berkelana—ia yang semula hanya menargetkan kuliah tepat waktu, lulus S1, lalu mencari kerja, mulai mempertanyakan kembali tujuan awalnya: apakah hanya itu yang kuinginkan dari dunia kampus?

***

Di hari terakhir kegiatan Pengenalan Kampus untuk Mahasiswa Baru. Panitia memberikan panggung untuk tiap perwakilan organisasi.

Dari atas mimbar, teriakan: “Hidup mahasiswa!” dan “Hidup rakyat!” menggema. Retorika berapi-api dibalut slogan-slogan progresif, romantisme sejarah yang heroik dan beribu alasan mengapa mahasiswa perlu berorganisasi.

Terbentang sebuah spanduk yang bertuliskan:

“Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”
-Pramoedya Ananta Toer-

Ibnu terpaku. Rasanya ada sesuatu yang bergetar dalam jiwanya. Namun, masih sedikit bimbang antara memilih organisasi yang berhaluan nasionalis atau berhaluan Islam.

Belum sempat memutuskan. Tiga orang yang sebelumnya ia jumpai—Sofyan, Asril, dan Rafiz—muncul di tengah keramaian. Mereka menghampiri Ibnu, untuk menagih janji kemarin.

“Hai Ibnu. Bagaimana? Apakah kau sudah tertarik? Jangan lupa janjimu kemarin!” kata Rafiz sambil menodongkan selembar formulir di depan wajah Ibnu.

Tertegun. Tidak ada lagi alasan untuk mengelak. Ibnu menerima formulir itu dan menuliskan identitasnya.

Dalam hatinya, ia berbisik pelan.

“Sebenarnya saya belum punya keputusan untuk memilih. Tapi, tak apalah… mungkin inilah jalannya. Semoga ini organisasi yang tepat dan bisa membentukku menjadi lebih kritis.”

***

Perkaderan tingkat dasar berlangsung selama empat hari. Para peserta disajikan berbagai materi: Dasar-dasar Ilmu Borjuis, Kepemimpinan-Organisatoris Perspektif Kanda Barbar Tanjung, Pengantar Filsafat, hingga Tata Cara Menjadi Reaksioner. Seluruh rangkaian ditutup dengan pembaiatan yang berlangsung khidmat. Bagi Ibnu dan teman-teman, pengalaman ini rasanya seperti memasuki dunia baru.

Pasca pengkaderan, rasanya seperti sedang berbulan madu. Ibnu digembleng dengan aktivitas membaca, diskusi dan demonstrasi. Ia sangat menikmatinya. Meski terkadang, perintah dari senior terasa begitu menyebalkan.

Menjalani hiruk-pikuk kehidupan kampus. Cara pandangnya mulai berubah. Hampir segala hal diragukan, pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan. Tak jarang pula, sebagian orang menganggapnya aneh, gila, karena bertanya sesuatu yang melampaui batas.

Bersama Zidan dan Wawan. Ibnu pernah membuat sebuah geng dengan nama “Tiga Pendekar Kesiangan”. Geng ini sangat terkenal, karena melakukan aksi-aksi nekat. Salah satunya, saat mereka membajak toa masjid di kampus, orasi bergiliran mengkritik rektor.

Aksi ini membuat rektor murka. Surat keputusan nomor: 1947/002/005 pun dikeluarkan, agar memberikan efek jera. Nasib tiga pendekar berada di tepi jurang, hanya pasrah. Namun, petinggi kampus kembali mencabut surat itu, berkat gertakan Kanda Bahlul.

Merasa berhutang budi. Zidan dan Wawan akhirnya pergi ke Jakarta. Selain mengabdikan diri untuk Kanda Bahlul, mereka berdua mengikuti perkaderan tingkat menengah demi menyandang gelar Neo-Machiavelli.

***

Sejak kembali dari Jakarta. Cara pandang Zidan dan Wawan berubah. Membaca, berdiskusi, dan turun ke jalan perlahan mereka tinggalkan—dianggap tabu. Setiap kali bertemu Ibnu, pembicaraan mereka tak lagi soal buku atau kondisi sosial yang timpang, melainkan tips-tips menjadi pesilat lidah yang handal.

“Ada profesor dari Berlin yang bilang begini,” kata Zidan dengan suara lembut, tapi menusuk. “Mereka yang tak pernah kritis saat muda berarti tak punya empati. Tapi mereka yang tetap kritis sampai tua, berarti tak punya otak.”

Ibnu menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan.

“Jadi, sampai kapan kau terus begini, Ibnu?” Wawan menyambung. “Kalau kau masih bertahan itu sia-sia, percuma saja. Idealisme Cuma buang-buang waktu. Kau tak akan jadi orang besar.”

“Silakan saja. Itu pilihan kalian. Tapi, saya akan tetap seperti ini,” jawab Ibnu tenang.

Mendengar itu, Zidan dan Wawan tertawa terbahak-bahak. Ibnu hanya terdiam. Dalam benak, ia merasa ada yang tidak beres. Mereka bukan lagi Zidan dan Wawan yang sebelumnya ia kenal.

Usut punya usut, itu karena materi sakral yang mereka dapat saat di perkaderan menengah: Kiat Sukses Punya Lidah Bercabang-cabang dan Seni Berbicara Mengubah Kotoran Jadi Makanan.

Konon, bagi kader yang telah menerima materi tersebut. Kelak akan diangkat sebagai tuan-tuan kecil.

***

Lambat laun, satu per satu mulai menghilang. Teman seperjuangan, senior yang disanjung, perlahan terseret ke dalam jurang kemunafikan. Organisasi yang awalnya dielu-elukan bak rumah sendiri, kini menampakkan wajah aslinya. Ibnu sadar, ia adalah korban retorika senior. Pertanyaan yang lama dipendam, akhirnya terjawab. Begitu juga dengan tirai-tirai kebohongan yang tersingkap.

Di momen musyawarah, syahwat untuk berkuasa diutamakan. Saling sikut-sikutan dengan praktik seniorisme-gerbongisme paling busuk dari yang terbusuk. Sebuah tontonan yang memuakkan, namun dianggap lazim.

Ibnu pun tak luput dari godaan. Ada yang mencoba untuk membujuknya agar masuk ke dalam lingkaran setan. Namun, ia memilih bertahan. Sebab baginya, pengetahuan seharusnya membangun kesadaran dan menjadi alat untuk membebaskan—bukan menggadaikan harga diri untuk menumpuk kekayaan.

***

Tibalah saatnya. Para kader menyambut kedatangan Anas Urbanisasi, alumni dan eks koruptor yang dielu-elukan layaknya seorang pahlawan revolusi dari medan perang. Sorak-sorai, tepuk tangan membahana, juga rasionalitas yang diinjak-injak tanpa ragu.

Ibnu tahu, ini sangat tidak pantas. Ia mengambil sikap yang berbeda, dengan memuntahkan unek-uneknya melalui sebuah tulisan yang dimuat di media massa. Tulisan yang disumpahi dengan kecaman.

Sungguh malang nasibnya. Alih-alih tulisan dibalas dengan tulisan. Ia justru disambut bogem mentah dari sang ketua umum.

“Kau pantas mendapat ini!” bentak ketua umum itu, dengan amarah. “Kritismu sudah melampaui batas, Ibnu. Kau sudah keterlaluan!”

Ibnu hanya bisa menggelengkan kepala, sambil menatap lurus dengan pandangan getir.

“Cukup sudah… kesadaran palsu ini,” katanya lirih, namun tegas. “Kalian tampak seperti hewan yang lehernya dirantai, ditarik ke sana-kemari oleh tuannya. Cuihh… menjijikkan!”

Atas kejadian itu. Beberapa kader tampak goyah. Ada yang pura-pura tak mendengar. Meski dalam hati mereka terketuk. Namun, lagi-lagi rasa takut, rasa dilema untuk bersikap membuat mereka terbelenggu dan hanya bisa mendongkol.

Bertahan adalah sesuatu yang muspra! Apalagi organisasi memang sudah penyakitan. Organisasi yang berlagak kritis, objektif, tetapi merenggut kebebasan para kader yang berani untuk beda—seakan perbedaan itu haram hukumnya, mendapat dosa.

Tiap tahun mahasiswa direkrut dengan kesadaran palsu yang dibalut retorika manis. Diajarkan untuk tunduk dan mengekor pada penguasa, merawat status quo dan disiapkan menjadi calon penindas baru.

Keluar adalah keharusan! Inilah keputusan yang Ibnu pilih.

***

Beberapa organisasi mulai meliriknya. Ibnu tahu persis. Meski wajah yang ditampilkan bercirikan nasionalis maupun Islam. Organisasi-organisasi itu berada di barisan aktivisme komprador—sibuk melayani kepentingan elite, menjadikan idealisme sebagai kedok mencari cuan.

Tak mau lagi terjatuh di lubang yang sama. Ibnu bergabung di Komite Perjuangan Rakyat & Mahasiswa, sebuah embrio dari partai revolusioner yang berjuang untuk emansipasi kelas melalui agenda pengorganisiran kaum buruh, tani, mahasiswa, hingga rakyat miskin desa maupun kota. Organisasi yang membuka ruang untuk ide-ide dan gagasan progresif tumbuh. Tak ada senioritas, semua adalah kawan juang. Menjadi bagian dari organisasi perjuangan, Ibnu paham betul. Pertentangan antara kelas penindas dan yang ditindas bukanlah sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Bersama kawan-kawan, ia yakin Internasionale pasti di dunia!

Sorong, 31 Oktober 2025


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *