Langit timur masih merona jingga, tetapi di peternakan sudah riuh oleh suara teriakan Ibu Zed dan kepanikan tetangga. Mereka berkerumun dengan muka sedih melihat seekor ayam kecil berlumuran darah. Ayam itu sudah tidak bernapas dengan kondisi daging terkoyak-koyak, sebelah kaki yang hilang, dan bagian dalam perut berlubang. Banyak ayam berpikir ada ular masuk ke lingkungan mereka, tetapi ada juga yang menuduh musang sebagai pelakunya. Tuduhan itu muncul karena sang musang yang tinggal di hutan belakang peternakan selalu mengawasi diam-diam. Tentu saja sangat mencurigakan.
Anak ayam itu masih terlalu kecil, belum ada satu tahun usianya. Namanya Qin, anak ayam yang selalu riang bermain di depan kandang anjing. Anjing penjaga peternakan memperlakukan anak ayam itu seperti adiknya sendiri, kadang memberikan Qin camilan dari jagung. Setelah kematian Qin, anjing penjaga sering terlihat merenung di depan kandangnya. Mungkin belum bisa melepas kepergian adik kesayangannya yang terlalu cepat.
Aku sebagai ibu juga sedih mendengar kabar yang begitu memilukan seperti ini. Anakku juga seumuran dengan Qin, bahkan sering bermain bersamanya. Setelah kejadian ini, aku jadi lebih protektif dengan anakku. Saat petang, aku sudah tidak membiarkannya bermain keluar rumah, meskipun anakku masih belum puas. Namun, semua ini kulakukan demi menjaga keselamatannya.
Pagi ini aku bertemu Ibu Zed, wajahnya masih lesu seperti sebelumnya. Bahkan terlihat lebih kurus seolah kurang makan. Aku pun menyapanya, “Hai, Ibu Zed, apa sudah sarapan?”
“Belum, Ibu Nes, aku tidak nafsu makan belakangan ini.”
“Tetap saja kau harus makan! Jangan sampai sakit.”
Kelopak matanya yang tampak menghitam pertanda bahwa Ibu Zed sering menangis. Sekarang ini saja ia menumpahkan keresahannya padaku. Aku hanya bisa memeluk dan mengusap punggungnya pelan. “Semoga kau bisa kuat menghadapi ini semua.”
Kepalanya mengangguk. “Terima kasih.”
***
Kehidupan di peternakan masih berjalan seperti biasanya. Kami ayam-ayam diberi makan oleh majikan berupa jagung halus. Di seberang kandang kami ada kandang babi yang makanannya sayur mentah. Sementara anjing penjaga berada di depan mengawasi, barang kali ada tamu yang datang. Kami hidup berdampingan dengan damai tanpa permusuhan.
“Para ayam, kemarilah!” perintah anjing penjaga agar kami lebih mendekat ke pos penjagaan.
Kami ayam yang berjumlah 20 segera mendatangi anjing bernama Kun itu. Ayam betina sepertiku lebih banyak jumlahnya daripada jantan. Karena jantan hanya dibutuhkan untuk mengawini, sementara betina banyak dibutuhkan untuk menjaga anak, menghasilkan telur, dan melestarikan keturunan.
“Ada apa, Pak Kun, memanggil kami?” tanya seekor ibu ayam.
“Keadaan peternakan kita semakin mengkhawatirkan. Kita perlu mengadakan patroli keliling. Apakah kalian bisa ikut serta?”
“Tentu saja, sebagai ayam jantan aku siap membantu,” jawab seekor ayam jantan bertubuh gagah.
“Aku juga ingin ikut berpatroli. Meskipun betina, aku tidak takut untuk memperjuangkan keselamatan kita bersama,” kata Ibu Zed berapi-api.
“Baiklah, aku akan membuatkan jadwalnya nanti. Sekarang kalian boleh bubar. Terima kasih.”
***
Malam itu anjing sudah bersama dengan ayam yang bertugas untuk patroli. Satu ayam jantan dan dua betina seperti tertulis pada jadwal, satu betina tersebut adalah Ibu Zed. Ayam-ayam berpatroli keliling, mengawasi setiap jengkal peternakan sampai ke sekitar kandang babi.
Tak beberapa lama, Ibu Zed berteriak sambil menunjuk ke arah pohon mangga di luar peternakan. Dua ayam di sebelahnya segera melihat arah yang ditunjuk Ibu Zed. Rupanya seekor musang mengintai dengan sembunyi di balik pohon yang lumayan besar itu. Ayam betina segera memberitahu anjing penjaga. Dengan cepat, musang sudah bisa ditangkap untuk diinterogasi di gerbang utama.
“Apa tujuanmu mengintai peternakan ini?” tanya anjing dengan tegas.
“Aku mengawasi sekitar karena takut ada hewan jahat yang menyerang,” jawabnya lirih.
“Kau tidak perlu banyak alasan. Akui saja bahwa kau mengintai kami untuk jadi makananmu!” kata Ibu Zed dengan wajah memerah, sayapnya menegang.
“Aku sungguh tidak pernah memiliki niat untuk memangsa ayam. Di tengah hutan aku selalu mencari burung untuk ditangkap, percayalah padaku.”
“Kami tidak akan pernah mempercayai hewan licik sepertimu,” kata ayam jantan sambil menendang kaki musang.
“Sudahlah, kita lepaskan saja dia. Tidak ada bukti bahwa dia pelakunya,” kata Kun menengahi perselisihan.
Musang itu terlepas dari gigitan anjing yang terlalu kuat dan langsung berlari di tengah gelapnya malam. Meskipun belum pasti musang tersebut adalah penjahatnya, tetap saja semua ayam masih diliputi kekhawatiran. Nyawa mereka masih terancam dengan pembunuh misterius yang terus berkeliaran di peternakan.
“Seperti itulah cerita kami saat berpatroli kemarin Ibu Nes. Apa kau akan mempercayai ucapan musang itu?” tanya Ibu Zed.
“Tentu saja tidak, semua hewan memiliki kemungkinan untuk menjadi tersangka. Kita harus lebih waspada,” jawabku.
“Benar apa yang kau katakan, mari kita saling menjaga satu sama lain. Kalau begitu aku pamit pulang dulu, ya.”
“Baiklah, sampai jumpa.”
***
“Ibu Zed, apa kau mengenal kucing itu? Ini pertama kalinya aku melihatnya,” tanyaku penasaran.
“Itu kucing majikan kita, namanya Moy. Semua hewan di peternakan ini memujinya karena menggemaskan. Saat mengeong dia terlihat cantik,” jawab Ibu Zed dengan mata menciut.
Aku melihat kucing anggora berbulu putih halus mengikuti majikan yang sedang memberi makan kami. Ekornya mengembang tertiup angin, matanya yang sipit saat menatap sekitar membuatnya makin manis. Seolah menghipnotisku dan ayam-ayam di empat kandang ini. Aku tidak tahu, ia kucing berjenis kelamin apa. Seumpama aku menjadi seekor kucing, aku akan melamarnya. Namun, takdir berkata lain karena aku seekor ayam betina.
“Mengapa kau berada di sini?” tanya Kun yang tiba-tiba muncul dari samping.
Kucing yang kaget itu menjawab lembut, “Aku tidak perlu izinmu untuk berada di sini, anjing tua.”
Anjing penjaga itu menggonggong, seperti tidak menyukai kehadiran Moy. Setelah itu majikan kami menggendong kucing kesayangannya kembali ke rumah besar. Perang dingin tadi tentu saja membangkitkan seribu pertanyaan di kepala kami. Seolah-olah anjing dan kucing di peternakan ini sudah saling mengenal cukup lama bahkan memiliki sebuah rahasia yang belum terungkap.
Aku mendekat pada Kun yang masih terdiam di depan kandangnya. “Apa kalian sebenarnya sudah lama saling mengenal?” tanyaku serius.
“Kami sudah lama mengenal karena dulunya aku sering bermain di dalam rumah itu. Moy sudah seperti saudaraku sendiri, bahkan aku pernah menyelamatkannya saat diserang kucing liar di jalan. Namun, sebuah kejadian membuat kami berpisah …” jawabnya menggantung.
“Kejadian apa? Jangan membuat aku mati penasaran.”
“Moy tidak sengaja menjatuhkan guci keramik mahal milik Tuan Chen, majikan kita itu. Tetapi, tidak mengakui perbuatannya dan memilih pergi. Saat itu aku yang berada di sana langsung dituduh sebagai pelakunya dan dihajar habis-habisan. Aku tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di rumah besar hingga sekarang. Karena itu aku membenci kucing yang munafik itu.”
