Ikatan yang Tak Berujung

Penulis

Aku masih ingat betul hari pertama aku bergabung dengan organisasi ini. Ruang kelas terasa pengap. Bau kapur bercampur debu dan aroma kopi hitam yang diseduh kakak pengurus di belakang. “Selamat datang di IPNU, saudara,” kata mereka sambil tersenyum. Saat itu aku hanya mengangguk pelan. Tangan ini dingin, hati penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin anak desa biasa seperti aku bisa menjadi bagian dari organisasi sebesar ini?

Kemudian kakak-kakak senior menyanyikan mars organisasi dengan suara lantang. Ada sesuatu yang bergetar di dada. Sejak saat itu, seolah ada benang tak kasat mata yang mulai mengikat hidupku.

Dua tahun kemudian, aku dipercaya menjadi koordinator divisi kaderisasi. Tugasnya tidak ringan: mengatur pelatihan, menyusun proposal, dan membimbing anggota baru. Kadang terasa melelahkan, tetapi di sanalah aku merasa hidup.

Pertemuanku dengannya terjadi pada acara Makesta. Lapangan madrasah ramai. Puluhan peserta baru berbaris rapi dengan seragam hitam putih. Aku berdiri di depan sebagai pembina, menjelaskan materi dengan suara yang kubuat tegas. Pandanganku kemudian tertuju pada seorang gadis di baris tengah.

Jilbab putihnya sederhana. Namun alisnya meliuk indah seperti lengkung ranting ketapang di tengah terik matahari dan keramaian itu, yang membuatku tertegun dan darahku seakan berkumpul di perut, menjelma kupu-kupu. Saat sesi tanya jawab, ia mengangkat tangan dengan percaya diri.

“Rekan, apa yang harus dilakukan agar bisa berkontribusi nyata setelah Makesta ini?” tanyanya.

Suara itu rendah teduh, tetapi ada ketegasan di dalamnya. Aku tersenyum dan menjawab, “Pertanyaan yang bagus sekali.”

Sejak hari itu, dia selalu hadir di setiap kegiatan. Rajin, cepat belajar, dan siap membantu. Seiring waktu kami jadi kerap bertemu: di ruang pengurus saat menyusun program, saat membersihkan masjid setelah pengajian atau saat mengajar anak-anak TPA di kampung sebelah.

Kedekatan kami tumbuh perlahan. Bukan cinta yang penuh kata-kata indah seperti dalam novel. Kami dekat karena bekerja bersama-sama. Jenis kedekatan yang tak tergantikan oleh rutinitas romantis manapun. Kedekatan yang mempunyai substansi dan penuh oleh isi. Perasaan riang saat sebuah senyum terbit setelah berhasil menyelesaikan sebuah acara, obrolan malam tentang cara membuat kegiatan lebih baik, dan doa bersama kawan-kawan lain di surau yang membuat hati tenang.

Suatu malam, setelah pengajian massal, kami membereskan kursi di aula yang mulai sepi. Aku memberanikan diri berkata, “Kamu membuat semua tugas ini terasa lebih ringan.”

Dia menunduk, pipinya agak merah. “Karena Mas juga. Melihat Mas memimpin dengan sungguh-sungguh membuat aku ingin belajar lebih giat.”

Akhirnya kami saling mengakui perasaan itu. Kami tidak banyak membicarakan cinta. Kami hanya berjanji menjaga hati masing-masing sambil menjalankan amanah di organisasi. Hari-hari kami dipenuhi kegiatan: merancang program, berdebat soal strategi, lalu tertawa bersama. Kadang aku mencuri pandang ke arahnya saat ia sedang fokus. Alis ranting ketapang itu selalu membuat hatiku hangat.

Namun segala yang indah pasti memiliki akhir.

Suatu sore, di bawah pohon trembesi yang telah menjadi saksi banyak cerita kami, dia berkata dengan suara pelan, “Aku memilih jalan lain. Aku memutuskan untuk tidak lagi aktif di organisasi. Ini… sesuatu yang harus aku lakukan sekarang.”

Aku terdiam. Aku bertanya, mencoba mencari celah dalih yang lebih terang, sambil dengan gemetar mencerna semua hidupku yang akan tanpanya. Namun dia hanya menggeleng. Matanya berkaca-kaca, tetapi tidak mau menjelaskan lebih jauh. Alasannya tetap samar. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatinya. Aku tidak bisa memaksa. Akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan hati yang berat dan penuh tanda tanya.

Sejak saat itu, aku jarang melihatnya lagi. Kadang ia muncul di acara besar, tetapi hanya sebagai peserta biasa. Aku melanjutkan tugas sebagai koordinator, bahkan kemudian menjadi ketua komisariat. Organisasi terus berjalan. Makesta demi Makesta digelar. Angkatan baru datang dengan mata yang berbinar, sama seperti dulu saat dia datang.

Kadang, saat malam tiba dan aku duduk sendirian di ruang pengurus, aku teringat dia; senyum malu-malunya, dan cara ia bertanya dengan suara lembut. Cinta kami telah berakhir. Namun ikatan di organisasi ini ternyata tak pernah berujung.

Setiap tahun selalu ada anak-anak baru yang penuh semangat. Mereka datang membawa mimpi yang sama seperti kami dulu. Dan aku masih di sini, menyambut mereka dengan tangan terbuka.

Bagi kami yang pernah merasakannya, organisasi ini bukan sekadar tempat berkegiatan. Ia adalah rumah. Ikatan yang tak pernah putus, meskipun orang-orang yang mengikatnya datang dan pergi.

Malam ini, adzan Isya kembali berkumandang. Besok pagi ada Makesta lagi. Aku tersenyum kecil sambil menutup buku catatan.

Entah berapa banyak cerita baru yang akan lahir besok.


Editor: Ariel Anwar


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *