Lahirnya Perasaan Realisme
Judul esai ini menjadi pertanyaan paling mengganggu yang selama ini menggentayangi pikiran saya, setidaknya setelah saya membaca ungkapan Mark Fisher, “We know that things are bad, but more than that, we know that we can’t do anything about it.” Capitalist Realism, begitulah judul buku di mana Fisher menuliskan ungkapan gelap itu, menjelaskan anasir-anasir suram tentang sukarnya perubahan radikal di zaman yang ia sebut sebagai Realisme Kapitalis.
Singkatnya, realisme kapitalis merujuk pada kondisi di mana kapitalisme telah menotalitaskan dirinya ke dalam semua sisi kehidupan manusia, mulai dari budaya, politik, ekonomi, bahkan kondisi bawah sadar kita. Sistem ekonomi global tidak ada yang lain selain kapitalisme–the only boss in town. Hampir tidak ada yang bisa lepas dari sistem ekonomi ini jika tak ingin terlumat persaingan pasar bebas global, bahkan sang raksasa komunis Uni Soviet pun menjadi kurbannya.
Dalam politik, sulit untuk mendongkel aturan main politik yang dikuasai birokrat dan kapitalis. Kenyataan ini sangat terang terlihat di banyak negara kapitalis, seperti Indonesia sendiri, yang elitnya punya relasi dekat dengan guyuran modal para kapitalis yang bisa memengaruhi pembentukan kebijakan negara. Sementara budaya pun juga tak jauh bedanya: budaya populer sumpek dengan komodifikasi, di mana kreativitas dikontrol oleh algoritma pasar. Dalam lanskap seperti ini, perlawanan mudah luntur menjadi sekadar estetika dan objek konsumsi.
Bagian paling ngeri tentu pada alam bawah sadar kita, dan itu tercermin pada hampir segala bentuk institusi sosial dan produk budaya yang kita ciptakan saat ini. Fisher pernah bilang, “It is easier to imagine the end of the world than the end of capitalism.” Dalam film-film apokalipsis, peradaban manusia hancur karena bencana alam, invasi alien, perang nuklir, atau virus zombie, bukan krisis ekonomi–kecuali jika Karl Marx yang menyutradarainya. Ketika kita masih kecil pun, tentu kebanyakan orang tua mewejangi kita untuk mencari pekerjaan yang stabil dan (jika mampu) gajinya besar. Selepas sekolah atau sarjana, mencari uang, kawin, dan pensiun adalah keniscayaan hidup yang masuk akal daripada melakukan hal-hal gila yang tak bisa diterima akal sehat masyarakat, menjadi seorang punk misalnya.
Sejak halaman pertama membaca buku itu, saya merasa murung. Saya harus jujur pada diri sendiri kalau memang perubahan politik tak seindah kisah-kisah heroik Revolusi Oktober dan kejatuhan rezim-rezim zalim yang lampau lalu. Pun jika perubahan itu terjadi begitu dramatisnya dengan “kekuatan rakyat” yang agung, belum tentu juga penindasan yang kita lawan itu benar-benar hilang. Struktur fundamental dari kerangka penindasan itu belum tentu berganti, dan barangkali hanya berubah rupa saja–seperti Reformasi yang saat ini identik dengan kekecewaan, sebab buah kesejahteraan ekonomi hanya dipetik untuk elite itu-itu lagi, dan demokrasi yang dijanjikan itu perlahan kembali redup.
Kondisi ini sangat personal bagi saya, dan barangkali Anda juga. Saya mengakui bahwa saya bukan aktivis yang turun ke jalan setiap ada aksi atau yang aktif berkampanye lewat organisasi progresif. Saya adalah seorang yang sedang ditampar habis oleh realitas menjadi seorang pekerja, yang hidupnya keluar jauh dari idealisme yang membentuk saya ketika menjadi mahasiswa. Hidup mengandalkan kaki-tangan sendiri, jauh dari rumah, dan tak lagi melahap masakan ibu, membuat saya hidup dalam mode bertahan hidup sehari-harinya. Saya dapat gaji, dan saya harus mengatur pengeluaran untuk setiap kalori yang masuk ke perut saya agar ada uang yang bisa ditabung untuk menikah nanti. Transisi saya sebagai mahasiswa dengan semangat muda ke seorang pekerja yang terintegrasi langsung pada proses produksi kapitalis membuat saya sadar, bahwa seringkali saya harus berkompromi dengan sistem yang sering saya kritik habis untuk sekadar bertahan hidup.
Saya menjadi sadar perasaan sesama proletariat yang hidupnya benar-benar didedikasikan untuk menyulap upah menjadi daya hidup untuk saat ini, besok, dan 50 tahun lagi. Menjadi seorang pekerja nine to five yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam seminggu untuk bekerja, membuat saya semakin jauh dari ingar-bingar perubahan sistemik yang agung itu. Segala hasrat berjuang atas perubahan yang jadi asa kita bersama, terbentur dengan keharusan untuk bekerja.
Belum lagi gerakan sosial kita yang jalan di tempat. Berkali-kali aksi turun ke jalan, tapi hasilnya sama saja. Negara berkompromi sebentar, melakukan tindakan performatif, lalu kembali ke business as usual. Kekalahan-kekalahan politik emansipatoris yang sering terjadi itu menjadi hantaman palu godam yang menambah krisis eksistensial saya.
Namun, apakah semua kondisi ini membuat saya, dan kita semua, masih layak memperjuangkan perubahan struktural itu?
Krisis Gerakan Kiri
Saya sebenarnya pernah menyinggung persoalan ini dalam esai Kiat Waras Menghadapi Indonesia Gelap (2025) yang terbit di Omong-omong Media. Saya membicarakan banyak tentang bagaimana menjaga kewarasan dalam menghadapi kekalahan politik berkali-kali, seperti kegagalan banyak aksi massa belakangan ini. Salah satu cara yang saya tawarkan adalah dengan membangun kapasitas untuk terus berjuang tanpa mengandalkan harapan dan menjadi seorang pahlawan absurd Camusian. Namun, solusi yang ditawarkan esai tersebut masih agak sedikit metafisik, walau tidak kebangetan juga. Sebab itu, saya mencoba mengelaborasikan sikap hidup itu dengan lebih membumi. Untuk menjawabnya, kita perlu menengok kembali diskurusus gerakan emansipatoris dewasa ini.
Pergerakan di Indonesia dewasa ini bisa dikata sedang buntu. Ia cepat tersulut, sekaligus cepat redup. Barangkali Abdil Mughis Mudhofir dan beberapa koleganya menjadi kritikus paling tekun terhadap kebuntuan pergerakan di Indonesia. Sejak esai Aktivisme Borjuis: Mengapa Kelas Menengah Reformis Gagal Mempertahankan Demokrasi? (2021) sampai Bahaya Laten Gerakan Rimpang (2025), ia selalu berhasil memicu orang lain mengetik tulisan balasan untuk mendebat tesis intinya: untuk berhasil melakukan perubahan struktural, gerakan sosial di Indonesia memerlukan organisasi politik yang terstruktur dengan program politik jangka panjang yang jelas dan berkelanjutan. Corak gerakan yang saat ini sering membakar jalanan ia sebut sebagai gerakan sosial borjuis yang dipelopori oleh kelas menengah, salah satunya para mahasiswa yang kerap mengisi barisan depan demonstrasi besar.
Memang kadang kala momen ia mengkritik gerakan itu kurang tepat, seperti dalam balasan Fathimah Fildzah Izzati yang berjudul Mengapa Gerakan Perlawanan di Indonesia ‘Begini-Begini Saja’? (2024), sebab kritik Mudhofir jadi terdengar antipati pada gerakan yang sedang panas-panasnya. Lepas dari itu, tesis Mudhofir ada benarnya: realistisnya, gerakan yang terorganisir dan punya visi politik jelas lebih efektif daripada gerakan besar yang spontan, laiknya partai-partai kepeloporan yang memenangkan revolusi di negeri tiran. Sebagian bukti historis seperti Revolusi Oktober, Revolusi Kuba, Revolusi Cina, dan Revolusi Indonesia sendiri tidak lepas dari aksi kelompok politik yang terorganisir dengan proyek politik jangka panjang. Sementara itu, gerakan rakyat yang spontan memang juga mampu berhasil, tapi sangat rawan dikooptasi oleh elite yang memenangkan pertikaian internal mereka.
Mudhofir benar dalam mendiagnosis kebutuhan kepemimpinan oposisi yang terorganisir. Namun, tesisnya berdiri pada kondisi material yang belum memadai bagi lahirnya kepemimpinan politik oposisi yang kuat, setidaknya untuk saat ini. Dalam esai lain saya, “Nasionalisme Kiri, Mungkinkah?” yang terbit di SalingZineau Vol. 2 pada Oktober 2025, kesulitan membangun gerakan politik dengan disiplin organisasi disebabkan oleh terseok-seoknya gerakan kiri di Indonesia sejak Genosida 1965/1966. Lain itu, gerakan sulit berderap dalam barisan rapi karena ketiadaan musuh bersama yang membentuk satu identitas kuat dalam tubuh oposisi. Partai-partai radikal, seperti PNI dan PKI, terbentuk dalam zaman radikalisasi yang ditandai oleh kelahiran konstruksi identitas bangsa Indonesia yang beroposisi terhadap common enemy pemerintahan kolonial Belanda. Ketiadaan anasir-anasir di atas dalam politik saat ini menyebabkan gerakan yang sporadis dengan identitas yang rapuh dan sulit terorganisir dalam jangka panjang.
Permasalahan yang Mudhofir bahas pada dasarnya menjadi soal yang belum tuntas dipikirkan para marxis di dunia ini. Chantal Mouffe dan Ernesto Laclau dalam Hegemony and Socialist Strategy (2001) melihat gerakan marxis sedang diambang krisis, sebab ia gagal membaca transformasi kapitalisme lanjut dan kemunculan subjek-subjek politik baru di luar kelas proletariat industri. Karenanya, marxisme baru harus membayangkan bentuk gerakan yang melampaui politik perjuangan kelas yang rigid. Laclau dan Mouffe mengusulkan populisme kiri untuk melampaui pendekatan kelas marxis. Perjuangan kelas berkembang menjadi perjuangan hegemoni untuk menentukan makna politik yang dikontestasikan. Misalnya nasionalisme yang identik dengan kelompok kanan dapat diisi maknanya menjadi identik dengan gerakan kiri, seperti gerakan Marhaenisme-nya Soekarno dan Murba-nya Tan Malaka. Perjuangan Hegemoni tidak menihilkan perjuangan kelas yang jadi ruh marxisme, pun juga pada organisasi politik yang disiplin, melainkan memperluas antagonisme politik ke kelompok politik dan artikulasi tuntutan yang lebih beragam, merentang dari perjuangan ekonomi sampai identitas yang umum terjadi di abad-21.
Konsekuensi dari populisme kiri adalah longgarnya organisasi dan identitas kelompok politik yang terlibat. Hal ini bukan melulu soal gerakan mengambil bentuk partai kepeloporan dengan tingkat kedisiplinan ideologi yang tinggi laiknya dalam Leninisme. Dalam hal ini, hegemoni dibangun dengan menyatukan ragam macam tuntutan dari kelompok yang berbeda, dari kalangan buruh, perempuan, kelompok marjinal, aktivis lingkungan, dan lain sebagainya, ke dalam satu narasi kolektif yang menantang kekuasaan dominan.
Bagian yang cukup penting adalah konsensus para subjek politik pada suatu common cause, yang menyeragamkan mereka pada satu posisi perjuangan yang Laclau sebut sebagai The People. Politik hegemoni Laclau dan Mouffe menekankan formasi identitas yang cair tanpa proyek politik yang meniscayakan revolusi kilat seperti dalam marxisme klasik. Patut dipahami bahwa mereka tak menyerah pada kemungkinan politik radikal yang menuntut perubahan struktural. Lebih tepatnya, politik radikal itu tetap menjadi perjuangan bersama kelompok kiri, tetapi metode pergerakan, komposisi subjek politik yang terlibat, dan bagaimana perubahan itu terjadi tak lagi kaku pada metode perjuangan marxis klasik.
Pembacaan pasca marxis adalah upaya mencari jalan keluar dari kebuntuan internal gerakan marxis saat ini. Dalam ketiadaan proyek politik kiri yang benar-benar mampu bersaing dalam politik arus utama, dan pengingkaran janji akan terjadinya revolusi yang agung, proyek politik yang tersedia tidak memiliki tujuan yang tuntas diramu dalam doktrin, melainkan suatu formasi politik tanpa kesatuan identitas dan janji perubahan radikal yang definitif. Ia terus membentuk, terpecah, dan berubah. Proyek hegemoni kiri lebih jujur untuk anatomi politik kita saat ini, tetapi tentu saja, dalam praktiknya, kita tak bisa menuntut janji.
Dalam hemat analisis ini, tesis Mudhoffir mengenai gerakan politik yang terorganisir dan disiplin itu tetap menjadi suatu kemungkinan, tetapi tidak dapat ditotalitaskan sebagai suatu pemaksaan strategi pergerakan dalam konteks kondisi material yang belum memadai saat ini. Sebaliknya, kita patut mengeksplorasi berbagai kemungkinan pergerakan dan mengapresiasi setiap eksperimen yang lalu, baik yang gagal, setengah berhasil, maupun yang benar-benar berhasil.
Proyek politik Laclau dan Mouffe, walaupun terdengar masih begitu abstrak dan tak menawarkan step by step laiknya karya Lenin dan Mao, setidaknya menggambarkan kemungkinan akan spirit baru. Terlepas amat susahnya membangun kontra hegemoni dalam kapitalisme yang sudah terlanjur menoalitaskan diri, mandala perjuangan dalam perlawanan-perlawanan anti-kapitalis masih terus terbuka untuk dielaborasikan oleh kekuatan-kekuatan anti-kapitalis, walau seringkali ia tidak berpadu suara, saling menegasikan, dan tak kalah sering terkooptasi oleh kapitalisme itu sendiri.
Saya percaya–terlepas dari lambannya perjuangan kita berjalan, dihancur-remukkan berkali-kali oleh para reaksioner, dan sebagaimana sepertinya perubahan itu menjadi Ratu Adil yang tak pernah datang untuk menyelamatkan kita–perubahan itu tetap ada selama kita mau merebutnya; tanpa janji dan hanya dengan aksi kolektif yang bentuknya terus berubah-ubah merebut kemenangan yang menjadi hasrat terdalam manusia itu.
Dari Realisme Kapitalis ke Realisme Utopia
Realisme kapitalis, sebagaimana yang telah dijelaskan di muka, teramat murung karena ia membicarakan tentang era di mana kapitalisme menuntut segala celah perlawanan dan imajinasi yang mendasari upaya penghancurannya. Namun, Fisher sebenarnya tidak pesimis amat dalam menulis buku itu. Di akhir bukunya, ia percaya bahwa Realisme Kapitalis masih dapat dihadapi. “The tiniest event can tear a hole in the grey curtain of reaction which has marked the horizons of possibility under capitalist realism.” Ungkap Fisher. Solusi Fisher masih abstrak, tapi poinnya jelas: bahwa perubahan dapat terjadi melalui beragam cara, bahkan dalam peluang paling kecil sekalipun.
Untuk mengelaborasikan ungkapan Fisher dan pembicaraan kita yang panjang lebar tentang politik hegemoni Laclau dan Mouffe, saatnya kita beralih ke persoalan yang lebih membumi. Barang kali, salah satu pemikir yang tepat menjadi rujukan praktis dari analisis di atas adalah pemikiran Erik Olin Wright tentang utopia. Dalam Envisioning Real Utopia, Wright menawarkan tiga skenario mencapai utopia:
- Ruptural, penghancuran total sistem dan cepat, biasanya melalui revolusi. Skenario ini tidak hanya sulit dengan realita kapitalisme yang telah mapan, tetapi juga menciptakan kesengsaraan bagi masyarakat banyak karena perubahan yang terjadi begitu cepat dan risiko dekadensi pada sistem yang tidak stabil.
- Interstisial, perubahan terjadi pelan-pelan dengan mengeksploitasi celah-celah dalam sistem di mana perlawanan mungkin terjadi, seperti tanaman yang tumbuh di antara retakan beton. Contoh implementasi dari strategi ini adalah kolektif anarkis di perkotaan atau website open source seperti Sci-Hub dan Library Genesis.
- Simbiotik, perubahan diperjuangkan melalui kerja sama dengan negara atau institusi lainnya untuk menciptakan transformasi yang berpihak pada kepentingan rakyat dan gerakan emansipatoris lainnya, misal dengan menuntut jaminan sosial, pendidikan gratis, dan lapangan kerja yang layak.
Pendekatan Interstisial dan Simbiotik dalam realisme utopia Wright memberikan napas baru pada biner revolusi atau menyerah pada kegagalan politik. Sebagai seorang proletariat yang hidupnya baru dimulai setelah jam lima sore dan terbiasa melihat kekalahan gerakan politik emansipatoris, mengimajinasikan perjuangan yang tak melulu mengharuskan kita berdiri di barisan depan demonstran tiap hari, adalah keniscayaan untuk menjaga asa pada perubahan yang kita inginkan itu. Kita tak lagi harus bergantung harapan pada perubahan struktural yang tak bisa datang tepat waktu. Upaya-upaya kecil mendekomodifikasi diri, keluar sebentar dari logika kapitalisme, membangun solidaritas antar pekerja di kantor, ikut dalam serikat pekerja, mendukung kolektif progresif, dan berisik di media sosial, menjadi kapasitas yang diperlukan untuk merawat imajinasi radikal dan berpartisipasi pada perjuangan yang perlahan mengikis logika sistem yang menindas kita.
Syahdan, realisme baru ini menjadi pendirian yang sadar pada kemustahilan meruntuhkan kapitalisme dalam satu hentakan, tetapi ia terus konsisten berkata “tidak” pada totalisasi kapitalisme sekaligus perasaan sia-sia yang menghantui kita. Perubahan itu barangkali tak tiba dengan kemenangan teatrikal yang tampak agung. Ia datang melalui akumulasi perlawanan, baik yang terlihat kecil maupun besar, yang terorganisir dan rimpang, yang diemban oleh kita dan generasi selanjutnya, dan yang suatu saat akan meledak menjadi perlawanan besar atau kembali redup untuk mengumpulkan kembali energinya. Ia terus membentuk ulang sistem dan gerakan kiri harus merebut tiap momentum yang tersedia untuk kepentingannya. Selama kita menolak untuk menghabiskan hidup ini menjadi sekrup mesin yang gampang dibongkar-pasang begitu saja, segala bentuk perjuangan tidak pernah sia-sia dan sirna.
Referensi
Abdil Mughis Mudhoffir. (2021, June 9). Aktivisme Borjuis: Mengapa Kelas Menengah Reformis Gagal Mempertahankan Demokrasi? Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/aktivisme-borjuis-kelas-menengah-reformis-gagal/
Abdil Mughis Mudhoffir. (2025, July 5). Bahaya Laten Gerakan Rimpang. IndoPROGRESS. https://indoprogress.com/2025/07/bahaya-laten-gerakan-rimpang/
Erik Olin Wright. (2010). Envisioning real utopias. Verso.
Fathimah Fildzah Izzati. (2024, September 25). Mengapa Gerakan Perlawanan di Indonesia “Begini-Begini Saja”? Project Multatuli. https://projectmultatuli.org/mengapa-gerakan-perlawanan-di-indonesia-begini-begini-saja/
Fisher, M. (2009). Capitalist Realism: Is There No Alternative? Zero Books.
Hartono, L. G. M. (2025a). Kiat Waras Menghadapi Indonesia Gelap. Omong-Omong Media. https://omong-omong.com/kiat-waras-menghadapi-indonesia-gelap/
Hartono, L. G. M. (2025b, October 6). Nasionalisme Kiri, Mungkinkah? – Semut Api Media. Semut Api Media. https://semutapi.id/nasionalisme-kiri-mungkinkah/
Laclau, E. (2005). On Populist Reason. Verso.
Laclau, E., & Mouffe, C. (2001). Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politics. Verso.
Editor: Balqis Nabila
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:





