Pasukan Kecil, Ambisi Besar: Gagalnya G30S dan Kemenangan Tafsir Tunggal Orde Baru

Penulis

Gerakan 30 September (G30S) akan selalu diingat sebagai salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada 1965. Walaupun peristiwa G30S sudah terjadi lebih dari 60 tahun yang lalu, peristiwa ini menyimpan trauma kolektif bagi mayoritas masyarakat Indonesia, baik mereka sebagai pelaku, korban, maupun orang-orang yang mengetahui G30S via film yang selalu diputar di era Orde Baru.

Melalui film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI (1984) dan buku sejarah resmi di era Orde Baru, masyarakat Indonesia diberi tafsiran tunggal mengenai G30S yang menyatakan bahwa PKI-lah pelaku penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat tersebut. Tafsiran tunggal atas G30S ini terus-menerus diulang setiap tahunnya terutama melalui film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI (1984) yang menjadi tontonan wajib bagi masyarakat pada setiap tanggal 30 September.

Namun, melalui buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (2008), John Roosa memaparkan bahwa G30S sejatinya dipenuhi kompleksitas dan tidak berhenti di satu kesimpulan bahwa PKI adalah dalangnya. Hilmar Farid dalam tulisannya di IndoProgress, menyatakan bahwa “kekacauan dalam debat mengenai Gerakan 30 September atau G-30-S bersumber dari pencampuradukan fakta, fiksi dan fantasi antara apa yang sesungguhnya terjadi dengan apa yang diceritakan atau dibayangkan/diharapkan orang telah terjadi.”

Soeharto dan Agama Anti-Komunisme

Bagi Roosa, alasan mengapa G30S sulit dipahami antara lain karena gerakan tersebut sudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia mengetahui keberadaannya. Gerakan 30 September tumbang secepat kemunculannya. Dengan tidak adanya Ahmad Yani, Mayor Jenderal Suharto mengambil alih komando Angkatan Darat pada pagi hari 1 Oktober, dan pada sore hari ia melancarkan serangan balik kepada pasukan G30S. Semua pasukan pemberontak akhirnya ditangkap atau melarikan diri dari Jakarta pada pagi hari 2 Oktober (hlm. 4).

Di bawah Suharto, anti-komunisme menjadi agama negara, lengkap dengan segala situs, upacara, dan tanggal-tanggalnya yang sakral. Para perwira Suharto mengubah situs pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat di Jakarta pada 1 Oktober 1965, yaitu Lubang Buaya, menjadi tanah keramat (hlm. 9).

Sebuah monumen juga didirikan untuk mengenang tujuh perwira yang tewas—disebut Pahlawan Revolusi—dengan dinamai Monumen Pancasila dan dibuka pada 1969. Roosa melihat bahwa Pancasila dibayangkan sebagai perjanjian suci bangsa dan Lubang Buaya adalah situs pelanggaran paling mengerikan terhadap perjanjian itu. Dengan demikian, monumen ini menyucikan situs pelanggaran tersebut dan menahbiskan para perwira yang dibunuh sebagai syuhada-syuhada suci (hlm. 10).

Lemahnya Pasukan G30S

Pada pembahasan sebelumnya, Roosa sudah menyebut bahwa G30S sudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia mengetahui keberadaannya. Hal itu dibuktikan dengan jumlah tentara yang terlibat dalam G30S sangat kecil jika dibandingkan dengan seluruh jumlah pasukan yang ada di dalam kota (hlm. 66).

Pasukan-pasukan G30S tidak menyebar layaknya pasukan yang berniat melakukan kudeta dan tidak memosisikan diri untuk bertahan jika ada perlawanan. Ditambah lagi, pasukan G30S tidak memiliki tank sebagai perlengkapan yang hampir selalu dipakai oleh para perancang kudeta di abad ke-20. Bagi Roosa, G30S tampaknya tidak dirancang untuk merebut kekuasaan negara dan lebih terlihat sebagai pemberontakan para perwira muda terhadap sekelompok perwira senior (hlm. 67).

Empat Pendekatan untuk Menguraikan G30S

Dalam Bab 2, Roosa melihat ada empat pokok atau pendekatan untuk mengurai keganjilan-keganjilan G30S dan menetapkan semacam koherensi terhadapnya. Keempat pendekatan itu adalah: (1) G30S sebagai usaha kudeta PKI, (2) G30S sebagai pemberontakan perwira muda, (3) G30S sebagai persekutuan antara perwira Angkatan Darat dan PKI, dan (4) G30S sebagai konspirasi PKI.

Satu kendala untuk memecahkan ini adalah karena adanya pemaksaan penyelesaian palsu yang teramat kuat segera sesudah peristiwa terjadi. Suharto dan tentaranya tidak berhenti pada mendesak uraiannya sendiri yang menyatakan bahwa PKI adalah dalangnya, melainkan juga menciptakan fakta-fakta—misalnya kisah penyiksaan di Lubang Buaya dan pengakuan para pemimpin PKI (hlm. 115).

Dokumen Supardjo

Dalam Bab 3, terdapat sebuah pembahasan mengenai tulisan yang berjudul Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer (selanjutnya disebut sebagai dokumen Supardjo) yang ditulis oleh Brigadir Jenderal Supardjo. Supardjo menulis ini demi kepentingan kawan-kawannya, bukan bagi para interogator dan penuntut umum yang memusuhinya. Walaupun begitu, dokumen Supardjo ini tidak dapat menjawab semua persoalan tentang G30S (hlm. 123).

Supardjo berusaha sangat rasional di dalam menuliskan analisisnya: pada bagian pertama naskah ia melaporkan peristiwa-peristiwa yang disaksikannya, lalu pada bagian kedua ia tuliskan pemahamannya tentang peristiwa-peristiwa itu. Tentu saja, bisa jadi Supardjo salah menangkap peristiwa-peristiwa tertentu atau salah menafsirkan apa yang ia tangkap (hlm. 124).

Dalam kesaksiannya di pengadilan, Supardjo menyatakan bahwa ia dan para perwira militer lain berpikir tentang bagaimana caranya melawan jenderal-jenderal yang anti-Sukarno. Roosa melihat bahwa kesimpulan dari Supardjo bisa diandalkan: G30S gagal justru karena gerakan ini dipimpin seorang sipil yakni Sjam Kamaruzaman, yang tahu sedikit sekali tentang prosedur-prosedur kemiliteran yang tepat (hlm. 137).

Sjam dan Biro Khusus

Lalu, siapa Sjam Kamaruzaman? Sjam Kamaruzaman sendiri adalah ketua Biro Khusus (ejaan lama: Biro Chusus), unit rahasia milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Sjam dikenal sebagai orang yang sangat loyal kepada D.N. Aidit, ketua PKI saat itu. Pada saat G30S terjadi, Sjam bukanlah seorang perwira militer dengan pangkat tinggi, bukan juga seorang tokoh politik sipil terkemuka (hlm. 179).

Keberadaan Biro Khusus di dalam PKI sendiri juga cukup unik. Beberapa anggota Politbiro dan Komite Sentral (ejaan lama: Central Comite) mengetahui keberadaan Biro Khusus, tetapi mereka belum tentu tahu siapa-siapa yang ada di dalamnya. Biro Khusus melapor hanya kepada Aidit dan menerima perintah hanya dari Aidit. Seperti yang dikemukakan Sjam sendiri dalam kesaksiannya, “Biro Chusus [sic] adalah aparat dari Ketua Partai” (hlm. 182).

Memahami Kompleksitas G30S

Melalui buku Dalih Pembunuhan Massal  ini, pembaca bisa mengetahui bahwa peristiwa G30S tidak sesederhana itu. John Roosa berhasil menunjukkan kompleksitas G30S yang membuat buku ini melangkah lebih jauh dari sekadar pernyataan bahwa “PKI adalah dalang G30S” dan memosisikan PKI sebagai antagonis.

Karena analisisnya yang menyeluruh dan mendalam, buku karya John Roosa ini menjadi penting sebagai rujukan untuk pembahasan mengenai peristiwa G30S. Walaupun begitu, saya melihat ada kekurangan dalam buku ini, yakni penggunaan istilah yang tidak umum untuk pembaca hari ini. Istilah yang dimaksud misal seperti “kup” yang memiliki arti “kudeta”.

Selain itu, jika membaca bagian Lampiran, lampiran-lampiran yang ada masih mempertahankan ejaan lama (Edjaan Republik atau Edjaan Soewandi) secara utuh. Misalnya seperti kata “Biro Khusus” yang masih menggunakan ejaan lama bertuliskan “Biro Chusus”. Hal ini mungkin sedikit menyulitkan bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan ejaan lama.

Namun, hal itu bagi saya tidak menjadi masalah. Buku ini tetap menjadi penting sebagai rujukan untuk pembahasan mengenai peristiwa G30S. Peristiwa G30S yang dijelaskan dalam buku Dalih Pembunuhan Massal ini membuat pembaca setidaknya mengerti bahwa peristiwa ini sangatlah kompleks dan jauh dari tafsir tunggal Orde Baru yang hanya melihatnya dari satu sisi.


*Ulasan buku berjudul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto yang ditulis oleh John Roosa, diterjemahkan oleh Hersri Setiawan, dan disunting oleh Ayu Ratih dan Hilmar Farid (2008, Institut Sejarah Sosial Indonesia & Hasta Mitra)


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *