Di puncak bubungan, langkahnya mengendap-endap. Ujung ekornya bergerak-gerak. Tiga jengkal ke depan, ia menggeram. Otot laringnya turun-naik. Mata buduknya mengeker. Kucing hitam itu menyambar. Pupu terkesiap di bangku kayunya. Hampir terjengkang.
“Bangsat! Bakal sial nanti,” teriaknya.
“Belum juga mati, sudah dilangkahin kucing,” timpal anaknya.
“Malah ngedumel, cepat siram kucing itu!”
“Lapar, Pak.”
“Lapar? Siram kucing itu budeg!” ketus Pupu pedas.
Kucing hitam itu melengos saja ke penutup sumur. Sementara, bocah tambun ini masih mendepa di atas lantai. Pantatnya berat seperti jangkar galiung. Bagian terburuknya adalah ingusnya menetes bagai cacing gelang. Mencoreng setiap yang melekat pada tubuhnya. Kerah baju, lipit celana, bahkan pipinya pun penuh ingus berkerak. Dua, tiga kali bentakan, barulah bocah itu beringsut. Perkara sepele yang sering bikin Pupu senewen. Apalagi sepulang menarik penumpang.
Semenjak bininya merantau, Pupu merasa tambah cerewet. Kelima inderanya kini terasah lebih tajam. Bila dihitung, sudah empat tahun ia menjadi bulan-bulanan anaknya. Sebuah ganjaran untuk lelaki kere. Tiba-tiba, gawai di koceknya berdering. Ia merogoh, menatap layar yang memendar.
“Pukul empat sore, aku mesti berangkat.”
Sambil menjejal kepala ke helm berkelir hijau, ia mengimbau, “Aku pergi dulu, kau jaga rumah!”
“Tapi, Pak, aku lapar.”
Seolah tak peduli, ia melongok sekilas, “Kau makan cacing saja!” Lalu ia melangkah keluar dengan pintu kayu terbanting di belakangnya. Rengekan bocah itu raib oleh letupan knalpot.
Ia bergerak, roda gigi berpindah, baut-baut mesin bergetar di bawah lecutan tali gas. Semburan asap di buntutnya mendorong Pupu tanpa lelah ke titik-titik terpencil di tengah kota. Stang motornya menuju Cikotengsi. Belakangan sering disebut Dago. Bukan tanpa alasan ia memilih tempat itu. Selain demi kebebasan, ia merasa pubertas lagi.
Dago begitu romantis, bernaungnya pasangan kekasih di balik kursi-kursi yang terpaku. Di sepanjang trotoar, berjejer penjual makanan dan minuman. Bersaing dengan pejalan kaki dibuntuti para pemain papan seluncur. Menambah keramaian yang wajar. Dari arah barat, lengkung bibir para gadis turut melukis cahaya yang merangsek di antara larik daun menguning. Keindahan yang tak sanggup tertampung di ujung mata.
Deruannya mengendur, piringan rem berdecit. Sepatunya perlahan menapaki trotoar, melewati bangku dan gerobak. Begitu kakinya melangkah masuk, aroma ketupat tahu menyergap hidung. Di ujung meja, para lelaki sedang bergumul—menyeretnya ke topik obrolan.
“Semalam, aku tersesat di Kerkhof,” ucap salah satu merecoki. “Kurasa setan yang menggayut tempo lalu, mengincar punggungku lagi,” sembari memajukan tubuh, dia memasang tampang serius.
“Aku tak pernah percaya,” tukas Pupu. Lalu, menyodorkan segelas kopi jahanam ke depan lawan bicaranya. “Minumlah, agaknya tempurung otakmu belum diguncang.”
Pupu bersikeras. Hal itu hanya igauan pengojek yang baru dapat satu penumpang sehingga darahnya membeku di bokong karena seharian dihabiskan bersandar di Kedai Mang Dodi. Ia menjelaskan, saat mengemudikan motor janganlah selalu terpaku pada marka jalan. Garis-garis terputus itu kelak menghipnotismu menuju kekosongan seperti seusai bercinta. Orang-orang di sekitarnya terpana, ada yang tersedak, ada pula yang tuntas menyantap ketupat tahu—menu andalan kedai ini.
“Aku paham,” ujarnya sembari menyeruput kopi. “Tapi, jangan dong setan itu buat kita nyasar. Harga bensin mahal.”
“Kau pikir setan itu mamakmu? Main tawar saja.” Mendengar celoteh itu, sekumpulan pengojek ini pun meledak terbahak-bahak. Tapi, bayangan kucing hitam tadi melayang di kepala Pupu.
Dari luar kedai, seorang lelaki berseru, “Mang, ojek mang.”
Pupu langsung melongok, menghela tubuhnya, “Minggir, yang ini bagianku!” Ia bangkit, bergegas mendekati calon penumpangnya.
“Tolong antar saya ke kuburan,” katanya.
Pupu terkejut. Diulangi kata-kata tadi, seolah memastikan dirinya tak salah dengar. Lelaki itu menggeleng keras, membalas terbata-bata, “Ma…ma…maksudnya antar saya ke pemakaman Kerkhof.”
Pupu mengawasi sejenak, tatapannya menelusur dari ujung rambut hingga sela jari. Dari dekat, lelaki ini bertubuh kurus, bahunya sedikit lebar. Kepalanya pelontos dibingkai lekuk pipi yang menonjol kasar. Kulitnya pucat seperti mayat. Namun, ciri menariknya berada di pupil mata yang mengecil.
Nyaris penglarisnya lenyap akibat diendus curiga. Lekas jagang dihentak dan motor yang baret di sana-sini itu menyalak. Kini, gilirannya memetakan jalur yang dilewati. Semakin motor menjauh, gang berkelok sudah menyambut. Di depan, Pupu harus cekatan menghalau belokan bersiku tajam. Kemudian berkelit dari pagar batu yang menjorok. Sebuah rintangan yang luput dari pengamatan siapa pun. Sebab usai berbelok di tikungan maut, letak pagar itu bak kejutan. Bila gegabah, satu mahkota lutut pun tumbang menghantam pagar berengsek itu. Sungguh, sakitnya seolah terlepas dari ubun-ubun. Sekejap tulang bergeser beberapa senti.
“Ruwet juga, ya, jalan sini?” cetus si penumpang.
“Tentu, makanan sehari-hari.”
Keahliannya menghafal jalan tak perlu diragukan lagi. Menyusuri gang-gang, letak mata lensa yang mengintai hingga polisi tidur yang menggembosi laju speedometer. Hatam diingatnya. Berkat mengojek, ia dapat berbangga menjadi pekerja keras.
Diterpa laju angin, perkataannya menghambur ke belakang. “Kalau tidak jalan pintas, nanti bisa ditilang, dan tentu lumayan nebusnya.”
“Begitulah, selama aku di sel pun demikian,” timpal si penumpang.
“Penjara? Demikian gimana?”
Sembari menarik napas, si penumpang mengiyakannya, “Terkadang aku harus menukar 15 menit dengan uang seratus ribu. Kalau ingin menyela antrian, bayarannya bisa lebih dari itu. Di sana, handphone menjadi barang langka.”
“Lalu, kenapa kau bisa masuk penjara? Berapa lama?”
“Aku berkelahi dengan seorang polisi. Hari itu, kami berada di tempat karaoke. Entah, kejadiannya begitu cepat. Malam sudah larut sekali. Mungkin alkohol yang kami tenggak terlampau ajaib. Sehingga kepalanya kuhantam dengan botol. Dia kini masih hidup dan gegar otak. Aku mendekam selama lima tahun dan bebas sebulan lalu.”
Sejenak mereka membisu. Embusan angin menyisir rambut. Bulu kuduknya berdiri. Rasa ngeri merambat dalam benaknya. Diam-diam, Pupu menyesali pada pertanyaan yang terlanjur jauh.
“Rasanya lebih mudah hidup di penjara,” sambungnya.
“Loh, bukannya sekarang kau lebih bebas ke mana pun dan melakukan apa pun? Lagi pula penjara sudah sesak berjubel orang.”
“Betul, tapi sekurang-kurangnya aku tidak puyeng menanggung makan. Jauh dari itu, hidupku lebih teratur. Ya, sebulan ini aku layaknya orang tolol, tak tahu harus apa, tidak ada yang menyuruhku untuk memulai atau berhenti.”
“Keluarga atau teman-temanmu tak ada?”
Ia tidak menyahut, seolah enggan menjawab. Pupu melirik pantulan penumpangnya di spion. Wajahnya tampak datar, pupil matanya pun tetap mengecil.
“Lalu, apa rencanamu?”
Penumpang itu mengangkat bahu, pandangannya menelusur pohon-pohon yang bergantian “Sejauh ini, aku sudah menimbang buat balik lagi saja.”
“Dengan menghantam polisi itu lagi?”
Ia terkekeh, “Mungkin.”
Jalanan berbatu semakin menanjak. Mesin menjerit-jerit. Kepala torsi meninju keras agar tak mogok. Moncong lampu bergetar. Terseok-seok. Pupu khawatir, terkadang motor slebornya ini tak tahu waktu. Selalu saja ada yang tidak beres.
Sekelebat kucing hitam melintas dari arah samping. Tak lama, jarum speedometer melemah. Puncak tanjakan berhasil digapai. Lega. Namun, ada sesuatu yang ganjil. Pinggangnya tertekan lebih dalam dan bajunya terasa mengetat. Keringat dingin bercucuran. Nafasnya mengempas dengan lengan yang gemetar.
“Ya Tuhan.”
Dari belakang telinga, suara halus menyambar, “Tak usah berontak! Kita cukup berhenti sekarang dan kau turun perlahan.”
“Mohon, jangan.”
Telapaknya yang kecil membekap mulut dengan kuat, “Ingat! Jangan teriak,”
Tugu-tugu kelabu tegak di sisi jalan. Menatapnya kaku. Dari kejauhan, lampu kota berkelap-kelip. Tampak kucing hitam melangkah pelan. Bayangannya seolah mengambang di keremangan. Meloncat dari satu nisan ke nisan lainnya. Pupu berjalan lunglai melewatinya. Melirik sekilas. Kemudian melangkah jauh semakin jauh.
Editor: Farras Pradana
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








