Sudah hampir 12 bulan lebih, Baya selalu membawa botol. Botol kecil seukuran botol minyak wangi merek Sandal Rose tersebut ia taruh di saku celana kiri. Baya sempat menyelipkan botol kecil tersebut di dalam kolor, tetapi ia tidak nyaman. Penisnya jadi singkuh karena botol itu mengganjal.
Ia percaya dengan dukun yang memberikannya botol berwarna perak itu. Konon botol itu berasal dari langit yang jatuh di Timur Tengah.
“Ini botol Tuhan. Dengan membawa botol ini, segala impianmu akan terwujud, apalagi cuma menjadi wakil rakyat. Itu perkara gampang. Botol Tuhan ini mewujudkan segala impian, apalagi kalau botol tersebut kamu selipkan di dalam kolor berdampingan dengan penismu,” kata dukun yang mengaku baru saja pulang dari rumah Tuhan, belum sampai 1× 24 jam lalu.
Baya menenggak semua ucapan dukun tersebut seperti menenggak Tequila yang dituangkan perempuan di tempat hiburan malam. Ia sudah tidak sabar untuk menjadi wakil rakyat tingkat provinsi. Jemarinya begitu manja membelai botol Tuhan itu seperti sepuluh jarinya kelayapan di tubuh istri simpanannya.
Baya akan marah kalau ada tangan lain yang berani menyentuh botol Tuhan itu. Ia meletakkan botol Tuhan itu sesuka hati. Yang penting masih bisa dijangkau tangannya dengan cepat ketika ingin menyentuh atau memandangi isinya yang berisi mani gajah, bulu perindu, menyan kuning, remahan bambu petuk, dan bau ludah perawan yang sudah mengendap lebih dari enam bulan.
Baya meletakkan botol tersebut di kakus rumahnya. Pembantu rumah tangganya akan ia pecat kalau berani menyentuh bahkan memindahkan botol tersebut. Baru sebulan yang lalu, ia menceraikan istri tuanya karena berani memindahkan botol itu, yang ia letakkan di bawah tempat tidur.
“Kamu istri kurang ajar, dasar anjing kurap! Kan sudah saya bilang jangan sentuh botol ini, apalagi sampai lancang dipindahkan. Kamu saya ceraikan sekarang juga! Besok pagi kita urus surat perceraian.” Sekonyong-konyong ia menceraikan istri tuanya hanya karena persoalan botol.
Si istri heran, tapi tak menyesal. Lagi pula, perceraian dengan Baya sudah sangat ia tunggu. Ia memang ingin menjadi simpanan orang kaya dan simpanan pejabat lain. Masih banyak orang kaya dan pejabat yang akan menyimpannya di rumah-rumah mewah. Wajahnya masih seperti gadis Eropa, kulitnya masih mulus seperti wanita baru pubertas, lelaki normal akan ngaceng bila mencermati payudaranya yang menyembul-nyembul di balik bra berukuran 40.
Baya akan melakukan apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi wakil rakyat di Provinsi C. Untuk menjadi wakil rakyat tidak semudah seperti menelan buah anggur hijau yang tersaji di meja kerjanya. Ia paham mesti menyiapkan amunisi untuk menjadi wakil rakyat. Di mata Baya, wakil rakyat adalah sosok pembuat legislasi dan mengawasi jalannya eksekutif. Ia selalu ingat definisi wakil rakyat sejak masih kuliah semester satu dulu. Mendapatkan nilai B pada mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Politik sudah cukup membuatnya cuap-cuap di depan televisi menyaksikan berita seputar wakil rakyat.
Baya mendaftarkan diri menjadi mahasiswa ilmu politik di kampus khusus karyawan pada suatu hari Selasa. Hujan deras petir bersahutan sore itu membuatnya merinding. Sebab ia merasa suasana saat itu memang mendukungnya untuk kuliah di jurusan ilmu politik.
“Empat tahun di kampus ini, setelah tamat, aku akan lumayan paham ilmu politik. Biar tidak gagap pengetahuan politik.” Baya langsung menerobos pintu masuk ke tempat pendaftaran.
“Maaf, Bapak salah masuk. Ini ruangan staf office boy, Pak. Ruang pendaftaran di kanan sana, paling ujung, ya, Pak.”
“Waduh, saya salah masuk, maklum faktor umur. Terima kasih, ya, Bu.” Baya tidak sabar untuk segera memulai perkuliahan.
Dalam perjalanan proses perkuliahan, Baya juga sudah menyiapkan pandangan bulat-bulat menjadi orang terpandang. Ia ingin dihormati dari ujung kuku sampai kepala. Menyandang kedudukan sebagai wakil rakyat di Provinsi C. Persoalan uang tidak masalah, semua tahu ia pengusaha SPBU.
***
Sebelum mendatangi dukun, ia meminta pendapat kawan-kawan terdekatnya terlebih dahulu mengenai dukun mana yang bisa dipercaya. Dukun yang memang biasa mengurus hajat mereka yang bernafsu menjadi wakil rakyat.
Kebetulan dukun pemberi botol Tuhan merupakan dukun yang sudah menjadikan ratusan orang duduk sebagai wakil rakyat. Tidak hanya wakil rakyat, dukun tersebut terbiasa mengurusi para pengusaha tambang, pengusaha sawit, pengusaha jual-beli hutan, dan masih banyak lagi pengusaha pemilik hajat yang menjadi kepala daerah tingkat provinsi, kota atau kabupaten yang terbiasa berurusan dengan sang dukun.
Semenjak Baya mendapatkan botol itu, nafsunya semakin mencak-mencak. Dalam sehari, ia bisa 20 kali mencuci botol tersebut. Bahkan ia mendapat saran dari dukun berkulit kepala panuan itu agar tidak memandikan botol tersebut secara sembarangan. Botol itu harus dimandikan dengan minyak kasturi, minyak istambul, bisa juga sesekali memandikan botol Tuhan dengan air ludah perawan. Dukun berjenggot klimis itu memberikan saran, ludah perawan merupakan kegemaran raja iblis pencuri botol Tuhan.
“Ini botol jangan dicuci sembarangan, kalau kamu biasa mandi pakai sabun, botol ini kamu mandikan pakai minyak yang sudah saya sarankan. Jangan lupa juga, basuh dengan air ludah perawan, dan masukkan sedikit ludah itu ke dalam botol. Langsung dari mulut perawan ya! Percayalah, hajat kamu untuk menjadi wakil rakyat di tingkat provinsi akan terwujud,” kata dukun yang dijuluki sebagai sang raja penembus langit ke tujuh. Dukun itu pernah menyampaikan bahwa di langit ada triliunan botol milik Tuhan. Dari jumlah yang banyak itu, dukun itu berhasil merampas dengan bantuan raja iblis.
Baya menuruti semua yang keluar dari mulut si dukun. Setiap pagi ia memaksa anak perempuannya untuk meludahi botol Tuhan.
“Cuih …”
Icha, anaknya yang masih SMA, kesal karena merasa ayahnya menjadi kurang waras, terlalu ambisius menjadi wakil rakyat.
Secara hitung-hitungan politik, Baya memiliki bekal visi-misi serta program konkret untuk menjadi politisi, khususnya menjadi wakil rakyat.
Baya ingin menjadi wakil rakyat karena terinspirasi melihat tetangga yang juga teman dekatnya telah mendapatkan kursi wakil rakyat lebih dulu. Sejak menjadi wakil rakyat, teman dekatnya tersebut semakin kaya raya. Harta dan uang bergelimang, bisnis-bisnisnya juga semakin maju karena didukung posisinya sebagai pembuat undang-undang. Hampir semua legislasi diatur untuk memperlancar jaringan bisnisnya.
Baya dikenal mempunyai banyak SPBU di Kota X. Roda bisnis SPBU mengantar Baya menjadi sosok kaya raya. Kekayaannya sekarang tentu tidak sempurna jika ia belum menjadi wakil rakyat. Apalagi Baya beranggapan jika sudah menjadi wakil rakyat, hartanya akan berlipat-lipat, paling tidak menyamai teman-temannya yang sudah menduduki posisi sebagai wakil rakyat.
Sebelum tidur, Baya melakukan kebiasaan bercermin sambil menggertakkan gigi, menyalakan ambisi dalam jiwa untuk menjadi wakil rakyat. Ia tidak ambil pusing jika harus menggerogoti tabungan dan aset SPBU. Menjadi wakil rakyat akan membuatnya semakin terpandang di Kota X.
“Aku harus menjadi wakil rakyat di Provinsi C ini. Semakin memantapkan wibawa sebagai orang kaya raya, sebagai orang terpandang kelas pengusaha cum pejabat.”
Baya senantiasa optimis dan tersenyum di depan cermin sebelum merebahkan tubuh di ranjang.
***
Di malam hari, botol Tuhan ia taruh di samping lampu tidur tua peninggalan ayahnya yang meninggal tiga tahun lalu. Ia juga berkata dalam hati kalau ayahnya pasti akan bahagia jika dirinya dapat menjadi wakil rakyat. Semua anggota keluarga dan teman-temannya mengetahui bahwa ayahnya, Zulbiji Kuntul, adalah lelaki yang menghabiskan masa tuanya di rumah sakit jiwa. Karena mengalami gangguan jiwa berat setelah kehabisan harta kekayaan akibat gagal tiga kali berturut-turut menjadi Kepala Daerah Kota Y.
Kejiwaannya roboh. Baru dua minggu mendapat perawatan di rumah sakit jiwa, Zulbiji meninggal dunia setelah duburnya dipaksa menghisap pecahan kaca. Ia hendak melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Naas, ia terpeleset dari lantai tiga rumah sakit, lalu jatuh ke lantai dasar, pantanya menghisap meja kaca raksasa di lobi. Matanya melotot. Belum sempat ditolong, napasnya sudah habis.
Baya pilu setiap mengingat semua kenangan tentang ayahnya. Hatinya menjadi getas. Untuk meneruskan cita-cita ayahnya menjadi pengusaha cum pejabat, ia berani mengambil resiko. Ia yakin dengan harta dan aset yang dimiliki sekarang, posisi wakil rakyat hanya persoalan receh semata.
Pemilu akan segera dimulai, tepatnya tiga hari lagi. Baya demam tinggi. Isi perutnya seperti dipatuk-patuk ayam jago. Ia pergi ke dokter. Kata dokter, usus kecilnya buntu. Baya dikenal rekan sejawatnya selalu telat makan karena terlalu sibuk dan bekerja keras membangun bisnis SPBU. Apalagi setahun ini ia fokus mengurusi administrasi pemilu, teknis kampanye, dan botol Tuhan. Baya pucat. Tubuhnya berkeringat. Sudah hampir seminggu Baya kesulitan bernapas.
Baya cemas, gelisah, dan kebingungan. Di dalam kepalanya hanya memikirkan agar berhasil menjadi wakil rakyat. Ia mengecek gawainya, membuka Whatsapp, mencari nomor dukun pemberi botol Tuhan.
“Pak Dukun, besok pagi, saya ke rumah Anda. Tolong saya, Pak!”.
Setelah pesan terkirim, Baya menonton berita.
Pemilu dua hari lagi, banyak calon legislatif tertipu dukun yang berdomisili di Kota X dengan modus botol Tuhan bahkan banyak yang mengalami sakit misterius.
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