“Aku turut prihatin mendengar ceritamu, dan, maaf, jika ini mungkin membuka luka lama yang sengaja kau tutup rapat-rapat.”
“Tidak masalah. Aku sangat senang bisa berbagi cerita denganmu, cukup membuat hatiku lega.”
“Baiklah. Terima kasih banyak. Aku permisi, kembali ke kandangku.”
“Iya silakan.”
***
Malam ini dingin terasa menembus sampai ke tulang, perasaanku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Apalagi di langit sekitar peternakan burung-burung gagak terbang rendah, beberapa di antaranya bertengger di dahan-dahan pohon mangga.
Lalu aku mendengar suara langkah kaki lirih bergerak tidak selaras. Seolah-olah tengah mengepung peternakan ini. Jantungku berdetak tidak beraturan, tubuhku mulai gemetar. Aku mendekap erat tubuh Joy. Hingga ketukan pintu membuatku terkejut dan gugup. Aku membukanya dan di depan sudah ada seekor rakun dengan wajah garang memaksa aku dan Joy keluar.
Aku membawa Joy ke depan dan ternyata sudah ramai ayam yang berkumpul—dikelilingi oleh rakun dengan jumlah sekitar 20 ekor. Aku semakin takut dan hanya bisa terduduk pasrah bersama yang lainnya. Saat seperti ini, entah mengapa aku tidak melihat keberadaan anjing penjaga sama sekali.
Aku dan para ayam telah menjadi sandera malam ini. Rakun-rakun mengawasi kami di setiap sudut, seolah-olah kami akan dibunuh jika berani melarikan diri. Di situasi yang tegang, muncullah Moy dari kegelapan. Biasanya ia selalu memamerkan senyum manis, tetapi kini Moy menyeringai seperti kucing kelaparan haus darah.
“Rakun-rakun setiaku, berikan aku anak ayam yang segar!” kata kucing itu menatap sekeliling.
Rakun hutan menarik seekor ayam kecil dari ibunya. Ibu ayam ditendang hingga tertelungkup ke tanah. Ayam kecil itu diberikan pada Moy dan dicekik hidup-hidup. Moy memakan bagian dada ayam dengan taringnya yang tajam. Semua ayam menonton dengan tidak tega, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku masih kelaparan. Berikan aku anak ayam yang lumayan berisi!”
Rakun menatap anakku dan mulai mendekat. Aku berusaha menghalanginya agar anakku tidak dibawa. Namun, tenagaku tidak sebanding. Rakun menonjok bagian sayapku hingga hilang keseimbangan dan terjatuh sampai paruhku terhantam tanah.
Tiba-tiba seekor musang muncul dan menyerang rakun dari belakang. Pertarungan itu membuat rakun tidak sadar melepaskan Joy. Tak menyia-nyiakan waktu, aku menahan rasa sakit di sekujur badan dan segera mendekap tubuh anakku. Aku menjauhkannya. Sementara rakun dan musang masih saling menendang, memukul, mencekik hingga berguling ke tanah. Beberapa ayam tidak tinggal diam dan menyerang rakun-rakun dengan paruh dan cakar.
Ayam lainnya berkokok sahut-sahutan, bahkan ada yang melompat ke atap kandang dan menimbulkan suara gaduh. Majikan kami keluar dari rumah besar dan membawa senapan laras panjang. Tanpa aba-aba langsung menembak semua rakun hingga tewas di tempat. Sementara musang segera melarikan diri ke hutan dengan melompati tembok peternakan.
“Moy, sayang, apakah kamu tidak apa-apa? Aku sangat mengkhawatirkanmu,” kata Tuan Chen sambil menggendong dan mengelus bulu kucingnya lalu masuk ke dalam rumah.
Tak lama, Kun si anjing penjaga datang seperti baru terbangun dari tidurnya. “Maafkan aku, entah mengapa sangat nyenyak tertidur. Seolah ada yang memberiku obat tidur.”
“Tidak apa-apa, lain kali lebih berhati-hatilah. Yang penting kita sudah tahu siapa penjahat sebenarnya di peternakan ini,” kataku dengan perasaan lega.
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








