Menyoal Pesta Babi
“Kawan, hanya tiran yang tak mau dikritik!”

Film Pesta Babi telah memantik banyak percakapan. Sebagian melihatnya sebagai film tentang solidaritas. Sebagian lain melihatnya sebagai film tentang kolonialisme.
Bagi kami, percakapannya belum selesai. Melalui dua tulisan yang berbeda, Benediktus Fatubun dan Ifan Yokit mengajak pembaca kembali mempertanyakan bagaimana Papua direpresentasikan, bagaimana ‘masyarakat adat’ diterjemahkan, dan bagaimana sebuah simbol budaya memperoleh maknanya.
Ini bukan upaya menutup perdebatan. Sebaliknya, kami berharap zine ini menjadi alasan untuk memperpanjangnya.
Barangkali, setelah membacanya, kita akan kembali pada satu pertanyaan sederhana: ketika kita menyebut “Pesta Babi”, sebenarnya kita sedang membicarakan apa?




